• SUGENG RAWUH

    SUGENG RAWUH DUMATHENG SEDHEREK SEDANTEN..

KAKAWIN BHARATAYUDHA

Posted by ninkw1dya ( alve Dya Aurelia Latifa) On 0 komentar

Kakawin ini diterbitkan oleh J. G. H Gunning pada tahun 1903. cara penerbitannya dicetak dengan huruf jawa baru dengan beberapa perubahan karena penyesuaian penulisan ejaan.penertibatan naskah ini didasarkan pada beberapa naskah, diantaranya yang telah diperiksa Raffles pada tahun 1817 seperti yang disebutkan dalam karangan nya : Histori of Java yang terbit pada tahun 1830.
Kakawin Barathayudha ini pernah diterjemahkan dan dimuat dalam majalah Djawa no 14 tahun 1934, sebagai hasil karya Prof RM.NG. Poerbacaraka bersama Dr. C Hooykaas.
RINGKASAN CERITA :
Pada hakikatnya isi cerita kakaein Barathayudha ini menceritakan tentang peperangan antara keluarga pandawa melaean keluarga kurawa. Sebenarnya kedua duanya ( pandawa dan kurawa ) adalah satu keluarga yaitu keluarga Bharata, maka peperangan diantara mereka itu dinamakan perang Bharatayudha. Dua keluarga tersebut dikatakan “ keluarga Bharata” karena berdasarkan pada garis keturunan sampai pada Bhisma yang menjadi Brahmacarin.
Sumber cerita Bharatayuudha ini kemungkinan besar tidak langsung dari sloka Mahabarta Sansekerta. , tetapi kemungkinan besar justru mengambil dari kitab kitab parwa dalam bahasa Jawa Kuna sebelumnya, salinan yang berbahasa prosa dari Jaman Dharmawangsa Teguh. Mahabharata terkenal pula dengan nama Astadasaparwa. Oleh karena kitab itu terbagi atas 18 parwa.
Adapun isi kakawin Bharatayudha ada hubunganya dengan kitab kita parwa yang diambil sebagai sumbernya adalah sebagai berikut :
Pupuh 1 – 8 : dimulai dengan cerita kunjungan Kresna kepada Kurawa di hastina untuk mengadakan perundingan ;kemungkinan ada perdamaian atau terpaksa berperang, cerita ini dapat kita cari sumbernya di dalam Udyogaparwa.
Pupuh 9 : melukiskan persiapan perang .
Pupuh 10 : penggangkatan Bhisma menjadi panglima Kurawa yang pertama. Didalam pupuh ini terdapat 1 bait lukisan tentang saran Kresna terhadap rasa terharunya Arjuna ini biasanya dihubungkan dengan Bhagawagita. Kemudian dilanjutkan dengan lukisan pertempuran yang pertama tama.
Pupuh 11 – 12 : cerita tentang Bhisma jatuh terbaring di medan perang terkena anak panah Srikandi.
Pupuh 13 cerita tentang gugurnya Abhimanyu , diteruskan dengan lukisan berkabungnya para Pandawa.
Pupuh 9 -13 : ini isinya dapat dikembalikan kepada isi Bhismaparwa, meskipun banyak cerita dari Bhismaparwa tersebut tidak terdapat dalam pupuh pupuh tersebut.
Pupuh 14 : ratap tangis keluarga pandawa karena gugurnya Abhianyu
Pupuh 15 – 17 : lukisan tentang gugurnya Bhurisrawa
Pupuh 18 : perkelahian antara Karna dengan Ghatotkaca
Pupuh 19 : Ghatitkkaca gugur
Pupuh 20 : cerita gugurnya Drona oleh Dhrstadyuma, setelahh diipu Kresna bahwa Aswattama mati , padahal yang bernama Aswattama itu seekor gajah , oleh Drona dikira anaknya.
Dari pupuh 14 – 20 ini isi ceritanya dapat dikembalikan kepada Dronaparwa.
Pupuh 21 : pelantikkan Karna menjadi senopati
Pupuh 22 : pandawa berkabung atas gugurnya Drona
Pupuh 23 : pandawa mengunjungi Bhisma
Pupuh 24 : Bhisma menghibur Pandawa dengan nasihat nasihat
Pupuh 25 : Salya menjadi sais Karna
Pupuh 26 – 29 : lukisan tentang keberanian Karna
Pupuh 30 : lukisan peperangan Karna melawan Arjuna
Pupuh 31 : Karna gugur
Pupuh 32, 33 : kurawa berkabung atau gugurnya Karna.
Dari pupuh 21 – 33 ini isinya dapat diruntu kembali dalam Karnaparwa.
Dalam Karnaparwa
Pupuh 34 – 36 : Salya dilantik senapati
Puuh 37 – 39 : lukisan romantisme Salya Satyawati
Pupuh 40 : Salya berangkat ke medan perang
Pupuh 41 : lukisan di peperangan
Pupuh 42 : Salya gugur setelah berhadapan dengan Yudhistira.
Pupuh 43 : peperangan Sakuni melawan Bhima
Pupuh 44 , 45 : ratap tangis Satyawati mencari Salya di medan perang
Pupuh 46 – 48 : lukisan pertempuran Bhima melawan Duryudhana
Pupuh 49 : Duryodhana gugur
Dari pupuh 34 – 49 ini isinya sejalan dengan Salyaparwa
Pupuh 50 : cerita ketika para pandawa berziarah ke petirtaan – petirtaan. Pada saat ini para keluarga Pandawa yang tinggal di pesanggrahan dibunuh oleh Aswattama yang mengamuk di waktu malam hari.
Pupuh 51 : Aswattama gugur
Kedua pupuh ini ( 50 , 51 ) isiya sejalan dengan Sauptikaparwa.
Pupuh 52 : merupakan pupuh tersendiri , karena ada hubungannya dnegan Bhatara Haji Jayabhaya.
Dengan demikian dari sejumlah 18 parwa ” Astadasaparwa ” yang dipergunakan sebagai sumber kakawin Bharatayudha hanyalah 6 parwa, ialah : 1 ) udyogaparwa 2 ) Bhismaparwa 3 ) Dronaparwa 4 ) Karnaparwa 5) Salyaparwa dan 6) Suptikaparwa.
Penulis dan masa Penulisannya
Kitab kakawin Bharatayudda ini ditulis oleh 2 orang Mpu yaitu : Mpu Sedah dan Mpu Panuluh. Bagian pada permulaan sampai pada munculnya Prabu Salya ke medan perang adalah karya Mpu Sedah, sedangkan lanjutanya Mpu Panuluh.
Kitab Ini ditulis pada jaman pemerintahan Prabu Jayabaya di Kadiri dengan ciri tahun ” sanga kuda suddha candrama ” = 1079 saka atau 1157 M
.
( dikutip dari buku Sejarah Sastra Jawa karya Dra. Endang Siti Saparinah dan Dra. Sundari )

Categories:

0 Response for the "KAKAWIN BHARATAYUDHA"

Poskan Komentar