<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-6072209488519353307</id><updated>2011-07-08T05:02:39.083-07:00</updated><title type='text'>Kanggo wong .... Njowo sing seneng karo budaya jowo</title><subtitle type='html'></subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://ninkwidya.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6072209488519353307/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ninkwidya.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><link rel='next' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6072209488519353307/posts/default?start-index=101&amp;max-results=100'/><author><name>ninkw1dya ( alve Dya Aurelia Latifa)</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02190777662680452949</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_vgyL60s208c/SvuobeHd1pI/AAAAAAAAADY/zqthVFtNEm8/S220/aku+di+legian.jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>120</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6072209488519353307.post-3296491771953145360</id><published>2010-03-20T00:30:00.001-07:00</published><updated>2010-03-20T00:30:51.146-07:00</updated><title type='text'>KAKAWIN BHOMAKAWYA</title><content type='html'>Kakawin Bhomakawya mengisahkan tantang peperangan antara Prabu Krena dengan sang Bhoma.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ringkasan Cerita :&lt;br /&gt; Pada suatu hari  Prabu Kresna telah kedatangan  resi Narada yang meminta tolong kepada beliau untuk memusnahkan raksasa balatentara Prabu Bhoma, yang mengepung keinderaan. Kemudian sang  Sambalah yang dititahkan untuk pergi menumpas dengan disertai beberapa balatentara. Sampai di kaki gunung himalaya, bertempurlah mereka dan raksasa raksaa musnah semua.&lt;br /&gt;Syahdan ada sebuah pertapaan yang sudah kosong dan rusak. Sang Samba menanyakan riwayat pertapaan itu pada dahulu kalanya. Pertanyaan itu ditunjukkan kepada seorang yang bernama Putut Gunadewa,jejanggan murid bagawan wismamitra. Sang Gunadewa lalu memberi jawaban bahwa tempat tersebut merupakan tempat pertapaan Sang dharmadewa, putera Bhatara Wisnu. Sesudah sang Dharmadewa wafat, permaisurinya yang bernama sang Yadnyawati melanjutkan tapa disitu. Tetapi tak lama kemudian ia mati. Maka terlintaslah dalam ingatan sang Samba, bahwa dahulu kala sang Dharmadewa itu. Ia rindu dnegan sang Yadnyawati permaisurinya dulu. Sementara sang samba itu nanar, datanglah bidadari Tilottama, mengatakan : bahwa sang Yadnyawati sudah menitis menjadi puteri raja di utara nagara dan masih tetap bernama sang Yadnyawati. Tetapi ayah ibunya sudah meninggal dunia, karena tiba tiba diserang raja raksasa yang bernama Bhoma. &lt;br /&gt;Lalu sang samba diantarkan sang Tilottama pergi ke tempat sang Yadyawati secara diam diam. Di istana bersualah ia dengan sang Puteri. Setelah ketahuan, maka terjadilah peperangan lagi. Raksasa raksasa melarikan diri. Akan tetapi di tengah keributan itu sang Bhoma  pun ikuut datang dan sang Yadnyawati dibawa pergi ke istananya yang lain , yaitu Prajotisa.&lt;br /&gt;Setelah kembali di istananya, sang Samba kehilangan sang Yadwati. Ia sangat marah sekali, tak berapa lama kemudian datanglah sang Narada dan dia menganjurkan, supaya sang Samba kembali ke Dwarawati, karena tempat tersebut sangat berbahaya.&lt;br /&gt;Sang Sambapun pulang , terus jatuh sakit. Pada saat itu tampillah prabu Kresna. Ia menerima laporan , bahwa puteranya sakit, namun ia tetap tenang saja. Tak lama kemudian datang seorang dewa minta tolong, karena prabu Bhoma sudah semakin maju dalam usahanya untuk merampas keinderaan . prabu Kresna lalu berangkat ke Medan perang.&lt;br /&gt;Sang Bhoma akhirnya kalah. Ia tewas dan mayatnya jatuh kedalam lalut. Akhirnya sang Samba dapat berjumpa kembali dengan sang Yadnyawati ( Prof. Dr. RM. Poerbatjaraka, Kepustakaan Jawa, hal 22 – 24 ).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Didalam kakawin Bhomakawya ini terdiri dari 118 pupuh yang dapat kita pisah kan menjadi 2 bagian :&lt;br /&gt;Bagain I : sebanyak 50 ppupuh memuat cerita Saman dengan Yadnyawati.&lt;br /&gt;Bagian II : sebanyak 68 pupuh memuat cerita Kresna mengalahkan Bhoma. Titik rantainya cerita ini terletak pada tokoh Yadnyawati, ia adalah puteri raja utara negara yang dikalahkan oleh Bhoma, kemudian puteri ini diboyongnya. Semula Yadnyawati itu bidadari sorga, isteri Dharmadewa, puteri Wisnu yang kemudian menjelma kedalam diri Samba.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6072209488519353307-3296491771953145360?l=ninkwidya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ninkwidya.blogspot.com/feeds/3296491771953145360/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ninkwidya.blogspot.com/2010/03/kakawin-bhomakawya.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6072209488519353307/posts/default/3296491771953145360'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6072209488519353307/posts/default/3296491771953145360'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ninkwidya.blogspot.com/2010/03/kakawin-bhomakawya.html' title='KAKAWIN BHOMAKAWYA'/><author><name>ninkw1dya ( alve Dya Aurelia Latifa)</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02190777662680452949</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_vgyL60s208c/SvuobeHd1pI/AAAAAAAAADY/zqthVFtNEm8/S220/aku+di+legian.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6072209488519353307.post-3533221032906481406</id><published>2010-03-08T03:54:00.001-08:00</published><updated>2010-03-08T03:54:53.219-08:00</updated><title type='text'>KAKAWIN BHARATAYUDHA</title><content type='html'>Kakawin ini diterbitkan oleh J. G. H Gunning pada tahun 1903. cara penerbitannya dicetak dengan huruf jawa baru dengan beberapa perubahan karena penyesuaian penulisan ejaan.penertibatan naskah ini didasarkan pada beberapa naskah, diantaranya yang telah diperiksa Raffles pada tahun 1817 seperti yang disebutkan dalam karangan nya : Histori of Java yang terbit pada tahun 1830.&lt;br /&gt;Kakawin Barathayudha ini pernah diterjemahkan dan dimuat dalam majalah  Djawa no 14 tahun 1934, sebagai hasil karya Prof RM.NG. Poerbacaraka bersama Dr. C Hooykaas. &lt;br /&gt; RINGKASAN CERITA : &lt;br /&gt;Pada hakikatnya isi cerita kakaein Barathayudha ini menceritakan tentang peperangan antara keluarga pandawa melaean keluarga kurawa. Sebenarnya kedua duanya ( pandawa dan kurawa ) adalah satu keluarga yaitu keluarga Bharata, maka peperangan diantara mereka itu dinamakan perang Bharatayudha. Dua keluarga tersebut dikatakan “ keluarga Bharata” karena berdasarkan pada garis keturunan sampai pada Bhisma yang menjadi Brahmacarin.&lt;br /&gt;Sumber cerita Bharatayuudha ini kemungkinan besar tidak langsung dari sloka Mahabarta Sansekerta. , tetapi kemungkinan besar justru mengambil dari kitab kitab parwa dalam bahasa Jawa Kuna sebelumnya, salinan yang berbahasa prosa dari Jaman Dharmawangsa Teguh. Mahabharata terkenal pula dengan nama Astadasaparwa. Oleh karena kitab itu terbagi atas 18 parwa.&lt;br /&gt;Adapun isi kakawin Bharatayudha ada hubunganya dengan kitab kita parwa yang diambil sebagai sumbernya adalah sebagai berikut :&lt;br /&gt;Pupuh 1 – 8 : dimulai dengan cerita kunjungan Kresna kepada Kurawa di hastina untuk mengadakan perundingan ;kemungkinan ada perdamaian atau terpaksa berperang, cerita ini dapat kita cari sumbernya di dalam Udyogaparwa.&lt;br /&gt;Pupuh 9 : melukiskan persiapan perang .&lt;br /&gt;Pupuh 10 : penggangkatan Bhisma menjadi panglima Kurawa yang pertama. Didalam pupuh ini terdapat 1 bait lukisan tentang saran Kresna terhadap rasa terharunya Arjuna ini biasanya dihubungkan dengan Bhagawagita. Kemudian dilanjutkan dengan lukisan pertempuran yang pertama tama.&lt;br /&gt;Pupuh 11 – 12 : cerita tentang Bhisma jatuh terbaring di medan perang terkena anak panah Srikandi.&lt;br /&gt;Pupuh 13 cerita tentang gugurnya Abhimanyu , diteruskan dengan lukisan berkabungnya para Pandawa.&lt;br /&gt;Pupuh 9 -13 : ini isinya dapat dikembalikan kepada isi Bhismaparwa, meskipun banyak cerita dari Bhismaparwa tersebut tidak terdapat dalam pupuh pupuh tersebut.&lt;br /&gt;Pupuh 14 : ratap tangis keluarga pandawa karena gugurnya Abhianyu&lt;br /&gt;Pupuh 15 – 17 : lukisan tentang gugurnya Bhurisrawa&lt;br /&gt;Pupuh 18 : perkelahian antara Karna dengan Ghatotkaca&lt;br /&gt;Pupuh 19 : Ghatitkkaca gugur&lt;br /&gt;Pupuh 20 : cerita gugurnya Drona oleh Dhrstadyuma, setelahh diipu Kresna bahwa Aswattama mati , padahal yang bernama Aswattama itu seekor gajah , oleh Drona dikira anaknya.&lt;br /&gt;Dari pupuh 14 – 20 ini isi ceritanya dapat dikembalikan kepada Dronaparwa.&lt;br /&gt;Pupuh 21 : pelantikkan Karna menjadi senopati&lt;br /&gt;Pupuh 22 : pandawa berkabung atas gugurnya Drona&lt;br /&gt;Pupuh 23 : pandawa mengunjungi Bhisma&lt;br /&gt;Pupuh 24 : Bhisma menghibur Pandawa dengan nasihat nasihat&lt;br /&gt;Pupuh 25 : Salya menjadi sais Karna&lt;br /&gt;Pupuh 26 – 29 : lukisan tentang keberanian Karna&lt;br /&gt;Pupuh 30 : lukisan peperangan Karna melawan Arjuna&lt;br /&gt;Pupuh 31 : Karna gugur&lt;br /&gt;Pupuh 32, 33 : kurawa berkabung atau gugurnya Karna.&lt;br /&gt;Dari pupuh 21 – 33 ini isinya dapat diruntu kembali dalam Karnaparwa.&lt;br /&gt;Dalam Karnaparwa &lt;br /&gt;Pupuh 34 – 36 : Salya dilantik senapati&lt;br /&gt;Puuh 37 – 39 : lukisan romantisme Salya Satyawati&lt;br /&gt;Pupuh 40 : Salya berangkat ke medan perang&lt;br /&gt;Pupuh 41 : lukisan di peperangan&lt;br /&gt;Pupuh 42 : Salya gugur setelah berhadapan dengan Yudhistira.&lt;br /&gt;Pupuh 43 : peperangan Sakuni melawan Bhima &lt;br /&gt;Pupuh 44 , 45 : ratap tangis Satyawati mencari Salya di medan perang&lt;br /&gt;Pupuh  46 – 48 : lukisan pertempuran Bhima melawan Duryudhana&lt;br /&gt;Pupuh 49 : Duryodhana gugur&lt;br /&gt;Dari pupuh 34 – 49 ini isinya sejalan dengan Salyaparwa &lt;br /&gt;Pupuh 50 : cerita ketika para pandawa berziarah ke petirtaan – petirtaan. Pada saat ini para keluarga Pandawa yang tinggal di pesanggrahan dibunuh oleh Aswattama yang mengamuk di waktu malam hari.&lt;br /&gt;Pupuh 51 : Aswattama gugur&lt;br /&gt;Kedua pupuh ini ( 50 , 51 ) isiya sejalan dengan Sauptikaparwa. &lt;br /&gt;Pupuh 52 : merupakan pupuh tersendiri , karena ada hubungannya dnegan Bhatara Haji Jayabhaya.&lt;br /&gt;Dengan demikian dari sejumlah 18 parwa ” Astadasaparwa ” yang dipergunakan sebagai sumber kakawin Bharatayudha hanyalah 6 parwa, ialah : 1 ) udyogaparwa 2 ) Bhismaparwa 3 ) Dronaparwa 4 ) Karnaparwa 5) Salyaparwa dan 6) Suptikaparwa.&lt;br /&gt;Penulis dan masa Penulisannya &lt;br /&gt;Kitab kakawin Bharatayudda ini ditulis oleh 2 orang Mpu yaitu : Mpu Sedah dan Mpu Panuluh. Bagian pada permulaan sampai pada munculnya Prabu Salya ke medan perang adalah karya Mpu Sedah, sedangkan lanjutanya Mpu Panuluh.&lt;br /&gt;Kitab Ini ditulis pada jaman pemerintahan Prabu Jayabaya di Kadiri dengan ciri tahun ” sanga kuda suddha candrama ” = 1079 saka atau 1157 M &lt;br /&gt;.&lt;br /&gt;(&lt;span style="font-style:italic;"&gt; dikutip dari buku Sejarah Sastra Jawa  karya Dra. Endang Siti Saparinah dan Dra. Sundari ) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6072209488519353307-3533221032906481406?l=ninkwidya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ninkwidya.blogspot.com/feeds/3533221032906481406/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ninkwidya.blogspot.com/2010/03/kakawin-bharatayudha.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6072209488519353307/posts/default/3533221032906481406'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6072209488519353307/posts/default/3533221032906481406'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ninkwidya.blogspot.com/2010/03/kakawin-bharatayudha.html' title='KAKAWIN BHARATAYUDHA'/><author><name>ninkw1dya ( alve Dya Aurelia Latifa)</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02190777662680452949</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_vgyL60s208c/SvuobeHd1pI/AAAAAAAAADY/zqthVFtNEm8/S220/aku+di+legian.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6072209488519353307.post-8836960736282662929</id><published>2010-03-06T04:11:00.001-08:00</published><updated>2010-03-06T04:11:40.083-08:00</updated><title type='text'>KAKAWIN SMARADAHANA</title><content type='html'>Penulis Kakawin Smaradahana adalah Mpu Dharmaja. Pada masa Raja Sri Kameswara, sekitar tahun 1183 – 1185 M di Kadiri.&lt;br /&gt;Diterbitkan olah R.M.Ng. Poerbatjaraka&lt;br /&gt;Dimuat dalam Bibliootheca Javanice III, Bandung 1931 dengan disertai terjemahan dan catatan catatan &lt;br /&gt;Dasar penerbitannya menggunakan 3 macam naskah turunan, sebuah berangka tahun 1830 Saka, sebuah lagi lebih tua, berangka tahun 1830 Saka, sebuah lagi lebih tua, berangka tahun Saka 1813 dan yang lain lagi tanpa kolophon. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;RINGAKSAN CERITA.&lt;br /&gt;Ringkasan cerita KAKAWIN SMARADAHANA dapat juga dibaca dalam kitab Prof. Poerbotjaraka, Kepustakaan Jawa ( hal. 20 -21 ) yang dapat diikhtisarkan sebagai berikut :&lt;br /&gt;Ketika Bhatara Siwa sedang bertapa, Kedewaan diserang raja raksasa yang bernama Nilarudraka.  Untuk menghentikan tapa Siwa, maka diutuslah Bhara Kamajaya untuk mengganggu tapa Siwa tersebut dengan panah Pancawisaya, akhirnya tapa Siwa terganggu dan Siwa pun marah terhadap bathara Kama. Kemudian Bhatara Kama dipandang dengan mata ketiga yang terletak di dahi bathara Siwa, lalu musnah terbakarlah bathara kama. Setelah mendengar bahwa bathara kama musna oleh bathara siwa maka bathari Ratih membela suaminya. Dan ikut terbakarlah bathari Ratih. Para dewa memintaka maaf, tetapi bathara Siwa malah memutuskan untuk menitiskan bathara Kama dalam tiap tiap orang laki laki dan bathari Ratih dalam tiap tiap ornag perempuan. Setiba bathara Siwa di surga bertemu dengan istrinya Dewi Uma, mereka saling melepas rindu dan akhirnya Dewi Uma mengandung dan melahirkan putera laki laki berkepalla gajah yang diberi nama Ganesa. Ganesa inilah yang bisa membinasakan raja raksasa Nilarudraka yang menyerang kedewaan,berikut balatentaranya.&lt;br /&gt;Pada bagian akhir naskah Samadahana ini mulai pupuh 38, disebutkan raja raja Jawa ( raja Daha da Jenggala ) ini merupakan penjelmaan bathara Kama dan Bathari ratih.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6072209488519353307-8836960736282662929?l=ninkwidya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ninkwidya.blogspot.com/feeds/8836960736282662929/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ninkwidya.blogspot.com/2010/03/kakawin-smaradahana.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6072209488519353307/posts/default/8836960736282662929'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6072209488519353307/posts/default/8836960736282662929'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ninkwidya.blogspot.com/2010/03/kakawin-smaradahana.html' title='KAKAWIN SMARADAHANA'/><author><name>ninkw1dya ( alve Dya Aurelia Latifa)</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02190777662680452949</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_vgyL60s208c/SvuobeHd1pI/AAAAAAAAADY/zqthVFtNEm8/S220/aku+di+legian.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6072209488519353307.post-2005143394725256851</id><published>2010-03-06T03:31:00.001-08:00</published><updated>2010-03-06T03:44:47.247-08:00</updated><title type='text'>KAKAWIN</title><content type='html'>Kakawin adalah puisi Jawa Kuna. Arti kakawin itu berasal dari kata Ka + kawi + en yang mempunyai arti penyair. Kakawin sendiri dapat diartikan sebagai sair.&lt;br /&gt;Kitab yang membeberkan tentang kakawin dikenal dengan sebutan Wrettasancaya. Kitab Wrettasancaya ini diterbitkan oleh H Kern pada taun 1875 dengan huruf Jawa beserta pertalannya dalam bahasa belanda. Kitab ini juga diterbitkan kembali dengan huruf latin yang telah dimuat dalam Verspreide Geschriften, Jilid IX , hal 67.&lt;br /&gt; Didalam kitab Wrettasancaya terdapat contoh contoh nama kakawin selain Kitab Wrettasancaya ada juga kita Jawa Kuna yang mengutarakan kakawin diantaranya : Cantakaparwa, Candraksara dan Candawargaksara.&lt;br /&gt;Dalam arti las kakawin dapat diartikan sebagai puisi Jawa Kuna ynag menggunakan metrum birama ” kavya” puisi kesusastraan India.&lt;br /&gt;Menurut C.C Berg dalam bukunya yang berjudul : Indleding tet de studia van Oud Javaabsch, 1928, menyatakan bahwa kakawin Jawa Kuna ternyata banyak kesamaannya dengan Kavya, pusisi kesusatraan India dalam bahasa Sansekerta.&lt;br /&gt;Ciri ciri Kakawin :&lt;br /&gt; Satu bait terdiri dari 4 baris&lt;br /&gt; Jumlah suku kata tiap baris sama&lt;br /&gt; Tiap tiap bait terikat guru ( berat ) dan laghu ( ringan ). Guru dengan tanda ( - ) dan laghu dengan tanda (     )&lt;br /&gt;Suku kata yang termasuk berat , yaitu :&lt;br /&gt;Suku kata yang memeang bersuara berat , misal : bhu&lt;br /&gt;Suku kata yang bersuara : e, o&lt;br /&gt;Suku kata tertutup : sang, sih&lt;br /&gt;Suku kata pendek , tetapi terletak dimuka suku kata rangkap misalnya : mitra ( - ) , sira prabhu (      -      )&lt;br /&gt;Suku kata akhir baris, walaupun pendek , dapat dianggap panjang atau bebas, maka dari itu suku kata pada akhir baris selalu dibari tanda -.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Hasil Karya Satra jawa Kuno dalam bentuk Kakawin :&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Ramayana Kunjarakarna &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;, berbentuk Kakawin Prosa / Kakawin yang menceritakan tentang  Cerita Rama dan Sinta Kunjarakarna diruwat.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Arjunawiwaha&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; karya  Mpu Kanwa  berbentuk Kakawin yang  menceritakan tentang  Arjuna Bertapa di Indrakila.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Kresnayana&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; karya Mpu Triguna berbentuk Kakawin,yang  menceritakan tentang  Perkawinan Kresna dan Rukmi.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Sumanasantaka&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; karya  Mpu Manoguna  ,berbentuk Kakawin  yang  menceritakan tentang lahirnya Dasarata. &lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Smaradana&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; karya Mpu Dharmaja ,berbentuk Kakawin  yang menceritakan tentang Kamajaya dan Ratih menjelma&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Bhomakawya&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; karya  Mpu dharmaja , berbentuk Kakawin  menceritakan tentang meninggalnya Boma &lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Bharatayuda &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;Karya Mpu Panulu , Berbentuk  Kakawin yang menceriakan tentang Perang keturunan Barata&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Hariwangsa&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; karya  Mpu Panuluh ,berbentuk Kakawin yang menceritakan Perkawinan Kresna dan Rukmini&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Gatotkacaraya &lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;berbentuk Kakawin yang menceritakan tentang  Perkawinan Abhimayu dengan Siti Sundari&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Wrtasancaya &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;karya  Mpu Tanakung ,berbentuk Kakawin yang menceritakan tentang  Pengetahuan Kakawin&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Lubdhaka&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; karya  Mpu Tanakung ,berbentuk Kakawin  yang menceritakan tentang Pemburu bisa naik surga&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Brahmandapurana &lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;berbentuk Kakawin yang menceritakan tentang  Agama siwa&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Kunjarakarna&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; berbentuk Kakawin menceritakan tentang  Cerita kunjarakarna diruwat&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Nagarakrtagama &lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;berbentuk Kakawin  yang menceritakan tentang Cerita raja Majapahit&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Arjunawijaya&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; karya  Mpu Tantular yang menceritakan   Kakawin  Arjunasahasra melawan Dasamuka&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Sutasoma &lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;karya  Mpu Tantular berbentuk Kakawin  yang menceritakan tentang Cerita Sutasoma&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Parthayajna &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;berbentuk Kakawin yang menceritakan tentang  Arjuna hendak bertapa&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Nitisastra&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; berbentuk Kakawin yang menceritakan tentang  Ilmu Kesempurnaan&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Dharmasunya&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;/span&gt; berbentuk Kakawin yang menceritakan tentang  Mistik &lt;br /&gt;Harisraya&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; berbentuk Kakawin yang menceritakan tentang Wisnu membantu dewa Indra&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6072209488519353307-2005143394725256851?l=ninkwidya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ninkwidya.blogspot.com/feeds/2005143394725256851/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ninkwidya.blogspot.com/2010/03/kakawin.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6072209488519353307/posts/default/2005143394725256851'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6072209488519353307/posts/default/2005143394725256851'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ninkwidya.blogspot.com/2010/03/kakawin.html' title='KAKAWIN'/><author><name>ninkw1dya ( alve Dya Aurelia Latifa)</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02190777662680452949</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_vgyL60s208c/SvuobeHd1pI/AAAAAAAAADY/zqthVFtNEm8/S220/aku+di+legian.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6072209488519353307.post-1046597590982924522</id><published>2010-03-06T03:13:00.000-08:00</published><updated>2010-03-06T03:45:37.079-08:00</updated><title type='text'>KARYA SASTRA JAWA KUNO</title><content type='html'>Sastra jawa di awal timbulnya tampak sekali dipengaruhi oleh kesusastraan  Hindu di India, sebab selama lebih sepuluh abad, sekurang kurangnya dari abad 5 sampai dengan abad 15, “Indonesia termasuk dalam Indianzed States”, yakni negara negara yang terpengaruh peradaban dan Agama dari India.&lt;br /&gt;Pengaruh India tersebut tampak pada hasil kesusastraan jawa yang meliputi karya abad 8 sampai dengan abad 15.,atau yang meliputi masa semenjak pemerintahan Raja Sindok tahun ± 930, sampai jatuhnya Kediri ( 1222 ) dan jaman Singosari – Majapahit ( abad 13 – akhir abad 15 ).&lt;br /&gt;Ciri ciri yang nampak bahwa adanya pengaruh Sastra India tersebut , antara lain :&lt;br /&gt;1. Karya Sastra Jawa Kuno ditulis dengan ,menggunakan  bahasa Sansekerta.&lt;br /&gt;2. Didalam karya karya sastra jawa Kuno  itu tercermin paham agama hindu dan Budha.&lt;br /&gt;3. Pola cerita dalam karya Sastra Jawa Kuno, bersumber dari cerita cerita India ( terutama bersumber pada Ramayana dan Mahabarata. )&lt;br /&gt;4. Jenis sastra  yang mula mula berkembang tampak mempunyai pola konvensi Sastra Sansekerta, yaitu berpedoman pada metrum karya india.&lt;br /&gt;Karya sastra india yang  biasanya dipakai  sumber dalam penulisan cerita dalam sastra Jawa Kuno adalah :&lt;br /&gt;1. Mahabarta  atau Astadasaparwa karangan Wyasu ( Byosa )&lt;br /&gt;2. Rawamavadha karangan Bhaktikavya&lt;br /&gt;3. Panca Tantular&lt;br /&gt;4. Hariwangsa&lt;br /&gt;5. Rangkuwangsa karangan Kalidasa dan sebagainya.&lt;br /&gt;Biasanya karya karya sastra diatas digubah menjadi kakawin atau prosa.&lt;br /&gt;Contoh :&lt;br /&gt;1. Mahabarata yang asal mulanya berupa sloka digubah menjadi prosa yang pada karya aslinya terdiri dari 18 parwa, yang dapat ditemui dalam versi Jawa Kuno hanya 9 parwa saja yaitu : Adiparwa, sobhaparwa, Wirataparwa , Bhimaparwa , Astramawasaparwa, Mosalaparwa, Prostanikaparwa dan Swarga Robanaparwa.&lt;br /&gt;2. Ravanavadha, sebagian besar digubah menjadi Ramayana kakawin&lt;br /&gt;3. Pancatantra, biasanya dipakai sebagai seumber penulisan , Tantri kamandaka, yang isinya tentang ceita / dongeng hewan.&lt;br /&gt;4. Raghuwangsa , karangan pujangga Kalidosa, juga diambil sebagai sumber cerita Sumana samatika kakawin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KARYA SASTRA JAWA KUNO GOLONGAN MUDA DIANTARANYA ADALAH :&lt;br /&gt;1. Wanaparwa, dipakai sebagai sumber penulisan , Arjuna Wiwaha karya Mpu Kanwa.&lt;br /&gt;2. Udjaguparwa, Bhismapariwa, Dranaparwa, Karna parwa dipakai sebagai sumber penulisan Bharata Yudha gubahan mpu Sedah dan Panuluh.&lt;br /&gt;3. Wirataparwa, khusus episode Abhimanyu Utari, dipakai sumber penulisan Ghatotkaca Sraya kakawin, gubahan mpu panuluh&lt;br /&gt;4. Uttharakandha, sebagian juga diambil sumber penulisan Arjuna Wiwaha Kakawin , karya mpu Kanwa.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6072209488519353307-1046597590982924522?l=ninkwidya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ninkwidya.blogspot.com/feeds/1046597590982924522/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ninkwidya.blogspot.com/2010/03/karya-sastra-jawa-kuno.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6072209488519353307/posts/default/1046597590982924522'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6072209488519353307/posts/default/1046597590982924522'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ninkwidya.blogspot.com/2010/03/karya-sastra-jawa-kuno.html' title='KARYA SASTRA JAWA KUNO'/><author><name>ninkw1dya ( alve Dya Aurelia Latifa)</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02190777662680452949</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_vgyL60s208c/SvuobeHd1pI/AAAAAAAAADY/zqthVFtNEm8/S220/aku+di+legian.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6072209488519353307.post-1730266808842850001</id><published>2010-01-22T19:26:00.000-08:00</published><updated>2010-03-06T03:46:14.980-08:00</updated><title type='text'>JENIS PENELITIAN KUALITATIF</title><content type='html'>Dalam penelitian kualitatif , dikenal dua jenis penelitian yaitu penelitian dasar ( basic research ) dan penelitian terapan ( applied reseach). &lt;br /&gt;Penelitian dasar pada umumnya disebut dengan penelitian murni yang bertujuan untuk pemahaman terhadap suatu masalah yang mengerah pada manfaat teoritik , bukan manfaat praktis.&lt;br /&gt;Penelitian terapan adalah penelitian yang bertujuan tidak hanya untuk memahami masalahnya, tetapi secara khusus juga mengarah pada pengembangan cara pemecahan masalah dengan tindakan untuk tujuan praktis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada tataran lebih lanjut dalam penelitian kualitatif dikenal tiga macam  jenis penelitian terapan yaitu :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.Studi Evaluasi &lt;br /&gt;        Pada umumnya digunakan dengan tujuan untuk mengetahui efektifivitas pencapaian  tujuan, hasil, atau dampak suatu program dan proses pelaksanaan kebijakan yang telah direncanakan dan dilaksanakan dalam kurun waktu tertentu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkan waktu pelaksanaan dan tujuanya, penelitian evaluasi dibedakan menjadi dua macam , yaitu:&lt;br /&gt;1. Penelitian Evaluasi formatif ( formative evaluation reseach ) &lt;br /&gt;       dilakukan pada waktu program masih berjalan , dengan tujuan untuk memperbaiki dan mengembangkan pelaksanaannya lebih lanjut.&lt;br /&gt;2. Penelitian Evaluasi Sumatif ( Summative evaluation researsch ) &lt;br /&gt;       dilakukan pada masa akhir pelaksanaan program untuk menentukan efektifitas pencapaian tujuan program sebagai hasil akhir pelaksanaan suatu kebijakan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ciri ciri Studi Evaluasi sebagai sebuah strategi penelitian  :&lt;br /&gt;a. Mampu menengkap proses dan makna dari setiap peristiwa yang dinamis, terjadi dan berkembang.&lt;br /&gt;b. Rumusan hasil dari studi evaluasi lebih mudah diterjemahkan ke dalam tindakan kebijakan.&lt;br /&gt;c. Tekanan fokusnya tertuju pada beragam data menegani kualitas dengan kedalaman deskripsi, khususnya mengenai proses dan makna.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Penelitian Kebijakan &lt;br /&gt;      Penelitian ini dibedakan menjadi 2 macam yaitu penelitian pengembangan kebijakan dan studi kelayakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penelitian Pengembangan adalah jenis penelitian yang dilakukan sebelum kebijakan dibuat atau ditentukan, sehingga hasil penelitian ini mengarah pada jenis kebijakan tertentu yang tepat untuk dikembangkan dan dilaksanakan dilokasi tertentu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Studi Kelayakan adalah jenis penelitian kebijakan yang dilakukan pada beberapa lokasi untuk mencari dan menentukan lokasi mana yang paling tepat untuk kebijakan tertentu yang sudah dirancang, dan siap untuk dilaksanakan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Penelitian Tindakan ( Action Research )&lt;br /&gt;Penelitian tindakan kuantitatif berbeda tujuannya dengan pnelitian tindakan kualitatif.&lt;br /&gt;Tujuan Penelitian tindakan  Kuantatif adalah untuk penemuan model ( meliputi bentuk , struktur, strategi dan proses pendekatan ) tertentu sebagai hasil akhir penelitian yang selanjutnya dilakukan diseminasi dengan penerapkan model tersebut di berbagai tempat sebagai bentuk generalisasi. Oleh karena itu, penelitian tindakan kuantitatif cenderung disebut dengan penelitian pengembangan model ( research and development atau model development research ).&lt;br /&gt;Pada penelitian tindakan kualitatif peneliti tidak berfikir untuk menuju pada kemungkinan generalisasi hasilnya, sebab sifatnya kontekstual atau terikat pada kondisi karakteristik subjeknya. Tujuan akhir dari penelitian tindakan kualitatif ini adalah terbentuknya sikap kemandiriaan dari suatu kelompok atau masyarakat tertentu yang menjadi sasaran pengembangan dalam perjalanan kehidupan selanjutnya.&lt;br /&gt;Penelitian jenis ini sifatnya merupakan proses pembelajaran dan pemberdayaan sasaran dalam menghadapi beragam masalah yang dihadapinya. Atas dasar itulah maka penelitian tindakan kulaitatif ini harus bersifat partisipatif, sedangkan peran peneliti adalah sebagai pendamping dan fasilitator.Karena itulah tindakan kualitatif cenderung disebut dengan penelitian tindakan partisipatif ( participatory action research ).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun tahapanya meliputi :&lt;br /&gt;1. Studi Awal&lt;br /&gt;       Kegiatan guna menemukan kebutuhan, atau tahap identifikasi masalah. Disini peneliti berusah untuk mengumpulkan beragaminformasi menegani karakteristik sasarannya untuk merumuskan tujuan program.&lt;br /&gt;2. Tahap Perencanaan program.&lt;br /&gt;       Berbekal pada pemahaman konteks, peneliti mulai merumuskan kebutuhan sasaran,dengan melibatkan sasaran melalui diskusi. Setelah Tujuan dirumuskan berdasarkan konteksnya, selanjutnya dirumuskan proses pelaksanaannya untuk mencapai produk yang diharapkan.&lt;br /&gt;3. Tahap persiapan program &lt;br /&gt;      Persiapan pelaksanaan program yang telah dirancang, meliputi struktur organisasi program, mekanisme kegiatan , kewenangan dan tanggung jawab setiap posisi pada sasaran.&lt;br /&gt;4. Tahap pelaksanan program&lt;br /&gt;      Merupakan pokok dari setiap program pengembangan. Secara keseluruhan tahap ini terdiri dari&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6072209488519353307-1730266808842850001?l=ninkwidya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ninkwidya.blogspot.com/feeds/1730266808842850001/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ninkwidya.blogspot.com/2010/01/jenis-penelitian-kualitatif.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6072209488519353307/posts/default/1730266808842850001'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6072209488519353307/posts/default/1730266808842850001'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ninkwidya.blogspot.com/2010/01/jenis-penelitian-kualitatif.html' title='JENIS PENELITIAN KUALITATIF'/><author><name>ninkw1dya ( alve Dya Aurelia Latifa)</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02190777662680452949</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_vgyL60s208c/SvuobeHd1pI/AAAAAAAAADY/zqthVFtNEm8/S220/aku+di+legian.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6072209488519353307.post-5308440802128711491</id><published>2010-01-22T19:04:00.000-08:00</published><updated>2010-01-22T19:11:39.203-08:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>FILSAFAT HIDUP&lt;br /&gt;BERDASARKAN AKSARA JAWA &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk Melengkapi Tugas Semester V&lt;br /&gt;Mata Kuliah Seminar &amp; Budaya Jawa&lt;br /&gt;Dosen Pengampu : Drs. Djiwandhana WU.,M.Pd.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh :&lt;br /&gt;Aris Prayogo   ( 0850900229 )&lt;br /&gt;Catur Widyaningrum  ( 0850900241 )&lt;br /&gt;Laili Rahmawati   ( 0850900240 )&lt;br /&gt;Lismawati Dewi   ( 0750900010)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;UNIVERSITAS VETERAN BANGUN NUSANTARA SUKOHARJO&lt;br /&gt;FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN&lt;br /&gt;PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA DAERAH&lt;br /&gt;Jl.Sujono Humardani /Telp (0271)5915 Sukoharjo 57521&lt;br /&gt;2009/2010&lt;br /&gt;FILSAFAT HIDUP &lt;br /&gt;BERDASARKAN AKSARA JAWA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A. Pendahuluan &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Filsafat  merupakan dasar pemikiran mengenai cara pandang manusia dalam menanggapi masalah yang dihadapi. Dalam membangun tradisi filsafat, banyak orang mengajukan pertanyaan yang sama , menanggapi, dan meneruskan karya-karya pendahulunya sesuai dengan latar belakang budaya, bahasa, bahkan agama tempat tradisi filsafat itu dibangun. Oleh karena itu, filsafat terbentuk berdasarkan latar belakang budayanya. &lt;br /&gt;Dalam budaya jawa, filsafat terbentuk dari berbagai kultur kebudayaan jawa. Baik dalam bentuk seni pewayangan,  tembang macapat, maupun sastra jawa. Filsafat jawa merupakan cerminan orang jawa terhadap sudut pandang mengenai arti hidup yang sebenarnya. Filsafat ini kemudian digunakan orang – orang jawa sebagai pilar atau pokok aturan yang berlaku dalam budaya jawa. Didalam sastra jawa kita mengenal sastra hanacaraka atau yang lebih dikenal dengan aksara jawa. &lt;br /&gt;Hanacaraka atau dikenal dengan nama carakan atau cacarakan (bahasa Sunda) merupakan  aksara turunan aksara Brahmi yang pernah digunakan untuk penulisan naskah-naskah berbahasa Jawa, bahasa Madura, bahasa Sunda, bahasa Bali, dan bahasa Sasak. Hanacaraka merupakan salah satu peninggalan yang tak ternilai harganya. Dari segi bentuk aksara dan seni pembuatannya, banyak mengandung arti filosogi bagi kehidupan manusia. Oleh sebab itu aksara jawa merupakan suatu peninggalan yang patut dilestarikan. &lt;br /&gt;Sebagai orang keturunan jawa,  maka melalui makalah ini kami akan mengupas makna aksara jawa sebagai filsafah hidup,ini  merupakan upaya kami untuk melestarikan ajaran para pendahulu,sebagai balas budi dan darma bakti kami atas ajarannya akan sebuah arti hidup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;B. Pembahasan &lt;br /&gt;Dalam sejarah bahasa jawa menunjukkan ada beberapa aksara yang digunakan. Pertama, adanya bukti prasasti-prasasti berhuruf Dewanagari (berbahasa Sansekerta) dan Pallawa (berbahasa Sansekerta). Kedua, banyaknya naskah atau teks tulisan tangan dengan aksara Kawi, aksara Arab, aksara Jawi (atau bahasa Jawi : adalah nama kuno untuk bahasa Melayu, khususnya yang ditulis dengan huruf Arab (Ensiklopedi Nasional Indonesia Jilid 3; 1989:53), dan aksara Hanacaraka (aksara Jawa). Ketiga, penggunaan aksara Latin yang digunakan sampai sekarang. Dengan demikian bahasa Jawa merupakan bahasa yang unggul di bidang kekayaan penggunaan aksara. &lt;br /&gt;Didalam penggunaan semua aksara dalam bahasa jawa itu bersifat silabis kecuali aksara Latin. Silabis adalah sistem penulisan dari aksara tersebut menggunakan satu lambang untuk satu suku katanya. Setiap lambang terdiri dari vokal dan konsonan (Ensiklopedi Nasional Indonesia jilid 1; 1988:186). Di dalam sistem penulisan kedua jenis aksara ini sama-sama mempunyai variasi aksara untuk mencukupi kebutuhan lafal bahasa Jawa, disebut aksara rekan (rekaan), seperti huruf nga (aksara Jawi) dan qa (aksara Jawa). KBBI (2000:21) mengartikan aksara Jawa adalah aksara yang digunakan untuk menuliskan bahasa Jawa, berjumlah 20 huruf, bermula dengan ha dan berakhir dengan nga. &lt;br /&gt;Kalau dicermati, aksara Jawa mempunyai 2 golongan.yaitu huruf dan  penanda. Huruf Jawa terdiri dari 57 jumlah bentuk yang terdiri dari  aksara legena,aksara pasangan, aksara murda rekan , aksara angka, dan aksara suara.. Sedangkan penanda dalam aksara jawa terdiri dari 28 bentuk yang meli[uti sandangan, mandaswara, wyanjana dan pada. Jadi , ada 85 bentuk dalam sistem penulisan aksara Jawa.  &lt;br /&gt;Aksara jawa yang terdiri 20 suku kata terbagi menjadi 4 bagian. Yang tiap bagiannya  mempunyai makna yang sebenarnya menyiratkan 4 tingkatan alam kehidupan alam semesta yang tidak terbatas hanya kepada insan manusia diatas bumi ini.&lt;br /&gt;Keempat tingkatan  tersebut secara garis besarnya adalah  sebagai berikut :&lt;br /&gt;1. ha na ca ra ka  bermakna filosofi utusan hidup, berupa nafas yang berkewajiban menyatukan jiwa dengan jasat manusia. Maksudnya ada yang mempercayakan, ada yang dipercaya dan ada yang dipercaya untuk bekerja. Ketiga unsur itu adalah Tuhan, manusia dan kewajiban manusia ( sebagai ciptaan ).&lt;br /&gt;2. da ta sa wa la  mempunyai makna manusia setelah diciptakan sampai dengan data ” saatnya ( dipanggil ) ” tidak boleh sawala ” mengelak ” manusia ( dengan segala atributnya ) harus bersedia melaksanakan, menerima dan menjalankan kehendak Tuhan&lt;br /&gt;3. pa dha ja ya nya  bermakna menyatunya zat pemberi hidup ( Khalik ) dengan yang diberi hidup ( makhluk ). Maksdunya padha ” sama ” atau sesuai, jumbuh, cocok ” tunggal batin yang tercermin dalam perbuatan berdasarkan keluhuran dan keutamaan. Jaya itu ” menang, unggul ” sungguh-sungguh dan bukan menang-menangan ” sekedar menang ” atau menang tidak sportif.&lt;br /&gt;4. ma ga ba tha nga  bermakna menerima segala yang diperintahkan dan yang dilarang oleh Tuhan Yang Maha Kuasa. Maksudnya manusia harus pasrah, sumarah pada garis kodrat, meskipun manusia diberi hak untuk mewiradat, berusaha untuk menanggulanginya.&lt;br /&gt;Setelah kita mengetahui makna perbaris maka akan kita bahas makna perhuruf, makna filosofi per huruf dikemukakan oleh Pakubuwono IX, berikut adalah makna filosofi per huruf:&lt;br /&gt;Ha Hana hurip wening suci – adanya hidup adalah kehendak dari yang Maha Suci&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Na Nur candra,gaib candra,warsitaning candara-pengharapan manusia hanya selalu ke sinar Illahi&lt;br /&gt;Ca Cipta wening, cipta mandulu, cipta dadi-satu arah dan tujuan pada Yang Maha Tunggal&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ra Rasaingsun handulusih – rasa cinta sejati muncul dari cinta kasih nurani&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ka Karsaningsun memayuhayuning bawana – hasrat diarahkan untuk kesajetraan alam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Da Dumadining dzat kang tanpa winangenan – menerima hidup apa adanya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ta Tatas, tutus, titis, titi lan wibawa – mendasar ,totalitas,satu visi, ketelitian dalam memandang hidup&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sa Sifat ingsun handulu sifatullah- membentuk kasih sayang seperti kasih Tuhan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wa Wujud hana tan kena kinira – ilmu manusia hanya terbatas namun implikasinya bisa tanpa batas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;La Lir handaya paseban jati – mengalirkan hidup semata pada tuntunan Illahi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pa Papan kang tanpa kiblat – Hakekat Allah yang ada disegala arah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dha Dhuwur wekasane endek wiwitane – Untuk bisa diatas tentu dimulai dari dasar&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ja Jumbuhing kawula lan Gusti -selalu berusaha menyatu -memahami kehendak Nya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya Yakin marang samubarang tumindak kang dumadi – yakin atas titah /kodrat Illahi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nya Nyata tanpa mata, ngerti tanpa diuruki – memahami kodrat kehidupan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ma Madep mantep manembah mring Ilahi – yakin – mantap dalam menyembah Ilahi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ga Guru sejati sing muruki – belajar pada guru nurani&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ba Bayu sejati kang andalani – menyelaraskan diri pada gerak alam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tha Tukul saka niat – sesuatu harus dimulai – tumbuh dari niatan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nga Ngracut busananing manungso – melepaskan egoisme pribadi -manusia&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah ide cemerlang dalam penyusunan huruf jawa dikemukakan oleh Prof.Dr. Damardjati Supadjar, beliau menyusun susunan huruf huruf  yang biasanya seperti pada tulisan diatas menjadi:&lt;br /&gt;  ka   ma   ba   tha   ra&lt;br /&gt;  ga   da   sa   nya   ta&lt;br /&gt;  na   la   pa   dha   nga&lt;br /&gt;  ja   wa   ha   ca   ya&lt;br /&gt;Susunan huruf Huruf  jawa diatas sangat relevan dengan kondisi masyarakat Indonesia pada umunya dan jawa pada khususnya, makna perhuruf tetap sama namun makna perbaris berbeda, berikut adalah makna perbaris susunan diatas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ka ma ba tha ra mempunyai makna filosofi hendaknya wiji/biji/sperma itu jangan di sia siakan dalam arti banyak sekali tempat tempat prostitusi di negeri kita tercinta ini yang semuanya menawarkan untuk mengecer-ecer wiji secara berbayar, semuanya itu hendaknya segera diakhiri mengingat satu tetes wiji itu sama nilainya dengan 100 tetes darah bagi yang percaya, hendaknya pula energi yg ada disekitar pusar kita di purba diri untuk di alirkan ke atas ubun ubun atau dari cakra pusar ke cakra ubun ubun  bukannya malah dialirkan kebawah melalui kemaluan atau mengecer-ecer wiji. didalam kearifan jawa ada istilah titis, tetes, Tetes, titis itu maksudnya tepat sasaran, tetes itu maksudnya menetes, sedangkan tetes yang kedua maksudnya tetas, apabila digabungkan ketiganya bisa ditarik kesimpulan perlu untuk menitis memusatkan pikiran dan hati supaya tetes yg akan ditetas itu menjadi pribadi pilihan, maka tidak heran apabila ahli meditasi itu apabila berhubungan badan jarang sekali ejakulasi karena energi yang biasanya disalurkan kebawah menjadi disalurkan keatas, para ahli meditasi itu hanya akan tetes apabila pada waktu akan membuahi, itupun cuma sedikit atau seperlunya tapi mempunyai kualitas yang unggul. Disisi lain titis tetes tetes itu dimaksudkan menitiskan pada bathin kita untuk melahirkan diri yang berkesadaran tinggi atau berkesadaran rohani, dengan kata lain diri kita yang biasanya berkesadaran jasmani yang penuh ketergantungan duniawi bertransformasi ke kesadaran rohani yang bebas dari polusi dunia, inilah makna hijrah yang sebenarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ga da sa nya ta mempunyai makna gada itu bermakna senjata gada, pada kenyataannya makna filosofi yang terkandung didalamnya  adalah apabila kita sudah melakukan titis tetes secara batiniyah maka kita akan mempunyai senjata yang nyata dalam hal untuk menghadapi krisis multidimensi yaitu diri yang sudah meninggalkan dunia sebelum meninggal dunia dan inilah pribadi pilihan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;na la pa dha nga  mempunyai arti hati yang terang, orang yang sudah sadar rohani itu hatinya terang sebab tiada suatu apapun yang menghalangi hatinya dari pancaran Nur illahi, hati orang yang sudah mempunyai kesadaran rohani bebas dari polusi dunia baik berupa ketergantungan materi maupun sifat keegoisan yang tinggi , suka mengaku-aku sepihak dalam kata lain ego yg sombong tidak mau sujud kepadaNya.&lt;br /&gt;ja wa ha ca ya  mempunyai arti apabila hati kita sudah terang benderang karena tiada satupun yg mengotorinya maka "hujan' cahaya maha cahaya Nur illahi akan terjadi dan menyinari setiap pribadi pilihan tersebut untuk dipantulkan ke pribadi yang lain dan juga makhluk disekitarnya dalam bentuk kerja nyata secara ikhlas karena Tuhan bukan karena yang lainnya, perlu diketahui nur Tuhan itu indah tanpa batas, hanya ego kita yang menghalanginya, apabila tidak ada lagi ego di diri kita maka tidak ada lagi yang menghalanginya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PENUTUP&lt;br /&gt;1. kesimpulan&lt;br /&gt;Filsafat hidup bedasarkan akasara jawa yaitu &lt;br /&gt;Adanya  kehidupan manusia yang diciptakan oleh Tuhan YME, yang diutus untuk memelihara alam lingkungan  dengan berpedoman pada tuntunan –Nya, sehingga manusia tidak banyak berbuat salah. Pedoman yang diberikan oleh Tuhan YME itu tidak pernah salah sehingga dapat dijadikan sebagai pegangan hidup. Karena didalam diri manusia mempunyai hati nurani yang dapat tergoda oleh berbagai nafsu , maka sering timbul pertentangan dalam dirinya. Oleh karena itu manusia dianjurkan selalu memohon petunjuk kepada Tuhan YME agar senantiasa berada dalam jalan kebenaran. Sebab, pada akhirnya manusia akan menjadi mayat / meninggal  ketika sukma atau ruh kita meninggalkan raga/jasmani kita. Sesungguhnya kita tidak akan hidup selamanya dan pada akhirnya akan kembali juga kepada Tuhan YME. Oleh karena itu kita harus senantiasa mempersiapkan bekal untuk menghadap Tuhan YME.&lt;br /&gt;2. Saran .&lt;br /&gt;Disarankan kepada setiap manusia sebagai berikut:&lt;br /&gt;1.  Untuk lebih memperkuat iman dan taqwa kita kepada Tuhan YME, dengan menjalankan perintah- Nya dan Larangan- Nya.&lt;br /&gt;2. Manusia sebagai makluk social diharapakan dapat berhubungan yang baik dengan manusia yang lainnya.&lt;br /&gt;3. Manusia senantiasa menjaga kelestarian lingkungan ( baik tumbuhan maupun hewan).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DAFTAR PUSTAKA &lt;br /&gt;Tim Koordinasi Siaran Direktorat Jenderal Kebudayaan.1995.Aneka Ragam Khasanah Budaya Nusantara VI.Jakarta:Departemen Pendidikan dan kebudayaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;http://alangalangkumitir.wordpress.com/category/aksara-jawa/&lt;br /&gt;http://kanktono.blogspot.com/2009/08/gothak-gathik-gathuk-huruf-jawa.html&lt;br /&gt;http://id.wikipedia.org/wiki/Hanacaraka&lt;br /&gt;http://vietaoslo.wordpress.com/2009/11/23/filsafat-hidup-berdasarkan-huruf-aksara-jawa/&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6072209488519353307-5308440802128711491?l=ninkwidya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ninkwidya.blogspot.com/feeds/5308440802128711491/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ninkwidya.blogspot.com/2010/01/filsafat-hidup-berdasarkan-aksara-jawa.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6072209488519353307/posts/default/5308440802128711491'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6072209488519353307/posts/default/5308440802128711491'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ninkwidya.blogspot.com/2010/01/filsafat-hidup-berdasarkan-aksara-jawa.html' title=''/><author><name>ninkw1dya ( alve Dya Aurelia Latifa)</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02190777662680452949</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_vgyL60s208c/SvuobeHd1pI/AAAAAAAAADY/zqthVFtNEm8/S220/aku+di+legian.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6072209488519353307.post-6351449360261274718</id><published>2010-01-22T18:05:00.000-08:00</published><updated>2010-01-22T18:41:33.972-08:00</updated><title type='text'>KARAKTERISTIK PENELITIAN KUALITATIF</title><content type='html'>Karakteristik metodologi penelitian secara jelas akan mewarnai setiap langkah kegiatan dalam pelaksanaan penelitian. Kurangnya pemahaman peneliti terhadap karakteristik metodologi tersebut dapat berakibat terhadap rendahnya kualitas penelitian  yang dilakukan. Beberapa karakteristik penelitian kualitatif yang menonjol, antara lain sebagai berikut :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a. Permasalahan Masa Kini &lt;br /&gt;        Pada umumnya penelitian kualitatif mengarahkan  kegiatannya pada masalah kekinian. Subjek peristiwa yang diteliti bukan masa lampau seperti dalam penelitian sejarah. Dengan demikian penelitian kualitatif bersifat empirik dengan sasaran penelitiannya yang berupa beragam permasalahan yang terjadi di masa kini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b. Natural Setting&lt;br /&gt;      Topik penelitian kualitatif diarahkan pada kondisi asli apa adanya, sesuai dengan di mana, dan kapan subjek penelitian berada. Dengan demikian sasaran penelitian berada dalam posisi kondisi asli seperti apa adanya secara alami tanpa rekayasa penelitian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;c. Bersifat Holistik.&lt;br /&gt;      Penelitian Kualitatif memandang berbagai masalah selalu berada dalam kesatuannya tidak terlepas dari kondisi yang lain yang menyatu dalam suatu konteks. Berbagai variable yang dikaji tidak bisa dipahami secara terpisah dari posisi keterkaitanya dalam suatu konteks keseluruhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;d. Memusatkan pada deskripsi.&lt;br /&gt;     Penelitian kualitatif memusatkan pada kegiatan ontologis, sehingga data yang dikumpulkan terutama berupa kata kata, kalimat atau gambar memiliki makna yang lebih nyata daripada sekedar angka atau frekuensi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;e. Analisis induktif.&lt;br /&gt;     Penelitian kualitatif menekankan pada analisis induktif. Data yang dikumpulkan bukan dimaksudkan untuk mendukung atau menolak hipotesis penelitian, tetapi abstraksi disusun sebagai kekhususan yang telah terkumpul dan dikelompokkan melalui proses pengumpulan data yang dilakukan secara teliti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;f. Desain penelitian lentur dan terbuka.&lt;br /&gt;    Dalam penelitian kualitatif, desain disusun secara lentur dan terbuka disesuaika n dengan kondisi sebenarnya yang dijumpai di lapangan. Penelitian tidak menerima desain yang ditentukan secara apriori karena tidak tepat dalam menghadapi realitas dari berbagai masalah yang sebelumnya tidak diketahui.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;g. Peneliti sebagai alat utama penelitian.&lt;br /&gt;      Berbagai alat pengumpulan data dapat dimanfaatkan sebagai peralatan penunjang dalam penelitian kualitatif , namun demikian , alat penelitian utamanya tetaplah peneliti sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;h. Purposive Sampling.&lt;br /&gt;     Mengingat bahwa penelitian kualitatif tidak ada tujuan untuk melakukan generalisasi, maka penarikan sampel dilakukan dengan teknik cuplikan yang bersifat purposive.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;i. Makna sebagai perhatian utama.&lt;br /&gt;     Peneliti memusatkan dirinya pada participant perspektive. Dengan demikian dapat dihindari perumusan makna mengenai sesuatu di dlaam konteksnya yang berdasarkan  pandangan hanya dari penelitnya sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;j. Bentuk laporan dengan model studi kasus.&lt;br /&gt;    laporan penelitian kualitatif cenderung untuk menggunakan model laporan studi kasus, karena lebih sesuai bagi penyajian realitas multiperspektif dengan kekayaan deskripsinya.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6072209488519353307-6351449360261274718?l=ninkwidya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ninkwidya.blogspot.com/feeds/6351449360261274718/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ninkwidya.blogspot.com/2010/01/karakteristik-penelitian-kualitatif.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6072209488519353307/posts/default/6351449360261274718'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6072209488519353307/posts/default/6351449360261274718'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ninkwidya.blogspot.com/2010/01/karakteristik-penelitian-kualitatif.html' title='KARAKTERISTIK PENELITIAN KUALITATIF'/><author><name>ninkw1dya ( alve Dya Aurelia Latifa)</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02190777662680452949</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_vgyL60s208c/SvuobeHd1pI/AAAAAAAAADY/zqthVFtNEm8/S220/aku+di+legian.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6072209488519353307.post-3371157184347981084</id><published>2010-01-22T01:11:00.000-08:00</published><updated>2010-01-22T03:01:30.211-08:00</updated><title type='text'>PENELITIAN KUALITATIF</title><content type='html'>Penelitian kualitatif adalah suatu penelitian yang terkait pada konteksnya.&lt;br /&gt;Penelitian kualitatif sering disebut dengan study kasus karena bentuk penelitian kualitatif baik penelitian dasar maupun penelitian terapan bersifat kontekstual yang berdasarkan sifat kekhususan dan sama sekali tidak ada pemikiran untuk melakukan generalisasi terhadap  konklusi penelitian.&lt;br /&gt;Ciri ciri penelitian study kasus adalah :&lt;br /&gt;peneliti dapat berinteraksi terus menerus dengan isu isu yang menjadi kajian teoritisnya.&lt;br /&gt;peneliti dapat berinteraksi dengan data data yang dikumpulkan.&lt;br /&gt;peneliti dapat menggunakan berbagai sumber bukti dalam penelitian tentang peristiwa yang berkonteks pada kehidupan nyata. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam penelitian study kasus terpancang ( embedded case study ) , disini fokus atau tujuan utama dari penelitian ditentukan terlebih dahulu sebelum peneliti terjun ke lapangan sehingga peneliti tetap terfokus pada masalah yang telah dirumuskan dan penelitian tidak berubah arah sehingga desain asli tetap dengan pertanyaan pertanyaan yang telah dirumuskan pada awal penelitian. &lt;br /&gt;Sedangkan dalam penelitian study kasus tidak terpancang ( grounded reseach ) , fokus atau tujuan utamanya belum ditentukan, disini peneliti melakukan penelitian terlebih dahulu baru menentukan tujuan. Tujuan akan tercapai berdasarkan dengan informasi apa yang diperoleh dilapangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam penelitian kualitatif , baik yang berbentuk studi kasus terpancang ( embedded case study ) maupun studi kasus yang tidak terpancang ( grounded reseach ) , kajiannya cenderung untuk mengarah pada analisis hubungan sebab akibat dari beberapa variable berdasarkan apa yang sebenarnya terjadi di lapangan. Selain itu , penelitian kualitatif lebih mementingkan deskripsi proses tentang mengapa dan bagaimana suatu bisa terjadi yang mengarah pada pemahaman makna.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Berdasarkan jumlah kasus yang dikaji penelitian kualitatif dibedakan menjadi 2 yaitu :&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Studi kasus tunggal adalah suatu penelitian yang arah sasarannya terpusat pada satu karakteristik saja. Meskipun jumlah lokasinya ada banyak , apabila memiliki karakteristk yang sama maka penelitian tersebut masih disebut dengan penelitian studi kasus tunggal. &lt;br /&gt;Studi kasus ganda adalah suatu penelitian dengan arah sasaran yang terdiri dari beberapa karakteristik yang memiliki perbedaan .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tujuan Penelitian Kualitatif:&lt;br /&gt;Untuk memahami kondisi suatu konteks dengan mengarahkan pada pendeskipsian secara rinci dan mendalam mengenai protet kondisi dalam suatu konteks yang dialami ( nature setting ), tentang apa yang sebenarnya terjadi menurut apa adanya di lapangan studi.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6072209488519353307-3371157184347981084?l=ninkwidya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ninkwidya.blogspot.com/feeds/3371157184347981084/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ninkwidya.blogspot.com/2010/01/penelitian-kualitatif.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6072209488519353307/posts/default/3371157184347981084'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6072209488519353307/posts/default/3371157184347981084'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ninkwidya.blogspot.com/2010/01/penelitian-kualitatif.html' title='PENELITIAN KUALITATIF'/><author><name>ninkw1dya ( alve Dya Aurelia Latifa)</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02190777662680452949</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_vgyL60s208c/SvuobeHd1pI/AAAAAAAAADY/zqthVFtNEm8/S220/aku+di+legian.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6072209488519353307.post-2542548089943156556</id><published>2009-10-27T04:06:00.000-07:00</published><updated>2009-10-27T04:24:38.808-07:00</updated><title type='text'>REMBULAN SEKSI KANG BISU</title><content type='html'>Wengi iki kowe mesem ngguyu&lt;br /&gt;Weruh bocah bocah nembang dolanan ing plaaran&lt;br /&gt;Wengi kepungkur nangis sesegen&lt;br /&gt;Weruh tumindake durjana nyekel gegaman nggegirisi&lt;br /&gt;Wengi pendhak wengi maneh katon rasa welas asihmu&lt;br /&gt;Weruh wong temen temen nyambut gawe nganti tengahing wengi&lt;br /&gt;Wengi candhake lha kok ? mung anteng meneng nganggo mentheleng&lt;br /&gt;Weruh maneka polah jangkahe manungsa kang saba bengi&lt;br /&gt;Wengi wengi kang sepi kowe kesengsem&lt;br /&gt;Weruh umat sa-alun -alun dzikir pasrah marang Gusti&lt;br /&gt;Wengi kang endah langite padhang kowe durung turu&lt;br /&gt;Weruh wong lanang wadon suka - sukaing jaba tanpa payon &lt;br /&gt;tanpa gedhek &lt;br /&gt;Wengi selawase ora tau kandha ra ana crita&lt;br /&gt;Prasetyamu minangka seksi kang bisu umat bumi&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6072209488519353307-2542548089943156556?l=ninkwidya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ninkwidya.blogspot.com/feeds/2542548089943156556/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ninkwidya.blogspot.com/2009/10/rembulan-seksi-kang-bisu.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6072209488519353307/posts/default/2542548089943156556'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6072209488519353307/posts/default/2542548089943156556'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ninkwidya.blogspot.com/2009/10/rembulan-seksi-kang-bisu.html' title='REMBULAN SEKSI KANG BISU'/><author><name>ninkw1dya ( alve Dya Aurelia Latifa)</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02190777662680452949</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_vgyL60s208c/SvuobeHd1pI/AAAAAAAAADY/zqthVFtNEm8/S220/aku+di+legian.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6072209488519353307.post-7679165563963429707</id><published>2009-06-08T01:17:00.000-07:00</published><updated>2009-06-08T01:18:02.202-07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>SERAT RENGGANIS&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Serat Rengganis adalah salah satu karya sastra Bahasa Jawa Baru .Karya sastra ini berasal dari tradisi jawa – Islam.Karya sastra ini termasuk dalam kelompok teks Surat Menak yang digolongkan dalam sastra jawa Pesisir.Cerita ini pernah popular sekali – ditanah Jawa ,selain itu juga disekitar Sunda , Madura,Bali dan Lombok.Rengganis adalah seorang putri yang cantik jelita .Selama hidupnya Dewi Rengganis mengalami berbagai ujian tetapi pada akhirnya dia hidup bahagia setelah menikah dengan Pangeran Kelan .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SINOPSI&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Serat ini menceritakan tentang seorang pendeta yang sedang bertapa  dibukit Argapura.Pendeta tersebut dulunya pernah memerintah di kerajaan Jamineran. Beliau mempunyai seorang putri yang cantik jelita yang bernama Dewi Rengganis. Setelah istrinya meninggal pendeta dan putrinya meninggalkan kerajaan .&lt;br /&gt;Selama dipetapaan Dewi Rengganis diasuh oleh ayahnya.Oleh karena Dewi Rengganis putri seorang pendeta maka  dari sejak kecil dia sudah suka bertapa dan dia suka makan sari dari bunga – bunga yang menyebabkan dia sakti mandaraguna dan bisa terbang.&lt;br /&gt;Pangeran Kelan yang sering disebut Repatmaja adalah seorang putra dari Amir Hamzah . Beliau sudah menikah dengan Dewi Julusul – Asikin ,akan tetapi beliau tidak mencintainya.Setiap hari Pangeran Kelan kerjanya hanya bertamasya di taman Banjaran Sari.&lt;br /&gt;Pada suatu hari Dewi Rengganis pergi ketaman Banjaran Sari untuk memetik bunga dan memakan sari dari bunga –bunga tersebut .Setelah memakan sari sari bunga biasanya Dewi Rengganis langsung pergi. Pangeran Kelan sering mendapat laporan kalau bunga –bunga ditaman sering hilang.Dan pada akhirnya beliau sendiri yang menangkap si pencuri ini .Ternyata yang mengambil bunga bunga tersebut adalah Dewi Rengganis. Ketika Pangeran Kelan melihat kecantikan Dewi Rengganis,Pangeran langsung jatuh cinta kepadanya. Pangeran Kelan membujuk agar Dewi Rengganis mau untuk dijadikan istri keduanya.Tapi Dewi Rengganis tidak mau.Berkali kali Pangeran Kelan membujuk bujuk Dewi Rengganis dan pada akhirnya Dewi Rengganis mau untuk dijadikan istri keduanya tapi Pangeran Kelan harus mengabulkan satu permintaannya. Permintaan Dewi Rengganis sangat mudah, dia hanya ingin Pangeran Kelan menikah dengan  Dewi Kadarmanik putri dari Mukadam.&lt;br /&gt;Dewi Rengganis sering kali pergi ketaman untuk memetik bunga tapi tidak ada seorang pun ada yang tahu akan kedatangannya kecuali Pangeran Kelan sendiri. Jadi setiap Dewi Rengganis pergi ke taman Banjaran Sari Pangeran Kelan selalu menyambutnya sambil mencumbu cumbunya. Melihat tingkah laku pangeran yang aneh itu para dayang dayangnya heran . Dikiranya Pangeran Kelan itu gila .&lt;br /&gt;Semua orang mengira bahwa Pangeran Kelan gila begitu juga istrinya. Dan kabar tersebut telah diketahui Wong Agung yang ada di kerajaan. Setelah mendengar berita tersebut Wong Agung menyuruh Pangeran beserta istrinya untuk pindah dikerajaan ,tapi Pangeran Kelan tidak mau. &lt;br /&gt;Pada suatu hari Dewi Rengganis datang ke taman Banjaran Sari dan mengajak Pangeran Kelan untuk menghadap ayahnya dipertapaan Argapura. Mereka pergi dengan terbang,Pangeran Kelan memegang selendang Dewi Rengganis. Setelah tiba dipertapaan Argapura Pangeran Kelan langsung menghadap pada sang pendeta.&lt;br /&gt;Suasana dikerajaan sangat kacau setelah  kepergian Pangeran Kelan yang secara mendadak . Wong Agung menyuruh Umarmaya untuk mencari Pangeran Kelan.Kemudian Umarmaya bertanya kepada seorang pendeta yang bernama Seh Dul Kures.Seh dul kures memberitahu keberadaan Pangeran Kelan tetapi pendeta tersebut melarang Umarmaya untuk menemui Pangeran Kelan. Pendeta menyuruh Umarmaya pergi ke negara Mukadam.Pada saat itu Dewi Kadarmanik sudah menikah dengan Raden Hirman,putra Raja Madajin,akan tetapi sang dewi tidak mencintainya.&lt;br /&gt;Prajurit balatentara di Mukadam itu bukan manusia melainkan arca besi yang dapat digunakan dalam peperangan.Para prajurit prajurit tersebut dipimpin oleh sang Madjusi.Sebelumnya sang Madjusi sudah diberitahu bahwa akan ada pencuri yang datang mengintai yaitu Umarmaya.Oleh sebab itu semuanya disuruh supaya berhati hati.&lt;br /&gt;Setibanya di negara Mukadam Umarmaya memasang perangkap,akan tetapi tingkah laku Umarmaya sudah diketahui oleh sang Madjusi.Akhirnya perangkap sang Umarmaya tidak berhasil malahan dia tertangkap dan dimasukkan kedalam sumur wisa.Dengan tertangkapnya Umarmaya maka semua orang di Mukadam berpesta .&lt;br /&gt;Disaat itu hati dewi Kadarmanik sangat sedih,dia mengharapkan kedatangaan teman serta gurunya yaitu Dewi Rengganis.Pada saat itu Dewi Kadarmanik sudah memeluk agama islam.Tidak lama kemudian Dewi Rengganis beserta Pangeran Kelan datang , Dewi Rengganis masuk kekamar sedangkan Pangeran Kelan ditingggal diluar kamar.&lt;br /&gt;Dewi Kadarmanik menangis ,karena tidak cinta kepada Raden Hirman.Kemudian Dewi Rengganis menghiburnya ,sampai dewi Kadarmanik tertidur.Lalu Dewi Rengganis keluar memanggil Pangeran Kelan .Dewi Rengganis menyuruh Pangeran Kelan masuk kedalam kamar dan tidur disamping Dewi Kadarmanik.Setelah Dewi Kadarmanik terbangun,ia sangat terkejut sekali melihat seorang lelaki tidur disampingnya.Kemudian Pangeran Kelan menjelaskan bahwa dirinya itu sebenarnya adalah Dewi Rengganis. Setelah mendengar perkataan Pangeran Kelan ,Dewi Kadarmanik sedikit reda. Akan tetapi ia masih belum percaya bahwa lelaki yang tidur disampingnya adalah Dewi Rengganis.Pada saat itu Dewi Kadarmanik belum menaruh cinta kepada Pangeran Kelan.Keesokan harinya Dewi Renggnis beserta Pangeran Kelan pulang ke Argapura.&lt;br /&gt;Pada saat itu dipendapa istana,para pembesar masih.Raden Hirman yang dalam keadaan mabuk berat pergi menemui Dewi Kadarmanik ,akan tetapi Dewi Kadarmanik menutup pintu kamarnya dan tidak mau menemui Raden Hirman. Raden Hirman sangat kecewa sekali.&lt;br /&gt;Di dalam kamar Dewi Kadarmanik sangat mengharapkan kedatangan Dewi Rengganis .Dewi Rengganis datang beserta Pangeran Kelan,kemudian Dewi Rengganis menyuruh Pangeran Kelan menemui Dewi Kadarmanik di kamarnya.Dewi Kadarmanik menyangka bahwa Pangeran Kelan adalah Dewi Rengganis yang sedang menjelma menjadi seorang laki-laki.Dewi Kadarmanik beserta Pangeran Kelan layaknya pasangan suami istri,akan tetapi Pangeran Kelan tidak mau merusak kesusilan.Kemudian Pangeran Kelan memutuskan keluar kamar .Tak lama kemudian Dewi Rengganis masuk kedalam kamar ,Dewi Kadarmanik sangat senang sekali  karena Dewi Rengganis sudah kembali kewujud semula.Lalu Dewi Rengganis menceritakan semua kejadian yang dialami oleh Dewi Kadarmanik adalah tipu muslihat dari sang dewi agar Dewi Kadarmanik menaruh hati pada Pangeran Kelan. Dewi Rengganis meminta agar Dewi Kadarmanik mau menikah dengan Pangeran Kelan.Pada saat itu juga Raden Hirman datang menemui Dewi Kadarmanik. Raden Hirman meminta agar dewi Kadarmanik mau melayaninya.Akan tetapi Dewi Kadarmanik tidak mau melayani raden Hirman. Dewi Kadarmanik menyuruh Dewi Rengganis untuk menjelma seperti dirinya dan menemui Raden Hirman untuk mengatakan bahwa dia belum siap untuk melayani Sang Raden.Dewi Rengganis yang menjelma menjadi Dewi Kadarmanik keluar menemui Raden Hirman dan mengatakan bahwa dirinya belum siap untuk melayaninya.Akhirnya Raden Hirman pergi dengan hati yang sangat kecewa.Setelah itu Dewi Rengganis masuk kedalam kamar dan merundingkan tentang pernikahan Dewi Kadarmanik dengan Pangeran Kelan.&lt;br /&gt;Di kerajaan,Wong Agung membicarakan tentang hilangnya Pangeran Kelan dan meninggalnya Raden Umarmaya. Setalah mendengar pembicaraan dari Wong Agung maka Raden Maktal menjelaskan panjang lebar mengenai hal tersebut. Lalu Wong Agung mempersiapakan tentara Arab untuk menyerang negeri Mukadam.&lt;br /&gt;Di Mukadam semua orang sangat khawatir dengan kedatangannya Wong Agung.Akan tetapi semuanya sudah dipersiapkan dengan matang oleh para tentara Mukadam.Para tentara Mukadam sudah siap berperang dengan bala tentara Arab.Akhirnya Wong Agung datang juga di negera Mukadam dan pertandingan dimulai juga.Pada saat itu tentara Arab kalah.&lt;br /&gt;Raden Umarmaya yang berada dalam sumur wisa berharap-harap akan mendapatkan pertolongan dari Pangeran Kelan. Akhirnya pertolongan itu datang juga.Ketika Pangeran Kelan,Dewi Rengganis dan Dewi Kadarmanik yang tidak sengaja bercakap cakap di samping sumur wisa mendengar suara minta tolong yang berasal dari sumur tersebut. Lalu mereka melihat kedalam sumur tersebut ternyata didalam sumur mereka melihat Umarmaya dan akhirnya Pangeran Kelan beserta Dewi Rengganis mengeluarkan Umarmaya dari sumur wisa. Pada saat itu Umarmaya terluka parah ,lalu Dewi Rengganis  mengobatinya serta mengambilkan  kantung ( kasang) yang diikat di ujung ranting pohon.Dikerajaan Wong Agung berharap akan  kedatangan Umarmaya karena beliau percaya bahwa sebenarnya umarmaya masih hidup.&lt;br /&gt;Karena berhasil mengalahkan tentara Arab ,Raja Mukadam dan Prabu Nursewan mengadakan pesta besar besaran .Akan tetapi di kerajaan ,Pangeran Kelan,Dewi Rengganis ,Umarmaya dan Wong Agung menyusun rencana untuk membalas dendam ke negara Mukadam.Mereka mempersiapkan pertandingan ini dengan sungguh sungguh,mereka tidak mau kalah lagi.Sebelum pertandingan dimulai Umarmaya beserta Dewi Rengganis pergi ketempatnya sang Madjusi untuk mengambil tempat air hidup yang dimiliki oleh Sang Madjusi.Setelah melihat kecantikan Dewi Rengganis ,Sang Madjusi meminta agar dewi Rengganis mau melayaninya dan kalau Sang Dewi mau melayaninya maka Sang Madjusi mau memberikan tempat air hidup tersebut kepada Dewi Rengganis .Akhirnya Dewi Rengganis mau melayani Sang Madjusi dan Sang Madjusi memberikan tempat air hidup itu kepada  Dewi Rengganis. Akan tetapi oleh Umarmaya tempat air hidup itu dipecahkan,dan kekuatan sang Madjusi saat itu juga hilang. Setelah itu Sang Madjusi dimasukkan dalam penjara.&lt;br /&gt;Bala tentara Arab menyerbu  bala tentara arca ,binasalah bala tentara arca.Raja Mukadam dan Prabu Nursewan pergi ke kota,dan menyuruh agar pintu perbatasan wilayah ditutup. &lt;br /&gt;Didalam perandingan tersebut seorang putri cina yang bernama Adaninggar meninggal dan Sang Widaninggar akan membalas dendam kepada Pangeran Kelan.&lt;br /&gt;Widaninggar beserta para prajurit perempuan berangkat untuk menyerang ,serta memberi bantuan kepada raja Mukadam.Widaninggar mempunyai seorang guru yang bernama Widaningrum (putri dari Idjadjil) dan dialah yang memberi perlengkapan untuk peperangan.Setelah Widaninggar tiba di Mukadam ,maka semangatnya Prabu Nursewan dan Prabu Mukadam bangkit kembali.Peperangan berkobar lagi,Pangeran Kelan melawan Widaninggar.Hampir – hampir kalah beliau ,akan tetapi beliau ditolong oleh Dewi Rengganis.&lt;br /&gt;Putri Cina tersebut berunding dengan sang Widaningrum tentang cra mengadakan serbuan baru. Disisi lain Pangeran Kelan juga merundingkan siasat perangnya dengan Dewi Rengganis dan Dewi Kadarmanik.Pangeran Kelan tidak menduga bahwa musuhnya adalah prajurit wanita.&lt;br /&gt;Pada malam hari dicurinya kasang Umarmaya oleh Dewi Widaningrum dan diberikannya kepada putri cina .Setalah kasang Umarmaya hilang ,semua orang Arab sangat binggung. Dewi rengganis sanggup mendapatkan kasang itu.&lt;br /&gt;Pada saat pertempuran dimulai lagi,Dewi Rengganis bertanding melawan Dewi Widaninggar dan akhirnya Dewi Widaninggar dapat dikalahkan. Setelah Widaninggar kalah barulah Sang Widaningrum maju melawan Dewi Rengganis.Dalam pertandingan tersebut Dewi Rengganis dapat dikalahkan oleh Widaningrum.Bala tentara Arab juga bertambah rusak. Wong Agung hanya bisa berdoa meminta pertolongan kepada Tuhan.Pertandingan tersebut tidak berakhir disitu saja tetapi masih berlanjut terus .Dewi Rengganis pergi Adjarah untuk meminta bantuan kepada Dewi Kuraisin .Dewi Kuraisin beserta para prajurit jinnya datang menyerbu .Pada akhirnya Sang Widaninggar mati dan Sang Widaningrum diikat lalu dibuang jauh jauh.Prabu Nursewan melarikan diri.&lt;br /&gt;Pada  akhirnya ,Dewi Rengganis dan Dewi Kuraisin pergi menghadap Wong Agung. Tentara wanita cina yang jumlahnya 40 orang tersebut akhirnya masuk Islam. Sedangkan kasang Umarmaya juaga sudah dikembalikan pada tempatnya. Raja Mukadampun takluk dan masuk Islam.Dewi Kuraisi kembali ke Adjarah dan Pangeran Kelan jadi menikah dengan Dewi Rengganis dan Dewi Kadarmanik. Adapaun Prabu Nursewan terus melarikan diri ke Nusantara meminta bantuan kepada prabu Kendit Birujung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KOMENTAR &lt;br /&gt;Diantara cerita – cerita Menak ,Serat Renggnis lah yang dipuji benar  oleh para pakar Sastra Jawa Belanda  akan keindahannya.Memang demikian halnya,akan tetapi sesungguhnya bagian yang mengisahkan pertemuan Pangeran Kelan dan Dewi Rengganis itu saja yang baik. Dan bagian yang lainnya hanya membosankan karena hanya menceritakan peperangan saja.&lt;br /&gt;Tingkah laku dan tutur kata Dewi Rengganis sangat menarik hati.Itu mencerminkan bahwa sang pengarang dalam membuat Serat Rengganis ini tidak terlalu dibuat buat.Sambutan dewi Rengganis kepada Pangeran Kelan yang begitu manisnya,ibarat jinak jinak merpati,tapi juga mengesalkan hati.Andai kata ditiru oleh pemudi pemudi jaman sekarang itu sangatlah baik.Demikian juga dengan Pangeran Kelan yang menggambarkan seorang pemuda yang baru jatuh cinta dan selalu dipancing pancing sehingga hatinya panas,tetapi tidak gusar,malahan berkobar kobarlah api cintanya.&lt;br /&gt;Dari serat diatas juga terdapat sisi kekurangannya yaitu Serat Rengganis sebagian besar menceritakan tentang peperangan.Didalamnya kebanyakan menceritakan tentang permusuhan ,pertikaian dan tidak ada akhirnya mereka selalu menaruh dendam . Selain itu juga selalu ingin menjatuhkan lawannya dan ingin menang sendiri. Semua itu kalau diterapkan dizaman sekarang ini sangatlah tidak cocok karena untuk menyelesaikan masalah tidak harus diselesaikan dengan kekerasan tetapi harus diselesaikan secara kekeluargaan agar tidak menimbulkan permusuhan dan menaruh dendam pada masing masing orang.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6072209488519353307-7679165563963429707?l=ninkwidya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ninkwidya.blogspot.com/feeds/7679165563963429707/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ninkwidya.blogspot.com/2009/06/serat-rengganis-serat-rengganis-adalah.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6072209488519353307/posts/default/7679165563963429707'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6072209488519353307/posts/default/7679165563963429707'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ninkwidya.blogspot.com/2009/06/serat-rengganis-serat-rengganis-adalah.html' title=''/><author><name>ninkw1dya ( alve Dya Aurelia Latifa)</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02190777662680452949</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_vgyL60s208c/SvuobeHd1pI/AAAAAAAAADY/zqthVFtNEm8/S220/aku+di+legian.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6072209488519353307.post-954333796584527275</id><published>2009-06-08T01:16:00.001-07:00</published><updated>2009-06-08T01:16:23.474-07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>ANALISIS CERKAK KADHUNG DINIYATI&lt;br /&gt;Catur Widyaningrum, Mahasiswi FKIP Bahasa Jawa&lt;br /&gt;UNIVET BANTARA SUKOHARJO&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pendahuluan&lt;br /&gt;Cerkak Kadhung Diniyati  ini  karya Sumono Sandi Asmaro dan diambil dari Panyebar Semangat  No.10 Minggu I MAret  2003&lt;br /&gt;Cerkak ini menceritakan kisah percintaan Danar dengan Yanti ,seorang gadis desa yang terpaksa bekerja menjadi PSK demi mencukupi kebutuhan keluarga.Pak Sukro (ayah Danar) tidak menyetujui hubungan cinta mereka karena beliau beranggapan bahwa jika pernikahan itu sampai terjadi maka akan menjadi aib bagi keluarganya. Pak Sukro berusaha membujuk Danar agar tidak menikah dengan Yanti. Pak sukro tidak ingin memiliki menantu seorang mantan PSK .Tetapi Danar masih tetap kukuh dengan niatnya untuk menikah dengan Yanti.Danar yakin bahwa setelah menikah nanti Yanti akan berubah dan berhenti menjadi PSK. Akhirnya Danar memutuskan keluar dari rumah tanpa sepengetahuan dari kedua orang tuanya. Danar terpaksa meninggalkan rumah demi Yanti. Pak Sukro sangat jengkel sekali terhadap kelauan putranya tapi pada akhirnya Pak Sukro dan Mbok Sukro mendoakan Danar agar kelak pernikahan putranya dapat menemukan kebahagiaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Metode dan pendekatan&lt;br /&gt;Dalam penelitian ini, peneliti menganilisis cerkak Kadhung Diniyati menggunakan pendekatan pragmatis. Pendekatan tersebut diartikan sebagai pendekatan yang menitikberatkan pada pembaca dan karya sastra dipandang sebagai karya seni yang berhasil jika berguna bagi publiknya. &lt;br /&gt;Untuk menganalisis cerkak tersebut, peneliti terlebih dulu menganalisis secara struktural. Dalam hal ini peneliti menganalisis unsur intrinsik yang dominan. Setelah itu peneliti menganalisis secara pragmatis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ANALISI STRUKTURAL&lt;br /&gt;Sebuah cerita merupakan sebuah struktur yang terjalin dari unsur unsur yang sangat erat .Oleh Stanton struktur cerita rekaan dibagi menjadi tema,fakta cerita,dan saran saran sastra. Tema merupakan patokan untuk membangun cerita .Fakta cerita adalah kenyataan kenyataan ,peristiwa peristiwa atau hal yang ada pada cerita.&lt;br /&gt;Fakta ini terdiri atas tiga hal ialah pelaku,alur dan latar atau setting.&lt;br /&gt;1. Tema &lt;br /&gt;Cerkak Kadhung Diniyati ini  menampilkan tema,pertentangan antara golongan muda dengan golongan tua dalam menentukan jodoh.&lt;br /&gt;2. Penokohan &lt;br /&gt;Dilihat dari segi fisik ,Tokoh utamanya adalah Danar karena didalam cerkak tersebut hanya menceritakan perselisihan pendapat antara Danar dengan Pak Sukro sehingga Danar dalam cerkak tersebut mempunyai peranan yang sangat penting.&lt;br /&gt;Dilihat dari segi psikologi ,tokoh tokoh yang berwatak bulat adalah Pak Sukro,Mbok Sukro dan Yanti ( Tokoh ini mengalami pergeseran /perubahan tokoh).&lt;br /&gt;Pak Sukro dan Mbok Sukro mulanya berwatak keras memaksakan kehendak mereka melarang dan tidak merestui pernikahan putranya tetapi pada akhirnya hati mereka luluh dengan merestui dan mendoakan putranya agar kelak putranya menemukan kebahagian dalam hidupnya.Danar  berwatak datar karena dari awal sampai akhir wataknya masih tetap tidak mengalami perubahan.&lt;br /&gt;3. Latar/ Setting &lt;br /&gt;Dalam cerkak Kadhung Diniyati  latar tempatnya tidak begitu jelas, tapi disini penulis dapat mengambil kesimpulan bahwa latar tempat dari cerkak itu adalah disebuah rumah yang berada di suatu daerah.Waktu kejadian dalam cerkak diatas adalah pada pagi hari yang sangat cerah dan keadaan di sekitarnya masih sepi sunyi.Suasana dalam cerkak tersebut agak menegangkan karena sempat terjadi adu mulut antara Pak Sukro dengan Danar .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ANALISIS SOSIOLOGI&lt;br /&gt; Berdasarkan ciri ciri yang nampak dari cerkak Kadhung diniyati ini maka cerkak ini tergolong dalam aliran realisme formal karena didalamnya mengungkap hubungan antara perseorangan dengan lingkungan hidupnya,dan hasilnya keseluruhannya menunjukkan pola moral/formal&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PESAN YANG TERKANDUNG DALAM CERKAK KADHUNG DINIYATI&lt;br /&gt;1. Kita harus patuh dan berbakti kepada orang tua.&lt;br /&gt;2. Sebagai orang tua kita tidak boleh terlalu otoriter dan memaksakan kehendak kepada anak.&lt;br /&gt;3. Kita harus belajar memaafkan kesalahan seseorang karena di dunia ini tidak ada yang sempurna.&lt;br /&gt;4. Dalam mengambil keputusan kita harus tepat dan bijaksana&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6072209488519353307-954333796584527275?l=ninkwidya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ninkwidya.blogspot.com/feeds/954333796584527275/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ninkwidya.blogspot.com/2009/06/analisis-cerkak-kadhung-diniyati-catur.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6072209488519353307/posts/default/954333796584527275'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6072209488519353307/posts/default/954333796584527275'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ninkwidya.blogspot.com/2009/06/analisis-cerkak-kadhung-diniyati-catur.html' title=''/><author><name>ninkw1dya ( alve Dya Aurelia Latifa)</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02190777662680452949</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_vgyL60s208c/SvuobeHd1pI/AAAAAAAAADY/zqthVFtNEm8/S220/aku+di+legian.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6072209488519353307.post-5880366841501951207</id><published>2009-06-08T01:14:00.001-07:00</published><updated>2009-06-08T01:14:11.670-07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>1&lt;br /&gt;ILMU ALAMIAH DASAR&lt;br /&gt;Ilmu alamiah atau sering disebut ilmu pengetahuan alam (natural science)&lt;br /&gt;merupakan pengetahuan yang mengkaji tentang gejala-gejala dalam alam semesta,&lt;br /&gt;termasuk di muka bumi ini, sehingga terbentuk konsep dan prinsip. IAD hanya&lt;br /&gt;mengkaji konsep-konsep dan prinsip-prinsip dasar yang esensial saja.&lt;br /&gt;A. MANUSIA YANG BERSIFAT UNIK&lt;br /&gt;Ciri-ciri manusia&lt;br /&gt;a. Organ tubuhnya kompleks dan sangat khusus, terutama otaknya&lt;br /&gt;b. Mengadakan metabolisme atau pertukaran zat, (ada yang masuk dan keluar)&lt;br /&gt;c. Memberikan tanggapan terhadap rangsangan dari dalam dan luar&lt;br /&gt;d. Memiliki potensi untuk berkembang biak&lt;br /&gt;e. Tumbuh dan bergerak&lt;br /&gt;f. Berinteraksi dengan lingkungannnya&lt;br /&gt;g. Sampai pada saatnya mengalami kematiian&lt;br /&gt;Manusia adalah makhluk yang lemah dibanding makhluk lain namun dengan&lt;br /&gt;akal budinya dan kemauannya yang sangat kuat maka manusia dapat&lt;br /&gt;mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi dengan ilmu pengetahuan dan&lt;br /&gt;teknologi manusia dapat hidup dengan lebih baik lagi. Akal budinya dan kemauannya&lt;br /&gt;yang sangat kuat itulah sifat unik dari manusia.&lt;br /&gt;B. KURIOSITAS ATAU RASA INGIN TAHU DAN AKAL BUDI&lt;br /&gt;Rasa ingin tahu makhluk lain lebih didasarkan oleh naluri (instinct) /idle&lt;br /&gt;curiosity naluri ini didasarkan pada upaya mempertahankan kelestaraian hidup dan&lt;br /&gt;sifatnya tetap sepanjang zaman. Manusia juga mempunyai naluri seperti tumbuhan&lt;br /&gt;dan hewan tetapi ia mempunyai akal budi yang terus berkembang serta rasa ingin&lt;br /&gt;tahu yang tidak terpuaskan.&lt;br /&gt;Sesuatu masalah yang telah dapat dipecahkan maka akan timbul masalah lain yang&lt;br /&gt;menunggu pemecahannya, manusia setelah tahu apanya maka ingin tahu bagimana&lt;br /&gt;dan mengapa.&lt;br /&gt;Contoh : tempat tinggal manusia purba sampai manusia modern, contoh lain seperti&lt;br /&gt;penyakit setelah ditemukan obat suatu penyakit ada penyakit lain lagi yang dicoba&lt;br /&gt;untuk dicari obatnya (HIV AIDS)&lt;br /&gt;C. PERKEMBANGAN ALAM PIKIRAN MANUSIA&lt;br /&gt;Manusia yang mempunyai rasa ingin tahu terhadap rahasia alam mencoba&lt;br /&gt;menjawab dengan menggunakan pengamatan dan penggunaan pengalaman, tetapi&lt;br /&gt;sering upaya itu tidak terjawab secara memuaskan. Pada manusia kuno untuk&lt;br /&gt;memuaskan mereka menjawab sendiri. Misalnya kenapa ada pelangi mereka&lt;br /&gt;membuat jawaban, pelangi adalah selendang bidadari atau kenapa gunung meletus&lt;br /&gt;jawabannya karena yang berkuasa marah. Dari hal ini timbulnya pengetahuan tentang&lt;br /&gt;bidadari dan sesuatu yang berkuasa. Pengetahuan baru itu muncul dari kombinasi&lt;br /&gt;antara pengalaman dan kepercayaan yang disebut mitos. Cerita-cerita mitos disebut&lt;br /&gt;2&lt;br /&gt;legenda. Mitos dapat diterima karena keterbatasan penginderaan, penalaran, dan&lt;br /&gt;hasrat ingin tahu yang harus dipenuhi. Sehubungan dengan dengan kemajuan zaman,&lt;br /&gt;maka lahirlah ilmu pengetahuan dan metode ilmiah.&lt;br /&gt;Puncak pemikiran mitos adalah pada zaman Babilonia yati kira-kira 700-600&lt;br /&gt;SM. Orang Babilonia berpendapat bahwa alam semesta itu sebagai ruangan setengah&lt;br /&gt;bola dengan bumi yang datar sebagai lantainya dan langit dan bintang-bintang&lt;br /&gt;sebagai atapnya. Namun yang menakjubkan mereka telah mengenal bidang ekleptika&lt;br /&gt;sebagai bidang edar matahari dan menetapkan perhitungan satu tahun yaitu satu kali&lt;br /&gt;matahari beredar ketempat semula, yaitu 365,25 hari. Pengetahuan dan ajaran tentang&lt;br /&gt;orang Babilonia setengahnya merupakan dugaan, imajinasi, kepercayaan atau mitos&lt;br /&gt;pengetahuan semacam ini disebut Pseudo science (sains palsu)&lt;br /&gt;Tokoh-tokoh Yunani dan lainnya yang memberikan sumbangan perubahan pemikiran&lt;br /&gt;pada waktu itu adalah :&lt;br /&gt;a. Anaximander, langit yang kita lihat adalah setengah saja, langit dan isinya&lt;br /&gt;beredar mengelilingi bumi ia juga mengajarkan membuat jam dengan tongkat.&lt;br /&gt;b. Anaximenes, (560-520) mengatakan unsur-unsur pembentukan semua benda&lt;br /&gt;adalah air, seperti pendapat Thales. Air merupakan salah satu bentuk benda&lt;br /&gt;bila merenggang menjadi api dan bila memadat menjadi tanah.&lt;br /&gt;c. Herakleitos, (560-470) pengkoreksi pendapat Anaximenes, justru apilah yang&lt;br /&gt;menyebabkan transmutasi, tanpa ada api benda-benda akan seperti apa&lt;br /&gt;adanya.&lt;br /&gt;d. Pythagoras (500 SM) mengatakan unsur semua benda adalah empat : yaitu&lt;br /&gt;tanah, api, udara dan air. Ia juga mengungkapkan dalil Pythagoras C2 = A2 +&lt;br /&gt;B2, sehubungan dengan alam semesta ia mengatakan bahwa bumi adalah bulat&lt;br /&gt;dan seolah-olah benda lain mengitari bumi termasuk matahari.&lt;br /&gt;e. Demokritos (460-370) bila benda dibagi terus, maka pada suatu saat akan&lt;br /&gt;sampai pada bagian terkecil yang disebut Atomos atau atom, istilah atom&lt;br /&gt;tetap dipakai sampai saat ini namun ada perubahan konsep.&lt;br /&gt;f. Empedokles (480-430 SM) menyempurnakan pendapat Pythagoras, ia&lt;br /&gt;memperkenalkan tentang tenaga penyekat atau daya tarik-menarik dan data&lt;br /&gt;tolak-menolak. Kedua tenaga ini dapat mempersatukan atau memisahkan&lt;br /&gt;unsur-unsur.&lt;br /&gt;g. Plato (427-345) yang mempunyai pemikiran yang berbeda dengan orang&lt;br /&gt;sebelumnya, ia mengatakan bahwa keanekaragaman yang tampak ini&lt;br /&gt;sebenarnya hanya suatu duplikat saja dari semua yang kekal dan immatrial.&lt;br /&gt;Seperti serangga yang beranekaragam itu merupakan duplikat yang tidak&lt;br /&gt;sempurna, yang benar adalah idea serangga.&lt;br /&gt;h. Aristoteles merupakan ahli pikir, ia membuat intisari dari ajaran orang&lt;br /&gt;sebelumnya ia membuang ajaran yang tidak masuk akal dan memasukkan&lt;br /&gt;pendapatnya sendiri. Ia mengajarkan unsur dasar alam yang disebut Hule. Zat&lt;br /&gt;ini tergantung kondisi sehingga dapat berwujud tanah, air, udara atau api.&lt;br /&gt;Terjadi transmutasi disebabkan oleh kondisi, dingin, lembah, panas dan&lt;br /&gt;kering. Dalam kondisi lembab hule akan berwujud sebagai api, sedang dalam&lt;br /&gt;kondisi kering ia berwujud tanah. Ia juga mengajarkan bahwa tidak ada ruang&lt;br /&gt;yang hampa, jika ruang itu tidak terisi suatu benda maka ruang itu diisi oleh&lt;br /&gt;3&lt;br /&gt;ether. Aristoteles juga mengajarkan tentang klasifikasi hewan yang ada&lt;br /&gt;dimuka bumi ini.&lt;br /&gt;i. Ptolomeus (127-151) SM, mengatakan bahwa bumi adalah pusat tata surya&lt;br /&gt;(geosentris), berbentuk bulat diam seimbang tanpa tiang penyangga.&lt;br /&gt;j. Avicenna (ibn-Shina abad 11), merupakan ahli dibidang kedokteran, selain itu&lt;br /&gt;ahli lain dari dunia Islam yaitu Al-Biruni seorang ahli ilmu pengetahuan asli&lt;br /&gt;dan komtemporer. Pada abab 9-11 ilmu pengetahuan dan filasafat Yunani&lt;br /&gt;banyak yang diterjemahkan dan dikembangkan dalam bahasa Arab.&lt;br /&gt;Kebudayaan Arab berkembang menjadi kebudayaan Internasional.&lt;br /&gt;D. LAHIRNYA ILMU ALAMIAH&lt;br /&gt;Panca indera akan memberikan tanggapan terhadap semua rangsangan dimana&lt;br /&gt;tanggapan itu menjadi suatu pengalaman. Pengalaman yang diperoleh&lt;br /&gt;terakumulasi oleh karena adanya kuriositas manusia. Pengalaman merupakan&lt;br /&gt;salah satu terbentuknya pengetahuan, yakni kumpulan fakta-fakta. Pengalaman&lt;br /&gt;akan bertambah terus seiring berkembangnya manusia dan mewariskan kepada&lt;br /&gt;generasi-generasi berikutnya. Pertambahan pengetahuan didorong oleh pertama&lt;br /&gt;untuk memuaskan diri, yang bersifat non praktis atau teoritis guna memenuhi&lt;br /&gt;kuriositas dan memahami hakekat alam dan isinya kedua, dorongan praktis yang&lt;br /&gt;memanfaatkan pengetahuan itu untuk meningkatkan taraf hidup yang lebih tinggi.&lt;br /&gt;Dorongan pertama melahirkan Ilmu Pengetahuan Murni (Pure Science) sedang&lt;br /&gt;dorongan kedua menuju Ilmu Pengetahuan Terapan (Aplied Science)&lt;br /&gt;E. KRETERIA ILMIAH&lt;br /&gt;Pengetahuan masuk kategori Ilmu Pengetahuan, bila kriteria berikut dipenuhi&lt;br /&gt;yakni : teratur, sistemastis, berobyek, bermetoda dan berlaku secara universal.&lt;br /&gt;Contoh: 1. logam yang dipanasi memuai, dimana saja tempatnya sama&lt;br /&gt;2. Grafitasi Bumi.&lt;br /&gt;F. METODE ILMIAH DAN IMPLEMENTASINYA&lt;br /&gt;Segala kebenaran dalam ilmu Alamiah terletak pada metode ilmiah. Sebagai&lt;br /&gt;langkah pemecahan atau prosedur ilmiah dapat sebagai berikut :&lt;br /&gt;1. Penginderaan, merupakan suatu aktivitas melihat, mendengar, merasakan,&lt;br /&gt;mengecap terhadap suatu objek tertentu.&lt;br /&gt;2. Masalah dan problema, menemukan masalah dengan kata lain adalah&lt;br /&gt;dengan mengemukakan pertanyaan apa dan bagaimana.&lt;br /&gt;3. Hipotesis, jawaban sementara terhadap pertanyaan yang kita ajukan.&lt;br /&gt;4. Eksperimen, dari sini ilmu alamiah dan non ilmu alamiah dapat dipisahkan.&lt;br /&gt;Contoh dalam gejala alam tentang serangga dengan lampu (sinar biru)&lt;br /&gt;5. Teori, bukti eksperimen merupakan langkah ilmiah berikutnya yaitu teori.&lt;br /&gt;Dengan hasil eksperimen dari beberapa peneliti dan bukti-bukti yang&lt;br /&gt;menunjukkan hasil yang dapat dipercaya dan valid walaupun dengan&lt;br /&gt;keterbatasan tertentu. Maka disusun teori. Dengan teori-teori yang&lt;br /&gt;dikemukakan maka dapat diaplikasikan terhadap kebutuhan manusia seperti&lt;br /&gt;pengusiran serangga atau perangkap nyamuk (terkait dengan teori&lt;br /&gt;pencahayaan.&lt;br /&gt;4&lt;br /&gt;G. KETERBATASAN ILMU ALAMIAH&lt;br /&gt;Untuk itu perlu dilakukan pengujian sampai dimana berlakunya metode ilmiah&lt;br /&gt;dan dimana metode ilmiah tidak berlaku. Untuk itu kita perlu memperhatikan :&lt;br /&gt;Pertama, Bidang ilmu Alamiah, yang menentukan bidang ilmu alamiah adalah&lt;br /&gt;metode ilmiah, karena bidang ilmu alamiah adalah wahana di mana metode&lt;br /&gt;ilmiah dapat diterapkan, sebaliknya bidang non ilmiah adalah wahana dimana&lt;br /&gt;metode ilmiah tidak dapat terapkan. Contoh hipotesa tentang keberadaan tuhan&lt;br /&gt;merupakan konsep yang tidak bisa menggunakan metode ilmiah dan apabila&lt;br /&gt;menggunakan konsep ini bisa menyebabkan orang Atheis.&lt;br /&gt;Kedua, tujuan ilmu Alamiah, membentuk dan menggunakan teori. Ilmu alamiah&lt;br /&gt;hanya dapat mengemukakan bukti kebenaran sementara dengan kata lain untuk&lt;br /&gt;kebenaran sementara adalah "Teori". Karena tidak ada sesuatu yang mutlak tetapi&lt;br /&gt;terus mengalami perubahan (contoh teori tentang bumi ini bulat)&lt;br /&gt;Ketiga. Ilmu alamiah dan nilai, ilmu alamiah tidak menentukan moral atau nilai&lt;br /&gt;suatu keputusan . Manusia pemakain ilmu alamiahlah yang menilai apakah hasil&lt;br /&gt;Ilmu Alamiah baik atau sebaliknya. Contoh penemuan mesiu atau bom atom.&lt;br /&gt;H. FILSAFAT ILMU ALAMIAH&lt;br /&gt;Yang menjadi objek I. A adalah semua materi dalam alam semesta ini. I.A.&lt;br /&gt;meneliti sumber alam yang mengaturnya. Pertanyaan tentang siapa yang&lt;br /&gt;mengatur alam ini merupakan pertanyaan filsafat. Untuk itu ada 3 pandangan&lt;br /&gt;tentang filsafat ilmu alamiah.&lt;br /&gt;Vitalisme, merupakan suatu doktrin yang menyatakan adanya kekuatan diluar&lt;br /&gt;alam. Kekuatan itu melikiki peranan yang esensial mengatur segala sesuatu yang&lt;br /&gt;terjadi di Alam semesta ini. (misalnya Tuhan). pendapat ini ditantang oleh&lt;br /&gt;beberapa orang lain karena dalam ilmu alamiah dikatakan bahwa segala&lt;br /&gt;sesuatunya harus dapat dianalisis secaras eksperimen. Atau harus cocok dengan&lt;br /&gt;metode ilmiah.&lt;br /&gt;Mekanisme, penyebab segala gerakan di alam semesta ini dikarenakan hukum&lt;br /&gt;alam (misalnya fisika atau kimia). Faham ini menganggap bahwa gejala pada&lt;br /&gt;mahluk hidup secara otomatis terjadi hanya berdasar peristiwa fisika –kimia&lt;br /&gt;belaka. Pandangan ini menyamakan gejala pada mahluk hidup dengan gejala&lt;br /&gt;benda tidak hidup sehingga perbedaan hikiki tidak ada. Dengan begitu dapat&lt;br /&gt;menghayutkan manusia ke pandangan materialisme yang selanjutnya kepada&lt;br /&gt;Atheisme.&lt;br /&gt;Agnotisme, untuk menghindari pertentangan vitalisme dan mekanisme maka&lt;br /&gt;aliran ini timbul, dimana aliran ini melepaskan atau tidak memperhatikan sisi dari&lt;br /&gt;sang pencipta. Mereka yang mengkuti aliran ini, hanya mempelajari gejala-gejala&lt;br /&gt;alam saja, aliran ini banyak dianut oleh ilmuwan Barat.&lt;br /&gt;Filsafat Pancasila, paham yang menjembatani dari 2 aliran yang menyatakan&lt;br /&gt;bahwa alam dan hukumnya terjadi karena ciptaan tuhan dan proses selanjutnya&lt;br /&gt;menurut filsafat mekanisme (hukum alam). Hukum alam adalah itu adalah sama&lt;br /&gt;dengan hukum Tuhan.Dapat dilihat dari kehidupan makhluk hidup dari awal&lt;br /&gt;sampai akhir.&lt;br /&gt;5&lt;br /&gt;I. BAHASA ILMU ALAMIAH&lt;br /&gt;Adalah bahasa kesatuan yang utuh sebagai bentuk bahasa ilmu alamiah&lt;br /&gt;merupakan bahasa universal. Contoh : Air (Indonesia), Water(Inggris) bahasa&lt;br /&gt;ilmiahnya H2O&lt;br /&gt;J. KETERBATASAN INDERA MANUSIA&lt;br /&gt;Berdasarkan penelitian terhadap indera, manusia mempunyai kisaran (range)&lt;br /&gt;batas yang sangat terbatas&lt;br /&gt;Penglihatan, terutama terhadap cepat atau lambatnya benda bergerak (riak air&lt;br /&gt;atau kecepatan cahaya, atau penglihatan kita sewaktu naik kereta api yang&lt;br /&gt;disampingnya terdapat pohon.&lt;br /&gt;Pendengaran, manusia mempunyai kemampuan pendengaran dengan kisaran&lt;br /&gt;frekuensinya range 30 - 30.000 Hertz&lt;br /&gt;Pengecapan dan pembauan, manusia selain mempunyai kemampuan tersebut&lt;br /&gt;juga mempunyai keterbatasan pembauan dan pengecapan terhadap benda yang&lt;br /&gt;ada dialam.&lt;br /&gt;Indra kulit, manusia mampu membedakan antara panas dan dingin secara kasar,&lt;br /&gt;namun manusia mempunyai keterbatasan sehingga penginderaan sering&lt;br /&gt;menimbulkan salah kesan dan informasi, seperti perpindahan seseorang dari&lt;br /&gt;ruang panas ke dingin dibanding dengan orang yang berada diruangan yang tidak&lt;br /&gt;begitu panas.&lt;br /&gt;K. PENINGKATAN DAYA PENGINDERAAN&lt;br /&gt;Peningkatan daya indra dapat dilakukan sehingga diperoleh hasil yang tepat dapat&lt;br /&gt;dilakukan dengan :&lt;br /&gt;1. Latihan, contoh pengindraan tentang bau dan bunyi (kualitas minuman&lt;br /&gt;anggur, teh, alat musik)&lt;br /&gt;2. Peningkatan Kewaspadaan, tingkat kewaspadaan sangat dipengaruhi oleh&lt;br /&gt;minat yang menyebabkan kesimpulan berbeda, dapat dilihat pendapat&lt;br /&gt;beberapa orang tentang satu etalase atau laporan dari kecelakaan dari&lt;br /&gt;beberapa orang.&lt;br /&gt;3. Kalibrasi Instrumen (peneraan adalah membandingkan instrumen dengan&lt;br /&gt;standar yang ada.&lt;br /&gt;4. Pengecekan, merupakan hal yang baik untuk menghindari kekeliruan.&lt;br /&gt;5. Eksperimen, penginderaan dalam kondisi yang dikontrol dengan eksperimen&lt;br /&gt;kita mengetahui faktor-faktor apa saja yang sangat mempengaruhi terhadap&lt;br /&gt;suatu perubahan.&lt;br /&gt;6. Penginderaan yang meliputi analisis dan sentesis, pengamatan terhadap&lt;br /&gt;bagian-bagian atau pengamatan secara keseluruhan.&lt;br /&gt;7. Instrumen baru, bisa melakukan pengindraan baru. Seperti lie detector,&lt;br /&gt;Teleskop, satelit dll.&lt;br /&gt;8. Pengukuran, merupakan ketrampilan tersendiri contoh dalam pembuatan&lt;br /&gt;mesin atau arsitektur.&lt;br /&gt;6&lt;br /&gt;L. PEMBAGIAN ILMU PENGETAHUAN&lt;br /&gt;Berdasarkan beberapa argumentasi ilmu pengetahuan dibedakan atas :&lt;br /&gt;a. Ilmu Pengetahuan Sosial, yakni membahas hubungan antar manusia sebagai&lt;br /&gt;makhluk sosial, yang selanjutnya dibagi atas :&lt;br /&gt;1. Psikologi, yang mepelajari proses mental dan tingkah laku&lt;br /&gt;2. Pendidikan, proses latihan yang terarah dan sistematis menuju ke suatu&lt;br /&gt;tujuan&lt;br /&gt;3. Antropologi, mempelajari asal usul dan perkembangan jasmani, sosial,&lt;br /&gt;kebudayaan dan tingkah laku sosial&lt;br /&gt;4. Etnologi, cabang dari studi antropologi yang dilihat dari aspek sistem&lt;br /&gt;sosio-ekonomi dan pewarisan kebudayaan terutama keaslian budaya&lt;br /&gt;5. Sejarah, pencatatan peristiwa-persitiwa yang telah terjadi pada suatu&lt;br /&gt;bangsa. Negara atau individu&lt;br /&gt;6. Ekonomi, yang berhubungan dengan produksi, tukar menukar barang&lt;br /&gt;produksi, pengolahan dalam lingkup rumah tangga, negara atau&lt;br /&gt;perusahaan.&lt;br /&gt;7. Sosiologi, studi tentang tingkah laku sosial, terutama tentang asal usul&lt;br /&gt;organisasi, institusi, perkembangan masyarakat.&lt;br /&gt;b. Ilmu Pengetahuan Alam , yang membahas tentang alam semesta dengan&lt;br /&gt;semua isinya dan selanjutnya terbagi atas:&lt;br /&gt;1. Fisika, mempelajari benda tak hidup dari aspek wujud dengan perubahan&lt;br /&gt;yang bersifat sementara. Seperti : bunyi cahaya, gelombang magnet,&lt;br /&gt;teknik kelistrikan, teknik nuklir&lt;br /&gt;2. Kimia, mempelajari benda hidup dan tak hidup dari aspek sususan materi&lt;br /&gt;dan perubahan yang bersifat tetap. Kimia secara garis besar dibagi kimia&lt;br /&gt;organik (protein, lemak) dan kimia anorganik (NaCl), hasil dari ilmu ini&lt;br /&gt;dapat diciptakan seperti plastik, bahan peledak&lt;br /&gt;3. Biologi, yang mempelajari makhluk hidup dan gejala-gejalanya.&lt;br /&gt;􀂾 Botani, ilmu yang mempelajari tentang tumbuh-tumbuhan&lt;br /&gt;􀂾 Zoologi ilmu yang mempelajrai tentang hewan&lt;br /&gt;􀂾 Morfologi ilmu yang mempelajari tentang struktur luar makhluk hidup&lt;br /&gt;􀂾 Anatomi suatu studi tentang struktur dalam atau bentuk dalam&lt;br /&gt;mahkhluk hidup&lt;br /&gt;􀂾 Fisiologi studi tentang fungsi atau faal/organ bagian tubuh makhluk&lt;br /&gt;hidup&lt;br /&gt;􀂾 Sitologi ilmu yang mempelajari tentang sel secara mendalam&lt;br /&gt;􀂾 Histologi studi tentang jaringan tubuh atau organ makhluk hidup yang&lt;br /&gt;merupakan serentetan sel sejenis&lt;br /&gt;􀂾 Palaentologi studi tentang makhluk hidup masa lalu&lt;br /&gt;c. Ilmu Pengetahuan Bumi dan Antariksa&lt;br /&gt;Studi tentang bumi sebagai salah satu anggota tatasurya, dan ruang angkasa&lt;br /&gt;dengan benda angkasa lainnya.&lt;br /&gt;1. Geologi, yang membahas tentang struktur bumi. (yang bahasannya&lt;br /&gt;meliputi dari ilmu kimia dan fisika) contoh dari ilmu ini petrologi (batubatuan),&lt;br /&gt;vukanologi (gempa bumi), mineralogi (bahan-bahan mineral)&lt;br /&gt;7&lt;br /&gt;2. Astronomi, membahas benda-benda ruang angkasa dalam alam semesta&lt;br /&gt;yang meliputi bintang, planet, satelit da lain-lainnya. Manfaatnya dapat&lt;br /&gt;digunakan dalam navigasi, kalendar dan waktu.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6072209488519353307-5880366841501951207?l=ninkwidya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ninkwidya.blogspot.com/feeds/5880366841501951207/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ninkwidya.blogspot.com/2009/06/1-ilmu-alamiah-dasar-ilmu-alamiah-atau.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6072209488519353307/posts/default/5880366841501951207'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6072209488519353307/posts/default/5880366841501951207'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ninkwidya.blogspot.com/2009/06/1-ilmu-alamiah-dasar-ilmu-alamiah-atau.html' title=''/><author><name>ninkw1dya ( alve Dya Aurelia Latifa)</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02190777662680452949</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_vgyL60s208c/SvuobeHd1pI/AAAAAAAAADY/zqthVFtNEm8/S220/aku+di+legian.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6072209488519353307.post-4159504333205144646</id><published>2009-06-08T01:10:00.000-07:00</published><updated>2009-06-08T01:12:55.036-07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>“FOLKLOR LISAN”&lt;br /&gt;KOTA KUDUS&lt;br /&gt;Pengampu:&lt;br /&gt;Drs.Y Suwanto,M.Hum&lt;br /&gt;Disusun Oleh :&lt;br /&gt;Nama : Catur Widyaningrum&lt;br /&gt;NIM : 0850900241&lt;br /&gt;Ekstensi : Juwana&lt;br /&gt;UNIVERSITAS VETERAN BANGUN NUSANTARA SUKOHARJO&lt;br /&gt;FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN&lt;br /&gt;PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA DAERAH&lt;br /&gt;Jl.Sujono Humardani /Telp (0271)5915 Sukoharjo 57521&lt;br /&gt;ii&lt;br /&gt;KATA PENGANTAR&lt;br /&gt;Puji dan syukur kita panjatkan ke hadirat Allah SWT, karena berkat rahmat dan&lt;br /&gt;karunia-Nya penulis dapat menyelesaikan makalah ini dengan judul ” Folklore Lisan&lt;br /&gt;Kota Kudus”.Makalah ini di buat dalam rangka memenuhi tugas yang diberikan oleh&lt;br /&gt;Drs.Y Suwanto, M.Hum,pengampu Mata Kuliah Folklore.&lt;br /&gt;Pada kesempatan ini perkenankanlah penulis menyampaikan rasa terima kasih yang&lt;br /&gt;tak terhingga terutama kepada :&lt;br /&gt;1.Teman-teman sesama peserta pelatihan yang selalu memberikan semangat dan&lt;br /&gt;dukungan kepada penulis.&lt;br /&gt;2.Serta semua pihak yang tidak bisa penulis sebutkan yang telah membantu&lt;br /&gt;penyelesaian makalah ini.&lt;br /&gt;Penulis menyadari bahwa masih banyak kekurangan pada makalah ini, oleh karena&lt;br /&gt;itu penulis mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun untuk memperbaiki&lt;br /&gt;makalah ini di masa yang akan datang.&lt;br /&gt;Semoga makalah ini bisa memberikan manfaat terutama bagi penulis danbagi&lt;br /&gt;pembaca pada umumnya. Akhirnya kepada Allah jugalah semuanya kita kembalikan.&lt;br /&gt;Juwana, Januari 2009&lt;br /&gt;Penulis&lt;br /&gt;iii&lt;br /&gt;DAFTAR ISI&lt;br /&gt;HALAMAN SAMPUL&lt;br /&gt;KATA PENGANTAR ................................ ................................ .......................... ii&lt;br /&gt;DAFTAR ISI................................ ................................ ................................ ......... iii&lt;br /&gt;BAB 1 PENDAHULUAN ................................ ................................ .................... 1&lt;br /&gt;BAB II PEMBAHASAN&lt;br /&gt;A. Sejarah Berdirinya Kota Kudus ................................ ................................ 3&lt;br /&gt;B. Perkembangan Kota Kudus ................................ ................................ ...... 5&lt;br /&gt;C. Sosial Budaya ................................ ................................ .......................... 6&lt;br /&gt;BAB III MANFAAT ................................ ................................ ............................ 10&lt;br /&gt;BAB IV PENUTUP ................................ ................................ .............................. 11&lt;br /&gt;LAMPIRAN GAMBAR&lt;br /&gt;DAFTAR PUSTAKA&lt;br /&gt;1&lt;br /&gt;BAB 1&lt;br /&gt;PENDAHULUAN&lt;br /&gt;Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (edisi kedua), folklor&lt;br /&gt;didefinisikan sebagai adat-istiadat tradisional dan cerita rakyat yang diwariskan&lt;br /&gt;secara turun- temurun, tetapi tidak dibukukan. Atau, ilmu adat-istiadat tradisional&lt;br /&gt;dan cerita rakyat yang tidak dibukukan.&lt;br /&gt;Indonesia adalah negara kepulauan yang tersebar dari sabang sampai&lt;br /&gt;meureuke. Pantaslah bahwa Indonesia merasa begitu bangga dengan kekayaan&lt;br /&gt;yang ia miliki. Indonesia memiliki banyak suku, bahasa dan budaya. Kebanggan&lt;br /&gt;itu terangkai dalam lirik-lirik lagu yang sering dikumandangkan dibangku&lt;br /&gt;sekolah. Indonesia memiliki lambang negara burung garuda. Garuda merupakan&lt;br /&gt;kegagahan dan kewibawaan bangsa Indonesia dimata dunia. Semboyan yang&lt;br /&gt;berbunyi “Bhineka Tunggal Ika”, merupakan pemersatu dari keberagaman yang&lt;br /&gt;dimiliki Indonesia.&lt;br /&gt;“Kebudayaan Indonesia adalah satu kondisi majemuk karena ia&lt;br /&gt;bermodalkan berbagai kebudayaan lingkungan wilayah yang berkembang menurut&lt;br /&gt;tuntutan sejarahnya sendiri-sendiri. Pengalaman serta kemampuan wilayahwilayah&lt;br /&gt;itu memberikan bentuk, shape, dari kebudayaan itu. Juga proses&lt;br /&gt;sosialisasi yang kemudian dikembangkan dalam kerangka masing-masing kultur&lt;br /&gt;itu memberi warna kepada kepribadian yang muncul dari lingkungan budaya itu.”&lt;br /&gt;(Umar Kayam: “Seni, Tradisi, Masyarakat”; 16)&lt;br /&gt;Kekayaan budaya membuat Indonesia memiliki begitu banyak daya&lt;br /&gt;tarik. Daya tarik tersebut harus diperkenalkan sehingga tiap daerah bisa saling&lt;br /&gt;berinteraksi dan sama-sama merasa bangga. Kebanggaan tersebut tertuang pada&lt;br /&gt;peringatan hari-hari kebesaran seperti Hari Kebangkitan Nasional dan Hari&lt;br /&gt;Kemerdekaan,sehingga kita bisa mengenal tari Saman dari Aceh, dari Kecak dari&lt;br /&gt;Bali, budaya Tana Toraja, Upacara Ngaben di Bali, Angklung di Jabar,&lt;br /&gt;peninggalan candi Borobudur dan peninggalan budaya lainnya.&lt;br /&gt;2&lt;br /&gt;Indonesia memang dikenal sebagai negara yang kaya akan kebudayaan.&lt;br /&gt;Sepertinya, kebudayaan adalah sesuatu yang tak bisa dipisahkan lagi dari bangsa&lt;br /&gt;ini. Kebudayaan hadir sebagai salah satu identitas bangsa. Bangsa yang memiliki&lt;br /&gt;kekhasan dan keunikan tersendiri.&lt;br /&gt;Jika kita bicara masalah folklor, maka tidak akan pernah habisnya.&lt;br /&gt;Indonesia memiliki banyak sekali folklor yang telah berkembang dari dulu hingga&lt;br /&gt;sekarang. Mulai dari upacara adat, perkawinan, legenda, cerita adat, hantu, dan&lt;br /&gt;makanan khas di masing-masing daerah. Tentunya, semua folklor yang&lt;br /&gt;berkembang membuat Indonesia menjadi bangsa yang arif dan berbeda dengan&lt;br /&gt;bangsa lainnya.&lt;br /&gt;Folklore dapat ditemukan pada setiap masyarakat tradisional di belahan&lt;br /&gt;dunia manapun. Hanya bentuknya saja yang berbeda-beda. Hal itu terjadi karena&lt;br /&gt;adanya batas spasial dan temporal. Dua batas itu membuat folklore suatu&lt;br /&gt;masyarakat dengan masyarakat lainnya berbeda. Setiap folklore memiliki ciri khas&lt;br /&gt;masing-masing, meskipun secara garis besar folklore mempunyai satu ciri umum,&lt;br /&gt;yaitu milik bersama. Masyarakat Kudus sejak masa-masa awal kelahirannya&lt;br /&gt;hingga menjadi masyarakat modern seperti sekarang, memiliki folklore-nya&lt;br /&gt;sendiri. Untuk memahami lebih jelas mengenai folklore lisan kota kudus , kapan&lt;br /&gt;berkembangnya, mengapa berkembang, dimana berkembangnya, siapa yang&lt;br /&gt;mengembangkannya, bagaimana bentuk-bentuknya, dan apa kegunaannya, saya&lt;br /&gt;mencoba membuat tulisan yang mengkaji folklore lisan kota kudus . Tulisan saya&lt;br /&gt;ini mengkhususkan kajian pada folklore lisan kota kudus berupa sejarah&lt;br /&gt;berdirinya kota kudus beserta tradisi tradisi yang menjadi ciri khas kota kudus.&lt;br /&gt;3&lt;br /&gt;BAB II&lt;br /&gt;PEMBAHASAN&lt;br /&gt;A. Sejarah berdirinya Kota Kudus&lt;br /&gt;Kota Kudus, terletak di bagian utara propinsi Jawa tengah, di lereng&lt;br /&gt;Gunung Muria, sekitar 50 km dari Semarang, ibukota Jawa tengah. Kabupaten&lt;br /&gt;Kudus termasuk kabupaten kecil dari segi luasnya, tetapi cukup ramai, dengan&lt;br /&gt;didukung adanya beberapa industri, terutama industri rokok kretek, sehingga&lt;br /&gt;Kudus juga biasa disebut Kota Kretek. Selain itu juga ada industri kertas, textil,&lt;br /&gt;dan elektronika. Kudus juga merupakan kota perdagangan bagi daerah sekitarnya&lt;br /&gt;(karesidenan Pati) dengan adanya pasar yang cukup besar dan 2 buah mal.&lt;br /&gt;Mengenai asal usul nama Kudus menurut dongeng / legenda yang hidup&lt;br /&gt;dikalangan masyarakat setempat ialah, bahwa dahulu Sunan Kudus pernah pergi&lt;br /&gt;naik haji sambil menuntut ilmu di Tanah Arab, kemudian beliau pun mengajar&lt;br /&gt;pula di sana. Pada suatu masa, di Tanah Arab konon berjangkit suatu wabah&lt;br /&gt;penyakit yang membahayakan, penyakit tersebut menjadi reda berkat jasa Sunan&lt;br /&gt;Kudus. Oleh karena itu, seorang amir di sana berkenan untuk memberikan suatu&lt;br /&gt;hadiah kepada beliau, akan tetapi beliau menolak, hanya sebagai kenangkenangan&lt;br /&gt;beliau meminta sebuah batu. Batu tersebut menurut sang amir berasal&lt;br /&gt;dari kota Baitul Makdis atau Jeruzalem (Al Quds), maka sebagai peringatan&lt;br /&gt;kepada kota dimana Ja’far Sodiq hidup serta bertempal tinggal, kemudian&lt;br /&gt;diberikan nama Kudus.&lt;br /&gt;Diversi lain diceritakan bahwa Kudus berasal dari kata Al-Quds, yaitu&lt;br /&gt;Baitul Mukadis, sebuah nama saat tempat itu dinyatakan sebagai tempat suci oleh&lt;br /&gt;Sunan Kudus. Nama sebelumnya adalah Tajug ( Tajug adalah bentuk atap&lt;br /&gt;arsitektur tradisional yang sangat kuno dipakai untuk tujuan keramat ), atau dapat&lt;br /&gt;disebut juga bangunan makam. Dengan demikan kota Tajug dulunya sudah&lt;br /&gt;memilki sifat kekeramatan tertentu.&lt;br /&gt;Lahirnya kota kudus tidak dapat dipisahkan dari nama sesepuh tertua&lt;br /&gt;yang pertama-tama menggarap tempat tersebut, yaitu Kyai Tee Ling Sing. Beliau&lt;br /&gt;adalah mubaligh Islam dari Yunan, yang datang bersama - sama dengan seorang&lt;br /&gt;4&lt;br /&gt;pemahat / pengukir ulung bernama Sun Ging An ( Kemudian menjadi kata kerja&lt;br /&gt;nyungging yang berarti mengukir, daerah ukir mengukir dijaman purbakala ini&lt;br /&gt;kemudian menjadi desa Sunggingan ). Kyai Tee Ling Sing kemudian bersama -&lt;br /&gt;sama dengan pendatang Ja ' far Shodiq ( sunan Kudus ) secara bertahap berhasil&lt;br /&gt;menguasai daerah kudus dan mengembangkanya.&lt;br /&gt;Di kota Kudus terdapat bangunan bersejarah yang mempunyai arti&lt;br /&gt;penting bagi masyarakat setempat .Bangunan itu dikenal dengan sebutan Menara&lt;br /&gt;Kudus. Menara ini merupakan bangunan monumental yang bernilai arkeologis&lt;br /&gt;dan historis tinggi. Dari aspek arkeologis, Menara Kudus merupakan bangunan&lt;br /&gt;kuno hasil akulturasi kebudayaan Hindu-Jawa dan Islam. Menara Kudus dibangun&lt;br /&gt;oleh Syeh Ja’far Shodiq (Sunan Kudus, salah seorang dari Wali Songo) pada&lt;br /&gt;tahun 1685 M yang disimbolkan dalam candrasengkala “Gapuro rusak ewahing&lt;br /&gt;jagad” yang bermakna tahun Jawa 1609 atau 1685 M.&lt;br /&gt;Bentuk konstruksi dan gaya arsitektur Menara Kudus, yang tingginya&lt;br /&gt;sekitar 17 meter, mirip dengan candi-candi Jawa Timur era Majapahit – Singosari&lt;br /&gt;dan juga menyerupai menara Kulkul di Bali, sehingga Menara Kudus menjadi&lt;br /&gt;simbol “Islam Toleran”, dalam arti Sunan Kudus menyebarluaskan agama Islam&lt;br /&gt;di Kudus dengan tetap menghormati pemeluk agama Hindu-Jawa yang dianut&lt;br /&gt;masyarakat setempat. Bentuk fisik Menara Kudus adalah tinggi dan ramping yang&lt;br /&gt;dibangun dengan bahan batu-bata merah yang disusun dan dipasang bertumpukan&lt;br /&gt;tanpa semen perekat.&lt;br /&gt;Bangunan Menara Kudus tidak dapat dipisahkan dengan Masjid Menara&lt;br /&gt;Kudus (Masjid Al-Aqsho) dan Makam Sunan Kudus karena secara geografisfungsional&lt;br /&gt;ketiganya merupakan satu kesatuan yang inherent dengan sejarah&lt;br /&gt;berdirinya Kota Kudus.&lt;br /&gt;Obyek Wisata Ziarah ini setiap hari sangat ramai dikunjungi peziarah&lt;br /&gt;dari berbagai daerah, terutama pada moment Upacara “Buka Luwur”&lt;br /&gt;(Penggantian kain kelambu penutup makam Sunan Kudus) yang dilaksanakan&lt;br /&gt;setiap tanggal 10 Muharrom/Syuro. Peristiwa menarik dalam Upacara Buka&lt;br /&gt;Luwur adalah ketika para pengunjung/peziarah berupaya memperoleh nasi&lt;br /&gt;bungkus selamatan dan kain luwur bekas penutup makam yang konon dipercaya&lt;br /&gt;5&lt;br /&gt;dapat memberikan keberuntungan bagi yang memperolehnya. Selain “Buka&lt;br /&gt;Luwur”, kawasan Menara Kudus juga menjadi pusat keramaian pada saat&lt;br /&gt;“Dhandhangan” yaitu tradisi menyambut datangnya bulan Romadlon / bulan&lt;br /&gt;Puasa.&lt;br /&gt;Di kawasan Menara Kudus, para pengunjung dapat menikmati makanan&lt;br /&gt;khas Kudus, yaitu Soto Kudus dan Jenang Kudus. Sedangkan cinderamata khas&lt;br /&gt;Kudus adalah Kain Bordir Kudus (busana muslimah, kerudung, kebaya, dll.).&lt;br /&gt;B. Perkembangan Kota Kudus.&lt;br /&gt;Dengan bertambahnya usia,daerah Kudus semakin berkembang seperti&lt;br /&gt;daerah lainya.Secara etnis sosiologis perkembangan pemukiman di Kudus dapat&lt;br /&gt;dikelompokkan dalam beberapa daerah diantaranya adalah:&lt;br /&gt;a. Kudus Kulon .&lt;br /&gt;Daerah ini dikenal sebagai kota tertua atau kota kuno sebab daerah ini merupakan&lt;br /&gt;pusat kota pada zaman dulu.Daerah ini meliputi 3 wilayah diantaranya adalah :&lt;br /&gt;1. Pusat Kota Lama , daerah ini terdiri dari 7 desa diantaranya :&lt;br /&gt;•Desa Kauman&lt;br /&gt;• Desa Kerjasan&lt;br /&gt;• Desa Langgar Dalem&lt;br /&gt;• Desa Demangan&lt;br /&gt;• Desa Janggalan&lt;br /&gt;• Desa Damaran&lt;br /&gt;• Desa Kajeksan&lt;br /&gt;2. Daerah Pinggiran Kota,daerah ini terdiri dari 4 desa diantaranya :&lt;br /&gt;• Desa Krandon&lt;br /&gt;• Desa Singocandi&lt;br /&gt;• Desa Purwosari&lt;br /&gt;• Desa Sunggingan&lt;br /&gt;b. Kudus Wetan&lt;br /&gt;Daerah kudus wetan ini terdiri dari 3 daerah yaitu:&lt;br /&gt;6&lt;br /&gt;1. Daerah Cina : di daerah ini sebagian besar penduduknya keturunan&lt;br /&gt;dari cina ( komunitas orang tionghua),meliputi 3 desa yaitu :&lt;br /&gt;• Desa Panjunan&lt;br /&gt;• Desa Kramat&lt;br /&gt;• Desa Wergu Kulon&lt;br /&gt;2. Daerah Priyayi terdiri dari 3 desa yaitu :&lt;br /&gt;• Desa Nganguk&lt;br /&gt;• Desa Glantengan&lt;br /&gt;• Desa Barongan&lt;br /&gt;3. Daerah Abangan terdiri dari 5 desa diantaranya :&lt;br /&gt;• Desa Mlati Kidul&lt;br /&gt;• Desa Mlati Lor&lt;br /&gt;• Desa Mlati Norowito&lt;br /&gt;• Desa Rendeng&lt;br /&gt;• Desa Wergu Wetan&lt;br /&gt;4. Desa - Desa Lainya :&lt;br /&gt;• Desa Demaan&lt;br /&gt;• Desa Burikan&lt;br /&gt;• Desa Kaliputu&lt;br /&gt;C. Sosial Budaya&lt;br /&gt;Melacak Tradisionalisme di Kudus berarti melacak sosial budaya saat ini&lt;br /&gt;dan yang lalu untuk mendapatkan gambaran yang tidak terputus. Dan&lt;br /&gt;tradisionalisme ini jelas adalah kontinuitas pada lingkungan kota lama, yaitu&lt;br /&gt;Kudus Kulon.Priyayi Kudus adalah Aristokrat keturunan Sunan Kudus, yang&lt;br /&gt;diberi gelar oleh pemerintah kolonial dan sebenarnya tidak disenangi oleh&lt;br /&gt;mereka, Umumnya mereka tidak kaya, memilih bekerja sebagai pedagang,&lt;br /&gt;pengrajin, mubaligh dari pada sebagai pegawai negeri. Orientasi budaya adalah&lt;br /&gt;santri.. Sebagian besar orang - orang Kudus Kulon tinggal di rumah - rumah&lt;br /&gt;besar, para generasi lama membangun kekayaan mereka dengan cara hidup&lt;br /&gt;sederhana, bekerja keras, menjadi usahawan yang ulung dan santri yang saleh,&lt;br /&gt;7&lt;br /&gt;agak kurang percaya dengan pendidikan ala barat kecuali pendidikan Islam&lt;br /&gt;tradisional. Pada periode puncak kemakmuran mereka, mereka cenderung&lt;br /&gt;menjadi bangsawan borjuis yang sadar bahwa dengan mereka bertentangan&lt;br /&gt;dengan pegawai priyayi dan elite priyayi.&lt;br /&gt;Selain hal tersebut ,masyarakat kudus juga mempunyai banyak tradisi&lt;br /&gt;,akan tetapi tradisi yang menjadi ciri khas dari masyarakat kudus adalah :&lt;br /&gt;a. Tradisi buka Luwur&lt;br /&gt;Tradisi buka luwur ini merupakan upacara penggantian luwur atau kain&lt;br /&gt;mori yang digunakan untuk membungkus jirat,nisan dan cungkup makam Sunan&lt;br /&gt;Kudus.Tradisi ini biasanya dilaksanakan pada tanggal 10 Muharam .Tradisi ini&lt;br /&gt;sebenarnya acara pemasangan luwur baru,akan tetapi sejak 6 tahun terakhir buka&lt;br /&gt;luwurnya dilakukan pada tiap tanggal 1 Muharam.Puncak acara buka luwur ini&lt;br /&gt;memberikan kesan bagi masyarakat bahwa pada tanggal itulah hari wafatnya&lt;br /&gt;Sunan Kudus. Kesan tersebut timbul karena rangkaian acara pemasangan luwur&lt;br /&gt;selalu ditandai dengan acara tahlilan,yang identik dengan acara haul pada&lt;br /&gt;umumnya.Pada hal sebenarnya tanggal itu bukan tanggal wafatnya Sunan&lt;br /&gt;Kudus.Tanggal wafatnya Sunan Kudus sendiri tidak ada yang mengetahui secara&lt;br /&gt;pasti.Namun ada yang memperkirakan ,Sunan Kudus wafat sekitar tahun 1555&lt;br /&gt;Tu.Dengan begitu ,acara buka luwur sebenarnya merupakan upacara haul yang&lt;br /&gt;dikemas untuk menghindari anggapan masyarakat bahwa tanggal 10 Muharam&lt;br /&gt;adalah tanggal wafatnya Sunan Kudus.&lt;br /&gt;Biasanya pada malam tanggal 10 Muharram digelar tahlil dan pengajian&lt;br /&gt;umum.Puncak acara buka luwur adalah pada tanggal 10 Muharram,yaitu&lt;br /&gt;pemasangan pemasangan luwur baru .Acara Buka Luwur yang berpusat di Tajug&lt;br /&gt;(joglo tempat penerimaan tamu) itu dilakukan dengan beberapa prosesi&lt;br /&gt;,diantaranya adalah pembacaan riwayat Sunan Kudus,Dilanjutkan dengan&lt;br /&gt;pembacaan tasbih bersama sama. Rangkaian prosesi di Tajug ini diakhir dengan&lt;br /&gt;pemasangan luwur baru dan ditutup dengan pembacaan tahlil berikut doanya.Pada&lt;br /&gt;hari yang sama , masyarakat ikut berpesta dengan memperebutkan makanan&lt;br /&gt;8&lt;br /&gt;berupa nasi dan daging yang dibungkus daun jati. Masyarakat bersusah payah&lt;br /&gt;untuk mendapatkan nasi dan daging tersebut,sebab makanan tersebut dianggap&lt;br /&gt;memiliki berkah dan banyak mengandung khasiat dapat menyembuhkan penyakit.&lt;br /&gt;Walaupun hanya mendapatkan sedikit,nasi tersebut biasa disebut dengan “ sego&lt;br /&gt;mbah sunan.Setelah acara penggantian kelambu dan pembagian nasi tersebut&lt;br /&gt;,berakhir sudah upacara Buka Luwur.Akan tetapi setelah penggantian kelambu&lt;br /&gt;tersebut biasanya kain mori/luwur/kelambu tersebut di potong kecil kecil dan&lt;br /&gt;dibagikan kepada masyarakat yang hadir dalam acara tahlilan itu. Masyarakat&lt;br /&gt;berebut untuk mendapatkannya karena masyarakat setempat percaya bahwa kain&lt;br /&gt;mori/luwur Sunan Kudus dapat mendatangkan rizki bila disimpan.Selain itu juga&lt;br /&gt;ada sebagian masyarakat yang percaya bahwa kain mori tersebut dapat dijadikan&lt;br /&gt;jimat untuk melindungi diri dari malapetaka.&lt;br /&gt;b. Tradisi Dandangan&lt;br /&gt;Perayaan tradisi "Dandangan" merupakan sebuah tradisi di kota Kudus&lt;br /&gt;yang diadakan menjelang kedatangan bulan suci Ramadan. Dandangan&lt;br /&gt;merupakan pasar malam yang diadakan di sekitar Menara Kudus, sepanjang jalan&lt;br /&gt;Sunan Kudus, dan meluas ke lokasi-lokasi disekitarnya. Pada tradisi dandangan&lt;br /&gt;ini diperdagangkan beraneka ragam kebutuhan rumah tangga mulai dari peralatan&lt;br /&gt;rumah tangga, pakaian, sepatu, sandal, hiasan keramik sampai dengan mainan&lt;br /&gt;anak-anak serta makanan dan minuman.&lt;br /&gt;Tradisi ini sudah ada sejak 450 tahu yang lalu atau tepatnya zaman Sunan&lt;br /&gt;Kudus (Syeh Jakfar Shodiq, salah satu tokoh penyebar agama Islam di Jawa).&lt;br /&gt;Pada saat itu, setiap menjelang bulan puasa, ratusan santri Sunan Kudus&lt;br /&gt;berkumpul di Masjid Menara menunggu pengumuman dari Sang Guru tentang&lt;br /&gt;awal puasa. Para santri tidak hanya berasal dari Kota Kudus, tetapi juga dari&lt;br /&gt;daerah sekitarnya seperti Kendal, Semarang, Demak, Pati, Jepara, Rembang,&lt;br /&gt;bahkan sampai Tuban, Jawa Timur. Karena banyaknya orang berkumpul, tradisi&lt;br /&gt;dandangan kemudian tidak sekadar mendengarkan informasi resmi dari Masjid&lt;br /&gt;Menara, tetapi juga dimanfaatkan para pedagang untuk berjualan di lokasi itu.&lt;br /&gt;9&lt;br /&gt;Para pedagang itu tidak hanya berasal dari Kudus, tetapi juga dari berbagai&lt;br /&gt;daerah sekitar Kudus, bahkan dari Jawa Barat dan Jawa Timur. Mereka biasanya&lt;br /&gt;berjualan mulai dua minggu sebelum puasa hingga malam hari menjelang puasa.&lt;br /&gt;c. Tradisi Larangan Masyarakat Kudus Kulon untuk penyembelihan sapi&lt;br /&gt;Adanya mitos (baca: kesepahaman) akan larangan masyarakat kudus&lt;br /&gt;Kulon untuk menyembelih sapi, yang sampai sekarang masih berlaku. Dalam&lt;br /&gt;dimensi sejarah, mitos ini berawal dari penyebaran Islam yang dilakukan oleh&lt;br /&gt;sunan Kudus. Pada saat itu, realtitas masyarakat Kudus adalah budaya jawa yang&lt;br /&gt;yang bercorak Hindu. Budaya Hindu punya kepercayaan penskralan terhadap sapi&lt;br /&gt;sebagai hewan yang suci. Untuk menarik simpati, sunan Kudus kemudian&lt;br /&gt;menambatkan sapi di depan masjid. Bukan hanya itu saja, menurut cerita, Sunan&lt;br /&gt;Kudus juga tidak memakan daging sapi. Hal ini kemudian diikuti oleh para&lt;br /&gt;pengikutnya dan murid-muridnya, hingga akhirnya terbangun sebuah tradisi untuk&lt;br /&gt;tidak menyembelih binatang sapi, sebagai penghormatan dan penghargaan&lt;br /&gt;terhadap masyarakat Hindu. Sampai sekarang mitos tersebut masih di percayai&lt;br /&gt;dan di pegang teguh. Menurut masyarakat, bila ada orang Kudus Kulon yang&lt;br /&gt;melanggar pantangan tersebut, maka akan mendapatkan bala’ atau petaka.&lt;br /&gt;Terlepas dari benar tidaknya mitos dan kepercayaan tersebut, yang jelas&lt;br /&gt;ada semacam “ kearifan lokal” yang di lakukan Sunan Kudus, dalam rangka&lt;br /&gt;mewujudkan masyarakat multikultural untuk hidup bersama secara damai. Di sini&lt;br /&gt;kita memahami multikulturalisme bukan sebagai bagian dari dogma agama atau&lt;br /&gt;kepercayaan tertentu, tapi lebih sebagai condition sine quo none, pra sarat untuk&lt;br /&gt;mewujudkan equilibrium masyarakat.&lt;br /&gt;11&lt;br /&gt;BAB IV&lt;br /&gt;PENUTUP&lt;br /&gt;KESIMPULAN&lt;br /&gt;Dari semua uraian diatas, kita dapat menyimpulkan bahwa setiap&lt;br /&gt;masyarakat mempunyai sejarah, kebudayaan, kesenian, tradisi, dan adatistiadatnya&lt;br /&gt;masing-masing. Folklore sebagai salah satu kebudayaan dimiliki oleh&lt;br /&gt;setiap masyarakat, termasuk masyarakat Kudus. Folklore berkembang secara lisan&lt;br /&gt;maupun perbuatan. Folklore biasanya disampaikan dari generasi tua kepada&lt;br /&gt;generasi muda. Sementara sejarah berdirinya suatu tempat ( legenda) serta mitos&lt;br /&gt;sebagai bagian dari folklore, merupakan folklore lisan yang disampaikan melalui&lt;br /&gt;tradisi lisan. Semuanya mempunyai arti dan kegunaan yang sangat penting bagi&lt;br /&gt;pembangunan dan pendidikan.&lt;br /&gt;LAMPIRAN GAMBAR&lt;br /&gt;MENARA KUDUS SUNAN KUDUS&lt;br /&gt;Tempat parkir di menara Kudus&lt;br /&gt;Pintu masuk ke Makam Sunan Kudus&lt;br /&gt;Menara kudus dan masjid Al Manar&lt;br /&gt;Makam Sunan kudus dan para peziarah Makam Sunan Kudus&lt;br /&gt;Ritual Buka Luwur Ritual Buka Luwur&lt;br /&gt;DAFTAR PUSTAKA&lt;br /&gt;www.djokosantoso.com&lt;br /&gt;http://pantangpulangsebelumpadam.blogspot.com&lt;br /&gt;http://kelompok-clover.blogspot.com&lt;br /&gt;http://ryanra.wordpress.com&lt;br /&gt;http://belajarsejarahsosial.blogspot.com/&lt;br /&gt;http://www.geocities.com/&lt;br /&gt;http://kudus-city.4t.com/sejarah/s-all.htm&lt;br /&gt;http://kudus-city.4t.com/sejarah/s-all2.htm&lt;br /&gt;http://kudus-city.4t.com/sejarah/s-wali.htm&lt;br /&gt;http://kudus-city.4t.com/sejarah/s-all3.htm&lt;br /&gt;http://kudus-city.4t.com/sejarah/s-all4.htm&lt;br /&gt;http://aspirasi.blogjurnalistikonlain.com/wordpress/wphttp://&lt;br /&gt;images.google.co.id/imgres&lt;br /&gt;http://www.central-java-tourism.com/images/tujuan/sejarah-menarakudus.jpg&lt;br /&gt;http://lh3.ggpht.com/_KU8q7HdkbqU/R7z9k_c_TFI/AAAAAAAAAaY/zSJNMr&lt;br /&gt;gUGyc/makam+sunan+kudus.jpg&lt;br /&gt;http://www.asmakmalaikat.com/images/makam_sunan_muria.jpg&lt;br /&gt;http://farm3.static.flickr.com/2195/2229079543_774d20baa0.jpg?v=0&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6072209488519353307-4159504333205144646?l=ninkwidya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ninkwidya.blogspot.com/feeds/4159504333205144646/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ninkwidya.blogspot.com/2009/06/folklor-lisan-kota-kudus-pengampu-drs.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6072209488519353307/posts/default/4159504333205144646'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6072209488519353307/posts/default/4159504333205144646'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ninkwidya.blogspot.com/2009/06/folklor-lisan-kota-kudus-pengampu-drs.html' title=''/><author><name>ninkw1dya ( alve Dya Aurelia Latifa)</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02190777662680452949</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_vgyL60s208c/SvuobeHd1pI/AAAAAAAAADY/zqthVFtNEm8/S220/aku+di+legian.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6072209488519353307.post-6384060346893733697</id><published>2009-05-07T20:47:00.000-07:00</published><updated>2009-05-07T20:50:22.821-07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;PERIODISASI SASTRA JAWA MENURUT S. PADMOSOEKOTJO.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ditulis dalam buku “ Ngengrengan Kasusastraan Djawa II”  ( 1956 : 115 – 117 ) yang berjudul “ Asmane Para Pejuang Lan Buku Buku Reriptane “ nama para pujanggga dan buku bukunya seperti yang terdapat dalam kesoessastraan Djawi I terbitan Departement PP dan K .&lt;br /&gt;Periodisasi Sastra jawa karya Padmosiekotjo itu sebagai berikut : &lt;br /&gt;a. Pada zaman hindu ( Sebelum zaman Majapahit ) &lt;br /&gt;Nama pujanggga dan hasil karyanya pada periode ini misalnya Resi abiyasa dengan karyanya Mahabarata , empu kanwa dengan karyanya Arjunawiwaha dan Empu Tan Akkung dengan Karyanya Lubdaka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b. Pada Zaman Majapahit&lt;br /&gt;Nama pujangga pada periode ini misalnya Empu Prapanca dengan karyanya Nagarakertagama dan Empu Tantular  dengan Karyanya Sutasoma.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;c. Pada Zaman Islam ( Zaman Demak Dan Pajang )&lt;br /&gt;Nama pujangga pada periode ini misalnya Sunan Bonang dengan karyanya Suluk Wijil, Sunan Panggung dengan karyanya Malangsumirang,dan Pangeran Karang gayam dengan Karyanya nitisruti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;d. Pada Zaman Mataram&lt;br /&gt;Nama pujangga pada periode ini misalnya sultan Agung dengan karyanya Sastragending, Pangeran Adilangu dengan karyanya Babad Majahapit , Sunan Pakubuwana V dengan karyanya Serat Centhini , dan R. Ng Renggawarsita dengan karyanya Sabdajati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;e. Pada Zaman Sekarang ( Mulai Abad XX )&lt;br /&gt;Nama pujangga pada periode ini misalnya Ki Padmasusastra dengan karyanya Tatacara, R. M Sulardi dengan karyanya Sera Riyanta, dan M. Sukir dengan karyanya Abimanyu Kerem.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6072209488519353307-6384060346893733697?l=ninkwidya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ninkwidya.blogspot.com/feeds/6384060346893733697/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ninkwidya.blogspot.com/2009/05/periodisasi-sastra-jawa-menurut-s.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6072209488519353307/posts/default/6384060346893733697'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6072209488519353307/posts/default/6384060346893733697'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ninkwidya.blogspot.com/2009/05/periodisasi-sastra-jawa-menurut-s.html' title=''/><author><name>ninkw1dya ( alve Dya Aurelia Latifa)</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02190777662680452949</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_vgyL60s208c/SvuobeHd1pI/AAAAAAAAADY/zqthVFtNEm8/S220/aku+di+legian.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6072209488519353307.post-8854681303137421398</id><published>2009-05-07T20:17:00.000-07:00</published><updated>2009-05-07T20:18:12.734-07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;PERIODISASI SASTRA JAWA MENURUT R.D.S HADIWIDJANA&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam bukunya Sarwa Castra ( 1954 : 3 – 24 ) Hadiwidjana membuat  periode sastra Jawa berdasarkan tahun dan bahasanya . Akan tetapi periode sastra jawa itu hanya sampai pada periode Jawa tengahan saja, yang mencakup 46 karya sastra. Ada pun periodisasi sastra jawa menurut Hadiwidjana itu sebagai berikut : &lt;br /&gt;a. Kitab – kitab Jawa Kuna golongan awal &lt;br /&gt;Yang tergolong kitab kitab periode ini misalnya, Ramayana ,Arjunawiwahan dan Lubdaka.&lt;br /&gt;b. Kitab – kitab Jawa Kuna golongan akhir&lt;br /&gt;Yang tergolong kitab kitab periode ini misalnya Bramandapurana, Nagarakertagama, dan Harisraya.&lt;br /&gt;c. Kitab kitab barbahasa Jawa tengahan &lt;br /&gt;Kitab kitab periode ini timbul pada zaman Majapahit , misalnya Tantupanggelaran, Tantri Kamandaka dan Dewaruci.&lt;br /&gt;d. Kitab kitab berbahasa Jawa tengahan berbentuk tembang.&lt;br /&gt;Yang tergolong kitab kitab periode ini misalnya Sudarmala, Kidung Subrata dan Sri Tanjung.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6072209488519353307-8854681303137421398?l=ninkwidya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ninkwidya.blogspot.com/feeds/8854681303137421398/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ninkwidya.blogspot.com/2009/05/periodisasi-sastra-jawa-menurut-r.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6072209488519353307/posts/default/8854681303137421398'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6072209488519353307/posts/default/8854681303137421398'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ninkwidya.blogspot.com/2009/05/periodisasi-sastra-jawa-menurut-r.html' title=''/><author><name>ninkw1dya ( alve Dya Aurelia Latifa)</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02190777662680452949</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_vgyL60s208c/SvuobeHd1pI/AAAAAAAAADY/zqthVFtNEm8/S220/aku+di+legian.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6072209488519353307.post-2295466799481712235</id><published>2009-05-07T19:37:00.001-07:00</published><updated>2009-05-07T19:37:50.128-07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;PERIODIASASI SASTRA JAWA MENURUT R. M NG. POERBATJARAKA&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam bukunya kapustakaan Djawi ( 19 52 ) dan Kapustakaan Djawi ( 1954 ) membicarakan karya sastra Jawa dari tahun dan bahasa yang tertua hinggga tahun dan bahasa yang termuda.Pembicaraan itu mencakup 79 karya sastra ,sejak zamn Syilendra hingga zaman Pakubuwana IX , dikelompokkan menjadi tuju golongan seperti berikut: &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a. kitab kitab Jawa Kuna golongan tua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang tergolng kitab – kitab ini misalnya Candakarana,Ramayana, dan beberapa perwa dalam mahabarata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b. Kitab – kitab jawa kuna berbentuk puisi&lt;br /&gt;Yang tergolng kitab – kitab ini misalnya Arjunawiwaha, Braratayuda, dan Nitisastra.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;c. kitab – kitab Jawa Kuna golongan Muda&lt;br /&gt;Yang tergolng kitab – kitab ini misalnya nagarakertagama, Arjunawijaya, dan Nitisastra.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;d. tumbuhnya bahasa jawa tengahan.&lt;br /&gt;Kitab – kitab yang dihasilkan pada periode ini misalnya Tantu Panggelaran, Calonarang dan Pararaton.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;e. kidung jawa tengahan&lt;br /&gt;Kitab – kitab yang dihasilkan pada periode ini misalnya Dewiruci,Panji Anggraini, dan Sri Tajung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;f. zaman islam&lt;br /&gt;Kitab – kitab yang dihasilkan pada periode ini misalnya Suluk Sukarsa, Nitisruati dan Menak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;g. zaman surakarta awal &lt;br /&gt;Kitab – kitab yang dihasilkan pada periode ini misalnya baratayuda, babad Giyanti dan Cemporet.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6072209488519353307-2295466799481712235?l=ninkwidya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ninkwidya.blogspot.com/feeds/2295466799481712235/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ninkwidya.blogspot.com/2009/05/periodiasasi-sastra-jawa-menurut-r.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6072209488519353307/posts/default/2295466799481712235'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6072209488519353307/posts/default/2295466799481712235'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ninkwidya.blogspot.com/2009/05/periodiasasi-sastra-jawa-menurut-r.html' title=''/><author><name>ninkw1dya ( alve Dya Aurelia Latifa)</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02190777662680452949</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_vgyL60s208c/SvuobeHd1pI/AAAAAAAAADY/zqthVFtNEm8/S220/aku+di+legian.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6072209488519353307.post-6968232415744116639</id><published>2009-04-24T20:39:00.001-07:00</published><updated>2010-03-19T23:11:16.973-07:00</updated><title type='text'>Periodisasi Sastra Jawa</title><content type='html'>Didalam Widyaparwa No.30, Oktober 1986 dengan Judul " Aneka Periodisasi Sastra Jawa " yang ditulis oleh Slamet Riyadi ,terbitan Balai Penelitian Bahasa Yogyakarta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Periodisasi Sastra Jawa Menurut departemen P.P dan K&lt;br /&gt;Buku kesoesastraaan Djawi I terbitan Departemen |P.P dan K  ( 1946 : 96-- 102 ) menjanjikan periodisasi sastra Jawa dengan judul " Babad Riwayate Kesusastraan Jawa " sejarah kesusastraan Jawa.Sajian itu kemudian dimuat dalam Jaya Baya no 52,tahun XXVI ( 1972,:14 dan 19 ) . Menurut peulisnya,penggolangan karya sastra dalam buku itu berdasarkan pusat pemerintahan yang berkaitan dengan kurun waktu .Penggolongan karya sastra itu sebagai berikut :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesusastraan zaman Hindu ( ± abad 1 )&lt;br /&gt;Karya sastra zaman ini dibedakan menjadi dua :&lt;br /&gt;) yang tua ,berbahasa Sansekerta , misalnya prasasti Canggal,dan Dieng.&lt;br /&gt;) yang muda,berbahasa Jawa Kuna,misalnya Mahabarata,Ramayana dan Bharatayuda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesusastraan zaman Majapahit ( ± mulai abad XIV )&lt;br /&gt;Karya Sastra zaman ini masih berbahasa Jawa kuna misalnya,Negarakertagama,Arjunawiwaha,dan Pararaton.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesusastraan zaman Islam ( ± mulai abad XV )&lt;br /&gt;Karya Sastra zaman ini telah terpengaruh oleh kebudayaan Islam .Hasil karya sastranya antara lain berwujud suluk,babad,dan riwayat para nabi,misalnya Serat Pepali,Menak,Jugul Mudha.&lt;br /&gt;Kesusastraan zaman Mataram ( ± mulai abad XVII )&lt;br /&gt;Karya sastra zaman ini mengalami kemajuan pesat sehingga berpengaruh ke tanah Pesundan,Banten Dan Madura.Hasil karyanya antara lain: Nitipraja,Panji Naggaini,dan Paramayogo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesusastraan zaman sekarang ( mulai abad XVII )&lt;br /&gt;Karya sastra zaman ini merupakan kelanjutan karya sastra zaman mataram. Hasil karya sastranya telah terpengaruh kebudayaan barat , misalanya Parama Basa , Jiwandana, Serat Riyanta, dan Putra Musibat&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6072209488519353307-6968232415744116639?l=ninkwidya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ninkwidya.blogspot.com/feeds/6968232415744116639/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ninkwidya.blogspot.com/2009/04/periodisasi-sastra-jawa.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6072209488519353307/posts/default/6968232415744116639'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6072209488519353307/posts/default/6968232415744116639'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ninkwidya.blogspot.com/2009/04/periodisasi-sastra-jawa.html' title='Periodisasi Sastra Jawa'/><author><name>ninkw1dya ( alve Dya Aurelia Latifa)</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02190777662680452949</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_vgyL60s208c/SvuobeHd1pI/AAAAAAAAADY/zqthVFtNEm8/S220/aku+di+legian.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6072209488519353307.post-5713332983459551186</id><published>2009-04-24T19:17:00.000-07:00</published><updated>2010-03-19T23:46:27.391-07:00</updated><title type='text'>PERIODISASI SEJARAH SASTRA JAWA</title><content type='html'>Didalam Widyaparwa No.30, Oktober 1986 dengan Judul " Aneka Periodisasi Sastra Jawa " yang ditulis oleh Slamet Riyadi ,terbitan Balai Penelitian Bahasa Yogyakarta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Periodisasi Sastra Jawa Menurut Departemen P.P dan K&lt;br /&gt;Buku kesoesastraaan Djawi I terbitan Departemen |P.P dan K  ( 1946 : 96-- 102 ) menjanjikan periodisasi sastra Jawa dengan judul " Babad Riwayate Kesusastraan Jawa " sejarah kesusastraan Jawa.Sajian itu kemudian dimuat dalam Jaya Baya no 52,tahun XXVI ( 1972,:14 dan 19 ) . Menurut penulisnya,penggolangan karya sastra dalam buku itu berdasarkan pusat pemerintahan yang berkaitan dengan kurun waktu .Penggolongan karya sastra itu sebagai berikut :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a. Kesusastraan zaman Hindu ( ± abad 1 )&lt;br /&gt;Karya sastra pada zaman ini terbagi menjadi dua yaitu : &lt;br /&gt;Karya sastra tua ditulis dengan menggunakan bahasa sansekerta.&lt;br /&gt;Contoh  : Prasasti Canggal dan Prasasti Dieng. &lt;br /&gt;Karya sastra muda ditulis dengan menggunakan bahasa Jawa kuna, &lt;br /&gt;Contoh : Mahabarata, Ramayana dan Bharatayuda, &lt;br /&gt;b. Kesusatraan Zaman Majapahit (± abad  XIV )&lt;br /&gt;Karya sastra pada zaaman ini ditulis dengan menggunakan Bahsa Jawa Kuna&lt;br /&gt;Contoh : Negarakertagama, Arjunawijaya dan Pararaton.&lt;br /&gt;c. Kesusastraan Zaman Islam  (± abad XV )&lt;br /&gt;Karya sastra pada zaman ini banyak terpegaruh dengan budaza Islam. Biasanya karya sastra ini berupa suluk, babad, dan riwayat para nabi.&lt;br /&gt;Contoh : Serat Pepali , menak Jugul Mudha. &lt;br /&gt;d. Kesusastraan Zaman Mataram (± mulai abad XVII )&lt;br /&gt;Hasil karya sastranya meliputi  : Nitipraja, Panji Naggaini dan Paramayoga.&lt;br /&gt;e. Kesusastraan Zaman Sekarang ( ± mulai abad XIX )&lt;br /&gt;Merupakan kelanjutan dari karya sastra pada zaman Mataram, jadi kebanyakan karya sastranya terpengaruh dengan budaya barat.&lt;br /&gt;Contoh : Parama Basa, Jiwandana , Serat Riyanta, dan Putra Musibat.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6072209488519353307-5713332983459551186?l=ninkwidya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ninkwidya.blogspot.com/feeds/5713332983459551186/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ninkwidya.blogspot.com/2009/04/periodisasi-sejarah-sastra-jawa.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6072209488519353307/posts/default/5713332983459551186'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6072209488519353307/posts/default/5713332983459551186'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ninkwidya.blogspot.com/2009/04/periodisasi-sejarah-sastra-jawa.html' title='PERIODISASI SEJARAH SASTRA JAWA'/><author><name>ninkw1dya ( alve Dya Aurelia Latifa)</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02190777662680452949</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_vgyL60s208c/SvuobeHd1pI/AAAAAAAAADY/zqthVFtNEm8/S220/aku+di+legian.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6072209488519353307.post-9016618093265747968</id><published>2009-02-19T20:07:00.000-08:00</published><updated>2009-02-19T20:09:04.353-08:00</updated><title type='text'>MACAPAT</title><content type='html'>Macapat iku tembang tradhisional ing tanah Jawa. Macapat uga nular ana ing kabudayan Bali, Madura, lan Sundha. Yen sinawang saka kerata basa, macapat iku maknané maca papat-papat. Macané pancèn rinakit saben patang wanda (suku kata). Tembang iki kira-kira lagi ana ing pungkasaning jaman Majapahit lan wiwitan Walisanga nyekel kuwasa. Nanging iku ya durung mesthi, amarga ora ana tulisan gathuk kang bisa mesthèkaké. Macapat akeh dienggo ing sapérangan Sastra Jawa Tengahan lan Sastra Jawa Anyar. Yèn disandhingake karo Kakawin, aturan-aturan ing macapat luwih gampang. Kitab-kitab jaman Mataram Anyar, kaya Serat Wedhatama, Serat Wulangreh, Serat Wirid Hidayat Jati, Serat Kalatidha, lan liya-liyane dirakit nganggo tembang iki. Aturan-aturan iku ana ing:&lt;br /&gt;• Guru gatra : wilangan larik/gatra saben pada (Indonesia: bait).&lt;br /&gt;• Guru wilangan : wilangan wanda (Indonesia: suku kata) saben gatra.&lt;br /&gt;• Guru lagu : tibané swara wanda ing pungkasan ing saben gatra.&lt;br /&gt;Déné, macapat dhéwé ana werna-werna. Lumrahé dipérang dadi telung jenis, yaiku:&lt;br /&gt;Sekar Macapat utawa Sekar Alit&lt;br /&gt;Macapat iki uga sinebut tembang macapat asli, kang umumé dienggo sumrambah ing ngendi-ngendi. Urut-urutané tembang Jawa iku padha karo lelakoning manungsa saka mulai bayi abang nganti tumekaning pati. Mungguh kaya mangkéné urut-urutané tembang kaya kang ing ngisor iki:&lt;br /&gt;• Maskumambang&lt;br /&gt;Gambaraké jabang bayi sing isih ono kandhutané ibuné, sing durung kawruhan lanang utawa wadhon, Mas ateges durung weruh lanang utawa wadhon, kumambang ateges uripé ngambang nyang kandhutané ibuné.&lt;br /&gt;• Mijil&lt;br /&gt;Ateges wis lair lan jelas priya utawa wanita.&lt;br /&gt;• Sinom&lt;br /&gt;Ateges kanoman, minangka kalodhangan sing paling wigati kanggoné wong anom supaya bisa ngangsu kawruh sak akèh-akèhé.&lt;br /&gt;• Kinanthi&lt;br /&gt;Saka tembung kanthi utawa tuntun kang ateges dituntun supaya bisa mlaku ngambah panguripan ing alam ndonya.&lt;br /&gt;• Asmarandana&lt;br /&gt;Ateges rasa tresna, tresna marang liyan (priya lan wanita lan kosok baliné) kang kabèh mau wis dadi kodrat Ilahi.&lt;br /&gt;• Gambuh&lt;br /&gt;Saka tembung jumbuh / sarujuk kang ateges yèn wis jumbuh / sarujuk njur digathukaké antarane priya lan wanita sing padha nduwèni rasa tresna mau, ing pangangkah supaya bisaa urip bebrayan.&lt;br /&gt;• Dhandhanggula&lt;br /&gt;Nggambaraké uripé wong kang lagi seneng-senengé, apa kang digayuh bisa kasembadan. Kelakon duwé sisihan / kulawarga, duwé anak, urip cukup kanggo sak kulawarga. Mula kuwi wong kang lagi bungah / bombong atine, bisa diarani lagu ndandanggula.&lt;br /&gt;• Durma&lt;br /&gt;Saka tembung darma / wèwèh. Wong yen wis rumangsa kacukupan uripé, banjur tuwuh rasa welas asih marang kadang mitra liyané kang lagi nandhang kacintrakan, mula banjur tuwuh rasa kepéngin darma / wèwèh marang sapadha - padha. Kabèh mau disengkuyung uga saka piwulangé agama lan watak sosialé manungsa.&lt;br /&gt;• Pangkur&lt;br /&gt;Saka tembung mungkur kang ateges nyingkiri hawa nepsu angkara murka. Kang dipikir tansah kepingin wèwèh marang sapadha - padha.&lt;br /&gt;• Megatruh&lt;br /&gt;Saka tembung megat roh utawa pegat rohe / nyawane, awit wis titi wanciné katimbalan marak sowan mring Sing Maha Kuwasa.&lt;br /&gt;• Pocung&lt;br /&gt;Yen wis dadi layon / mayit banjur dibungkus mori putih utawa dipocong sak durungé dikubur.&lt;br /&gt;Sekar Madya utawa Sekar Tengahan&lt;br /&gt;Macapat jenis iki kayadéné tembang Kidung kang asring dienggo rikala jaman Majapahit.&lt;br /&gt;• Jurudemung&lt;br /&gt;• Wirangrong&lt;br /&gt;• Balabak&lt;br /&gt;.&lt;br /&gt;Sekar Ageng&lt;br /&gt;Sekar macapat Ageng (gedhé) mung ana siji, yaiku Girisa. Yen dideleng seka angèlé, sekar macapat ageng kaya tembang Kakawin ing jaman kuno.&lt;br /&gt;Tabel Sekar&lt;br /&gt;Supaya luwih gampang mbédakaké siji lan sijiné guru gatra, guru wilangan lan guru lagu saka tembang-tembang mau, bisa ditata jroning tabel kaya ing ngisor iki:&lt;br /&gt;Sekar Macapat&lt;br /&gt;Sekar Macapat Guru gatra Guru wilangan Guru lagu&lt;br /&gt;Mijil 6 10, 6, 10, 10, 6, 6 i, o, e, i, i ,u&lt;br /&gt;Sinom 9 8, 8, 8, 8, 7, 8, 7, 8, 12 a, i, a, i, i, u ,a ,i, a&lt;br /&gt;Dhandhanggula 10 10, 10, 8, 7, 9, 7, 6, 8, 12, 7 i, a, e, u, i, a, u ,a ,i, a&lt;br /&gt;Kinanthi 6 8, 8, 8, 8, 8, 8, 8 u, i, a, i, a, i&lt;br /&gt;Asmarandana 7 8, 8, 8, 8, 7, 8, 8 a, i, e, a, a, u, a&lt;br /&gt;Durma 7 12, 7, 6, 7, 8, 5, 7, a, i, a, a, i, a, i&lt;br /&gt;Pangkur 7 8, 11, 8, 7, 12, 8, 8, a, i, u, a, u, a, i&lt;br /&gt;Maskumambang 4 12, 6, 8, 8 i, a, i, a, a&lt;br /&gt;Pucung 4 12, 6, 8, 12 u, a, i, a&lt;br /&gt;Jurudhemung 7 8, 8, 8, 8, 8, 8, 8 a, u, u, a, u, a, u&lt;br /&gt;Wirangrong 6 8, 8, 10, 6, 7, 8 i, o, u, i, a, a&lt;br /&gt;Balabak 6 12, 3, 12, 3, 12, 3 a, e, a, e, u, e&lt;br /&gt;Gambuh 5 7, 10, 12, 8, 8 u, u, i, u, o&lt;br /&gt;Megatruh 4 12, 8, 8, 8, u, i, u, i, o&lt;br /&gt;Girisa 8 8, 8, 8, 8, 8, 8, 8, 8, a, a, a, a, a, a, a, a&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6072209488519353307-9016618093265747968?l=ninkwidya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ninkwidya.blogspot.com/feeds/9016618093265747968/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ninkwidya.blogspot.com/2009/02/macapat.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6072209488519353307/posts/default/9016618093265747968'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6072209488519353307/posts/default/9016618093265747968'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ninkwidya.blogspot.com/2009/02/macapat.html' title='MACAPAT'/><author><name>ninkw1dya ( alve Dya Aurelia Latifa)</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02190777662680452949</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_vgyL60s208c/SvuobeHd1pI/AAAAAAAAADY/zqthVFtNEm8/S220/aku+di+legian.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6072209488519353307.post-3317190009440126471</id><published>2008-12-21T04:33:00.000-08:00</published><updated>2008-12-21T04:34:29.883-08:00</updated><title type='text'>SERAT ASMARALAYA</title><content type='html'>ana wiku medhar ananing hyang agung&lt;br /&gt;kang nglimputi dhiri&lt;br /&gt;wayangan nya  dumumung neng netranira&lt;br /&gt;bunder nguwung lir sunaring surya nrawung&lt;br /&gt;aran nur muhammad.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;weneh muwus jatining kang murbeng idhup&lt;br /&gt;yaiku pramana&lt;br /&gt;kang misesa ing sakalir&lt;br /&gt;dumuning neng utyaka guruloka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;iya iku tembung  arab baitul makmur&lt;br /&gt;tandane kang nyata&lt;br /&gt;aneng gebyaring pangeksi&lt;br /&gt;lwih waspada wruh gumlaring alam donya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;mung pramana kang bisa nuntun marang swarga&lt;br /&gt;ana  rupa kadya rupanta priyangga&lt;br /&gt;kang akonus saking kamungsangta wus&lt;br /&gt;saplak nora siwah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;amung mawa caya putih&lt;br /&gt;yaiku aran mayangga seta&lt;br /&gt;ana cahya seta prapta geng sabda&lt;br /&gt;iya iku nur muhammad kang satuhu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;cahya maya maya&lt;br /&gt;jumeneng munggwing unggyaning&lt;br /&gt;tuntung driya anartani triloka&lt;br /&gt;baitul makmur baitul mukharam tetelu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ing baitul muqadas&lt;br /&gt;sumanar prapteng pangeksi&lt;br /&gt;liyepena katon ponang cahya maya&lt;br /&gt;anarawung warna warna wor dumunung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;nuksmeng cahya kang sajati&lt;br /&gt;ingkang  padhang gumilang tanpa wayangan&lt;br /&gt;langgeng nguwung angebeki buwana gung&lt;br /&gt;mulih purwanira.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;duk durung tumurun maring&lt;br /&gt;ngarcapada awarna warana raga&lt;br /&gt;cahyanipun gumilang gilang nelawung&lt;br /&gt;tanpa wewayangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;nelahi sesining bumi&lt;br /&gt;gya tumurun dadya manungsa&lt;br /&gt;marma temtu yen prapta antareng layu&lt;br /&gt;ana cahya prapta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;gumilang pindhah angganing&lt;br /&gt;tirta munggwing ron lumbu amaya maya&lt;br /&gt;dyan puniku ciptanen dadya sawujud&lt;br /&gt;lawan sabdanira.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kang sinedyan samadyaning&lt;br /&gt;ngen ngenta yekti waluya sampurna&lt;br /&gt;mulya wangsul mring salira numuhun&lt;br /&gt;sabda gaib babar bali angebaki bumi&lt;br /&gt;tribuwana kebak bangkit megat nyawa.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6072209488519353307-3317190009440126471?l=ninkwidya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ninkwidya.blogspot.com/feeds/3317190009440126471/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ninkwidya.blogspot.com/2008/12/serat-asmaralaya.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6072209488519353307/posts/default/3317190009440126471'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6072209488519353307/posts/default/3317190009440126471'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ninkwidya.blogspot.com/2008/12/serat-asmaralaya.html' title='SERAT ASMARALAYA'/><author><name>ninkw1dya ( alve Dya Aurelia Latifa)</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02190777662680452949</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_vgyL60s208c/SvuobeHd1pI/AAAAAAAAADY/zqthVFtNEm8/S220/aku+di+legian.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6072209488519353307.post-8636506730720584296</id><published>2008-12-21T04:32:00.000-08:00</published><updated>2008-12-21T04:33:25.360-08:00</updated><title type='text'>SERAT ANGLING DARMA</title><content type='html'>Pupuh Asmaradana&lt;br /&gt;1.&lt;br /&gt;Asmareng tyas nawung kingkin&lt;br /&gt;nurat serat anglingdarma&lt;br /&gt;kagungan dalem sang katong&lt;br /&gt;kang jumeneng ping sadasa&lt;br /&gt;ing nagri surakarta&lt;br /&gt;kapareng karsa kaklumpuk&lt;br /&gt;serat baabd miwah wulang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.&lt;br /&gt;Sadaya rinuwat mungging&lt;br /&gt;jro kamar sana pustaka&lt;br /&gt;duk miwarni panitrane&lt;br /&gt;ri soma kaping sadasa&lt;br /&gt;ing wulan dulkangidah&lt;br /&gt;jumakir sangkaleng taun&lt;br /&gt;luhur tata ngesthi nata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.&lt;br /&gt;Sanadyan crita puniki&lt;br /&gt;carita ing jaman buda&lt;br /&gt;pulo jawa pituture&lt;br /&gt;nadyan budha kang utama&lt;br /&gt;linuri kang carita&lt;br /&gt;duk jenengira sang prabu&lt;br /&gt;anglingdarma ing malawa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4.&lt;br /&gt;Tan ana kang nyenyiringi&lt;br /&gt;jenegira sang pamasa&lt;br /&gt;tribuwana kekes kabeh&lt;br /&gt;ratu winong ing jawata&lt;br /&gt;kinatujon sakarsa&lt;br /&gt;tuhu kalamun pinunjul&lt;br /&gt;sinebut sri bathara&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;16.&lt;br /&gt;Sang retna angandikaris&lt;br /&gt;sarwi kumembeng kang waspa&lt;br /&gt;biyang inya karsaninong&lt;br /&gt;saupama nora prapta&lt;br /&gt;sang nata sore mangkya&lt;br /&gt;patren ngong pasthi cumandhuk&lt;br /&gt;biyang ing jaja manira&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6072209488519353307-8636506730720584296?l=ninkwidya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ninkwidya.blogspot.com/feeds/8636506730720584296/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ninkwidya.blogspot.com/2008/12/serat-angling-darma.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6072209488519353307/posts/default/8636506730720584296'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6072209488519353307/posts/default/8636506730720584296'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ninkwidya.blogspot.com/2008/12/serat-angling-darma.html' title='SERAT ANGLING DARMA'/><author><name>ninkw1dya ( alve Dya Aurelia Latifa)</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02190777662680452949</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_vgyL60s208c/SvuobeHd1pI/AAAAAAAAADY/zqthVFtNEm8/S220/aku+di+legian.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6072209488519353307.post-4892099391353333925</id><published>2008-12-21T04:31:00.001-08:00</published><updated>2008-12-21T04:31:33.331-08:00</updated><title type='text'>SERAT AGUTARA NIKAYA</title><content type='html'>Piwulang nem prakawis kasebut ing Serat Agutara Nikaya punika nyimpen wewados ingkang kadhapur kalimpadaning basa ingkang pikajenganipun asung piwulang dhateng kita, yen sadaya pandamel punika sayogi katindhakna kanthi papadhanging angen-angen. Menggah piwulang kalawau badhe kawedharaken kados ing ngandhap punika:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Aja ngandel pituturing wong. Menggah pikajenganipun kita sampun ngandel dhateng pituturing tiyang ingkang boten kaseksen tuwin ingkang boten miturut dhateng gumela ring akal sarta ingkang boten saged kaseksen dening papadhanging nalar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Aja ngandel marang wirayat kuna amarga saka lawase. Pikajenganipun tembung lawas = luwas = lawas = suwe = tebih = memet = lebet. Artosipun punika sagedipun kita ngandel, inggih manawi kita sampun saged njajagi maksudipun wirayat wau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Aja ngandel pawarta amarga akeh kang ngandhaake. Pikajenganipun sampun ngantos ngandel dhateng pawartosipun tiyang ingkang sampun misuwur, cidra, sanadyan maneka warni kasagahanipun prayogi boten kapaelu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Aja ngandel thok waton layang karangane wong wicaksana ing jaman kina.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Pikajenganipun sampun ngantos ngandel kemawon dhateng sadaya serat-serat kina. Awit serat-serat wau upami mungela abrit saged ugi maksudipun cemeng. Inggih serat makaten punika ingkang kedah kita jinggleng maksud suraosipun. Sadaya serat piwulang punika sami dinapur pralampita , dene badharing pralampita wau muhung saking pangertosan kita pribadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6. Aja ngandel waton saka kira-kira. Wus matuh lawas koanggep bener.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7. Pikajenganipun sakathahing pandamel punika esahipun manawi sampun wonten cihnanipun. Kita prayogi manuta lan anglenggahana kawontenaning jaman ingkang saweg dipun alami. Sanadyan kaanggep sae, luhur tuwin mulya tumrap ing jaman ingkang sampun kapengker, ananging yen ing samangke sampun boten njamani, inggih kedah kaberat ingkang rila. Awit yen boten makaten, tangeh sagedipun kita manggih karaharjan lan kamulyan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;8. Aja ngandel marang gurumu lan para pandhita amarga saka panguasane. Pikajenganipun mrayitnani dhateng pratingkahing para ingkang ngaken dados guru ingkang sami papacak; kudu manut miturut lan kudu asih tresna marang gurumu lan marang pandhuwuranmu sabab kadhudhuwuranmu iku dadi wakile Kang Maha Kuwasa. Lha inggih makaten wau manawi boten kita prayitnani, temah saged ugi dhumawah ing kasangsaran. Dene sanyatanipun ingkang wajib asih tresna punika ratu tumrap ing kawula, bapa biyung tumrap ing anak, guru tumrap murid. Yen sanyata asih trus ing lahir batos sampun tamtu kawula sami amangsul sih katresnan ingkang boten mawi pinarentah.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6072209488519353307-4892099391353333925?l=ninkwidya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ninkwidya.blogspot.com/feeds/4892099391353333925/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ninkwidya.blogspot.com/2008/12/serat-agutara-nikaya.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6072209488519353307/posts/default/4892099391353333925'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6072209488519353307/posts/default/4892099391353333925'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ninkwidya.blogspot.com/2008/12/serat-agutara-nikaya.html' title='SERAT AGUTARA NIKAYA'/><author><name>ninkw1dya ( alve Dya Aurelia Latifa)</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02190777662680452949</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_vgyL60s208c/SvuobeHd1pI/AAAAAAAAADY/zqthVFtNEm8/S220/aku+di+legian.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6072209488519353307.post-483373057539888125</id><published>2008-12-21T04:29:00.000-08:00</published><updated>2008-12-21T04:30:39.233-08:00</updated><title type='text'>SERAT CABOLEK</title><content type='html'>Dhandhanggula&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. (14)&lt;br /&gt;Wuwusira Dewa Suksma Ruci,&lt;br /&gt;payo Wêrkudhara dipun-enggal,&lt;br /&gt;manjinga garbengong kene,&lt;br /&gt;Wrêkudhara gumuyu,&lt;br /&gt;pan angguguk turira aris,&lt;br /&gt;dene paduka bajang,&lt;br /&gt;kawula gêng luhur,&lt;br /&gt;inggih pangawak parbata,&lt;br /&gt;saking pundi margine kawula manjing,&lt;br /&gt;jênthik mangsa sêdhênga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. (15)&lt;br /&gt;Angandika malih Dewa Ruci,&lt;br /&gt;gêdhe êndi sira lawan jagad,&lt;br /&gt;kabeh iki saisine,&lt;br /&gt;kalawan gunungipun,&lt;br /&gt;samodrane alase sami,&lt;br /&gt;tan sêsak lumêbuwa,&lt;br /&gt;guwa garbaningsun,&lt;br /&gt;Wrêkodhara duk miyarsa,&lt;br /&gt;êsmu ajrih kumêl sandika turneki,&lt;br /&gt;mengleng sang Ruci Dewa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. (16)&lt;br /&gt;Iki dalan talingan ngong kering,&lt;br /&gt;Wrêkodhara manjing sigra-sigra,&lt;br /&gt;wus prapteng sajro garbane,&lt;br /&gt;andulu samodra gung,&lt;br /&gt;tanpa têpi nglangut lumaris,&lt;br /&gt;lêyêp adoh katingal,&lt;br /&gt;Dewa Ruci nguwuh,&lt;br /&gt;heh apa katon ing sira,&lt;br /&gt;dyan sumahur sang Sena aturna têbih,&lt;br /&gt;tan wontên katingalan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. (17)&lt;br /&gt;Awang-awang kang kula-lampahi,&lt;br /&gt;uwung-uwung têbih tan kantênan,&lt;br /&gt;ulun saparan-parane,&lt;br /&gt;tan mulat ing lor kidul,&lt;br /&gt;wetan kilen datan udani,&lt;br /&gt;ngandhap nginggil ing ngarsa,&lt;br /&gt;kalawan ing pungkur,&lt;br /&gt;kawula botên uninga,&lt;br /&gt;langkung bingung ngandika sang Dewa Ruci,&lt;br /&gt;aja maras tyasira.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. (18)&lt;br /&gt;Byar katingal ngadhêp Dewa Ruci,&lt;br /&gt;Wêrkodhara sang wiku kawangwang,&lt;br /&gt;umancur katon cahyane,&lt;br /&gt;nuli wruh ing lor kidul,&lt;br /&gt;wetan kilen sampun kaeksi,&lt;br /&gt;nginggil miwah ing ngandhap,&lt;br /&gt;pan sampun kadulu,&lt;br /&gt;lawan andulu baskara,&lt;br /&gt;eca tyase miwah sang wiku kaeksi,&lt;br /&gt;aneng jagad walikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6. (19)&lt;br /&gt;Dewa Ruci Suksma angling malih,&lt;br /&gt;aywa lumaku anduduluwa,&lt;br /&gt;apa katon ing dheweke,&lt;br /&gt;Wrêkodhara umatur,&lt;br /&gt;wontên warni kawan prakawis,&lt;br /&gt;katingal ing kawula,&lt;br /&gt;sadaya kang wau,&lt;br /&gt;sampun datan katingalan,&lt;br /&gt;amung kawan prakawis ingkang kaeksi,&lt;br /&gt;irêng bang kuning pêthak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7. (20)&lt;br /&gt;Dewa Ruci Suksma ngandika ris,&lt;br /&gt;ingkang dhingin sira anon cahya,&lt;br /&gt;gumawang tan wruh arane,&lt;br /&gt;pancamaya puniku,&lt;br /&gt;sajatine ing tyas sayêkti,&lt;br /&gt;panguriping sarira,&lt;br /&gt;têgêse tyas iku,&lt;br /&gt;ingaranan mukasipat,&lt;br /&gt;kang anuntun marang sipat kang linuwih,&lt;br /&gt;kang sajatining sipat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;8. (21)&lt;br /&gt;Mangka tinula aywa lumaris,&lt;br /&gt;awasêna rupa aja samar,&lt;br /&gt;kawasaning tyas êmpane,&lt;br /&gt;tingale tyas puniku,&lt;br /&gt;anêngêri maring sajati,&lt;br /&gt;enak sang Wrêkodhara,&lt;br /&gt;amiyarsa wuwus,&lt;br /&gt;lagya mesêm tyas sumringah,&lt;br /&gt;dene ingkang irêng abang kuning putih,&lt;br /&gt;iku durgamaning tyas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;9. (22)&lt;br /&gt;pan isining jagad amêpêki,&lt;br /&gt;iya ati kang têlung prakara,&lt;br /&gt;pamurunging laku dene,&lt;br /&gt;kang bisa pisah iku,&lt;br /&gt;pasthi bisa amor ing gaib,&lt;br /&gt;iku mungsuhing tapa,&lt;br /&gt;ati kang têtêlu,&lt;br /&gt;irêng abang kuning samya,&lt;br /&gt;ingkang nyêgah cipta karsa kang lêstari,&lt;br /&gt;pamoring suksma mulya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;10. (23)&lt;br /&gt;Lamun nora kawilêt ing katri,&lt;br /&gt;yêkti sida pamoring kawula,&lt;br /&gt;lêstari ing panunggale,&lt;br /&gt;poma den-awas emut,&lt;br /&gt;durgama kang munggeng ing ati,&lt;br /&gt;pangwasane wêruha,&lt;br /&gt;siji-sijinipun,&lt;br /&gt;kang irêng lêwih prakoswa,.&lt;br /&gt;panggawene asrêngêng sabarang runtik,&lt;br /&gt;andadra ngambra-ambra.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;11. (24)&lt;br /&gt;Iya iku ati kang ngadhangi,&lt;br /&gt;ambuntoni maring kabêcikan,&lt;br /&gt;kang irêng iku gawene,&lt;br /&gt;dene kang abang iku,&lt;br /&gt;iya tuduh nêpsu tan bêcik,&lt;br /&gt;sakehing pipinginan,&lt;br /&gt;mêtu sangking iku,&lt;br /&gt;panasten panasbaranan,&lt;br /&gt;ambuntoni maring ati ingkang eling,&lt;br /&gt;maring ing kawaspadan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;12. (25)&lt;br /&gt;Dene iya kang arupa kuning,&lt;br /&gt;kuwasane nanggulang sabarang,&lt;br /&gt;cipta kang bêcik dadine,&lt;br /&gt;panggawe amrih tulus,&lt;br /&gt;ati kuning ingkang ngandhêgi,&lt;br /&gt;mung panggawe pangrusak,&lt;br /&gt;binanjur jinurung,&lt;br /&gt;mung kang putih iku nyata,&lt;br /&gt;ati antêng mung suci tan ika-iki,&lt;br /&gt;prawira karaharjan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;13. (26)&lt;br /&gt;Amung iku kang bisa nampani&lt;br /&gt;ing sasmita sajatining rupa,&lt;br /&gt;nampani nugraha gone,&lt;br /&gt;ingkang bisa tumanduk,&lt;br /&gt;kalêstaren pamoring gaib,&lt;br /&gt;iku mungsuh titiga,&lt;br /&gt;tur samya gung agung,&lt;br /&gt;balane ingkang titiga,&lt;br /&gt;ingkang putih tanpa rowang amung siji,&lt;br /&gt;mila anggung kasoran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;14. (27)&lt;br /&gt;Lamun bisa iya nêmbadani,&lt;br /&gt;marang susukêr têlung prakara,&lt;br /&gt;sida ing kono pamore,&lt;br /&gt;tanpa tuduhan iku,&lt;br /&gt;ing pamoring kawula Gusti,&lt;br /&gt;Wêrkudhara miyarsa,&lt;br /&gt;sêngkud pamrihipun,&lt;br /&gt;sangsaya birahenira,&lt;br /&gt;kacaryan ing kauwusaning ngaurip,&lt;br /&gt;sampurnaning panunggal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;15. (28)&lt;br /&gt;Sirna patang prakara na malih,&lt;br /&gt;urub siji wêwolu warnanya,&lt;br /&gt;sang Wêrkudhara ature,&lt;br /&gt;punapa wastanipun,&lt;br /&gt;urub siji wolu warni,&lt;br /&gt;pundi ingkang sanyata,&lt;br /&gt;rupa kang satuhu,&lt;br /&gt;wontên kadi rêtna muncar,&lt;br /&gt;wontên kadi maya-maya angebati,&lt;br /&gt;wêneh abra markata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;16.(29)&lt;br /&gt;Marbudengrat Dewa Ruci angling,&lt;br /&gt;iya iku kêjatining tunggal,&lt;br /&gt;saliring warna têgêse,&lt;br /&gt;iya na ing sireku,&lt;br /&gt;tuwin iya isining bumi,&lt;br /&gt;ginambar angganira,&lt;br /&gt;lawan jagad agung,&lt;br /&gt;jagad cilik tanpa beda,&lt;br /&gt;purwa ana lor kidul wetan puniki,&lt;br /&gt;kilen ing luhur ngandhap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;17. (30)&lt;br /&gt;Miwah irêng abang kuning putih,&lt;br /&gt;iya panguripe ing buwana,.&lt;br /&gt;jagad cilik jagad gêdhe,&lt;br /&gt;pan padha isinipun,&lt;br /&gt;tinimbangkên ing sira iki,&lt;br /&gt;yen ilang warnaning kang,&lt;br /&gt;kabeh jagad iku,&lt;br /&gt;saliring reka tan ana,&lt;br /&gt;kinumpulkên ana rupa kang sawiji,&lt;br /&gt;tan kakung tan wanudya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;18. (31)&lt;br /&gt;Kadya tawon gumana puniki,&lt;br /&gt;ingkang asawang puputran dênta,&lt;br /&gt;lah payo dulunên kuwe,&lt;br /&gt;Wêrkudhara andulu,&lt;br /&gt;ingkang kadya puputran gadhing,&lt;br /&gt;cahya mancur kumilat,&lt;br /&gt;tumeja ngunguwung,&lt;br /&gt;punapa inggih punika,&lt;br /&gt;warnaning dat kang pinrih dipun-ulati,&lt;br /&gt;kang sayêktining rupa,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;19. (32)&lt;br /&gt;Anauri aris Dewa Ruci,&lt;br /&gt;dudu iku ingkang sira-sêdya,&lt;br /&gt;kang mumpuni ambêk kabeh,&lt;br /&gt;tan kêna sira-dulu,&lt;br /&gt;tanpa rupa datanpa warni,&lt;br /&gt;tan gatra tan satmata,&lt;br /&gt;iya tanpa dunung,&lt;br /&gt;mung dumunung mring kang awas,&lt;br /&gt;mung sasmita aneng ing jagad ngêbêki,&lt;br /&gt;dinumuk datan ana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;20. (33)&lt;br /&gt;Dene iku kang sira-tingali&lt;br /&gt;kang asawang puputran mutyara,&lt;br /&gt;ingkang kumilat cahyane,&lt;br /&gt;angkara-kara murub,&lt;br /&gt;pan pêrmana arane iki,&lt;br /&gt;uripe kang sarira,&lt;br /&gt;pêrmana puniku,&lt;br /&gt;tunggal aneng ing sarira,&lt;br /&gt;nanging datan milu suka lan prihatin,&lt;br /&gt;ênggone aneng raga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;21. (34)&lt;br /&gt;Datan milu turu mangan nênggih,&lt;br /&gt;iya nora milu lara lapa,&lt;br /&gt;yen iku pisah ênggone,&lt;br /&gt;raga kari ngalumpruk,&lt;br /&gt;yêkti lungkrah badanereki,&lt;br /&gt;yaiku kang kuwasa,&lt;br /&gt;nandhang rahsa iku,&lt;br /&gt;inguripan dening suksma,&lt;br /&gt;iya iku sinung sih anandhang urip,&lt;br /&gt;ingakên rahsaning dat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;22. (35)&lt;br /&gt;Iku sinandhangakên sireki,&lt;br /&gt;nanging kadya simbar neng kakaywan,&lt;br /&gt;aneng ing raga ênggone,&lt;br /&gt;uriping pêrmaneku,&lt;br /&gt;inguripan ing suksma nênggih,&lt;br /&gt;misesa ing sarira,&lt;br /&gt;pêrmana puniki,&lt;br /&gt;yen mati milu kalêswan,&lt;br /&gt;lamun ilang suksmane sarira nuli,&lt;br /&gt;uriping suksma ana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;23. (36)&lt;br /&gt;Sirna iku iya kang pinanggih,&lt;br /&gt;uriping suksma ingkang sanyata,&lt;br /&gt;kaliwat tan upamane,&lt;br /&gt;lir rahsaning kamumu,&lt;br /&gt;kang pramana anêrsandhani,&lt;br /&gt;tuhu tunggal pinangka,&lt;br /&gt;jinatên puniku,&lt;br /&gt;umatur sang Wêrkudhara,&lt;br /&gt;inggih pundi warnine dat kang sayêkti,&lt;br /&gt;Dewa Ruci ngandika.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;24. (37)&lt;br /&gt;Nora kêna iku yen sira-prih,&lt;br /&gt;lawan kahanan sêmata-mata,&lt;br /&gt;gampang-angel pirantine,&lt;br /&gt;Wêrkudhara umatur,&lt;br /&gt;kula nuwun pamêjang malih,&lt;br /&gt;inggih kêdah uninga,&lt;br /&gt;babar pisanipun,&lt;br /&gt;pun patik ngaturken pêjah,&lt;br /&gt;ambêbana anggen-anggen kang sayêkti,&lt;br /&gt;sampun tuwas kangelan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;25. (38)&lt;br /&gt;Yen mêkatên kula botên mijil,&lt;br /&gt;sampun eca neng ngriki kewala,&lt;br /&gt;botên wontên sangsarane,&lt;br /&gt;tan niyat mangan turu,&lt;br /&gt;botên arip botên angêlih,&lt;br /&gt;botên ngraos kangelan,&lt;br /&gt;botên ngêrês linu,&lt;br /&gt;amung nikmat lan manpangat,&lt;br /&gt;Dewa Ruci lingira iku tan kêni,&lt;br /&gt;yen nora lan antaka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;26. (39)&lt;br /&gt;Sangsaya sihira Dewa Ruci,&lt;br /&gt;marang kang kaswasih ing panêdha,&lt;br /&gt;lah iya den-awas bae,&lt;br /&gt;mring pamuruning laku,&lt;br /&gt;aywa ana karêmireki,&lt;br /&gt;den-bênêr den-waspada,&lt;br /&gt;pênganggêpireku,&lt;br /&gt;yen wus kasikêp ing sira,&lt;br /&gt;aja umung den-nganggo parah yen angling,&lt;br /&gt;yeku reh pipingitan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;27. (40)&lt;br /&gt;Nora kêna yen sira-rasani,&lt;br /&gt;lan sêsama-samaning manungsa,&lt;br /&gt;kang nora lan nugrahane,&lt;br /&gt;yen ana nêdya padu,&lt;br /&gt;angrasani rêrasan iki,&lt;br /&gt;ya têka kalahana,&lt;br /&gt;ywa kongsi kabanjur,&lt;br /&gt;aywa ngadekkên sarira,&lt;br /&gt;yen karakêt marang wisaning ngaurip,&lt;br /&gt;balik sikêpên uga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;28. (41)&lt;br /&gt;Datan waneh sangkanira nguni,&lt;br /&gt;tunggal sapakêrtining buwana,.&lt;br /&gt;pandulu pamiyarsane,&lt;br /&gt;wus aneng ing sireku,&lt;br /&gt;pamyarsane yang suksma jati,&lt;br /&gt;iya tan lawan karna,&lt;br /&gt;ing pandulunipun,&lt;br /&gt;iya tan kalawan netra,&lt;br /&gt;karnanira netranira kang kinardi,&lt;br /&gt;anane aneng sira.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;29. (42)&lt;br /&gt;Lairing suksma aneng sireku,&lt;br /&gt;batinira kang ana ing suksma,&lt;br /&gt;kaya mangkene patrape,&lt;br /&gt;kadya wrêksa tinunu,&lt;br /&gt;ananing kang kukusing gêni,&lt;br /&gt;iya kalawan wrêksa,&lt;br /&gt;lir toya lan alun,.&lt;br /&gt;kadya menyak lawan puhan,&lt;br /&gt;raganira ing reh mobah lawan mosik,&lt;br /&gt;sarta lawan nugraha,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;30. (43)&lt;br /&gt;Yen wruh pamore kawula gusti,&lt;br /&gt;sarta suksma kang sinêdya ana,&lt;br /&gt;de warna neng sira gone,&lt;br /&gt;lir wayang sarireku,&lt;br /&gt;saking dhalang solahing ringgit,&lt;br /&gt;mangka panggung kang jagad,&lt;br /&gt;liring badan iku,&lt;br /&gt;amolah lamun pinolah,&lt;br /&gt;sapolahe kumêdhep myarsa ningali,&lt;br /&gt;tumindak lan pangucap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;31. (44)&lt;br /&gt;Kawisesa amisesa sami,&lt;br /&gt;datan antara pamoring karsa,&lt;br /&gt;jêr tanpa rupa rupane,&lt;br /&gt;wus aneng ing sireku,&lt;br /&gt;upamane paesan jati,&lt;br /&gt;ingkang ngilo ywang suksma,&lt;br /&gt;wayangan puniku,&lt;br /&gt;kang ana sajroning kaca,&lt;br /&gt;iya sira jênênge manusa iki,&lt;br /&gt;rupa sajroning kaca.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;32. (45)&lt;br /&gt;Luwih gêngnya kalêpasan iki,&lt;br /&gt;lawan jagad agêng kalêpasan,&lt;br /&gt;kalawan luwih lêmbute,&lt;br /&gt;salêmbutaning banyu,&lt;br /&gt;mapan lêmbut kamuksan ugi,&lt;br /&gt;luwih alit kamuksan,&lt;br /&gt;saaliting têngu,&lt;br /&gt;pan maksih alit kamuksan,&lt;br /&gt;liring luwih amisesa ing sêkalir,&lt;br /&gt;liring lêmbut alitnya.&lt;br /&gt;Bisa nuksma ing agal myang alit,&lt;br /&gt;kalimputan kabeh kang rumangkang,&lt;br /&gt;kang gumêrmêt ya tan pae,&lt;br /&gt;kaluwihan satuhu,&lt;br /&gt;iya luwih dera nampani,&lt;br /&gt;tan kêna ngandêlêna,&lt;br /&gt;ing warah lan wuruk,&lt;br /&gt;den-sangêt panguswanira,&lt;br /&gt;badanira wasuhên pragnyana ngungkih,&lt;br /&gt;wruha rungsiding tingkah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;34. (47)&lt;br /&gt;Wuruk iku pan minangka wiji,&lt;br /&gt;kang winuruk upamane papan,&lt;br /&gt;pama kacang lan kêdhêle,&lt;br /&gt;sinêbarna ing watu,&lt;br /&gt;yen watune datanpa siti,&lt;br /&gt;kodanan kêpanasan,&lt;br /&gt;yêkti nora thukul,&lt;br /&gt;lamun sira bijaksana,&lt;br /&gt;tingalira sirnana ananireki,&lt;br /&gt;dadi tingaling suksma.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;35. (48)&lt;br /&gt;Rupanira swaranira nuli,&lt;br /&gt;ulihêna mring kang duwe swara,&lt;br /&gt;jêr sira ingakên,&lt;br /&gt;sisilih kang satuhu,&lt;br /&gt;nanging aja duwe sireki,&lt;br /&gt;pakarêman kang liya,&lt;br /&gt;marang sang ywang luhur,&lt;br /&gt;dadi sarira bêthara,&lt;br /&gt;obah osikira wus sah dadi siji,&lt;br /&gt;ja roro anggêpira.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;36. (49)&lt;br /&gt;Yen duweya anggêp sira kaki,&lt;br /&gt;If you, my boy, have any notion&lt;br /&gt;ngrasa roro dadi maksih uwas,&lt;br /&gt;kêna ing rêngu yêktine,&lt;br /&gt;yen wis siji sawujud,&lt;br /&gt;sakarêntêging tyasereki,&lt;br /&gt;apa cinipta ana,&lt;br /&gt;kang sinêdya rawuh,&lt;br /&gt;wus kawêngku aneng sira,&lt;br /&gt;jagad kabeh jêr sira kinarya yêkti,&lt;br /&gt;gêgênti den-asagah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;37. (50)&lt;br /&gt;Yen wus mudhêng pratingkah kang iki,&lt;br /&gt;den-awingit sarta den-asasab,&lt;br /&gt;ngandhap-asor pênganggone,&lt;br /&gt;nanging ing batinipun,&lt;br /&gt;sakarêntêg tan kêna lali,&lt;br /&gt;laire sasabana,&lt;br /&gt;kawruh patang dhapur,&lt;br /&gt;padha anggêpên sadaya,&lt;br /&gt;kalimane kang siji iku pêrmati,&lt;br /&gt;kanggo ing kene kana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;38. (51)&lt;br /&gt;Liring mati sajroning ngaurip,&lt;br /&gt;iya urip ing sajroning pêjah,&lt;br /&gt;urip bae salawase,&lt;br /&gt;kang mati iku nêpsu,&lt;br /&gt;badan lair kang anampani,&lt;br /&gt;kêtampan badan nyata,&lt;br /&gt;pamore sawujud,&lt;br /&gt;pa gene ngrasa matiya,&lt;br /&gt;Wêrkudhara tyasira padhang nampani,&lt;br /&gt;wahyu prapta nugraha.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;39. (52)&lt;br /&gt;Lir sasangka katawêngan riris,&lt;br /&gt;praptaning wahyu ngima nirmala,&lt;br /&gt;sumilak ilang rêgêde,&lt;br /&gt;angling malih turnya rum,&lt;br /&gt;Dewa Ruci manis aririh,&lt;br /&gt;tan ana aji paran,&lt;br /&gt;kabeh wus kawêngku,&lt;br /&gt;tan ana ingulatana,&lt;br /&gt;kaprawiran kadigdayan wus kawingking,&lt;br /&gt;kabeh rehing ngayuda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;40. (53)&lt;br /&gt;Têlas wulangira Dewa Ruci,&lt;br /&gt;Wêrkudhara ing tyas wus tan kewran,&lt;br /&gt;wus wruh ing anane dhewe,&lt;br /&gt;ardaning swara muluk,&lt;br /&gt;tanpa êlar anjajah bangkit,&lt;br /&gt;sawêngkon jagad raya,&lt;br /&gt;angga wus kawêngku,&lt;br /&gt;pantês prêmatining basa,&lt;br /&gt;saenggane sêkar maksih kudhup lami,&lt;br /&gt;mangke mêkar ambabar,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;41. (54)&lt;br /&gt;Wuwuh warnane lan gandaneki,&lt;br /&gt;wus kêna kang panca-rêtna mêdal,&lt;br /&gt;wus salin alamipun,&lt;br /&gt;angulihi alame lami,&lt;br /&gt;Dewa Ruci wus sirna,&lt;br /&gt;mêngkana winuwus,&lt;br /&gt;tyasira Sang Wêrkudhara,&lt;br /&gt;lulus saking gandane kêsturi jati,&lt;br /&gt;pêpanasing tyas sirna.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;42. (55)&lt;br /&gt;Wus lêksana salêkêring bumi,&lt;br /&gt;ujar bae wruh patakanira,&lt;br /&gt;nir ing wardaya malane,&lt;br /&gt;mung panarima mungguh,&lt;br /&gt;kadyanggane nganggo sutradi,&lt;br /&gt;maya-maya kang sarira,&lt;br /&gt;rehnya kang saryalus,&lt;br /&gt;sinukma mas ingêmasan,&lt;br /&gt;arja sotya-sinutya manik-minanik,&lt;br /&gt;wruh pakenaking tingkah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;43. (56)&lt;br /&gt;Mila sumping bra puspa krêna di,&lt;br /&gt;winarnendah kinteki sumêkar,&lt;br /&gt;kêsturi jati namane,&lt;br /&gt;pratandha datan korup,&lt;br /&gt;kang pangwikan kênaka lungid;&lt;br /&gt;angungkabi kabisan,&lt;br /&gt;kawruh tan kaliru,&lt;br /&gt;poleng bang bintulu lima,&lt;br /&gt;pan winarna uraga milêt tulyasri,&lt;br /&gt;lancingan kampuhira.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;44. (57)&lt;br /&gt;Mangka pangemut katon ing nguni,&lt;br /&gt;titiga duk sajroning kang garba,&lt;br /&gt;Dewa Ruci pamengête,&lt;br /&gt;bang kuning irêng iku,&lt;br /&gt;pamurunge laku ngadhangi,&lt;br /&gt;mung kang putih ing têngah,&lt;br /&gt;sidaning pêngangkuh,&lt;br /&gt;kalimeku kang ginambar,&lt;br /&gt;wus kaasta sanalika aywa lali,&lt;br /&gt;ulun tuhu ambêknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;45. (58)&lt;br /&gt;Saking sangête karya ling-aling,&lt;br /&gt;pambengkase sumêngah jubriya,&lt;br /&gt;kaesthi siyang dalune,&lt;br /&gt;pan kathah gennya ngrungu,&lt;br /&gt;pratingkahe para maharsi,&lt;br /&gt;kang sami kaluputan,&lt;br /&gt;ing pangangkuhipun,&lt;br /&gt;pangancabing kawruhira,&lt;br /&gt;wus abênêr wêkasan mati tan dadi,&lt;br /&gt;kawilêt ing tatrapan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;46. (59)&lt;br /&gt;Ana ingkang mati dadi pêksi,&lt;br /&gt;amung milih pencokan kewala,&lt;br /&gt;kayu kang bêcik warnane,&lt;br /&gt;angsana naga-santun,&lt;br /&gt;tanjung ana bulu waringin,&lt;br /&gt;kang ana pinggir pasar,&lt;br /&gt;êngkuk mangruk-mangkruk,&lt;br /&gt;angungkuli wong sêpasar,&lt;br /&gt;mindha-mindha kamukten sapele pinrih,&lt;br /&gt;kêsasar kabêlasar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;47. (60)&lt;br /&gt;Ana ingkang anitis para ji,&lt;br /&gt;sugih raja-brana miwah garwa,&lt;br /&gt;ana kang milih putrane,&lt;br /&gt;putra kang arsa mêngku,&lt;br /&gt;karêmane wong siji-siji,&lt;br /&gt;samyantuk kaluwihan,&lt;br /&gt;ing panitisipun,&lt;br /&gt;yen mungguh sang Wêrkudhara,&lt;br /&gt;dêrêng arsa amung amrih ing pribadi,&lt;br /&gt;sêdayeku ingaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;48. (61)&lt;br /&gt;Titaning kang wadaka kang pêsthi,&lt;br /&gt;durung jumênêng jalma utama,&lt;br /&gt;ingkang mêngkono anggêpe,&lt;br /&gt;pêngrasane anêmu,&lt;br /&gt;suka sugih tan wruh ing yêkti,&lt;br /&gt;yen uga nêmu duka,&lt;br /&gt;kêbanjur kalantur,&lt;br /&gt;saênggon nitis kewala,&lt;br /&gt;tanpa wêkas kangelan tan nêmu hasil,&lt;br /&gt;tan bisa babar pisan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;49. (62)&lt;br /&gt;Karêmane wong sawiji-wiji,&lt;br /&gt;durung wêruh sampurnaning tunggal,&lt;br /&gt;ing pati sanggon-ênggone,&lt;br /&gt;anitis dadi kuwuk,&lt;br /&gt;kuru gudhig pilêrên mising,&lt;br /&gt;matane karo wuta,&lt;br /&gt;tan wêruh dêlanggung,&lt;br /&gt;ngrungu ana pitik sata,&lt;br /&gt;pinaranan kang duwe ayam ningali,&lt;br /&gt;ginitikan ing doran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;50. (63)&lt;br /&gt;Ana ingkang anyakrabawani,&lt;br /&gt;iya pakarêman duk ing donya,&lt;br /&gt;ing pati maring tibane,&lt;br /&gt;ing kono karêmanipun,&lt;br /&gt;nora kuwat parêng ing pati,&lt;br /&gt;keron pan kêsamaran,&lt;br /&gt;mangsah wowor sambu,&lt;br /&gt;abote ulah kamuksan,&lt;br /&gt;nora kêna toleh anak lawan rabi,&lt;br /&gt;sajrone mrih wêkasan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;51. (64)&lt;br /&gt;Yen luputa patakaning bumi,&lt;br /&gt;lêhêng siyeng aja dadi jalma,&lt;br /&gt;sato gampang pratikêle,&lt;br /&gt;sirnane tanpa tutur,&lt;br /&gt;yen wis aris bênêr ing kapti,&lt;br /&gt;langgêng tanpa kêrana,&lt;br /&gt;angga buwaneku,&lt;br /&gt;umênêng tan kadi sela,&lt;br /&gt;ênêngira apan ora kadi warih,&lt;br /&gt;wrata tanpa tuduhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;52. (65)&lt;br /&gt;Len ing pandhita ana nganggêpi,&lt;br /&gt;ing kamuksan nênggih pêksanira,&lt;br /&gt;anjungkung kasutapane,&lt;br /&gt;nyana kêna den-angkuh,&lt;br /&gt;tanpa tuduh mung tapaneki,&lt;br /&gt;tanpa wit puruhita,&lt;br /&gt;suwung anyaruwung,&lt;br /&gt;mung têmên kaciptanira.&lt;br /&gt;durung antuk wuruk pratikêl sayêkti,&lt;br /&gt;pêngangkuh lalawora.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;53. (66)&lt;br /&gt;Tapanira kongsi ngraga runting,.&lt;br /&gt;wus mangkana gennya mrih kamuksan,&lt;br /&gt;datanpa tutur sirnane,&lt;br /&gt;kêmatêngên tapa wuk,&lt;br /&gt;den-pratikêl ingkang lêstari,&lt;br /&gt;tapa iku minangka,&lt;br /&gt;rêragi pan amung,&lt;br /&gt;ngelmu kang minangka ulam,&lt;br /&gt;tapa tanpa ngelmu iku nora dadi,&lt;br /&gt;yen ngelmu tanpa tapa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;54. (67)&lt;br /&gt;Cêmplang-cêmplang nora wurung dadi,&lt;br /&gt;angsal sampun wudhar ing tatrapan,&lt;br /&gt;kêcagak sagung bekane,&lt;br /&gt;sayêkti dadosipun,&lt;br /&gt;apan akeh pandhita sandi,&lt;br /&gt;wuruke sinatêngah,&lt;br /&gt;marang sabatipun,&lt;br /&gt;sabate landhêp priyangga,&lt;br /&gt;kang linêmpit winudhar raose nuli,&lt;br /&gt;ngaturkên gurunira.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;55. (68)&lt;br /&gt;Pamudhare sung graitaneki,&lt;br /&gt;nguni-uni durung mambu warah,&lt;br /&gt;saking tan eca manahe,&lt;br /&gt;katur ing gurunipun,&lt;br /&gt;langkung ngungun milu nganggêpi,&lt;br /&gt;sinêmantakkên lawan,&lt;br /&gt;pandhita gung-agung,&lt;br /&gt;wus pasthi anggêp kang nyata,&lt;br /&gt;iku wahyu nugraha dhawuh pribadi,&lt;br /&gt;sabat ingakên anak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;56. (69)&lt;br /&gt;Sinunga-sunga anggung tinari,&lt;br /&gt;maring guru yen arsa mêmêjang,&lt;br /&gt;tan têbih sinandhing gone,&lt;br /&gt;sabat kang têmah guru,&lt;br /&gt;guru dadya sabat ing batin,&lt;br /&gt;lêpas ing panggraita,&lt;br /&gt;nanduk sarta wahyu,&lt;br /&gt;iku utama kalihnya,&lt;br /&gt;kang satêngah pandhita durung sayêkti,&lt;br /&gt;kasêlak piyangkuhnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;57. (70)&lt;br /&gt;Kudu tinut saujarereki,&lt;br /&gt;dene akeh lumaku sinêmbah,&lt;br /&gt;neng pucaking gunung gone,&lt;br /&gt;swaranira manguwuh,&lt;br /&gt;angêbêki patapaneki,&lt;br /&gt;yen ana wong amarak,&lt;br /&gt;wêkase abikut,&lt;br /&gt;lir gubar-beri tinêmbang,&lt;br /&gt;kumêrampyang binubak datanpa isi,&lt;br /&gt;tuna kang puruhita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;58. (71)&lt;br /&gt;Aja kaya mêngkono ngaurip,&lt;br /&gt;badan iku dipun-kadi wayang,&lt;br /&gt;kinudang neng panggung gone,&lt;br /&gt;arja têtali bayu,&lt;br /&gt;padhanging kang panggungereki,&lt;br /&gt;damar aditya wulan,&lt;br /&gt;kêlir ngalam suwung,&lt;br /&gt;kang anangga-nangga cipta,&lt;br /&gt;gêbog bumi têtêpe adêging ringgit,&lt;br /&gt;sinangga ingkang nanggap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;59. (72)&lt;br /&gt;Kang ananggap aneng jroning puri,&lt;br /&gt;datan mosik pangulah sakarsa,&lt;br /&gt;ywang pramana dêdhalange,&lt;br /&gt;wayang pênggadêgipun,&lt;br /&gt;ana ngidul angalor tuwin,&lt;br /&gt;mangkana kang sarira,&lt;br /&gt;ing sapolahipun,&lt;br /&gt;pinolahakên ki dhalang,&lt;br /&gt;lumaku yen linakokkên lembyaneki,&lt;br /&gt;linembehkên ing dhalang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;60. (73)&lt;br /&gt;Pangucape ingucapkên nênggih,&lt;br /&gt;yen kumilat kinilatkên iya,&lt;br /&gt;tinutur anuturake,&lt;br /&gt;sakarsa-karsanipun,&lt;br /&gt;kang anonton pinolah sami,&lt;br /&gt;tinonakên ing dhalang,&lt;br /&gt;kang ananggap iku,&lt;br /&gt;sajagad mangsa na wruh,&lt;br /&gt;tanpa rupa kang nanggap aneng jro puri,&lt;br /&gt;tanpa warna ywang suksma.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;61. (74)&lt;br /&gt;Sang pêrmana denira angringgit,&lt;br /&gt;ngucapakên ing sariranira,&lt;br /&gt;tanpa aji sêsanane,&lt;br /&gt;wibuh pan ora tumut,&lt;br /&gt;ing sarira upamaneki,&lt;br /&gt;kang menyak munggeng puhan,&lt;br /&gt;gêni munggeng kayu,&lt;br /&gt;andrêpati tan katêdah,&lt;br /&gt;sang pêrmana lir gêsênging kayu panggrit,&lt;br /&gt;landhêsan sami wreksa..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;62. (75)&lt;br /&gt;Panggritane polah dening angin,&lt;br /&gt;gêsênging kayu kukuse mêdal,&lt;br /&gt;datan antara gênine,&lt;br /&gt;gêni kalawan kukus,&lt;br /&gt;saking kayu wijile sami,&lt;br /&gt;wruha eling duk kala,&lt;br /&gt;mula-mulanipun,&lt;br /&gt;kabeh iki kang gumêlar,&lt;br /&gt;pan saking heb manusa tinitah luwih,&lt;br /&gt;apan ingakên rahsa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;63. (76)&lt;br /&gt;Mulya dhewe saking kang dumadi,&lt;br /&gt;aja mengeng ciptanira tunggal,&lt;br /&gt;tunggal saparibawane,&lt;br /&gt;isining buwaneku,&lt;br /&gt;anggêp siji manungsa jati,&lt;br /&gt;mêngku sagung kaanan,&lt;br /&gt;ing manusa iku,&lt;br /&gt;den-wruh wisesaning tunggal,&lt;br /&gt;anuksmani saliring jagad dumadi,&lt;br /&gt;tekad kang wus sampurna.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;64. (77)&lt;br /&gt;Wus mangkana Wêrkudhara mulih,&lt;br /&gt;datan mengeng ing batin gumawang,&lt;br /&gt;nora pangling sarirane,&lt;br /&gt;panuksmaning sawujud,&lt;br /&gt;nanging lair sasab piningit,&lt;br /&gt;reh-sareh kasatriyan,&lt;br /&gt;linakon winêngku,&lt;br /&gt;pamurwaning jagad raya,&lt;br /&gt;kalairan batine nora kasilib,&lt;br /&gt;satu menggeng rimbagan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;65. (78)&lt;br /&gt;Wêrkudhara lampahira,&lt;br /&gt;jroning kitha Ngamartadipura,&lt;br /&gt;wus panggih kadange kabeh,&lt;br /&gt;langkung sukaning kalbu,&lt;br /&gt;Darmaputra lan para ari,&lt;br /&gt;ngluwari punaginya,&lt;br /&gt;bujana anayub,&lt;br /&gt;tanbuh sukane tyasira,&lt;br /&gt;dene ingkang rayi praptane basuki,&lt;br /&gt;sirna subrangtanira.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6072209488519353307-483373057539888125?l=ninkwidya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ninkwidya.blogspot.com/feeds/483373057539888125/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ninkwidya.blogspot.com/2008/12/serat-cabolek.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6072209488519353307/posts/default/483373057539888125'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6072209488519353307/posts/default/483373057539888125'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ninkwidya.blogspot.com/2008/12/serat-cabolek.html' title='SERAT CABOLEK'/><author><name>ninkw1dya ( alve Dya Aurelia Latifa)</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02190777662680452949</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_vgyL60s208c/SvuobeHd1pI/AAAAAAAAADY/zqthVFtNEm8/S220/aku+di+legian.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6072209488519353307.post-2511378821744681634</id><published>2008-12-21T04:28:00.002-08:00</published><updated>2008-12-21T04:29:19.559-08:00</updated><title type='text'>SERAT WIRAYAT JATI</title><content type='html'>Anênggih punika pituduh ingkang sanyata, anggêlarakên dunung lan pangkating kawruh kasampurnan, winiwih saking pamêjangipun para wicaksana ing Nungsa Jawi, karsa ambuka pitêdah kasajatining kawruh kasampurnan, tutuladhan saking Kitab Tasawuf, panggêlaring wêjangan wau thukul saking kawêningan raosing panggalih, inggih cipta sasmitaning Pangeran, rinilan ambuka wêdharing pangandikaning Pangeran dhatêng N. Musa, Kalamolah, ingkang suraosipun makatên: Ing sabênêr-bênêre manungsa iku kanyatahaning Pangeran, lan Pangeran iku mung sawiji.&lt;br /&gt;Pangandikaning Pangeran ingkang makatên wau, inggih punika ingkang kawêdharakên dening para gurunadi dhatêng para ingkang sami katarimah puruitanipun. Dene wontên kawruh wau, lajêng kadhapuk 8 papangkatan, sarta pamêjanganipun sarana kawisikakên ing talingan kiwa. Mangêrtosipun asung pêpengêt bilih wêdharing kawruh kasampurnan, punika botên kenging kawêjangakên dhatêng sok tiyanga, dene kengingipun kawêjangakên, namung dhatêng tiyang ingkang sampun pinaringan ilhaming Pangeran, têgêsipun tiyang ingkang sampun tinarbuka papadhanging budi pangangên-angênipun (ciptanipun).&lt;br /&gt;Awit saking punika, pramila ingkang sami kasdu maos sêrat punika sayuginipun sinêmbuha nunuwun ing Pangeran, murih tinarbuka ciptaning sagêd anampeni saha angêcupi suraosing wejangan punika, awit suraosipun pancen kapara nyata yen saklangkung gawat. Mila kasêmbadanipun sagêd angêcupi punapa suraosing wêjangan punika, inggih muhung dumunung ing ndalêm raosing cipta kemawon. Mila inggih botên kenging kangge wiraosan kaliyan tiyang ingkang dereng nunggil raos, inggih ingkang dereng kêparêng angsal ilhaming Pangeran. Hewa dene sanadyana kangge wiraosing kaliyan tiyang ingkang dereng nunggil raos, wêdaling pangandika ugi mawia dudugi lan pramayogi, mangêrtosipun kêdah angen mangsa lan êmpan papan saha sinamun ing lulungidaning basa.&lt;br /&gt;Mênggah wontêning wêwêjangan 8 pangkat wau, kados ing ngandhap punika:&lt;br /&gt;I. 1. Wêwêjangan ingkang rumiyin, dipun wastani: pitêdahan wahananing Pangeran, sasadan pangandikanipun Pangeran dhatêng N. Mohammad s.a.w. Makatên pangandikanipun: Sajatine ora ana apa-apa, awit duk maksih awang-uwung durung ana sawiji-wiji, kang ana dhihin iku ingsun, ora ana Pangeran anging ingsun sajatine kang urip luwih suci, anartani warna aran lan pakartiningsun (dat, sipat, asma, afngal).&lt;br /&gt;2. Mênggah dunungipun makatên: kang binasakake angandika ora ana Pangeran anging ingsun, sajatine urip kang luwih suci, sajatosipun inggih gêsang kita punika rinasuk dening Pangeran kita, mênggahing warna nama lan pakarti kita, punika sadaya saking purbawisesaning Pangeran kita, inggih kang sinuksma, têtêp tintêtêpan, inggih kang misesa, inggih kang manuksma, umpami surya lan sunaripun, mabên lan manisipun, sayêkti botên sagêd den pisaha.&lt;br /&gt;II. 1. Wêwêjangan ingkang kaping kalih, dipun wastani: Pambuka kahananing Pangeran, pamêjangipun amarahakên papangkatan adêging gêsang kita dumunung ing dalêm 7 kahanan, sasadan pangandikanipun Pangeran dhatêng N. Mohammad s.a.w. Makatên pangandikanipun: Satuhune ingsun Pangeran sajati, lan kawasan anitahakên sawiji-wiji, dadi padha sanalika saka karsa lan pêpêsteningsun, ing kono kanyatahane gumêlaring karsa lan pakartiningsun, kang dadi pratandha.&lt;br /&gt;2. Kang dhihin, ingsun gumana ing dalêm awang-uwung kang tanpa wiwitan tanpa wêkasan, iya iku alam ingsun kang maksih piningit.&lt;br /&gt;3. Kapindho, ingsun anganakake cahya minangka panuksmaningsun dumunung ana ing alam pasênêdaningsun.&lt;br /&gt;4. Kaping têlu, ingsun anganakake wawayangan minangka panuksma lan dadi rahsaningsun, dumunung ana ing alam pambabaraning wiji.&lt;br /&gt;5. Kaping pat, ingsun anganakake suksma minangka dadi pratandha kauripaningsun, dumunung ana ing alaming gêtih.&lt;br /&gt;6. Kaping lima, ingsun anganakake angên-angên kang uga dadi warnaningsun, ana ing dalêm alam kang lagi kêna kaumpamaake bae.&lt;br /&gt;7. Kaping ênêm, ingsun anganakake budi, kang minangka kanyatahan pêncaring angên-angên kang dumunung ana ing dalêm alaming badan alus.&lt;br /&gt;8. Kaping pitu, ingsun anggêlar warana kang minangka kakandhangan sakabehing paserenaningsun. Kasêbut nêm prakara ing dhuwur mau tumitah ana ing donya iya iku sajatining manungsa.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6072209488519353307-2511378821744681634?l=ninkwidya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ninkwidya.blogspot.com/feeds/2511378821744681634/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ninkwidya.blogspot.com/2008/12/serat-wirayat-jati.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6072209488519353307/posts/default/2511378821744681634'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6072209488519353307/posts/default/2511378821744681634'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ninkwidya.blogspot.com/2008/12/serat-wirayat-jati.html' title='SERAT WIRAYAT JATI'/><author><name>ninkw1dya ( alve Dya Aurelia Latifa)</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02190777662680452949</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_vgyL60s208c/SvuobeHd1pI/AAAAAAAAADY/zqthVFtNEm8/S220/aku+di+legian.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6072209488519353307.post-738244009689301511</id><published>2008-12-21T04:26:00.000-08:00</published><updated>2008-12-21T04:27:34.537-08:00</updated><title type='text'>SERAT DARMO WASITA</title><content type='html'>AJARAN LUHUR SERAT DARMO WASITO&lt;br /&gt;Karya : Mangku Negara IV&lt;br /&gt;Nenek moyang kita banyak mewariskan ajaran leluhur yang diturunkan dalam tradisi lisan seperti ungkapan dan dongeng, tapi ada pula yang dituangkan dalam karya tulis berbentuk “tembang mecapat”. Ajaran luhur tersebut pada zamannya banyak dikaji, dihayati dan diamalkan sebagai pedoman hidup.&lt;br /&gt;Dewasa ini karena arus modernisasi dan globalisasi, tradisi lisan dan macapat sudah banyak dilupakan orang, padahal ajaran-ajaran terkandung merupakan ciri khas kepribadian bangsa. Dalam rangka pembangunan manusia seutuhnya yang seraba modern dan global ini, agar bangsa Indonesia tidak kehilangan jati dirinya atau ciri khas kepribadiannya, kiranya ajaran luhur peninggalan nenek moyang kita tersebut perlu dikaji dan diinformasikan kepada masyarakat sebagai bahan alternatif pilihan pembangunan manusia Indonesia seutuhnya.&lt;br /&gt;Kali ini kami diinformasikan ajaran luhur: Serat Darmo Wasito: karangan KGPAA Mangku Negara IV tahun 1978 M, dalam bentuk tembang macapat, terdiri dari 12 pada (baik) Dhandhanggula, 10 pada Kinanthi, dan 20 pada Mijil, pernah diterbitkan oleh Nurhopkolep Jakarta 1953 dengan huruf Jawa.&lt;br /&gt;Darma berarti ayah, wasita berarti ajaran. Darma Wasita ajaran untuk anak/remaja. “Serat Darma Wasita” sebagai ajaran dalam baris terakhir bait pertama:…mring iki wasitaning wang, marang sira putraningsun jalu lan estri, muga padha ngestokna. (…inilah nasehat saya, kepadamu anakku laki dan perempuan semoga kamu laksanakan). Adapun inti sari ini “Serat Darmo Warsito” selengkapnya dapat dikelompokkan menjadi tiga: (a) Ajaran agar hidup sukses; (b) Ajaran menjadi abdi (pegawai) yang baik; (c) Ajaran sebagai isteri yang baik.&lt;br /&gt;Uraian masing-masing secara rinci seperti pemaparan berikut ini.&lt;br /&gt;Ajaran Agar Hidup Sukses&lt;br /&gt;1. Menikah. Orang laki-laki dan perempuan keberadaannya bersamaan, dan menurut aturan yang umum menikah, sebagai sarana untuk kelestarian kehidupan manusia.&lt;br /&gt;2. Melaksanakan asthagina (delapan hal); Pertama nut ing jaman kelakone, harus pandai menyesuaikan diri dengan situasi dan kondisi sesuai dengan jamannya. Kedua, rigen, pandai bekerja dengan efisien dan efektif. Ketiga, gemi, hemat agar selalu kecukupan hidupnya. Keempat. Kelima, weuh etung, tahu perhitungan dalam memanfaatkan penghasilannya tidak hanya untuk waktu sekarang, tetapi juga memperhitungkan waktu mendatang. Keenam, taberi tatanya, rajin bertanya sehingga tidak tersesat dan pengetahuannya selalu bertambah, Ketujuh, nyengah kayun, dapat mengendalikan diri sehingga tidak banyak berbuat kesalahan dan dapat hidup hemat. Kedelapan, nemen ing sedya, bila mempunyai niat dengan sungguh-sungguh tidak hanya setengah-setengah.&lt;br /&gt;3. Jangan suka utang. Orang yang suka utang akan turun wibawanya, oleh karena itu bila tidak terpaksa sekali jangan sekali-kali utang kepada seseorang.&lt;br /&gt;4. Jangan menjadi orang miskin: Orang yang miskin banyak mengalami kesusahan, hanya kalau sedang tidur terlupa, kurang dihargai dalam pergaulan, dan bila imannya kurang kuat menyalahkan dirinya sendiri lalu ingin bunuh diri.&lt;br /&gt;5. Jangan malas bekerja. Untuk dapat hidup yang cukup harus rajin bekerja, meskipun sudah berkecukupan jangan lalu malas bekerja agar dijauhkan dari kesusahan.&lt;br /&gt;6. melaksanakan sikap utama antara lauh: Luruh, pandangan mata tidak liar, hanya melihat seperlunya agar tidak diterima salah oleh orang lain. Trapsila, selalu bersikap sopan santun, sehingga orang lain menjadi senang tidak marah. Mardawa, bersuara dan berbicara yang halus, lemah lembut dan ramah sehingga enak dirasakan oleh orang lain. Manut mring caraning bangsa, tindakannya harus berwawasan kebangsaan, tidak hanya berdasarkan wawasan suku bangsanya sendiri yang sempit. Andhap asor, berikap rendah hati jauh dari kesombongan dan tinggi hati. Meneng, tidak mengobral bualan tetapi berbicara seperlunya sehingga banyak yang percaya. Prasaja, penampilan wajar-wajar saja, tidak berlebihan sehingga orang lain tidak penasaran. Tepa Selira, selalu mawas diri dan memiliki tenggang rasa yang tinggi. Eling, Selalu ingat akan hukum baik dan buruk, ingat kepada kedudukannya, iangat kepada dirinya sebagai makhluk Tuhan. Ulah batin, melakukan kegiatan, pembinaan rohani agar mendapatkan jalan keutamaan.&lt;br /&gt;7. Melakukan catur upaya (empat usaha); Pertama anirua kang becik, tirulah hal-hal yang baik, jauhkan yang buruk. Kedua nuruta nggugua kang nyata, percayalah kepada kenyataan. Keempat miliha kang pakoleh, pilihlah hal-hal yang tepat, yang menguntungkan.&lt;br /&gt;Ajaran Sebagai Abdi (Negara) yang baik&lt;br /&gt;Untuk menjadi abdi (negara) yang baik, seseorang harus memiliki sifat-sifat antara lain: Pertama sregep, rajin dan tidak membuat kecewa yang memberi tugas. Kedua pethel, suka bekerja sehingga tidak menimbulkan kemarahan yang memberi tugas. Ketiga tegen, ulat bekerja dan telaten sehingga membuat puas yang menyuruh. Keempat wekel, bekerja dengan sungguh-sungguh penuh tanggungjawab dapat dipercaya. Kelima ngati-ati, bekerja dengan hati-hati menjauhkan dari kesalahan agar tetap lestari.&lt;br /&gt;Ajaran Sebagai Isteri yang Baik&lt;br /&gt;Pertama, agar dihargai dan dicintai oleh suami seorang isteri hendaknya memiliki sifat-sifat: nurut, apa yang dikehendaki oleh suami dilakukan penuh kesabaran dan dapat menyelesaikan dengan baik. Condhong, apa yang menjadi kehendak suami didukung, merawat apa kesukaannya dan tidak membicarakan kejelekannya. Rumeksa, menjaga segala milik suami dan tahu jumlah serta rinciannya. Nastiti, segala barang tahu asal dan kegunaannya, nafkah dari suami dirawat dengan baik dan hemat penggunaannya. Nyimpen wadi, pandai menyimpan rahasia suami dan keluarga.Kedua, seorang isteri sebagai ibu rumah tangga agar berhasil hendaknya memiliki sikap dan pengetahuan tugas seorang isteri antara lain: Bersikap hati-hati dalam segala hal. Mengenal sifat-sifat keluarga dan famili sehingga dapat menyesuaikan diri. Mengerti akan acara suami sehari-hari dan dapat membantu yang diperlukan.Jika memberi saran atau mengemukakan pendapat harus mencari waktu yang tepat. Mengerti waktu yang tepat. Mengerti tugas-tugas isteri dengan jelas dan jika belum mengerti mintalah penjelasan kepada suami. Jangan mempergunakan atau memanfaatkan barang-barang milik suami tanpa izinnya. Pandai merawat barang-barang milik suami. Meskipun suami memberi keleluasaan, tetapi tetap melakukan segala hal sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Pengeluaran biaya hidup hendaknya disesuaikan dengan besar penghasilan yang diperoleh. Jika terjadi perceraian, harta bawaan isteri tetap menjadi milik isteri, harta gono-gini (yang diperoleh selama berkeluarga) sepertinya milik isteri dan biaya hidup anak-anak menjadi tanggung jawab suami.&lt;br /&gt;Sumber:&lt;br /&gt;Tim Koordinasi Siaran Direktorat Jenderal Kebudayaan. 1995. Aneka Ragam Khasanah Budaya Nusantara VI. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6072209488519353307-738244009689301511?l=ninkwidya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ninkwidya.blogspot.com/feeds/738244009689301511/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ninkwidya.blogspot.com/2008/12/serat-darmo-wasita.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6072209488519353307/posts/default/738244009689301511'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6072209488519353307/posts/default/738244009689301511'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ninkwidya.blogspot.com/2008/12/serat-darmo-wasita.html' title='SERAT DARMO WASITA'/><author><name>ninkw1dya ( alve Dya Aurelia Latifa)</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02190777662680452949</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_vgyL60s208c/SvuobeHd1pI/AAAAAAAAADY/zqthVFtNEm8/S220/aku+di+legian.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6072209488519353307.post-7086135559689861177</id><published>2008-12-19T21:22:00.000-08:00</published><updated>2008-12-19T21:23:17.012-08:00</updated><title type='text'>Ilmu kanggo nyukupi urip</title><content type='html'>Sawetara dina kapungkur, kanggo mengeti 40 taun hadege Akademi Teknik Mesin Industri (ATMI) Solo, digelar acara ”nganeh-anehi”, yaiku ngikir kanthi pasarta akeh dhewe.&lt;br /&gt;Acarane pancen diisi ngikir bebarengan kanthi pasarta para mahasiswa ATMI, para siswa saka SMK St Michael, SMK Muhammadiyah 1 Solo, SMK Kristen, SMK Warga lan sawetara sekolah kejuruan liyane.&lt;br /&gt;Ing acara kasebut ora kurang saka 1.500 siswa sing padha sengkut ngikir bebarengan ing wewengkon city walk sacedhake Loji Gandrung. Ana 50 meja lan 100 mesin kikir. Saben meja diisi 300 wong. Lan saben pasarta, antuk jatah ngikir sasuwene nenem menit. Yen wus entek jatah wektune, kudu digenteni siswa liyane.&lt;br /&gt;Tumrap wong awam, sing ora ngerti jagading pawiyatan kejuruan, mligine teknik mesin, bakal nganggep yen acara kasebut kapetung nganeh-anehi saengga lumrah yen bakal kacathet ing Museum Rekor Dunia Indonesia (Muri). Nanging tumrap para siswa seolah kejuruan, mahasiswa teknik mesin lan para dwija ing pamulangan teknik mesin, laku ngikir mujudake perangan baku saka laku pamulangan kejuruan teknik mesin.&lt;br /&gt;Direktur ATMI, BB Triatmoko SJ, nelakake, acara ngikir bebarengan dipilih kanggo mengeti 40 taun hadege ATMI amarga laku ngikir mujudake kaprigelan dhasar sing kudu dikuwasani para siswa SMK. Ngikir mbutuhake sikep tliti lan tlaten. Tanpa sikep loro iku, asil ngikir mesthi ora apik. Ngikir dhewe uga mbutuhake teknik sing mligi, kayadene carane ngadeg, carane nyekel wesi sing arep dikikir lan sapiturute.&lt;br /&gt;”Ketoke pancen mung ngikir, laku sing sakmadya banget. Lan ketoke kabeh wong bisa ngikir. Nanging yektine ngikir iku butuh laku lair batin murih asile bener lan pener, uga apik. Lan ing laku ngikir, yen sikepe ora tliti, ora tlaten lan ora ngati-ati, bisa kelaran. Ing laku ngikir iki siswa digladhi murih dadi manungsa sing seneng nyambut gawe kanthi temen-temen, tliti, pinter lan tansah nengenake petung sing memet lan mateng yen arep ngawiti samubarang gawe,” piterange Triatmoko.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pangawikan pribadi&lt;br /&gt;Laku ngikir minangka sarana nggladhi siswa yektine jumbuh banget karo piwulang luhur kabudayan Jawa ing bab meper hawa napsu. Laku meper hawa napsu utawa ngendhaleni dhiri mbutuhake laku kang kawiwitan saka bab kang cilik-cilik. Kaya andha-rane Ki Ageng Suryomentaraman ing piwulang kajiwane, laku meper hawa napsu sing kawiwitan saka laku sakmadya, tundhone bakal nuwuhake bab kang nemtokake jantraning urip.&lt;br /&gt;Ing andharane bab kawruh mawas dhiri, Ki Ageng Suryomentaraman nelakake, wong iku kadhangkala kangelen amarga ora ngerti marang awake dhewe.&lt;br /&gt;Wong bakal bisa ngawekani kabeh reridhu utawa sing ngengel-ngeli uripe yen dheweke bisa mangerteni pribadine. Pangerten marang pribadine iku lumrah sinebut pangawikan pribadi.&lt;br /&gt;Nggayuh pangawikan pribadi kudu kawiwitan saka bab-bab sing cilik, sing sabanjure dadi pakulinan saengga bisa kanthi gampang ningkat ing bab-bab kang luwih gedhe.&lt;br /&gt;Yen wus ngerti apa iku pangawikan pribadi, samengkone, manungsa bakal bisa nggunakake pikirane kanggo mikir. Kanthi laku mikir dheweke bakal antuk pangerten.&lt;br /&gt;Maneka warna pangerten sing kaimpun bakal dadi ilmu. Kabeh tumindake manungsa kanggo nyukupi kabutuhen uripe tansah lelandhesan ilmu. Ing ukara liya, tanpa ilmu, manungsa ora bakal bisa nyukupi kabutuhan uripe. Suwalike, tumindake manungsa sing tanpa lelandhesan ilmu tangeh lamun bisa kanggo nyukupi kabutuhan uripe.&lt;br /&gt;Miturut BB Triatmoko, laku ngikir kudu lelandhesan ilmu ngikir. Ing pamulangan kejuruan, laku ngikir iki kapetung angel. Jarene Rudy, salah sijine siswa SMK sing melu ing acara ngikir bebarengan kasebut, kanggo nguwasani ilmu ngikir iki mbutuhake wektu ora sedhela. Mbutuhake wektu sing mirunggan kanggo praktik ngikir supaya temen-temen bisa nguwa-sani ilmune. Yen ta anggone sinau ngikir sakkarepe dhewe, tundhone ilmu teknik mesin sing dikuwasani uga ora paripurna.&lt;br /&gt;”Lumantar laku ngikir, yektine para siswa digegulang murih ngrembaka dadi manungsa sing sregep lan pinter, lantip. Laku ngikir iki bisa dadi kawitan kanggo mangun manungsa Indonesia,” tandhese Triatmoko. Kanthi mangkono acara ngikir bebarengan iku pancen ora mung wates acara ”nganeh-anehi”, nanging kanyata mujudake laku pamulangan sing tundhone nggegulang jiwa supaya bisa nguwasani ilmu kanthi temen-temen.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6072209488519353307-7086135559689861177?l=ninkwidya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ninkwidya.blogspot.com/feeds/7086135559689861177/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ninkwidya.blogspot.com/2008/12/ilmu-kanggo-nyukupi-urip.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6072209488519353307/posts/default/7086135559689861177'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6072209488519353307/posts/default/7086135559689861177'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ninkwidya.blogspot.com/2008/12/ilmu-kanggo-nyukupi-urip.html' title='Ilmu kanggo nyukupi urip'/><author><name>ninkw1dya ( alve Dya Aurelia Latifa)</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02190777662680452949</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_vgyL60s208c/SvuobeHd1pI/AAAAAAAAADY/zqthVFtNEm8/S220/aku+di+legian.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6072209488519353307.post-1548439853634880245</id><published>2008-08-27T21:03:00.000-07:00</published><updated>2008-08-27T21:04:14.348-07:00</updated><title type='text'>Upaya ningkatake drajat spiritual metafisik</title><content type='html'>&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);font-family:verdana,arial;font-size:85%;"  &gt;Tembung pasa, tapa, ngurang-ngurangi mujudake laku kang mligi tumrap upaya ningkatake drajat kajiwan utawa spiritual sing wus lumrah ing madyaning bebrayan Jawa. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;  &lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);font-family:erdana,arial;font-size:85%;"  &gt;Pawadan iku, miturut dosen seni joged ing Institut Seni Indonesia (ISI) Solo, Darsono SKar MHum, nalika hamicara ing sawijining pirembugan budaya ing Dalem Purwohadiningratan, Triyagan, Sukoharjo, sawetara dina kapungkur, ing jagad seni joged uga ana laku pasa.&lt;br /&gt;Sing wus lumrah dimangerteni bebrayan Jawa yaiku laku pasa tumrap para pambeksa bedhayan sawetara dina sadurunge mbabar beksan bedhayane. Pasa minangka wewaton arep mbabar beksan bedhayan, kayadene Bedhaya Ketawang, Bedhaya Surya Sumirat, Bedhaya Dirada Metha lan liyane ora liya laku kanggo ningkatake drajat spiritual murih kalis saka sambikala nalika ngayahi kuwajiban mbeksa bedhayan sing sakral iku.&lt;br /&gt;Lan ing kabeh piwulang agama lan kaprecayan yekti ana piwulang bab laku pasa iki kanthi cakrik sing beda-beda. Yen dipindeng saka spiritual metafisik, miturut andharan ing sawetara kapustakan sing ngrembug religi-ne wong Jawa, pasa iku nuwuhake perbawa sing apik banget tumrap raja lan jiwa.&lt;br /&gt;Pasa yen dipindeng saka jagad supranatural nuwuhake perbawa ngowahi sistem molekul raga, badan wadhag, lan eterik bakal ningkat getere saengga ndadekake raga luwih tanggap marang samubarang kedadeyan ing sakiwa tengene. Ing ukara liya, ragane manungsa ora mung kasinungan pancadriya ananging ana sing kaping nenem.&lt;br /&gt;Yen sawijining wong iku kulina nglakoni pasa, geter raga lan eterik-e bakal sansaya mundhak, tundhone kabeh racun, daya negatip lan titah eterik negatip sing manjing ing raga lan jiwane bakal metu. Raga lan jiwane bakal luwar saka maneka warna daya lan perbawa negatip.&lt;br /&gt;Nalika raga lan jiwane resik utawa suci, samengkone kabeh roh suci (pralambang Gusti Sing Maha Kawasa) bakal tumeka lan nyawiji. Iki bakal ndadekake jiwane tentrem, urip lan panguripane tansah kepenak lan sakebing reridhu kang diadhepi bisa diawekani kanthi gampang.&lt;br /&gt;Kanggo ngulinakake laku pasa iku ing tradhisi ritual kejawen ana wewaton pasa kang dipetung dinane miturut tanggalan Jawa. Ancase laku pasa iki ora liya kanggo ningkatake drajat spiritual metafisik murih bisa raket sesambungan kalawan sedulur gaibe, yaiku sedulur papat lima pancer. Werdine ora liya supaya tansah bisa nyedhak marang Sing Maha Kawasa.&lt;br /&gt;Lan kasunyatane miturut asil panaliten medis, laku pasa iku pancen nuwuhake perbawa positip tumrap raga. Kanthi pasa, organ pencernaan bisa ngaso, racun-racun ing sanjerone raga bisa diwetokake lan tundhone raga dadi sansaya kuwat, seger lan tansan waras. Kacihna apa wae jinise laku pasa iku, yen dilakoni kanthi temen-temen bakal nuwuhake perbawa positip tumrap raga lan jiwa.&lt;br /&gt;Laku pasa sing ngoyot marang tradhisi lan kabudayan Jawa yaiku mutih (ora mangan apa-apa kejaba sega putih lan ngombe banyu bening), ngeruh (mung mangan janganan lan woh-wohan), ngebleng (ora mangan, ora ngombe, ora metu saka ngomah kejaba yen arep nggeguwang, nglereni kabeh pakaryan, ora turu, ora saresmi lan sapiturute), pati geni (kayadene ngebleng katambah ora kena metu saka kamar).&lt;br /&gt;Saliyane iku uga ana pasa nglowong (ora kena mangan lan ngombe ndalem wektu tinamtu lan mung bisa turu suwene telung jam ndalem sedina sewengi), ngrowot (wektune wiwit mletheke srengenge nganti angslup lan mung antuk mangan bangsane pala kapendhem), nganyep (mung mangan panganan sing ora ana rasane utawa tawar), ngidang (mung mangan bangsane godhong-godhongan lan ngombe banyu bening), ngasrep (mung mangan lan ngombe sing ora ana rasane lan diwatesi kaping telu jroning sedina), ngepel (mung mangan sega sekepel jroning sedina), lan isih ana tradhisi pasa liyane.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6072209488519353307-1548439853634880245?l=ninkwidya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ninkwidya.blogspot.com/feeds/1548439853634880245/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ninkwidya.blogspot.com/2008/08/upaya-ningkatake-drajat-spiritual_27.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6072209488519353307/posts/default/1548439853634880245'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6072209488519353307/posts/default/1548439853634880245'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ninkwidya.blogspot.com/2008/08/upaya-ningkatake-drajat-spiritual_27.html' title='Upaya ningkatake drajat spiritual metafisik'/><author><name>ninkw1dya ( alve Dya Aurelia Latifa)</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02190777662680452949</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_vgyL60s208c/SvuobeHd1pI/AAAAAAAAADY/zqthVFtNEm8/S220/aku+di+legian.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6072209488519353307.post-4124094212947560858</id><published>2008-08-27T20:57:00.000-07:00</published><updated>2008-08-27T20:58:41.651-07:00</updated><title type='text'>Wong Jawa kudu tansah ngudi kawujude jalma utama</title><content type='html'>&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);font-family:verdana,arial;font-size:85%;"  &gt;Ing buku The History of Java sing wus dijarwakake ing Basa Indonesia dening Eko Prasetyaningrum sakancane lan dibabar dening Penerbit Narasi, Yogyakarta, &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;  &lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);font-family:erdana,arial;font-size:85%;"  &gt;Thomas Stamford Raffles, Gubernur Jenderal Hindia Belanda taun 1811-1816, ngandharake yen wong Jawa mujudake pribumi sing anteng, arang sing mbara, luwih seneng urip ing wewengkon papan klairane lan ora gampang kepancing tumindak deksiya utawa cecongkrahan.&lt;br /&gt;Gegambaran sipate wong Jawa sing ditulis dening Raffles iku yekti ana jumbuhe kalawan kansunyatan bebrayan Jawa. Miturut sutresna budaya Jawa kang uga paraga Presidium Pusat Lembaga Kabudayan Jawi (PLKJ) Surakarta, Widijatno Sontodipuro, nalika wawangunem kalawan Espos ing Reksapustaka Pura Mangkunagaran, sawetara dina kapungkur, wong Jawa sing ngugemi Jawane pancen ceples kaya andharane Raffles kasebut.&lt;br /&gt;“Wong Jawa iku wiwit cilik tansah digegulang supaya ora kendhat ngudi luhuring bebuden,” piterange Widijatno.&lt;br /&gt;Drajat kamanungsan kang mangkono kuwi bisa digayuh kanthi laku mesu budi, meper hawa napsu kang tundhone bakal njurung kawujude manungsa sing anteng jiwane lan ragane, narima ing pandum, uwal saka rasa rupak saengga tansah ngupaya ngedohi samubarang tumindak kang bisa ngrugekake liyan, utawa sakorane ora nglarani liyan.&lt;br /&gt;Miturut Widaningsih, warga Cemani, Sukoharjo, sing wiwit cilik digegulang ing kulawarga sing kenthel ngugemi budaya Jawa, kabudayan Jawa pancen nyumadhiyakake maneka laku kanggo nggayuh kawujude jalma utama. Salah sijine yaiku laku pasa. Widaningsih sing putrane kabeh wus dewasa iku ngandharake, wiwit cilik tansah digegulang dening wong tuwane supaya seneng ngurang-ngurangi.&lt;br /&gt;“Laku ngurang-ngurangi iki sing gampang dhewe ya kanthi pasa. Lan nganti saiki aku isih bisa nglakoni pasa Senen lan Kemis, katambah pasa ing dina weton lan masani anak-anakku yen katemben ngadhepi ujian ing kuliyahe, ujian ing pakaryane lan sapiturute. Lan aku dhewe ngrumangsani yen laku ngurang-ngurangi iku pancen gedhe banget mupangate tumrap jiwa lan rasa pangrasa,” pratelane Widaningsih.&lt;br /&gt;Alpha-Omega&lt;br /&gt;Maneka warna laku pasa sing lumrah ing budaya Jawa, yaiku pasa mutih suwene 40 dina tumrap priya lan 27 dina tumrap wanita, pasa ngrowot, pasa ngebleng sedina sewengi, pasa ing dina weton, pasa nalika nandhang rasa rupak utawa ngadhepi reridhu ing uripe lan jinis-jinis pasa liyane kabeh ngandhut ancas murih bisa luwar saka maneka warna reridhu lan panandhang saengga bisa nggayuh urip lan panguripan kang luwih apik.&lt;br /&gt;Urip sing luwih apik tumrap wong Jawa iku, miturut Widijatno, dudu urip sing sarwa kacukupan kadonyane, ananging luwih ing bab ati, rasa pangrasa lan kajiwane. Wong Jawa sing ngugemi Jawane tansah nengenake sandhang lan praja, lan ngiwakake pangan. Lire, sandhang lan praja iku pralambang sikep, tumindak lan kapribaden. Dene pangan iku pralambang hawa napsu.&lt;br /&gt;Sakadoh-adohe wong Jawa saka piwulang agama, kacihna ngugemi oyot budayane, mesthi duwe rasa lan pamikiran yen kabeh sing dumadi lan ana ing alam donya iki ana Sing Peparing, ana Sing Gawe lan ana Sing Kuwasa. Amarga iku, wong Jawa mesthi tansah kalimputan ing rasa yen sangkan paraning dumadi iku punjere ya ana ing Sing Maha Kawasa. Laku pasa ing tradhisi Jawa ora liya kanggo nggayuh sangkan paraning dumadi iki.&lt;br /&gt;Sikep religi-ne wong Jawa kang kaya mangkene iki jumbuh kalawan panemune Pierre Teilhard de Chardine, filosof saka Perancis, sing ngandharake yen manungsa iku eling manawa Gusti Allah iku kawitan lan pungkasaning uripe manungsa, Gusti Allah iku titik kawitan evolusi (Alpha), ananging uga titik pungkasan kasampurnan (Omega). Kanthi mangkono, kabeh laku uripe manungsa, sujarahe manungsa lan evolusi donya tumuju ing siji, yaiku titik Omega.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6072209488519353307-4124094212947560858?l=ninkwidya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ninkwidya.blogspot.com/feeds/4124094212947560858/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ninkwidya.blogspot.com/2008/08/wong-jawa-kudu-tansah-ngudi-kawujude_27.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6072209488519353307/posts/default/4124094212947560858'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6072209488519353307/posts/default/4124094212947560858'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ninkwidya.blogspot.com/2008/08/wong-jawa-kudu-tansah-ngudi-kawujude_27.html' title='Wong Jawa kudu tansah ngudi kawujude jalma utama'/><author><name>ninkw1dya ( alve Dya Aurelia Latifa)</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02190777662680452949</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_vgyL60s208c/SvuobeHd1pI/AAAAAAAAADY/zqthVFtNEm8/S220/aku+di+legian.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6072209488519353307.post-6747803428786590603</id><published>2008-08-27T20:56:00.000-07:00</published><updated>2008-08-27T20:57:21.369-07:00</updated><title type='text'>Meper hawa nepsu</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:verdana,arial;font-size:85%;color:#000000;"&gt;Kurang telung dina maneh bakal lumebu sasi Pasa. Miturut agama Islam, tibane sasi Pasa racake mesthi kudu dipapag kanthi ati seneng, awit ing sasi kuwi akeh kabecikan sing bisa digayuh. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;   &lt;span style="font-family:erdana,arial;font-size:85%;color:#000000;"&gt;Ing tlatah Jawa sing bebrayane wus nampa piwulang Islam, sadurunge mlebu sasi Pasa warga bebrayan padha tata-tata. Padatan ing pirang-pirang panggonan, tumekane sasi Pasa dipapag kanthi laku reresik jiwa lan raga, supaya anggone mlebu sasi mulya kuwi temen-temen uwis temata.&lt;br /&gt;Ing sasi Ruwah sadurunge Pasa, wong-wong kang mbara padha nglodhangake wektu mulih ing desane. Malah akeh sing rila ora mulih desane nalika dina riyaya, nanging malah mulih sing sasi Ruwah. Ragat sepira wae ora dipetung supaya bisa tilik leluhur sing wis sumare, bekti marang uwong tuwa sing isih urip, apa dene ketemu sedulur lan kanca-kanca lawas ing tradhisi mapag sasi Pasa.&lt;br /&gt;Ing wektu iku padha njaluk pangapura tumrap kabeh dosa lan luput setaun kepungkur. Ancase supaya jiwane dadi resik lan suci. Awit, manungsa urip kuwi ora bisa kalis saka dosa dan kilap, wiwit saka pikiran, pangucap, nganti tumindak kang disengaja apadene sing ora.&lt;br /&gt;Upamane tumindak kilap marang wong tuwa, sedulur cedhak, tangga teparo, kanca nyambut gawe, lan liya-liyane. Tumindak sing wis kepungkur sing sarwa reged kudu enggal-enggal diguwang, kayata drengki, srei, dahwen panasten, umuk, wegahan, sesongaran, lan sapiturute. Tumindak mangkono kuwi ngregeti jiwane manungsa lan kudu diresiki kanthi njaluk pangapura marang liyan.&lt;br /&gt;Wong-wong padha nekani umbul, kolam renang, lan liya-liyane kanggo ngresiki awak. Saperangan tumindak mau yektine duwe ancas padha, ngresiki jiwa lan raga. Menawa dipikir-pikir, reresik tata lair lan tata batin dibutuhake ing jaman saiki. Akeh prekara kang bisa ngrusak tatanan bebrayan amarga jiwa lan raga ora tau diresiki.&lt;br /&gt;Coba ditamatna prekara sing pirang-pirang dina iki kerep mlebu ing layang kabar, kayata prekara korupsi para wakil rakyat, genti-genten nutuh nampa barang haram, lan liya-liyane.&lt;br /&gt;Sri Susuhunan Paku Buwono IV ing Serat Wulangreh paring pituduh supaya kita bisa meper hawa nepsu. “Padha gulangen ing kalbu, ing sasamita amrih lantip, aja pijer mangan nendra, ing kaprawiran den kaesthi, pesunen sariranira, sudanen dhahar lan guling.”&lt;br /&gt;Tegese kira-kira asahen atimu supaya lantip nyawang sasmita gaib, aja kakehan mangan lan turu supaya bisa nggayuh luhuring budi. Ana ing Serat Wulangreh uga kasebut menawa ana papat nepsu sing diduweni menungsa, yaiku nepsu lawwamah, amarah, sufiyah lan nepsu muthmainnah.&lt;br /&gt;Nepsu lawwamah iku panggonane ing weteng, yaiku nepsu ngelak, luwe lan ngantuk. Dene nepsu amarah yaiku nepsu sing kawujud nalika nesu, srei, lan drengki. Nepsu sufiyah, yaiku nepsu nuwuhake brahi, kangen, lan tresna marang lawan jinis. Nepsu muthmainnah, yaiku kabecikan sing kawujud ing katentreman batin, seneng marang kabecikan lan luhuring budi. Nepsu mangkene iki sing mesthine uga diduweni manungsa.&lt;br /&gt;Hamula, manungsa urip kudu tansah nyaket marang Gusti Pangeran. Kanggo luwih nyaket, manungsa kudu tansah resik lan suci jiwane kanthi laku meper hawa nepsu&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6072209488519353307-6747803428786590603?l=ninkwidya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ninkwidya.blogspot.com/feeds/6747803428786590603/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ninkwidya.blogspot.com/2008/08/meper-hawa-nepsu_27.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6072209488519353307/posts/default/6747803428786590603'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6072209488519353307/posts/default/6747803428786590603'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ninkwidya.blogspot.com/2008/08/meper-hawa-nepsu_27.html' title='Meper hawa nepsu'/><author><name>ninkw1dya ( alve Dya Aurelia Latifa)</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02190777662680452949</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_vgyL60s208c/SvuobeHd1pI/AAAAAAAAADY/zqthVFtNEm8/S220/aku+di+legian.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6072209488519353307.post-495530944192015103</id><published>2008-08-27T20:52:00.001-07:00</published><updated>2008-08-27T20:52:50.642-07:00</updated><title type='text'>Upaya njumbuhake budaya Jawa lan agama Islam</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:verdana,arial;font-size:85%;color:#000000;"&gt;Petungan dina becik lan dina ala kanyatane isih diugemi dening saperangan warga bebrayan Jawa, ora mindeng apa agama kang dirasuk. Akeh wong Islam, Katholik, Protestan, Budha, Hindhu, agama liyane lan uga kang nganut kapitayan marang Gusti Allah Kang Murbeng Dumadi kang isih nyinau lan nggunakake petungan Jawa. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;   &lt;span style="font-family:erdana,arial;font-size:85%;color:#000000;"&gt;Miturut andharane budayawan Jawa Winarso Kalinggo, sejarahwan saka Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo, Tunjung Wahadi Sutirto lan sawetara kapustakan bab panangggalan Jawa, tanggalan kang asipat njumbuhake kabudayan lan petungan Jawa asli kalawan agama Hindu, kaprah sinebut tahun Saka utawa tanggalan Saka, dianggo lan diugemi wong Jawa nganti taun 1633 Masehi.&lt;br /&gt;Nalika Sultan Agung Hanyakrakusuma jumeneng nata ing Mataram, raja kang kenthel agama Islame iku banjur ngowahi tanggalan Jawa kanthi revolusioner. Nalika iku, miturut andharan ing buku Upacara Pengantin Jawa, anggirane Purwadi lan Enis Niken H, weton Panji Pustaka, tanggalan Saka wus lumaku nganti pungkasan taun 1554.&lt;br /&gt;Angka taun Saka 1554 banjur dibacutake ing tanggalan riptane Sultan Agung kanthi angka taun 1555. Tanggalan Saka lelandhesan petungan Syamsiyah (solar system), yaiku lakune bumi ngubengi srengenge. Dene tanggalan racikane Sultan Agung lelandhesan petungan Komariyah (lunar system), yaiku lakune mbulan ngubengi bumi, kayadene petungan tanggalan Hijriyah.&lt;br /&gt;”Owah-owahan tanggalan Jawa dadi tanggalan riptane Sultan Agung iku kawiwitan ing tanggal 1 Sura taun Alip 1555, mbeneri tanggal 1 Muharam taun 1043 Hijriyah, kang uga mbeneri tanggal 8 Juli taun 1633 Masehi. Dinane Jemuah Legi,” piterange Winarso.&lt;br /&gt;Winarso nambahake, apa kang ditindakake Sultan Agung kanthi ngripta tanggalan kang njumbuhake petungan tanggalan Jawa lan tanggalan Hijriyah iku mujudake karya kang lelandhesan pangajab kanggo njembarake perbawane agama Islam ing tanah Jawa.&lt;br /&gt;”Sultan Agung duwe pangajab ndunungake panguwasa babagan agama lan babagan politik marang panjenengane. Wusanane Sultan Agung ngupaya murih panguwasa babagan agama munjer ing panjenengane,” piterange Tunjung sawetara wektu kapungkur.&lt;br /&gt;Upayane Sultan Agung ngripta tanggalan kalebu revolusioner amarga petungane beda kalawan taun Saka kang wektu iku isih dianggo lan diugemi dening warga bebrayan Jawa.&lt;br /&gt;Araning sasi ing taun Hijriyah yaiku Muharam, Syafar, Rabiulawal, Rabiulakhir, Jumadilawal, Jumadilakhir, Rajab, Sya’ban, Ramadhan, Syawal, Dzulqaidah lan Dzulhijah.&lt;br /&gt;Dene araning sasi ing tanggalan Jawa riptane Sultan Agung yaiku Sura, Sapar, Mulud, Bakda Mulud, Jumadilawal, Jumadilakir, Rejeb, Ruwah, Pasa, Sawal, Dulkangidah, Besar. Bedane tanggalan Hijriyah lan tanggalan Sultan Agung dumunung ing taun wastu (tegese cendhak) lan taun wantu ing petungan tanggalan Sultan Agung. Ing taun wastu sasi Besar umure 29 dina, dene ing taun wantu sasi Besar umure 30 dina&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6072209488519353307-495530944192015103?l=ninkwidya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ninkwidya.blogspot.com/feeds/495530944192015103/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ninkwidya.blogspot.com/2008/08/upaya-njumbuhake-budaya-jawa-lan-agama.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6072209488519353307/posts/default/495530944192015103'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6072209488519353307/posts/default/495530944192015103'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ninkwidya.blogspot.com/2008/08/upaya-njumbuhake-budaya-jawa-lan-agama.html' title='Upaya njumbuhake budaya Jawa lan agama Islam'/><author><name>ninkw1dya ( alve Dya Aurelia Latifa)</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02190777662680452949</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_vgyL60s208c/SvuobeHd1pI/AAAAAAAAADY/zqthVFtNEm8/S220/aku+di+legian.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6072209488519353307.post-625039115817741523</id><published>2008-08-27T20:51:00.000-07:00</published><updated>2008-08-27T20:52:07.346-07:00</updated><title type='text'>Peradaban-e wong Jawa luwih maju</title><content type='html'>&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:verdana,arial;font-size:85%;color:#000000;"&gt;Ana beda kang cetha antarane mahargya taun anyar Masehi lan taun anyar Jawa. Yen wancine mahargya tekane taun anyar Masehi, racake warga bebrayan ing ngendi wae tansah nggelar adicara kang asipat pahargyan seneng-seneng, suka parisuka. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;   &lt;span style="font-family:erdana,arial;font-size:85%;color:#000000;"&gt;Nanging yen wong Jawa mahargya taun anyar Jawa, lumrahe ora kanthi nggelar adicara pahargyan seneng-seneng, suka parisuka mangkono kuwi. Wong Jawa, utamane kang isih kenthel diwernani kabudayan Jawa warisane para leluhur, mahargya tekane taun anyar kanthi laku prihatin, teteki, nenepi, olah jiwa lan olah rasa.&lt;br /&gt;Ana warga bebrayan kang saben lumebu sasi Sura nggelar adicara mligi ngrumat maneka pusaka tinggalane leluhur, ana kang mligi nekani papan-papan kang dianggep sakral kanggo nenepi, ana kang nggelar laku kungkum, pasa pirang-pirang dina lan maneka laku liyane kang ancase tumuju marang olah jiwa lan olah rasa.&lt;br /&gt;Pawadan kanyatan mangkono iku, miturut sutresna budaya Jawa kang uga budayawan, Mufti Raharjo, nuduhake yen yektine peradaban-e wong Jawa iku luwih maju yen katandhingake peradaban kang sinebut jaman modhern.&lt;br /&gt;”Luwih majune peradaban-e wong Jawa bisa katitik saka werdine maneka laku lan tradhisi kang kagelar saben mahargya taun anyar Jawa. Kabeh laku lan tradhisi kang kagelar duwe ancas padha yaiku olah jiwa, olah rasa, mbiji diri pribadine manungsa lan ngenam-nam apa kang wus dilakoni sadawane setaun kang wus kliwat,” piterange Mufti.&lt;br /&gt;Dene bebrayan jaman modhern nalika mahargya taun anyar Masehi, racake mung wates suka parisuka, seneng-seneng, mangan-mangan, njoget-njoget, jedhar-jedhor nyumet mercon utawa kembang api lan adicara-adicara sajinis kang sipate mung wates seneng-seneng sauntara. ”Dudutane, yen wong Jawa mahargya taun anyar Jawa, werdine ana ing olah jiwa lan olah rasa, kang tundhone anjog ing pangajab bisa sansaya cedhak marang Sing Gawe Urip,” pratelane Mufti.&lt;br /&gt;Kanyatan iki beda banget yen katandhingake kalawan tradhisi mahargya taun anyar Masehi. Mahargya tekane taun anyar Masehi luwih kenthel dimensi pisike lan dimensi kadonyane. Titikane, akeh adicara suka parisuka, seneng-seneng kang digelar ing papan kang sarwa gumebyar lan ngentekake ragad ora sethithik. Isine adicara ya mung wates mangan-mangan, ngombe-ngombe, njoget bebarengan, pamer sandhangan anyar lan aneh lan sajinise.&lt;br /&gt;Adicara mangkene iki, miturut Mufti, sejatine ora numusi utawa ora nyambung kalawan werdine mahargya tekane taun anyar. Kepriye bisa ngenam-nam pikir, ndhudhah pribadine dhewe, instropeksi lan nyepakake jiwa kanggo mecaki taun anyar yen ana ing satengahing adicara kang sipate seneng-seneng, suka parisuka, jor-joran lan sajinise? Dudutane, saperangan gedhe pahargyan mapag taun anyar Masehi luwih asipat pisik kang anjoge mung ana ing karep kanggo seneng-seneng.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6072209488519353307-625039115817741523?l=ninkwidya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ninkwidya.blogspot.com/feeds/625039115817741523/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ninkwidya.blogspot.com/2008/08/peradaban-e-wong-jawa-luwih-maju.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6072209488519353307/posts/default/625039115817741523'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6072209488519353307/posts/default/625039115817741523'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ninkwidya.blogspot.com/2008/08/peradaban-e-wong-jawa-luwih-maju.html' title='Peradaban-e wong Jawa luwih maju'/><author><name>ninkw1dya ( alve Dya Aurelia Latifa)</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02190777662680452949</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_vgyL60s208c/SvuobeHd1pI/AAAAAAAAADY/zqthVFtNEm8/S220/aku+di+legian.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6072209488519353307.post-1280243465619657140</id><published>2008-08-27T20:50:00.002-07:00</published><updated>2008-08-27T20:51:34.623-07:00</updated><title type='text'>Tradhisi kanggo memayu hayuning bawana</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:verdana,arial;font-size:85%;color:#000000;"&gt;Duh Gusti Pangeran kula, Sesembahan kula...&lt;br /&gt;Mugi wonten kepareng Paduka...&lt;br /&gt;Kula nyuwun pangapura hawit saking sedaya dosa lan kalepatan kula... &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;   &lt;span style="font-family:erdana,arial;font-size:85%;color:#000000;"&gt;Kanthi tulusing manah, kula nyuwun pinaringan kanugrahan tumuruning welas asih Paduka, Dzat Ingkang Hamurba Hamisesa Gesang...&lt;br /&gt;Mugi ing warsa enggal punika:&lt;br /&gt;Ingkang sami nandhang roga utawi sakit, enggalo waluyo&lt;br /&gt;Ingkang sami kekirangan, mugi enggal pinaringan kawontenan ingkang cekap&lt;br /&gt;...&lt;br /&gt;Mugi Negari Indonesia, sumrambahipun Kitha Solo saisinipun enggal luwar saking sakathahing reridhu lan bebendu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mangkono unine saperangan donga panyuwunan ing adicara slametan mahargya taun anyar 1 Sura Jimawal 1941 ing Kantor Dinas Pariwisata Seni dan Budaya (Disparsenbud) Kutha Solo, Rebo (9/1) kapungkur. Adicara slametan, ngumbulake donga, iku uga dipepaki pasugatan jenang Suran kang disumadiyakake dhewe dening para karyawan Disparsenbud Kutha Solo.&lt;br /&gt;Adicara slametan mahargya taun anyar 1 Sura 1941 iku ditekani kabeh karyawan Disparsenbud, kalebu Kepala Disparsenbud, Handartono. Sawise rampung anggone ngumbulake donga, pasugatan jenang Suran saubarampene banjur dirahabi bebarengan nggunakake takir saka godhong gedhang minangka gantine piring.&lt;br /&gt;Jenang Suran kang arupa jenang utawa bubur beras dipepaki sambel goreng tholo, perkedel kenthang, suwiran endhog pitik digoreng dadar, krupuk lan sawetara lawuhan liyane pancen mujudake salah sijine ubarampe tradhisi mahargya taun anyar Jawa kang isih dileluri dening saperangan bebrayan Jawa.&lt;br /&gt;Saliyane diadani ing Kantor Disparsenbud Kota Solo, tradhisi ngumbulake donga lan pasugatan jenang Suran, ing dina Rebo (9/1) kapungkur, uga diadani dening warga ing tlatah kampung Yosodipuro. Warga ing saperangan tlatah RW 03 iku pancen wus mataun-taun ngleluri tradhisi nyumadiyakake jenang Suran lan bebarengan ngumbulake donga marang Gusti Allah Kang Maha Asih saben mahargya tekane tanggal 1 Sura.&lt;br /&gt;Jenang Suran saubarampene dimangsak bebarengan dening warga. Ubarampene uga disumadiyakake bebarengan, ana kang urun beras, urun kenthang, urun kacang tholo lan urun liyane. Sawise jenang Suran saubarampene mateng banjur didum kanggo kabeh bale somah. Anggone ngrahabi sawise ana adicara ngumbulake donga bebarengan kang mapan ing salah sijine omah warga.&lt;br /&gt;Akulturasi&lt;br /&gt;Raharjo, salah sijine warga, lan Kepala Disparsenbud Kutha Solo, Handartono, ngandharake, ing tradhisi nyumadiyakake jenang Suran lan ngumbulake donga bebarengan iki ana tapsiran adiluhung kang racake wus ora dimangerteni dening bebrayan jaman saiki.&lt;br /&gt;Tapsiran adiluhung iku menjila saka ukara-ukara donga kang diwaca sadurunge bebarengan ngrahabi jenang Suran saubarampene. Donga kang diwaca nggunakakake Basa Jawa. Ateges ngliwati wates-wates agama. Warga kang ngrasuk agama Islam, Katholik, Kristen, Hindu, Budha, Konghucu lan kapitayan liyane bisa bebarengan ndonga amarga ukara dongane ora nggunakakake tembung-tembung kang racake winates digunakake ing agama-agama tinamtu.&lt;br /&gt;”Kanthi cara mangkene iki, kabeh warga bisa bebarengan mahargya taun anyar Jawa tanpa rasa ewuh pakewuh. Ing kene ana tapsiran yen mahargya taun Jawa anyar iku kenthel werna akulturasi budaya, tapsiran vertikal transendental lan memayu hayuning bawana,” pratelane Raharjo.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6072209488519353307-1280243465619657140?l=ninkwidya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ninkwidya.blogspot.com/feeds/1280243465619657140/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ninkwidya.blogspot.com/2008/08/tradhisi-kanggo-memayu-hayuning-bawana.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6072209488519353307/posts/default/1280243465619657140'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6072209488519353307/posts/default/1280243465619657140'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ninkwidya.blogspot.com/2008/08/tradhisi-kanggo-memayu-hayuning-bawana.html' title='Tradhisi kanggo memayu hayuning bawana'/><author><name>ninkw1dya ( alve Dya Aurelia Latifa)</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02190777662680452949</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_vgyL60s208c/SvuobeHd1pI/AAAAAAAAADY/zqthVFtNEm8/S220/aku+di+legian.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6072209488519353307.post-733019099785762351</id><published>2008-08-27T20:50:00.001-07:00</published><updated>2008-08-27T20:50:44.754-07:00</updated><title type='text'>Karya agung budaya Jawa</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:verdana,arial;font-size:85%;color:#000000;"&gt;Cikal bakal keris tinemu ana ing relief Candhi Borobudur. Ana ing langkan candhi tinemu pepethan rupa keris disengkelit ana sabuke prajurit. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;   &lt;span style="font-family:erdana,arial;font-size:85%;color:#000000;"&gt;Wujude kaya wilah sing ana ing ganja keris. Wewaton pepethan rupa keris iku, bisa dipesthekake menawa dumadine keris wus ewonan taun kapungkur.Wektu sing kalebu suwe wiwit jaman Budha lan Hindhu nganti tekan jaman iki.&lt;br /&gt;Mula ora aneh menawa keris duweni prabawa lan daya pangaribawa sing ngedab-edabi. Keris wis narik kawigaten sapa wae sing kepengin sinau lan nyinau keris. Dumadine keris ora bisa dipisahake karo paraga sing sinebut empu. Akeh banget empu sing ndedonga, maladi hening, tirakat, tarak brata, kanggo lambaran anggone gawe keris. Owahing wektu kawiwitan saka jaman kawuri lumaku ana pecakan jaman sing trus gilir gumanti, para empu wus kasil mujudake karya agung sing ngedab-edabi. Puluhan ricikan inukir ana keris sing wujude alus, endah, ngrumit, mrabu, lan mrebawani.&lt;br /&gt;Kridhane para empu anggone mujudake keris ora bisa dipisahake karo gelaring alam. Babagan tetuwuhan lan gegodhongan dadi inspirasi kanggo njenengi keris, dhapur, lan pamor. Mula banjur ana jeneng sing ngrenggani pamor, yakuwi sekar, kembang, soka, mayang, mlathi, ron kendhuru, blarak, lan liya-liyane. Jeneng sato kewan sing duweni daya kekuatan uga ndayani, umpamane: naga, gajah, gana, singa, mahesa, kebo, kidang, jalak, bango, banyak, lan liya-liyane.&lt;br /&gt;Ana maneh sing njenengi nganggo tembung: jagad, lintang, banyu, sumur, segara, teja, watu, damar, brama, kala, pendhawa, satriya, panji, puthut lan liya-liyane. Kabeh mau dadi titikan manawa para empu sing lagi ‘murba-masesa’ keris pancen caket lan raket karo lingkungan alam lan isine. Nalisik saka sujarah keris, akeh banget bukti menawa akehing bab ana ing keris dadi obyek studi sing jembar lan komplit. Mula ora aneh manawa banjur ngrembaka anane bebadan, paguyuban, paheman, lan pandhemen sing nggilut lan nguri-uri keris.&lt;br /&gt;Ayahan sing kepengin nyinau lan ngerteni bab keris nganti bebles akeh tinemu. Mulane banjur ana tata gelaring pangawikan sing sinebut kerisologi. Sawijining ilmu utawa ngelmu sing mersudi lan jingglengi keris nganti jero. Sing dipindeng lan dipandeng ora mung babagan karagan (eksoteri) nanging uga perangan njero (isoteri), lan filosofine. Tebane pasinaon ngenani keris sangsaya jembar, ana sing mlembar lan uwal saka ranah ilmiyah. Babagan sing ora tinemu nalar (irasional) uga nemahi bebrayan mligine ana tlatah padesan. Keris banjur diprecaya nduweni pangaribawa sing bisa njangkung sapa wae sing kadunungan keris. Karana iku keris banjur diurmati, dijamasi, diaji-aji, lan kadhangkala dipahargya ana ing upacara sing agung utawa mirunggan.&lt;br /&gt;Kajaba saka iku akehing keris ana sing dipapanake ana gedhong pusaka (njero Karaton), ana ing museum-museum, lan papan-papan mirunggan liyane. Umur, wujud, ukiran, kaendahaning keris pranyata wus narik kawigaten bebadan UNESCO-PBB. Karana iku wiwit sasi November 2005 keris wus kasil dikukuhaken minangka warisan budaya donya (a masterpice of intangible heritage).&lt;br /&gt;Jagad Jawa, budaya Jawa, lan wong Jawa prelu bombong lan mongkog duweni warisan budaya rupa keris sing cacahe, rupane, kaendahane, prebawane, guna katiyasane pranyata banjur dadi luhur lan kasuwur ana ing donya. ::&lt;b&gt;Ki Sutadi, Pangarsa Pepadi Jawa Tengah&lt;/b&gt;::&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6072209488519353307-733019099785762351?l=ninkwidya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ninkwidya.blogspot.com/feeds/733019099785762351/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ninkwidya.blogspot.com/2008/08/karya-agung-budaya-jawa.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6072209488519353307/posts/default/733019099785762351'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6072209488519353307/posts/default/733019099785762351'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ninkwidya.blogspot.com/2008/08/karya-agung-budaya-jawa.html' title='Karya agung budaya Jawa'/><author><name>ninkw1dya ( alve Dya Aurelia Latifa)</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02190777662680452949</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_vgyL60s208c/SvuobeHd1pI/AAAAAAAAADY/zqthVFtNEm8/S220/aku+di+legian.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6072209488519353307.post-55483274370613294</id><published>2008-08-27T20:46:00.002-07:00</published><updated>2008-08-27T20:49:04.129-07:00</updated><title type='text'>UUD 1945 njurung lestarine budaya</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:verdana,arial;font-size:85%;color:#000000;"&gt;Pasal 28I (bab hak asasi manusia) UUD 1945 asil amandemen utawa owah-owahan kaping papat nandhesake yen jati dhiri budaya lan hak bebrayan tradhisional diurmati laras kalawan owah-owahane jaman lan peradaban. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;   &lt;span style="font-family:erdana,arial;font-size:85%;color:#000000;"&gt;Unine pasal iku, identitas budaya dan hak masyarakat tradisional dihormati selaras dengan perkembangan jaman dan peradaban. Ing Pasal 32 ditandhesake yen nagara kudu ngrembakakake kabudayan nasional Indonesia ing satengahing peradaban donya kanthi aweh jaminan tumrap bebrayan supaya bisa bebas nguri-uri lan ngrembakakake piwulang kabudayane.&lt;br /&gt;Unine Pasal 32 iki, negara memajukan kebudayaan nasional Indonesia di tengah peradaban dunia dengan menjamin kebebasan masyarakat dalam memelihara dan mengembangkan nilai-nilai budayanya.&lt;br /&gt;Saka pratelan rong pasal ing UUD 1945 asil owah-owahan kaping papat iku ana dudutan yektine hake warga kanggo ngugemi kabudayan asline pancen antuk jaminan saka nagara. Malah, kepara nagara dhewe kudu duwe program kerja kang ancase kanggo ngleluri lan ngrembakakake kabeh kabudayan dhaerah minangka sumber lan identitas kabudayan nasional.&lt;br /&gt;Ing pasal-pasal iku uga cetha ditandhesake yen upaya ngleluri kabudayan, mligine kang katelah kabudayan tradhisional, kudu jumbuh utawa dilarasake kalawan owah-owahaning jaman.&lt;br /&gt;Lelandhesan pratelan ing rong pasal UUD 1945 iku, wus samesthine yen tuwuh lan ngrembakane krenteg lan upaya kanggo ngleluri, ngrembakakake lan ndayakake sakehing kesenian tradhisional lan tapsiran-tapsiran asumber kabudayan dhaerah lan kabudayan tradhisional kudu antuk kalodhangan kang mirunggan.&lt;br /&gt;Kayadene upaya kang sawetara wektu kapungkur dilakoni para sutresna seni tradhisi Komunitas Seni Sendhang Gotan ing Dukuh Karanggotan RT 43/RWXV, Desa Mranggen, Kecamatan Jatinom, Klaten. Ing pungkasan sasi November 2008 kapungkur, Komunitas Seni Sendhang Gotan nggelar adicara Gelar Seni Budaya Kampung.&lt;br /&gt;Adicara kang kagelar sedina sawengi iku mbabar maneka seni tradhisi kang urip ing tlatah Karanggotan lan sakupenge. Kanggo ngregengake ana sawetara seniman saka Kutha Solo kang diundang melu ngramekake adicara iku. Ananging punjering karamen tetep pasugatan seni tradhisi kang asli saka tlatah Karanggotan lan sakupenge.&lt;br /&gt;Miturut Sugeng Widodo, pangarsa Komunitas Seni Sendhang Gotan, adicara kagelar kanthi pangajab bisa ndudut gumregute warga Karanggotan lan sakupenge kanggo nresnani seni tradhisi.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6072209488519353307-55483274370613294?l=ninkwidya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ninkwidya.blogspot.com/feeds/55483274370613294/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ninkwidya.blogspot.com/2008/08/uud-1945-njurung-lestarine-budaya.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6072209488519353307/posts/default/55483274370613294'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6072209488519353307/posts/default/55483274370613294'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ninkwidya.blogspot.com/2008/08/uud-1945-njurung-lestarine-budaya.html' title='UUD 1945 njurung lestarine budaya'/><author><name>ninkw1dya ( alve Dya Aurelia Latifa)</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02190777662680452949</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_vgyL60s208c/SvuobeHd1pI/AAAAAAAAADY/zqthVFtNEm8/S220/aku+di+legian.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6072209488519353307.post-3933493727289497352</id><published>2008-08-27T20:46:00.001-07:00</published><updated>2008-08-27T20:46:50.558-07:00</updated><title type='text'>Budaya desa wis akeh kang rusak</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:verdana,arial;font-size:85%;color:#000000;"&gt;Pangarsa Paguyuban Tri Tunggal Yogyakarta, Rama Sapto, mratelakake yektine ibuning nagara iku ora liya ya desa. Werdine, desa iku dadi perangan baku saka jejege negara. Lan kanyatane ya ing desa iku papan ngemonah sakehing sumber daya alam kang bisa diolah dadi sumber pangan. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;   &lt;span style="font-family:erdana,arial;font-size:85%;color:#000000;"&gt;Emane, wiwit mataun-taun kapungkur pranatan paprentahan ora mehak marang upaya ngleluri urip lan panguripan sarta kabudayan bebrayan desa. Kabeh kawicaksanane pamarentah kang sinebut pemberdayaan desa, penguatan desa lan pembaharuan desa wusanane mung nuwuhake rusake kabudayan asli desa.&lt;br /&gt;Filosofi desa mawa cara negara mawa tata ora ditrepake nalika pamarentah netepake pranatan lan kawicaksanan kanggo mbangun desa. Kapitalisasi ekonomi kang ditrepake pamarentahan penjajah, revolusi hijau lan upaya nguwati paprentahan desa kang dicakake paprentahan orde baru (Orba), sarta demokratisasi desa sadawane jaman reformasi iki mung ngasilake sansaya kuwate elite ekonomi lan elite politik ing desa.&lt;br /&gt;Apamaneh nalika pamarentah ngetrapake pranatan kang asipat nyragamake utawa madhakake kabeh bebadan paprentahan desa, kang dumadi sabanjure ora liya ya mung sansaya menjilane kekuwatan elit politik lan elit ekonomi desa.&lt;br /&gt;Dene bebrayan desa kang kudune urip, ngrembaka lan maju lelandhesan tata cara asumber kabudayane dhewe ora direwes. Malah akeh kawicaksanan lokal kang wus kabukten bisa ngleluri alaming desa, ngleluri sakehing sumber daya alam ing desa, suwe-suwe dadi cures, kalah dening program pemberdayaan desa, penguatan desa, pembaharuan desa, revolusi hijau lan kawicaksanan liyane.&lt;br /&gt;Bambang Hudayana, dhosen ing Jurusan Antropologi Fakultas Ilmu Budaya UGM Yogyakarta, ing tulisane asesirah Keluar dari Involusi Agenda Pembaharuan Desa, kang kaemot ing jurnal Mudik, weton Forum Pengembangan Pembaharuan Desa (FPPD), mratelakake, yen mindeng saka sujarah ekonomi lan politik desa, yektine kawicaksanan pembaharuan desa kang ancase mujudake otonomi, demokrasi lan partisipasi cetha yen durung murakabi kanggo ngrampungi perkara kang tuwuh saka kanyatan uriping desa jaman saiki&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6072209488519353307-3933493727289497352?l=ninkwidya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ninkwidya.blogspot.com/feeds/3933493727289497352/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ninkwidya.blogspot.com/2008/08/budaya-desa-wis-akeh-kang-rusak.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6072209488519353307/posts/default/3933493727289497352'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6072209488519353307/posts/default/3933493727289497352'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ninkwidya.blogspot.com/2008/08/budaya-desa-wis-akeh-kang-rusak.html' title='Budaya desa wis akeh kang rusak'/><author><name>ninkw1dya ( alve Dya Aurelia Latifa)</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02190777662680452949</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_vgyL60s208c/SvuobeHd1pI/AAAAAAAAADY/zqthVFtNEm8/S220/aku+di+legian.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6072209488519353307.post-890421283251919478</id><published>2008-08-27T20:45:00.002-07:00</published><updated>2008-08-27T20:46:20.698-07:00</updated><title type='text'>Tata cara dikiwakake, dredah bakal mratah</title><content type='html'>&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:verdana,arial;font-size:85%;color:#000000;"&gt;Wolak-waliking jaman lan dayane globalisasi, modernisasi sarta sansaya majune teknologi informasi lan komunikasi sansaya ndhesek maneka rupa kearifan utawa kawicaksanan lokal kang dadi landhesane filosofi desa mawa cara negara mawa tata. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;   &lt;span style="font-family:erdana,arial;font-size:85%;color:#000000;"&gt;Miturut dosen Filsafat Ilmu ing Program Pascasarjana Universitas Sebelas Maret (UNS), Dr Oesman Arif, nalika wawangunem kalawan Espos sawetara dina kapungkur, kacihna unen-unen desa mawa cara negara mawa tata iku sejatine mujudake pepesthen urip, ananging kanyatane malah dikiwakake.&lt;br /&gt;Sing mratah sabanjure malah sikep meksakake panemu utawa kekarepan marang liyan utawa klompok liyan supaya manut marang tata cara kang diugemi dhewe. Sing dumadi sabanjure malah cecongkrahan, dredah lan rusake bebrayan.&lt;br /&gt;Oesman njupuk tuladha nalika jayane orde baru (Orba) kang dipimpin presidhen sawargi Soeharto, akeh kawicaksanan kang ancase kanggo nata negara, nata urip lan panguripane rakyat, nanging asile ora salaras kalawan ancase.&lt;br /&gt;”Soeharto iku kondhang minangka presidhen Indonesia kang uripe kenthel diwernani kabudayan Jawa. Malah panjenengane uga kerep lelandhesan kawicaksanan lan kabudayan Jawa nalika bakal netepake sawijining kawicaksanan ing paprentahan. Emane cara ndunungake lan ngetrapake filosofi-filosofi kang dijupuk saka kaskayane kabudayan Jawa ora trep kalawan apa kang samesthine,” piterange Oesman.&lt;br /&gt;Malah kang mratah sabanjure, dudu ngurmati filosofi desa mawa cara negara mawa tata, ananging malah ngathik lan ngetrapake tata cara dhewe kang ora lelandhesan kabudayan kang wus dadi jati dhiri.&lt;br /&gt;Kang dumadi sabanjure, akeh wong kaningaya, akeh kaskayane alam kang dibroki dening kekuwatan saka nagara manca. Lan wusanane bangsa Indonesia kelangan ”kamardikane” amarga gumantung marang pambiyantu awujud utangan saka nagara manca kang luwih kuwat sakabehe.&lt;br /&gt;Nalika Orba ambruk lan digenteni paprentahan orde reformasi, miturut Oesman, gegebengan desa mawa cara negara mawa tata isih dikiwakake. Kabudayan saka nagara manca sansaya gemruduk lumebu lan dadi werna kang menjila dhewe. Dene kabudayan lokal kang sejatine mujudake jati dhiri, malah dikiwakake.&lt;br /&gt;Cara anyar&lt;br /&gt;Nalika para wakil rakyat ing DPR lan MPR nyarujuki amandemen utawa owah-owahan UUD 1945, lan kasil kababar kaping papat, sejatine dadi pawadan laire tata cara anyar ing uriping bebrayan bangsa Indonesia.&lt;br /&gt;”Sing dadi pitakonan, owah-owahan UUD 1945 kang saiki wus nganti kaping papat iku salaras kalawan filosofi desa mawa cara negara mawa tata apa ora? Yen ora, samengkone ya bakal nuwuhake dredah anyar maneh. Dene yen wus salaras, tegese mung kari njurung uripe bebrayan bangsa iki supaya bali menyang tata cara asumber kabudayane dhewe,” pratelane Oesman.&lt;br /&gt;Werdine unen-unen desa mawa cara negara mawa tata bakal murakabi tumrap upaya mbangun uriping bebrayan kang tumuju marang mamayu hayuning bawana. Sarate, kabeh tata cara kudu dibalekake marang kearifan lokal, kudu dibalekake marang kaskayane kabudayan.&lt;br /&gt;Kabagyane wong Jawa kang isih ngugemi kabudayane cetha yen beda banget kalawan kabagyane wong-wong ing Amerika. Saengga yen kabagyan iku mung diukur saka pemerataan ekonomi, samengkone malah bakal nuwuhake karusakan ing bebrayan.&lt;br /&gt;”Pawadan iku, filosofi desa mawa cara negara mawa tata sejatine kudu lelandhesan kabudayan lokal. Nalika pamarentah netepake lan ngetrapake sawijining kawicaksanan kudu jumbuh kalawan kanyatan kang dumadi lan urip. Kayadene warga Papua kang wus kaprah mangan sagu ya kudune aja dipeksa ninggalake sagu lan kudu mangan sega saka beras,” piterange Oesman.&lt;br /&gt;Kanggo njejegake maneh filosofi desa mawa cara negara mawa tata, Oesman mrayogakake supaya para intelektual ing kabeh tlatah bisa bali ndhudhah maneka rupa kawicaksanan lokal.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6072209488519353307-890421283251919478?l=ninkwidya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ninkwidya.blogspot.com/feeds/890421283251919478/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ninkwidya.blogspot.com/2008/08/tata-cara-dikiwakake-dredah-bakal.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6072209488519353307/posts/default/890421283251919478'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6072209488519353307/posts/default/890421283251919478'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ninkwidya.blogspot.com/2008/08/tata-cara-dikiwakake-dredah-bakal.html' title='Tata cara dikiwakake, dredah bakal mratah'/><author><name>ninkw1dya ( alve Dya Aurelia Latifa)</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02190777662680452949</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_vgyL60s208c/SvuobeHd1pI/AAAAAAAAADY/zqthVFtNEm8/S220/aku+di+legian.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6072209488519353307.post-8806076725305194202</id><published>2008-08-27T20:45:00.001-07:00</published><updated>2008-08-27T20:45:37.110-07:00</updated><title type='text'>Desa mawa cara, negara mawa tata</title><content type='html'>&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:verdana,arial;font-size:85%;color:#000000;"&gt;Unen-unen Jawa, desa mawa cara negara mawa tata, ateges sawenehing papan, bisa desa, kutha apadene negara, iku nduweni tata cara dhewe-dhewe. Tata cara iku kang ngatur urip lan panguripane warga kang dumunung ing tlatah kono. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;   &lt;span style="font-family:erdana,arial;font-size:85%;color:#000000;"&gt;Lan yen ana wong saka njaba kang mertamu, lumebu utawa manggon ing papan iku mau, kudu bisa manjing ajur-ajer kalawan tata cara kang diugemi. Yen tata cara ing papan anyar iku padha kalawan tata cara ing papan asale, wong mau bakal kepenak anggone srawung karo warga kono.&lt;br /&gt;Dene yen tata cara ing papan anyar mau kanyatane beda kalawan tata cara kang diugemi ing papan sadurunge, mesthi wae wong mau kudu sinau lan nglakoni samubarang tata cara ing papan anyar iku. Yen dheweke ora gelem bakal dicap murang tata lan wusanane ora bisa ajur-ajer kalawan bebrayan ing papan iku mau.&lt;br /&gt;Miturut budayawan Jawa, Winarso Kalinggo, nalika wawangunem kalawan Espos, sawetara dina kapungkur, ing daleme, tlatah Cemani, Sukoharjo, unen-unen iku sejatine wus menjila dadi cekelane bebrayan. Ora mung bebrayan Jawa, ananging uga bebrayan ing tlatah liyane, kacihna ukarane beda ananging werdine padha.&lt;br /&gt;”Yen ing tlatah Melayu ana unen-unen di mana bumi dipijak di situ langit dijunjung. Unen-unen iki ngemu teges ana ngendi wae sawijining wong iku dumunung, dheweke kudu ngurmati tata cara kang wus kaprah, lumaku lan dadi cekelane bebrayan ing papan iku,” piterange Winarso.&lt;br /&gt;Yen ngrembug unen-unen iki kanthi luwih jero, miturut Winarso, kanthi wantah pancen jumbuh kalawan kanyatan kang dumadi. Wiwit jaman kuna makuna nganti jaman saiki, racake saben desa, saben kutha lan sumrambahe saben negara, mesthi duwe tata cara dhewe-dhewe kanggo ngatur samubarang ing uripe bebrayan kang dumunung ing papan-papan iku.&lt;br /&gt;Ing jaman krajan, prasasat saben desa duwe ciri dhewe-dhewe, duwe paprentahan dhewe, saengga antarane desa siji lan sijine kang sejatine cedhak lan mung winates dalan utawa iline kali wus duwe tata cara dhewe kang beda banget antarane siji lan sijine.&lt;br /&gt;Kanyatan iki, miturut paraga Presidium Pusat Lembaga Kabudayan Jawi (PLKJ) Surakarta, KRHT Widijatmo Sontodipuro, jumbuh kalawan sesanti Bhinneka Tunggal Ika kang dadi jati dhirine bangsa Indonesia. Nalika wawangunem kalawan Espos ing Pura Mangkunagaran, sawetara dina kapungkur, kahanan kang Bhinneka Tunggal Ika iku mesthi wae uga kahanan kang desa mawa cara negara mawa tata.&lt;br /&gt;Lire, kayadene bebrayan Jawa wae ana Jawa Surakarta, Yogyakarta, Surabaya, Banyumas, Tegal lan liyane. Kabeh bebrayan Jawa adhedhasar tlatah papan dununge iku duwe tradhisi dhewe-dhewe, duwe kesenian dhewe-dhewe, saengga mesthi wae uga duwe tata cara dhewe-dhewe kanggo ngatur bebrayan. Ananging tetep manunggal minangka bebrayan Jawa.&lt;br /&gt;Tetep nyawiji&lt;br /&gt;Empu Tantular ing kitab riptane, Sutasoma, kanthi pratitis madhahi kanyatan desa mawa cara negara mawa tata ing sesanti Bhinneka Tunggal Ika, sanadyan beda-beda ananging tetep siji, yaiku Nuswantara. Yen saiki ateges, sanadyan beda-beda ananging tetep nyawiji minangka bangsa Indonesia.&lt;br /&gt;Miturut budayawan kang uga dosen ing Institut Seni Indonesia (ISI) Solo, Waridi, kahanan kang kawujud saka sesanti Bhinneka Tunggal Ika ora kena ditegesi kabeh kang beda-beda kudu dadi siji, seragam, lan ngilangi bedane, ananging malah kudu ditegesi tetep beda-beda, ora prelu didadekake seragam, angger bisa urmat kinurmatan antarane siji lan sijine.&lt;br /&gt;Saka padha-padha njunjung rasa urmat ing antarane samubarang kang sarwa beda iku, temahane bakal nuwuhake semangat nyawiji minangka sedulur tunggal ibu pertiwi lan bapa akasa. Dadi Bhinneka Tunggal Ika iku jebles kalawan unen-unen desa mawa cara negara mawa tata. Beda panggonan mesthi beda tata carane, ananging tetep dadi sedulur tunggal ibu pertiwi bapa akasa.&lt;br /&gt;Lan yen ngonceki unen-unen desa mawa cara negara mawa tata, saka tembung desa lan negara iku wae wus cetha wela-wela kanyatan kang beda. Desa iku luwih kenthel dening werna semangat nyambut gawe, budaya agraris, dene negara kang ing tetembungan Jawa bisa ditegesi kutha, luwih kenthel dening werna semangat intelektual.&lt;br /&gt;Ananging antarane budaya lan semangat nyambut gawe kalawan budaya lan semangat intelektual iku, miturut Winarso, padha-padha butuhe. Para intelektual ora bisa urip yen ora ana warga desa kang sregep nyambut gawe, olah tetanen. Suwalike, wong-wong desa uga ora bakal bisa maju nut kelakone jaman yen ora ana urun rembuge para intelektual kang padha dumunung lan mbangun kridha ing kutha-kutha.&lt;br /&gt;”Kanthi mangkono, unen-unen desa mawa cara negara mawa tata iku sejatine gegambaran uriping bebrayan. Ora mung bebrayan Jawa, ananging uga bebrayan kang tebane luwih amba. Dudutane, nganti kapan wae unen-unen iki kudune tetep diugemi, amarga pancen mujudake pepesthen,” pratelane Winarso&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6072209488519353307-8806076725305194202?l=ninkwidya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ninkwidya.blogspot.com/feeds/8806076725305194202/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ninkwidya.blogspot.com/2008/08/desa-mawa-cara-negara-mawa-tata.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6072209488519353307/posts/default/8806076725305194202'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6072209488519353307/posts/default/8806076725305194202'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ninkwidya.blogspot.com/2008/08/desa-mawa-cara-negara-mawa-tata.html' title='Desa mawa cara, negara mawa tata'/><author><name>ninkw1dya ( alve Dya Aurelia Latifa)</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02190777662680452949</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_vgyL60s208c/SvuobeHd1pI/AAAAAAAAADY/zqthVFtNEm8/S220/aku+di+legian.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6072209488519353307.post-2094500288549489182</id><published>2008-08-27T20:44:00.001-07:00</published><updated>2008-08-27T20:44:23.419-07:00</updated><title type='text'>Ajining raga dumunung ing busana</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:verdana,arial;font-size:85%;color:#000000;"&gt;Busana pancen dadi salah sijine ciri mligi utawa identitas tumrap wong Jawa. Miturut budayawan Jawa, KRMHT Djoko Pandjihamidjoyo, busana Jawa yektine ngandhut tuntutan mungguhing urip. Wong Jawa kang sejati iku yen wus wasis micara Basa Jawa, wasis nyandhang Jawa lan wasis maca lan nulis aksara Jawa. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;   &lt;span style="font-family:erdana,arial;font-size:85%;color:#000000;"&gt;Kasunyatane, jaman saiki luwih akeh wong Jawa kang wus kelangan katelune. Kamangka kayadene cak-cakan busana, lamun trep kalawan prabatan bakal jumbuh kalawan filosfi ajining raga dumunung ing busana. Ngrembug bab tata busana Jawa, miturut Ki Djoko, ora bisa uwal saka budaya Jawa. Amarga busana Jawa pancen kalebu pange budaya Jawa kang asumber saka Karaton Surakarta Hadiningrat, yaiku busana Jawa kang nganti saiki adhakan padha kawuningan ing bebrayan umum.&lt;br /&gt;Tata busana Jawa ing pahargyan temanten kang kaprah ing bebrayan, tata busana Jawa ing maneka adicara formal utawa informal ing paprentahan lan uga ing bebrayan umum lan uga busana Jawa kang kaprah dianggo ing padinan sumbere ora liya tata busana minangka pange kabudayan Jawa kang asumber saka Karaton Kasunanan Surakarta.&lt;br /&gt;Adhedhasar andharan ing buku Kawruh Sapala Tata Busana Jawi I, anggitane S Yusdiyanto, weton Sanggar Pasinaon Pambiwara Karaton Surakarta, taun 2004, busana Jawa gagrak Surakarta, kayadene kang lestari ing Karaton, lan mratah ing masarakat, prabotane pancen akeh. Mula saka iku, sok sapaa kang arep manganggo busana Jawa saorane kudu nyumurupi wujud utawa mangerteni parabote busana lan tata cara manganggone.&lt;br /&gt;Miturut Sugiyatna, nimpuna pangracik busana Jawa, filosofi busana Jawa iku jero banget. Busana Jawa kang baku iku kedadeyan saka iket blangkon, beskap lan cenela utawa selop.&lt;br /&gt;”Iket blangkon iku ukurane utawa pralambang pikir, beskap iku ukurane rasa pangrasa lan cenela iku ukurane utawa pralambang tumindak. Wong manganggo busana Jawa sapangadeg, yaiku iket blangkon, beskap lan cenela, yektine dadi pralambang yen manungsa iku kudu nyalarasake antarane pikir, rasa pangrasa lan laku utawa tumindak. Yen katelune wus salaras, uripe mesthi slamet, slamet ing donya lan akerat, lan uga tansah antuk karahayon, kamulyan lan karaharjan.”&lt;br /&gt;Lelandhesan filosofi mangkene iki, yektine manganggo busana Jawa pancen kudu netepi trep-trepane, supaya nges lan dhemes.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6072209488519353307-2094500288549489182?l=ninkwidya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ninkwidya.blogspot.com/feeds/2094500288549489182/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ninkwidya.blogspot.com/2008/08/ajining-raga-dumunung-ing-busana.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6072209488519353307/posts/default/2094500288549489182'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6072209488519353307/posts/default/2094500288549489182'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ninkwidya.blogspot.com/2008/08/ajining-raga-dumunung-ing-busana.html' title='Ajining raga dumunung ing busana'/><author><name>ninkw1dya ( alve Dya Aurelia Latifa)</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02190777662680452949</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_vgyL60s208c/SvuobeHd1pI/AAAAAAAAADY/zqthVFtNEm8/S220/aku+di+legian.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6072209488519353307.post-868663355988643357</id><published>2008-08-27T20:43:00.001-07:00</published><updated>2008-08-27T20:43:52.886-07:00</updated><title type='text'>Ngetrepake tata busana Jawa</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:verdana,arial;font-size:85%;color:#000000;"&gt;Karepe pamarentah Kutha Solo mono sedya ngleluri budaya Jawa kanthi sarana mbudayakake maneh sandhangan Jawa ing sawijining adicara upacara formal pamarentahan.&lt;br /&gt;Nanging amarga kang melu upacara saperangan gedhe durung pana bab tata busana Jawa, wusana nuwuhake panyaruwe saka pirang-pirang warga amarga akeh kang kleru anggone manganggo busana Jawa. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;   &lt;span style="font-family:erdana,arial;font-size:85%;color:#000000;"&gt;Kacihna, krentege pamarentah Kutha Solo kang sedya nuwuhake maneh werna budaya Jawa ing tlatah Kutha Solo, mligine bab manganggo sandhangan Jawa, mujudake krenteg kang apik, kudu dijurung.&lt;br /&gt;Miturut nimpuna bab sandhangan Jawa kang uga sutresna budaya Jawa, Sugiyatna, nalika wawangunem kalawan Espos ing kiyos Busana Kejawen Surakarta ing sisih wetan Alun-Alun Lor Karaton Surakarta, sawetara dina kapungkur, yen isih ana klera-klerune bab manganggo busana Jawa, ya kudu dibenerake.&lt;br /&gt;”Pancen akehe panyaruwe amarga ana kang kleru anggone nyandhang Jawa nalika upacara pengetan madege Kutha Solo sawetara dina kapungkur. Nanging aja ndadekake nglokro tumrap kabeh pehak kang duwe krenteg bakal nenangi, ngleluri lan nguripake maneh budaya Jawa, mligine sandhangan Jawa, ing Kutha Solo. Klera-kleru kang dumadi bab kang lumrah, amarga saperangan gedhe warga bebrayan wus suwe ora manganggo sandhangan Jawa,” pratelane Sugiyatna.&lt;br /&gt;Dene miturut salah sawijining warga, Bambang Harjanto, kanyatan yen jaman saiki luwih akeh warga kang ora mangerteni bab tata busana Jawa pancen dadi pepesthene jaman. Lire, majuning jaman, owah-owahaning jaman pancen nuwuhake maneka warna budaya anyar kang sarwa narik kawigaten, kalebu bab budaya nyenyandhang.&lt;br /&gt;Apamaneh, jarene Bambang kang dumunung ing tlatah Kelurahan Kadipiro, Solo, cakrik-cakrik sandhangan asile budaya modheren racake sarwa praktis lan kepenak dianggo. Dene sandhangan Jawa pancen kudu nggunakake undha usuk kang asipat baku. Perangan sandhangan siji lan sijine ana aturane dhewe-dhewe nalika arep dianggo. Lan cara manganggone uga ana trep-trepane, ora bisa sakepenake dhewe.&lt;br /&gt;Sugiyatna nambahake, krenteg kanggo mbudayakake maneh sandhangan Jawa lan isih akehe klera-kleru bab cara manganggone, kudu ditegesi minangka upaya kanggo mujudake mitos dadi etos. Sing dikarepake mitos yaiku bab tata busana Jawa kang kasunyatane pancen sansaya dikiwakake ing bebrayan umum. Dene sing dikarepake etos yaiku upaya murih warga gelem tetepungan maneh kalawan tata busana Jawa lan mratahake maneh bab tata busana Jawa ing bebrayan.&lt;br /&gt;”Ngowahi mitos dadi etos utawa laku iku pancen ora gampang. Nalika puluhan taun warga ora tau tetepungan kalawan tata busana Jawa, nalika kudu nganggo ya mesthi bakal akeh klera-klerune. Nanging yen pangarsane bebrayan agung, mligine para budayawan lan sutresna budaya Jawa panggah kapriadreng lan ora mingkuh saka upaya nenangi kabudayane dhewe, samengkone tata busana Jawa bakal dadi pangerten kang kaprah maneh ing bebrayan,” piterange Sugiyatna.&lt;br /&gt;Lelandhesan budaya&lt;br /&gt;Kacihna ing wektu-wektu pungkasan iki ing maneka warna adicara formal utawa informal lan maneka rupa pahargyan kaprah tinemu wong kang kleru anggone nyandhang Jawa, ananging yen krenteg kanggo ngupaya murih mitos bisa menjila dadi etos lumaku tanpa kendhat, ora nganti rong taun maneh, bab tata busana Jawa wus bakal menjila dadi pangerten kang kaprah ing bebrayan umum ing Kutha Solo.&lt;br /&gt;Apa kang kelakon ing adicara upacara pengetan madege Kutha Solo sawetara dina kapungkur, miturut Sugiyatna, kudu ditegesi minangka sarana ndhidhik bebrayan bab tata busana Jawa. Kanthi kedadeyan sawetara dina kapungkur iku, apamaneh dijurung dening warta ing ariwarti, bebrayan bakal bisa ndunungake kepriye cara manganggo sandhangan Jawa kang trep lan bener lan kepriye cara manganggo kang geseh kalawan trep-trepane.&lt;br /&gt;Bab klera-kleru ing trep-trepane manganggo busana Jawa iku ora mung dumadi ing bebrayan umum. Ing sanjerone Karaton Kasunanan Surakarta wae Espos tau mrangguli ana abdidalem tataran adipati sepuh kang nyengeni sawetara abdi dalem lurah kang kleru anggone manganggo sandhangan pisowanan.&lt;br /&gt;Kedadeyan iku dumadi sawetara wektu kapungkur ing adicara pisowanan agung pengetan jumenengan Sampeyan Dalem Sinuhun Pakubuwana XIII Hangabehi.&lt;br /&gt;Kamangka, kaprahe jejer abdi dalem karaton iku mesthine wus antuk piwulang bab tata busana Jawa sadurunge winisudha minangka abdi dalem karaton. Apameh yen ing bebrayan umum, mesthi luwih akeh maneh warga kang ora pana bab tata busana Jawa. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6072209488519353307-868663355988643357?l=ninkwidya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ninkwidya.blogspot.com/feeds/868663355988643357/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ninkwidya.blogspot.com/2008/08/ngetrepake-tata-busana-jawa.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6072209488519353307/posts/default/868663355988643357'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6072209488519353307/posts/default/868663355988643357'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ninkwidya.blogspot.com/2008/08/ngetrepake-tata-busana-jawa.html' title='Ngetrepake tata busana Jawa'/><author><name>ninkw1dya ( alve Dya Aurelia Latifa)</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02190777662680452949</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_vgyL60s208c/SvuobeHd1pI/AAAAAAAAADY/zqthVFtNEm8/S220/aku+di+legian.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6072209488519353307.post-1409125988759393189</id><published>2008-08-27T20:42:00.001-07:00</published><updated>2008-08-27T20:42:33.477-07:00</updated><title type='text'>Ngenani budaya Jawa, wong Jawa dhewe, miturut</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:verdana,arial;font-size:85%;color:#000000;"&gt;Koentjaraningrat, lumantar bukune asesirah Kebudayaan Jawa, weton Balai Pustaka, 1984, yektine mindeng yen kabudayane ora sarwa padha, ora sragam, ora homogen. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;   &lt;span style="font-family:erdana,arial;font-size:85%;color:#000000;"&gt;Wong Jawa wus mangerteni yektine ana maneka warna kabudayan kang asipat regional, sadawane tlatah Jawa Tengah, Jawa Timur lan Yogyakarta, kang kondhang minangka punjere kabudayan Jawa.&lt;br /&gt;Kabudayan Jawa kang tuwuh lan ngrembaka ing tlatah Solo lan Yogyakarta asumber kabudayan karaton, kabudayan Jawa kang tuwuh lan ngrembaka ing tlatah Banyumasan lan Bagelen duwe ciri mligi, kabudayan Jawa ing tlatah pasisiran (Indramayu-Cirebon) beda kalawan kabudayan Jawa ing tlatah liyane.&lt;br /&gt;Mangkono uga kabudayan Jawa kang tuwuh lan ngrembaka ing tlatah Surabaya lan pasisiran Jawa Timur kenthel diwernani agama Islam. Mesthi wae kabudayan Jawa ing Surabaya lan pasisir Jawa Timur kang wus diwernani agama Islam iku beda kalawan kabudayan Jawa ing tlatah liyane.&lt;br /&gt;Ananging ing tlatah Jawa Timur ana kabudayan Jawa kang oyote padha kalawan kabudayan Jawa ing negari gung (Solo lan Yogyakarta) yaiku ing tlatah Madiun, Kediri lan delta Kali Brantas. Tlatah Madiun, Kediri lan delta Kali Brantas iki kaprah sinebut tlatah mancanagari.&lt;br /&gt;Dene tlatah sawetane Malang lan Kali Brantas mujudake tlatah papan tuwuh lan ngrembakane kabudayan Jawa kang wus diwernani kabudayan Madura. Wong Jawa Timur, nyebut wong-wong Jawa kang dumunung ing pesisir kidul Jawa Timur minangka ”tiyang kilenan”.&lt;br /&gt;Lan ana maneh tlatah ing Jawa Timur kang duwe ciri kabudayan mligi, yaiku wong-wong Jawa kang dumunung ing tlatah Tengger. Wong-wong kang dumunung ing sakupenge Kutha Banyuwangi, kaprah sinebut ”tiyang osing” uga duwe ciri kabudayan dhewe. Kanthi mangkono, kabudayan Jawa pancen asipat maneka rupa, werna werna, ora homogen.&lt;br /&gt;Kanyatan mangkene iki, miturut I Nengah Mulyana, warga Bali kang wus sawetara taun dumunung ing Kutha Solo, nuwuhake kanyatan pancen angel yen kudu nemtokake pathokan saengga sawijining wong iku bisa sinebut Jawa sejati lan Jawa kang ora sejati.&lt;br /&gt;”Yen ana sesebutan Jawa sejati lan Jawa kang ora sejati, kudune ana pathokan kang asipat baku. Kanyatane, nemtokake pathokan tumrap Jawa sejati lan Jawa kang ora sejati iku kaya-kaya dadi mokal yen mindeng kanyatan kabudayan Jawa iku maneka warna. Lan nganti saiki aku dhewe durung bisa nemtokake ukuran kanggoku dhewe nalika arep mbiji sawijining wong Jawa iku kalebu Jawa sejati utawa Jawa kang ora sejati,” pratelane Mulyana&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6072209488519353307-1409125988759393189?l=ninkwidya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ninkwidya.blogspot.com/feeds/1409125988759393189/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ninkwidya.blogspot.com/2008/08/ngenani-budaya-jawa-wong-jawa-dhewe.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6072209488519353307/posts/default/1409125988759393189'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6072209488519353307/posts/default/1409125988759393189'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ninkwidya.blogspot.com/2008/08/ngenani-budaya-jawa-wong-jawa-dhewe.html' title='Ngenani budaya Jawa, wong Jawa dhewe, miturut'/><author><name>ninkw1dya ( alve Dya Aurelia Latifa)</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02190777662680452949</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_vgyL60s208c/SvuobeHd1pI/AAAAAAAAADY/zqthVFtNEm8/S220/aku+di+legian.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6072209488519353307.post-4278714652873670798</id><published>2008-08-27T20:41:00.000-07:00</published><updated>2008-08-27T20:42:00.559-07:00</updated><title type='text'>Jawa nut jaman kelakone</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:verdana,arial;font-size:85%;color:#000000;"&gt;Ngenani sebutan Jawa pancen kerep dadi pradondi, akeh wong tuwa kang nyebut cah enom saiki ora Jawa, dene sing enom uga gemang yen diarani ora Jawa awit dheweke lair lan gedhe ing tanah Jawa. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;   &lt;span style="font-family:erdana,arial;font-size:85%;color:#000000;"&gt;Ngenani bab iku, Guru Besar Ilmu Sejarah Universitas Gadjah Mada Yogyakarta, Prof Dr Bambang Purwanto, nelakake, Jawa iku yektine ora liya ya kabudayan. Kanthi mangkono, sapa wae lan apa wae bisa ndhaku, didhaku utawa ngidentifikasi dhirine minangka Jawa, nanging yektine ya mung wates legalitas utawa formalitas.&lt;br /&gt;Lan sing diarani kabudayan, mesthi wae ora asipat gumathok lan tansah owah. Kabudayan ngalami owah-owahan jumbuh lakuning jaman. Kabudayan tansah urip lan ngrembaka nut lakuning jaman.&lt;br /&gt;”Saka kahanan lan kanyatan mangkono kuwi, Jawa utawa kabudayan Jawa kang tuwuh, urip lan ngrembaka ndalem 300 taun kepungkur mesthine bakal beda kalawan Jawa kang tuwuh, urip lan ngrembaka ing wektu iki. Dudutane, Jawa jaman saiki ya ora kudu padha karo Jawa 300 taun kapungkur, 400 taun kapungkur utawa kang luwih tuwa maneh,” piterange Bambang ana sawijining adicara ing ISI Solo sawetara dina kapungkur.&lt;br /&gt;Pawadan kanyatan yen kabudayan iku tansah nut lakuning jaman, miturut Bambang, wus samesthine ing jagating kabudayan Jawa, jumbuh kalawan laku lan owah-owahan jaman, tansah ana owah-owahan uga. Lire, kudu ana asil-asil kabudayan anyar sajroning kabudayan Jawa nut lakuning jaman lan owah-owahaning jaman.&lt;br /&gt;Generasi mudha Jawa jaman saiki ora kudu niru generasi mu-dha jaman 300 taun kapungkur. Lan asil-asil kabudayan Jawa jaman 300 taun kapungkur ora kudu kabeh ditiru ing kabudayan Jawa jaman saiki. Sing mesthi bakal lestari mung wates oyoting kabudayan, kang ora liya landhesan filosofi kang bisa madhahi sakabehing sanggit anyar kabudayan nut owah-owahane jaman.&lt;br /&gt;Kanthi tansah lumintu tuwuhing kabudayan anyar sajroning kabudayan Jawa, tambahe Bambang, yektine saben generasi kang lair saka kabudayan Jawa bisa duwe identitas dhewe kang nuduhake Jawane. Bisa wae, ana wong mbiji sawijining wong dudu Jawa sejati, nanging yektine wong iku sejatine ya wong Jawa, amarga uripe kalimputan kabudayan Jawa.&lt;br /&gt;Kanthi mangkono, miturut Bambang, nalika hamicara ing diskusi ngrembug Jawa sejati ing gedhong Teater Besar ISI Solo, sawetara dina kapungkur, nalika ngrembug bab Jawa sejati utawa sejatine Jawa sing baku ora liya ya karya budayane.&lt;br /&gt;”Sing sinebut Jawa, ya kabudayan Jawa, miturutku tansah winengku ing lakuning jaman kang tansah njurung marang dumadine owah-owahan kabudayan kang asipat sansaya gawe gregete kabudayan iku dhewe. Ganti gumantine generasi kang winengku kabudayan Jawa, mesthine bakal nambah dinamis-e Jawa. Lan samengkone, bab Jawa sejati lan sejatine Jawa bakal bisa dimangerteni kanthi temen-temen, ora prelu dadi pradondi,” piterange Bambang.&lt;br /&gt;Guru Besar ISI Solo, Prof Dr Rustopo, kang wus kasil mbabar buku karyane asesirah Jawa Sejati, Otobiografi Go Tik Swan Hardjonagoro, ing kalodhangan iku, ngandharake, yen ngrembug kepriye lan sapa wong Jawa sejati iku, pancen ora ana pathokane. Mangkono uga yen ngrembug, kepriye lan kaya ngapa kang sinebut sejatine Jawa iku, uga ora ana pathokane.&lt;br /&gt;Rustopo sarujuk karo andharane Bambang, yen yektine Jawa iku mujudake kabudayan. Lan minangka kabudayan, sipate dinamis, tansah bakal tuwuh owah-owahan nut lakuning jaman. Lan saben generasi kang lair mesthi bakal duwe werna budaya dhewe, kacihna tetep ora uwal saka oyot kabudayane.&lt;br /&gt;”Yen ngrembug bab Jawa sejati, miturutku luwih penting mbangun kalodhangan murih generasi Jawa jaman saiki lan jaman kang bakal teka bisa ngasilake karya-karya budaya kang luwih akeh maneh, kayadene karya budaya kang diasilake para pujangga-pujangga jaman sadurunge,” pratelane Rustopo&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6072209488519353307-4278714652873670798?l=ninkwidya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ninkwidya.blogspot.com/feeds/4278714652873670798/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ninkwidya.blogspot.com/2008/08/jawa-nut-jaman-kelakone.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6072209488519353307/posts/default/4278714652873670798'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6072209488519353307/posts/default/4278714652873670798'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ninkwidya.blogspot.com/2008/08/jawa-nut-jaman-kelakone.html' title='Jawa nut jaman kelakone'/><author><name>ninkw1dya ( alve Dya Aurelia Latifa)</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02190777662680452949</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_vgyL60s208c/SvuobeHd1pI/AAAAAAAAADY/zqthVFtNEm8/S220/aku+di+legian.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6072209488519353307.post-6082320616109115443</id><published>2008-08-27T20:40:00.001-07:00</published><updated>2008-08-27T20:40:59.895-07:00</updated><title type='text'>Negesi Jawa sejati</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:verdana,arial;font-size:85%;color:#000000;"&gt;Putri, siswa sawijining SMPN ing Kutha Solo lan Amri, warga Palur, Karanganyar, padha-padha ora bisa guneman basa Jawa krama kanthi teteh, laras lan trep karo undha-usuke. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;   &lt;span style="font-family:erdana,arial;font-size:85%;color:#000000;"&gt;Bisane guneman nganggo basa Jawa mung wates basa Jawa ngoko lan basa Jawa krama kang salah kaprah.&lt;br /&gt;Ananging, Putri sing saiki kelas II SMP lan Amri sing saiki dadi dwija komputer yakin yen nganti saiki tetep dadi wong Jawa kang sejati utawa sayekti.&lt;br /&gt;Miturut Amri, kabeh kulawargane, bapak ibune, embah-embahe lan leluhure kabeh, miturut cathetan sarasilah cetha yen wong Jawa asli. Lire, lair, urip lan mati ing tlatah Jawa Tengah. Ana sing dumunung ing Solo, Klaten lan Karanganyar.&lt;br /&gt;Putri mangkono uga. Lelandhesan pangertene nganti wektu iki, bapak ibune, embahe lan embah buyute yekti yen wong Jawa. Guneman padinan ya nganggo basa Jawa, sanajan basa Jawa kang salah kaprah. Sawetara tradhisi warisan leluhure uga isih dileluri, kayadene gawe jenang abang putih saben dina weton, padusan yen mapag tekane sasi Pasa lan sawetara tradhisi liyane.&lt;br /&gt;”Nanging yen dikon maca lan nulis aksara Jawa aku pancen ora bisa. Biyen jaman isih sekolah SD pancen sinau maca lan nulis aksara Jawa. Nalika iku sithik-sithik ya bisa yen mung maca lan nulis aksara Jawa. Lah, yen saiki ya wus lali. Wong nalika anakku sing sekolah SD njaluk diwarahi nalika duwe PR (pekerjaan rumah-red) nulis aksara Jawa, dakakon takon marang embahe wae. Yen bapak ibuku pancen isih wasis maca lan nulis aksara Jawa,”pratelane Amri, nalika wawangunem kalawan Espos ing tlatah Kartasura, sawetara dina kapungkur.&lt;br /&gt;Dene Putri sithik-sithik bisa maca lan nulis aksara Jawa amarga ing sekolahan pancen antuk piwulang Basa Jawa kang salah sijine nggladhi bab kawasisan maca lan nulis aksara Jawa.&lt;br /&gt;Dene Amri nelakake ora bisa guneman basa Jawa kanthi netepi undha-usuking basa, ora bisa maca lan nulis aksara Jawa lan uga wus adoh saka oyot kabudayane pancen dadi jati dhirine saperangan gedhe wong Jawa jaman saiki.&lt;br /&gt;Oyot kabudayan&lt;br /&gt;Nanging, dheweke tetep yakin arepa ora bisa maca lan nulis aksara Jawa, ora bisa nggunakake basa Jawa trep karo undha-usuking basa lan wus adoh saka oyot kabudayan Jawa, nanging tetep dadi wong Jawa, wong Jawa asli.&lt;br /&gt;”Jati dhiriku ye tetep wong Jawa. Kepriye ora? Lah bapak ibuku lan embah-embahku kabeh ya wong Jawa. Nalika aku omah-omah sisihanku ya saka kulawarga Jawa. Lire, maratuwaku lan leluhure kabeh ya wong Jawa. Dadi kanthi kahanan apa wae aku iki tetep yakin minangka wong Jawa, wong Jawa asli, dadi ya wong Jawa sejati uga,” tandhese Amri.&lt;br /&gt;Dene ing kalodhangan liya, Dwi Susanto, sawijining intelektual mudha, ing kalodhangan hamicara ing sawijining adicara diskusi kang mapan ing gedhong Teater Besar ISI Solo, sawetara dina kapungkur, nelakake, kabeh wong duwe hak kanggo ndhaku yen dhirine iku wong Jawa. Kacihna ora kenal budaya bathik, keris, ora wasis maca lan nulis aksara Jawa lan uga ora prigel nyandhang cara Jawa, tetep bisa sinebut wong Jawa sejati, amarga pancen ora ana ukuran kang gumathok ngenani sapa ta wong Jawa sejati iku.&lt;br /&gt;KRMHT Djoko Pandjihami-djoyo ngandharake, lamun kajarwakake, Jawa iku maknane prasaja, ngerti dunung pangetrapane. Jawi kang asale saka basa kramane Jawa ateges ndarbeni tata krama, tata basa, tata susila lan ngajeni mring sapepadha. Jiwa mengku teges tansah angatepi budaya kejawen kang nyata luhur. Dene Jiwi ateges tetep nyawiji marang Gusti Kang Maha Kuwasa.&lt;br /&gt;”Lamun jejering wong kang wus ngrasuk Jawa, Jawi, Jiwa lan Jiwi, iku kang bisa sinebut sejatining wong Jawa. Dene Jawa sejati, sejene bibit, bobot, bebete nut alur Jawa uga wus nduweni sangu wasis micara basa Jawa, prigel bab tata busana Jawa lan wasis maca lan nulis aksara Jawa. Saliyane iku uga wasis ngrukti kabudayan Jawa lan ngantepi tata krama budi pakerti luhur kejawen,” piterange Ki Djoko.&lt;br /&gt;Ki Djoko nambahake, wong Jawa kang bisa njawani kudu bisa meper hardaning angkara murka, ndarbeni laku brata, cegah dhahar lawan sare, lembah manah lan tansah agawe senenging liyan kang kabeh mau dadi ciri kas jati dhiri tumrap wong Jawa.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6072209488519353307-6082320616109115443?l=ninkwidya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ninkwidya.blogspot.com/feeds/6082320616109115443/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ninkwidya.blogspot.com/2008/08/negesi-jawa-sejati.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6072209488519353307/posts/default/6082320616109115443'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6072209488519353307/posts/default/6082320616109115443'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ninkwidya.blogspot.com/2008/08/negesi-jawa-sejati.html' title='Negesi Jawa sejati'/><author><name>ninkw1dya ( alve Dya Aurelia Latifa)</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02190777662680452949</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_vgyL60s208c/SvuobeHd1pI/AAAAAAAAADY/zqthVFtNEm8/S220/aku+di+legian.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6072209488519353307.post-465068017323423649</id><published>2008-08-27T20:39:00.001-07:00</published><updated>2008-08-27T20:39:55.905-07:00</updated><title type='text'>Jawa sejati tansah memayu hayuning bawana</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:verdana,arial;font-size:85%;color:#000000;"&gt;Budayawan Jawa kang uga seniman, Sugiyatna, ngandharake, yen ngrembug Jawa iku yektine ora mung wates ngrembug pulo kang sinebut pulo Jawa, uga ora mung wates aksara, basa, sandhangan lan wujud-wujud pisik liyane. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;   &lt;span style="font-family:erdana,arial;font-size:85%;color:#000000;"&gt;Miturut budayawan kang sasuwene iki nggilut donyaning ngathik lan ngrakit sandhangan Jawa iki, ngrembug bab Jawa, apamaneh kang sinebut Jawa sejati, yektine tebane luwih amba tinimbang wates-wates lan wujud-wujud wadhag.&lt;br /&gt;”Miturutku sing sinebut Jawa iku luwih marang dununging laku. Wong Jawa sejati iku kudu bisa ndunungake laku murih kawujud salarase pikir, rasa lan tumindak. Saksapaa bisa ndunungake laku kang arupa pikir, rasa lan tumindak kang tebane bisa mujudake memayu hayuning bawana, ya iku wong Jawa,” piterange Sugiyatna, nalika wawangunem kalawan Espos ing sawetane Alun-Alun Lor Karaton Kasunanan Surakarta, sawetara dina kapungkur.&lt;br /&gt;Kanthi mangkono, miturut Sugiyatna, kanggo ndhudhah sapa lan kepriye wong Jawa sejati iku, kudu bisa ndhudhah pangerten-pangerten lan tapsiran-tapsiran lelandhesan sastra cetha. Lire sastra cetha, ora mung wates ndulu wujud wadhag, wujud tulisan utawa teks, ananging kudu bisa ndhudhah apa kang dumunung ing suwalike, kang sayekti.&lt;br /&gt;Sugiyatna nambahake, yektine jaman saiki kang sinebut Jawa iku kahananae nembe murca, ana nanging ora bisa didulu wujude. Jawa murca iki kang saiki mratah ing bebrayan. Wong-wonge cetha yen wong Jawa amarga dumunung ing pulo Jawa, bisa manganggo sandhangan Jawa, maca lan nulis aksara Jawa, micara basa Jawa, ananging dununging laku durung kabeh salaras kalawan laku tumuju marang memayu hayuning bawana.&lt;br /&gt;”Jawane ya pancen Jawa yen dipindeng saka apa kang bisa didulu. Ananging yektine Jawane iku murca, ana nanging ora katon wujude kang sejati. Dadi ya pancen sapa wae bisa sinebut Jawa sejati yen bisa jumbuh kalawan Jawa kang nembe murca iku. Dene salah sijine ukuran Jawa kang murca iku, miturutku, ora liya ya dununging laku kang nyalarasake pikir, rasa kan tumindak kanggo memayu hayuning bawana. Lan piwulang mangkene iki anane ya mung ing kabudayan Jawa.”&lt;br /&gt;Putra putri Dalem Sinuhun Pakubuwana XII, GKR Wandansari, ngandharake, ngrembug Jawa (ing basa Indonesia) lan Jawa pancen ana tapsiran kang beda. Sesebutan wong Jawa (ing basa Indonesia) yen sing mindeng wong-wong Betawi (Jakarta) ateges wong kang asale saka tlatah Yogyakarta lan Surakarta. Wong Jawa Barat lan Jakarta ora kalebu wong Jawa ing tapsiran iki.&lt;br /&gt;Mangkono uga yen Jawa (ing basa Indonesia) iku sing mindeng wong Sumatera, ateges wong kang asale saka Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Yogyakarta lan uga Jakarta. Jawa ing kene ateges pulo Jawa.&lt;br /&gt;Dene yen sing dirembug iku Jawa (yen ditulis nganggo aksara Jawa nggunakake aksara ja lan aksara wa) miturut Wandansari, ateges tapsiran kang asipat batin. Wandansari, nelakake, salah sijine tapsiran Jawa kang asale saka aksara ja lan wa yaiku sipat prasaja (saka aksara ja) lan walaka (saka aksara wa).&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6072209488519353307-465068017323423649?l=ninkwidya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ninkwidya.blogspot.com/feeds/465068017323423649/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ninkwidya.blogspot.com/2008/08/jawa-sejati-tansah-memayu-hayuning.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6072209488519353307/posts/default/465068017323423649'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6072209488519353307/posts/default/465068017323423649'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ninkwidya.blogspot.com/2008/08/jawa-sejati-tansah-memayu-hayuning.html' title='Jawa sejati tansah memayu hayuning bawana'/><author><name>ninkw1dya ( alve Dya Aurelia Latifa)</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02190777662680452949</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_vgyL60s208c/SvuobeHd1pI/AAAAAAAAADY/zqthVFtNEm8/S220/aku+di+legian.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6072209488519353307.post-2483332430787717360</id><published>2008-08-27T20:38:00.000-07:00</published><updated>2008-08-27T20:39:03.795-07:00</updated><title type='text'>Jatidhiri Jawi ingkang sejati</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:verdana,arial;font-size:85%;color:#000000;"&gt;Jatidhiri Jawi menika nyakup tuwin ngukup perangan ingkang tebanipun jembar sanget. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;   &lt;span style="font-family:erdana,arial;font-size:85%;color:#000000;"&gt;Underaning prekawis kawengku ing jagad Jawi ingkang arupi tradhisi, filsafat, aksara, basa, susastra, tuwin budaya Jawi. Jatidhiri Jawi saget dipundhudhah saking sujarah Jawi ing jaman purwanipun. Tukipun wonten ing susastra Jawi ingkang kaserat dening mpu tuwin pujangga minangka pandam pandoming dumadi.&lt;br /&gt;Gumelaring jagad Jawi wonten ing wayang purwa (ingkang amurwa kandha) wonten ing lampahan Manikmaya. Lampahan Manikmaya hanggelar bebadranipun Hyang Antaga, Hyang Ismaya, miwah Hyang Manikmaya minangka caraka ingkang badhe nindakaken darma memayu hayuning bawana. Ciri-ciri Jawi kathah pinanggih wonten ing susastra Jawi ingkang dipungelar wonten ing jagad pewayangan. Kajawi menika jatidhiri Jawi mboten saget uwal saking gegebengan utawi kapitadosan ing tlatah kejawen. Ing jagad kejawen dipunpitados wonten-ipun Sang Pamomong ingkang tansah momong lan ngemong tanah Jawi. Wonten ing jagad pewayangan paraga Semar kapiji minangka pamonging satriya hambeg utami anggenipun badhe merangi watak-watak durangkara.&lt;br /&gt;Ciri-ciri tuwin jatidhiri Jawi kathah pinanggih wonten ing filsafat Jawi. Filosofi Jawi nuntun dhateng ngelmu sangkan paraning dumadi. Pramila lajeng mbabar pangawikan ingkang sambet kaliyan Gusti-kawula utawi kawula-Gusti. Jejering kawula kedah eling, kumawula, ngabekti tuwin manembah dhateng Gustinipun. Kanthi menika jatidhiri Jawi ingkang sejati sambet kaliyan alam hakekat ing jagad kejawen. Pramila lajeng wonten wos utawi suraos wonten ing ngelmu pangawikan manunggaling kawula-Gusti. Jatidhiri Jawi ugi nyakup perangan ingkang kasat mata wiwit tlatah Banten, Pasundan, pesisir kilen dumugi pesisir wetan, tlatah Kedu, Magelang, Banyumas, Ngayogyakarta, Surakarta, dumugi tlatah Blambangan. Kalebet ing ngriki ardi Tidar minangka pakuning Tanah Jawi. Tlatah Ngayogyakarta lan Surakarta sinebat negari gung amargi wontenipun karaton minangka punjering budaya Jawi ingkang adi luhung miwah adi luhur.&lt;br /&gt;Budaya Jawi kasebat adi luhung amargi mengku perangan budaya ingkang nuntun dhateng kaendahaning bebrayan. Pramila lajeng mbabar prasetya wonten ing sesanti: Memayu hayuning bawana, memayu hayuning jagad, memayu hayuning nusa bangsa, miwah memayu hayuning sasama. Budaya Jawi hanggadhahi ciri-ciri adi luhung amargi mengku pangawikan ingkang tumuju dhateng kawaskithan, kawiryan, kawicaksanan, kaluhuran tuwin kasampurnaning gesang.&lt;br /&gt;Kathah sanget wedharan susastra Jawi ingkang caket tuwin raket kaliyan ingkang murba lan masesa jagad. Kalebet ing ngriki jagad cilik (mikro kosmos) tuwin jagad gedhe (makro kosmos). Filsafat Jawi dipunngendikakaken langkung jangkep katimbang filsafat kilen (Barat) ingkang underanipun wonten ing kawicaksanan.&lt;br /&gt;Jatidhiri Jawi ugi katingal saking filsafat Jawi ingkang langkung onja katimbang filsafat ing tlatah sanesipun. Menapa kemawon ingkang dumados ing tanah Jawi wiwit brang kilen dumugi tlatah brang wetan saget dados titikan minangka Jatidhiri Jawi ingkang maneka warni. Ing saben tlatah pinanggih ciri-ciri budaya ingkang mboten sami kaliyan tlatah sanesipun. Sesanti adikaryanipun Mpu Tantular wonten ing kitab Sutasoma inggih menika: Bhinneka Tunggal Ika saget dipunwastani minangka jatidhiri Jawi ingkang sejati.&lt;br /&gt;Samangke, sesanti Bhinneka Tunggal Ika sampun manunggal minangka jatidhiri Nuswantara tuwin inukir wonten lambang nagari peksi Garudha. Kanthi menika, Pancasila ingkang nyawiji kaliyan peksi Garudha saget dipunwastani minangka jatidhiri Jawi ingkang lajeng dipunkukuhaken minangka dhasar miwah falsafah negari. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6072209488519353307-2483332430787717360?l=ninkwidya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ninkwidya.blogspot.com/feeds/2483332430787717360/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ninkwidya.blogspot.com/2008/08/jatidhiri-jawi-ingkang-sejati.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6072209488519353307/posts/default/2483332430787717360'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6072209488519353307/posts/default/2483332430787717360'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ninkwidya.blogspot.com/2008/08/jatidhiri-jawi-ingkang-sejati.html' title='Jatidhiri Jawi ingkang sejati'/><author><name>ninkw1dya ( alve Dya Aurelia Latifa)</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02190777662680452949</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_vgyL60s208c/SvuobeHd1pI/AAAAAAAAADY/zqthVFtNEm8/S220/aku+di+legian.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6072209488519353307.post-7636893353303356108</id><published>2008-08-27T20:37:00.002-07:00</published><updated>2008-08-27T20:38:12.663-07:00</updated><title type='text'>Raket karo omben-omben</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:verdana,arial;font-size:85%;color:#000000;"&gt;Adhedhasar kamus Baoesastra Djawa (Poerwadarminta, 1939) tembung tayub ateges kasukan jejogedan nganggo dijogedi tledhek. Dene miturut kamus Kawi-Jawa (Winter lan Ranggawarsita, 1987) dijlentrehake yen tembung tayub iku raket gandheng cenenge karo tembung nayub kang ateges ngombe, sukan-sukan, yaiku ngombe omben-omben kang ndadekake mabuk utawa minuman keras (Miras). &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;   &lt;span style="font-family:erdana,arial;font-size:85%;color:#000000;"&gt;Lelandhesan pangerten iki, miturut sutresna joged tayub ing Dukuh Gumping, Desa Blangu, Kecamatan Gesi, Sragen, Darmo Suwito, 77, pagelaran tayub ngandhut pangerten lan tapsiran minangka kesenian rakyat, mligine among tani ing Jawa.&lt;br /&gt;Wujude pagelaran arupa joged sukan-sukan kang diwernani ngombe Miras. Lan iki dadi sarana tumrap warga bebrayan kanggo ngraketake paseduluran lan memitran antarane siji lan sijine, antarane tangga teparo lan antarane tlatah siji lan sijine.&lt;br /&gt;”Amarga iku, miturut pangertenku lan pamawasku, pagelaran tayub mujudake kesenian rakyat kang bisa menjila minangka sarana madhahi maneka panemu, aspirasi, kabutuhan lan gagasane para warga ing tlatah urip lan ngrembakane seni tayub iku,” piterange Darmo, nalika wawangunem kalawan Espos ing Blangu, sawetara dina kapungkur.&lt;br /&gt;Miturut Clifford Geertz, amarga seni tayub menjila minangka sarana madhahi sakehing panemu, aspirasi, kabutuhan lan gagasan bebrayan kang ngurip-urip seni tayub, ateges seni tayub kasil nyawiji sacara struktural lan kajiwan sajroning wangunan kabudayan kang diugemi lan diurip-urip dening bebrayan.&lt;br /&gt;Kanyatan iki, miturut Darmo, mbokmenawa kang ndadekake seni tayub nganti saiki isih lestari ing tlatah Kecamatan Gesi. Lan miturut pangertene, tambahe Darmo, seni tayub pancen wus nyawiji ing madyaning bebrayan warga pitung desa ing tlatah Kecamatan Gesi.&lt;br /&gt;Haryanto, 26, salah sijine generasi mudha warga Gumping, Desa Blangu, ora nampik panemune Darmo iku. Kacihna tetep luwih akeh generasi mudha kang luwih seneng marang pagelaran campursari, nanging yektine ing bebrayan warga tlatah Gesi, mligine ing Desa Blangu, seni tayub pancen luwih ngoyot.&lt;br /&gt;”Luwih ngoyot amarga kepara saben omah ing tlatah Blangu kene, mligine ing tlatah Dukuh Gumping, wargane luwih seneng nyetel musik-musik kang biyasa kanggo ngiringi pagelaran seni tayub. Yen ora percaya, takaturi nglodhangake wektu ing wayah awan mlaku-mlaku ing tlatah Dukuh Gumping kene. Saka omah-omahe warga sing keprungu mesthi tembang-tembang kang biyasa kanggo ngiringi joged tayub, dudu tembang-tembang campur sari,” piterange Haryanto.&lt;br /&gt;Apa kang diandharake Haryanto pancen ana buktine. Nalika Espos sowan ing griyane Danang Wijaya, Kepala Desa (Kades) Blangu, saka omah warga ing sisih wetan lan kidul keprungu swara tembang-tembang sing disetel saka kaset utawa CD kang pranyata ora liya tembang-tembang kang biyasa kanggo ngiringi joged tayub.&lt;br /&gt;Miturut Haryanto, generasi mudha ing tlatah Kecamatan Gesi pancen luwih seneng marang pagelaran campursari, ananging uga tansah nekani lan ngramekake pagelaran tayub kang digelar dening warga.&lt;br /&gt;Nanging, miturut Darmo, joged tayub kang isih lestari ing tlatah Gesi nganti wektu iki, 80% wus owah saka asale. Darmo isih ngugemi joged tayub sing pakem&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6072209488519353307-7636893353303356108?l=ninkwidya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ninkwidya.blogspot.com/feeds/7636893353303356108/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ninkwidya.blogspot.com/2008/08/raket-karo-omben-omben.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6072209488519353307/posts/default/7636893353303356108'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6072209488519353307/posts/default/7636893353303356108'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ninkwidya.blogspot.com/2008/08/raket-karo-omben-omben.html' title='Raket karo omben-omben'/><author><name>ninkw1dya ( alve Dya Aurelia Latifa)</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02190777662680452949</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_vgyL60s208c/SvuobeHd1pI/AAAAAAAAADY/zqthVFtNEm8/S220/aku+di+legian.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6072209488519353307.post-7940934501495155135</id><published>2008-08-27T20:37:00.001-07:00</published><updated>2008-08-27T20:37:38.064-07:00</updated><title type='text'>Mayokake bisnis pariwisata sarana filosofi budaya Jawa</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:verdana,arial;font-size:85%;color:#000000;"&gt;Ngetrapake budaya Jawa ing jagad bisnis pariwisata yektine ora mung wates ”ngedol” maneka asil karya budaya kang pancen dadi jathi dhirine bebrayan Jawa. Njawakake ora mung wates nggelar pakeliran wayang kulit, mbabar karawitan, mamerake utawa nganggo bathik utawa mung wates nggunakake basa Jawa. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;   &lt;span style="font-family:erdana,arial;font-size:85%;color:#000000;"&gt;Miturut Public Relation Manager The Sunan Hotel Solo, Retno Wulandari, nalika wawangunem kalawan Espos, sawetara dina kapungkur, The Sunan Hotel duwe kawigaten mligi kanggo ngetrapake budaya Jawa ing pangemonahe hotel. Bisnis jasa lan pariwisata kang lumaku ing The Sunan Hotel tetep lelandhesan oyot kabudayan Jawa.&lt;br /&gt;Nanging saksapaa sing wus tau mlebu utawa nginep ing The Sunan Hotel ora bakal nemokake maneka werna pralambang asil karya budaya Jawa. Amarga The Sunan Hotel pancen milih bab filosofi-ne budaya Jawa tinimbang pralambang-pralambang arupa asil karya budaya Jawa.&lt;br /&gt;”Yen bab pralambang, ing hotel iki mung ana loro, yaiku cakrik gedhonge kang ana sing wangin pendhapa lan wayang cacah loro sing dipasang ing sakiwa tengene konter resepsionis, liyane iku ora ana,” piterange Retno.&lt;br /&gt;Nanging sawetara wektu kapungkur, hotel internasional iku kasil antuk pangaji-aji saka Kinarya Soerya Soemirat (sanggar beksan apunjer Pura Mangkunagaran) minangka hotel lan punjer bisnis kang setya ngleluri budaya Jawa. The Sunan Hotel, miturut Retno, ngleluri budaya Jawa kanthi cara ngetrapake filosofi ing pasrawungan, yaiku grapyak semanak, kebak esem, ngregani liyan lan tansah ngudi harmonisasi.&lt;br /&gt;”Trep-trepane filosofi iki ing kabeh perangan kegiyatan hotel kang gegayutan karo kabutuhane para tamu. Dadi, kacihna para tamu bakal ngrasakake dumunung ing sajroning bebrayan Jawa tanpa kudu ndulu utawa ngrungokake ciri-ciri budaya Jawa kang arupa pralambang asil karya seni lan budaya. The Sunan Hotel ora mindeng bab pralambang, ananging luwih bab filosofi-ne. Yen wates pralambang, malah para tamu ora kepranan. Apamaneh tamu hotel iki racake umur 25-35 taun lan rata-rata uga ekonomi tengahan munggah,” piterange Retno.&lt;br /&gt;Plihan mangkene iki, tambahe Retno, salah sijine lelandhesan tetenger lan jenenge hotel. Jeneng ”Sunan” kang dipilih wus yekti nuduhake yen hotele dumunung ing madyaning bebrayan Jawa. Sunan dhewe uga mujudake tetenger kabudayan Jawa kang punjere ing Kutha Solo minangka pralambang pangayoman lan panguwasa. Lan tetenger kuluk keprabon minangka cirine hotel, uga ngandhut tapsiran bab pangayoman, ngudi jejeging adil lelandhesan piwulang spiritual lan tansah ngudi murih langgenge swasana harmonis.&lt;br /&gt;Saka kandhutan tapsiran sajroning jeneng The Sunan Hotel lan tetenger kuluk keprabon iku, miturut Retno, jlentrehe menjila ing sikep kabeh pegawe ing hotel iku kang tansah ngupaya lumadine tapsiran-tapsiran iku ing tingkah laku, tata gunem lan pasrawungan. Kanthi mangkono, arepa para pegawene ora ana sing nganggo bathik, ora guneman nganggo basa Jawa lan ora ana swara tetabuhan gamelan, ananging swasana lan atmorsfer hotel tetep kalimputan perbawane budaya Jawa.&lt;br /&gt;Ing kalodhangan liya, sutresna budaya Jawa, Mufti Raharjo, ngandharake yektine ing Kutha Solo pancen kudu wus ngetrapake upaya enrich our heritage, yaiku nguwati Kutha Solo ing bab pusaka warisan para leluhur. Lan saka ukara enrich our heritage iki, ateges laku kang dumadi ora mung wates nenangi lan ngleluri kabudayan warisan leluhur, ananging uga ngupaya tuwuh lan ngrembakane budaya lan tapsiran anyar kang ngoyot marang kabudayan asline, yaiku kabudayan Jawa.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6072209488519353307-7940934501495155135?l=ninkwidya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ninkwidya.blogspot.com/feeds/7940934501495155135/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ninkwidya.blogspot.com/2008/08/mayokake-bisnis-pariwisata-sarana.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6072209488519353307/posts/default/7940934501495155135'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6072209488519353307/posts/default/7940934501495155135'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ninkwidya.blogspot.com/2008/08/mayokake-bisnis-pariwisata-sarana.html' title='Mayokake bisnis pariwisata sarana filosofi budaya Jawa'/><author><name>ninkw1dya ( alve Dya Aurelia Latifa)</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02190777662680452949</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_vgyL60s208c/SvuobeHd1pI/AAAAAAAAADY/zqthVFtNEm8/S220/aku+di+legian.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6072209488519353307.post-2933027783957455032</id><published>2008-08-27T20:36:00.000-07:00</published><updated>2008-08-27T20:37:02.365-07:00</updated><title type='text'>Bisnis kang nJawani</title><content type='html'>&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:verdana,arial;font-size:85%;color:#000000;"&gt;Wong Jawa dedagangan kuwi kudu sabar. Amarga mesthi akeh sing utang. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;   &lt;span style="font-family:erdana,arial;font-size:85%;color:#000000;"&gt;Mangkono pratelane sawetara kanca nalika ngrembug bab budaya Jawa lan bisnis. Yagene kudu sabar? Kanggo mangsuli pitakon iki bisa didudut saka gegambaran ing andharan iki.&lt;br /&gt;Nganti saiki isih mratah anane warung cilik-cilik ing maneka papan, wiwit ing tlatah kutha gedhe nganti tlatah karang pradesan. Prasasat warung-warung cilik iku ora ngrewes marang ngrembakane mal, pasar modheren, hypermarket lan liyane.&lt;br /&gt;Yen wong Jawa madeg warung, apamaneh mapan ing tlatah karang pradesan, saorane tlatah pinggiran, kudu nengenake pasrawungane. Lire, mesthi bakal akeh tepungan utawa tangga teparo sing tuku nanging mbayare keri, utawa utang dhisik. Lan rata-rata yen utang ing warung cilik lan sing duwe wus tepung apik, ora nganggo prajanjen apa-apa. Mbayare ya yen gelem, yen wus duwe dhuwit turah utawa malah yen isih kelingan.&lt;br /&gt;Dene sing madeg warung dhewe uga ora tau ngoyak-oyak sing utang supaya enggal nyaur. Malah yen liya dina teka lan utang maneh, ya tetep diladeni kanthi ulat sing semanak. Yen utange wus numpuk-numpuk, sing duwe warung racake mung nggresula ing njero ati, ora dilairake. Cekelane, tuna sathak bathi sanak.&lt;br /&gt;Kahanan kaya ngene iki, miturut sawetara kanca kang rata-rata wus setaun utawa rong taun mbangun bisnis, ana sing bebakulan cilik-cilikan, ana sing dadi distributor barang lan bisnis liyane, nuduhake yen budaya Jawa, salah sijine budaya srawung iku, ora njurung marang ngrembakane bisnis. Kepriye warunge sing cilik iku bisa ngrembaka yen saben dina ana wong sing utang lan nyaure kapan, ora genah. Dene yen arep nagih utange kuwi, sing menjila mung rasa pekewuh, ora kepenak. Apa ya pancen mangkono kuwi? Ing tebane kang luwih amba, apa pancen budaya Jawa ora bisa ditrepake ing jagad bisnis?&lt;br /&gt;Yen maca maneka teori manajemen bisnis kang ngrembaka lan mratah ing wektu-wektu pungkasan iki, yektine ana lawe abang kang nggandhekange, yaiku wiwit ninggalake teori manajenem bisnis kang mung nengenake bab rasional lan wiwit ngugemi kanthi kenceng teori kang luwih nengenake bab emosional, lan ningkat maneh kanthi kuwih ngugemi teori kang nengenake bab spiritual.&lt;br /&gt;Bab iki bisa didulu saka maneka rupa buku teori manajemen bisnis kang ngrembaka wektu-wektu pungkasan iki. Tuladhane kaya ESQ (Ary Ginanjar), Gods My CEO (Larry S Julian), lan Seven Habits (Stephen Covey). Terus apa gandheng cenenge karo budaya Jawa ing jagad bisnis?&lt;br /&gt;Budaya Jawa mligine kang ginelar ing sujarah, babad lan unen-unen yekti wus nyumadiyakake maneka piwulang, tapsiran, pitutur lan paugeran kang luwih nengenake bab emosional, munggahe spiritual. Bab iki nyata yen ora cengkah karo teori manajemen bisnis kang ngrembaka wektu-wektu pungkasan iki.&lt;br /&gt;Kayadene unen-unen tuna sathak bathi sanak, menang tanpa ngasorake, alon-alon waton kelakon lan liyane kang yektine uga dikenal lan mratah ing ”jagad bisnis wong Jawa”, jan-jane uga ngandhut tapsiran kang padha karo maneka rupa teori manajemen bisnis modheren kang nengenake efisiensi, networking, win-win solution, pelayanan lan liyane.&lt;br /&gt;Menang tanpa ngasorake cetha wujud saka win-win solution, tuna sathak bathi sanak ngandhut tapsiran bab networking. Sing dibutuhake mung ndhudhah kaskayane kabudayan Jawa iku murih tapsiran kang diugemi bisa jumbuh kalawan owah-owahan jaman, mligine ing jagad bisnis kang tansah dinamis. Dene tapsiran kang cengkah kalawan kanyatan lan kabutuhan nyata jaman saiki, ora ana alane yen ditinggalake, utawa diowahi.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6072209488519353307-2933027783957455032?l=ninkwidya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ninkwidya.blogspot.com/feeds/2933027783957455032/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ninkwidya.blogspot.com/2008/08/bisnis-kang-njawani.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6072209488519353307/posts/default/2933027783957455032'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6072209488519353307/posts/default/2933027783957455032'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ninkwidya.blogspot.com/2008/08/bisnis-kang-njawani.html' title='Bisnis kang nJawani'/><author><name>ninkw1dya ( alve Dya Aurelia Latifa)</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02190777662680452949</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_vgyL60s208c/SvuobeHd1pI/AAAAAAAAADY/zqthVFtNEm8/S220/aku+di+legian.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6072209488519353307.post-1706441221724031529</id><published>2008-08-27T20:34:00.003-07:00</published><updated>2008-08-27T20:34:55.777-07:00</updated><title type='text'>Kabotan jeneng</title><content type='html'>&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:verdana,arial;font-size:85%;color:#000000;"&gt;Njenengi bayi tumrap bebrayan Jawa kalebu laku asipat ritual. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;   &lt;span style="font-family:erdana,arial;font-size:85%;color:#000000;"&gt;Sepasar utawa limang dina sawise laire si bayi dadi dina mligi tumrap wong tuwane bayi kanggo mbiwarakake jeneng marang kulawarga liyane lan tangga teparo. Tata carane nganggo bancakan kang ditekani kabeh kulawarga, sesepuh lan tangga teparo. Jeneng sing wus dicawisake adoh dina sadurunge si bayi lair ing kalodhangan iku bakal ditetepake minangka jenenge si bayi.&lt;br /&gt;Jeneng sing diparingake marang bayi iku, miturut andharan ing sawetara kapustakan kang ngrembug bab budaya uripe wong Jawa lan tradhisi kang diugemi, biyasane nuduhake urutan laire, tingkat sosial kulawarga wong tuwane, lanang utawa wadon, prastawa tinamtu kang mbarengi laire si bayi, gegayuhan lan pangarep-arepe wong tuwa lan sapiturute. Jeneng kang mratandhani urutan laire kayadene eka, dwi, tri, catur, panca lan sapiturute.&lt;br /&gt;Dene yen jenenge iku mratandhani tingkat sosial kulawarga utawa wong tuwane, racake nggunakake tembung-tembung saka basa Sanskerta lan tembung liyane kang dadi pratandha dununge tingkat sosial ing madyaning bebrayan. Tuladhane kaya mandalaputra, gusti, dewi, sri, kusuma, ratna, adi, bhaskara, bayu lan sapiturute.&lt;br /&gt;Prastawa tinamtu kang mbarengi utawa dadi pangeling-eling marang laire si bayi dening bebrayan Jawa uga kerep didadekake dhasar ngracik jeneng. Tuladhane kaya jeneng anggana kang nuduhake yen dheweke lair ing dina Slasa, ngadina kang nuduhake yen dheweke lair ing dina Minggu (Ahad utawa Ngad) lan sapiturute. Lan jeneng kang gegayutan karo gegayuhan lan pangarep-arepe wong tuwa racake arupa tembung-tembung kang ngemu teges sarwa apik. Tuladhane kaya budiman kang ngandhut donga panyuwunan murih di bayi ing dewasane menjila dadi wong kang migunani tumrap wong liya lan bebrayan.&lt;br /&gt;Amarga jeneng tumrap bayi ing madyaning bebrayan iku ora mung wates dadi tetenger, ananging uga ngandhut tapsiran-tapsiran jero, mula ing bebrayan Jawa lumrah tinemu ana bocah kang ganti jeneng nganti wola-wali amarga dibiji kabotan jeneng. Tandhane bocah kang kabotan jeneng, miturut panemu kang lumrah ing bebrayan Jawa, arupa bocah kang tansah nandhang lelara, bocah kang tansah nandhang kacilakan utawa bocah kang tuwuh lan mekare pisik lan mentale dibiji ora jumbuh karo umure.&lt;br /&gt;Jarwo Setiyo, 33, warga asli saka tlatah Wukirsari, Cangkringan, Sleman, Yogyakarta, nalika wawangunem kalawan Espos, ing tlatah Kartasura, sawetara dina kapungkur, nelakake duwe pengalaman ganti jeneng amarga nalika cilik dibiji kabotan jeneng. Miturut Jarwo, ora kurang saka kaping papat dheweke ganti jeneng. Lan tujune nalika dheweke cilik nganti umur udakara wolung taun durung ana kawicaksanan bab akta kelairan. Lan nalika dheweke ganti jeneng kang kaping papat iku kang sabanjure dadi jeneng sing dicathet ing akta kelairan.&lt;br /&gt;”Aku mung kelingan jenengku sing sepisanan, yaiku Subagyo Widodo. Jarene bapakku, nganti umur setaun luwih aku tansah lara-laranen saengga jenengku diganti. Bubar kuwi udakara telung taun aku isih tansah lara-laranen, banjur jenengku diganti maneh. Sawise iku jarene bapak, aku kerep kacilakan. Mula jenengku diganti maneh. Pungkasan nalika aku mlebu SD kelas I jenengku diganti Jarwo Setiyo nganti saiki,”piterange Jarwo.&lt;br /&gt;Kahanan kabotan jeneng iki, ing jaman saiki wus arang tinemu amarga nalika bayi lair lan dijenengi wus kudu enggal didaptarake marang sing kawogan ing paprentahan lan banjur digawekake akta kelairan.&lt;br /&gt;Miturut pamawase Jarwo, jan-jane dheweke nalika cilik tansah lara-laranen ora amarga kabotan jeneng, ananging amarga gizi sing kurang apik. Bapake mung among tani sing anake cacah sanga, dene ibune mung ibu rumah tangga. Dene nalika kerep nandhang kacilakan, amarga nalika iku, miturut Jarwo, dheweke pancen kalebu bocah sing ndhridhis, rada nakal lan seneng sakarepe dhewe&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6072209488519353307-1706441221724031529?l=ninkwidya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ninkwidya.blogspot.com/feeds/1706441221724031529/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ninkwidya.blogspot.com/2008/08/kabotan-jeneng.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6072209488519353307/posts/default/1706441221724031529'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6072209488519353307/posts/default/1706441221724031529'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ninkwidya.blogspot.com/2008/08/kabotan-jeneng.html' title='Kabotan jeneng'/><author><name>ninkw1dya ( alve Dya Aurelia Latifa)</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02190777662680452949</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_vgyL60s208c/SvuobeHd1pI/AAAAAAAAADY/zqthVFtNEm8/S220/aku+di+legian.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6072209488519353307.post-4245615561525658688</id><published>2008-08-27T20:34:00.001-07:00</published><updated>2008-08-27T20:34:27.015-07:00</updated><title type='text'>Budaya Jawa ing jagad bisnis</title><content type='html'>&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:verdana,arial;font-size:85%;color:#000000;"&gt;Michael Everson, nimpuna unicoding saka Unicode Consortium, Amerika Serikat, ndalem taun 2007, nelakake rasa mongkog lan gumune nalika meruhi sawetara papan ing Kutha Solo nggunakake aksara Jawa kanggo nulis jenenge papan iku. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;   &lt;span style="font-family:erdana,arial;font-size:85%;color:#000000;"&gt;Mbokmenawa, miturut panemune Ketua Persatuan Pedalangan Indonesia (Pepadi) Jateng, Ki Sutadi, sawetara dina kapungkur ing Griya Solopos, yen Michael teka maneh ing Kutha Solo ing dina-dina pungkasan iki, dheweke bakal sansaya mongkog lan gumun amarge wus sansaya akeh papan utawa wangunan kang nggunakake aksara Jawa kanggo nulis jenenge papan utawa wangunan iku.&lt;br /&gt;Kutha Solo pancen sansaya adreng ndhudhah maneka kaskayane kabudayan Jawa kanggo ngrerengga swasana kutha. Ancase, miturut Walikota Solo, Joko Widodo, murih Kutha Solo kang duwe slogan kutha budaya iku temen-temen duwe ciri mligi asumber oyot kabudayane, yaiku kabudayan Jawa.&lt;br /&gt;Lan kasunyatane, nalika Walikota Solo netepake kawicaksanan ngetrapake kasakayane budaya Jawa ing samubarang kegiyatan mbangun lan mekarake Kutha Solo, akeh pehak kang aweh panjurung, kalebu ing kalangane kegiyatan bisnis lan pariwisata.&lt;br /&gt;Kayadene kuwajiban nulis jeneng papan nggunakake aksara Jawa, yektine ora mung wates kanggo aweh tetenger yen Kutha Solo iku oyot kabudayane ya kabudayan Jawa, ananging uga kanggo ”ngedol” Kutha Solo.&lt;br /&gt;Yen Kutha Solo duwe ciri mligi kang ngoyot marang kabudayane, miturut budayawan Jawa, Winarso Kalinggo, samengkone Kutha Solo bisa duwe ciri mligi kang beda yen katandhingake karo kutha-kutha liyane, ing tlatah regional, nasional apadene internasional.&lt;br /&gt;Pawadan ciri kang mligi iku, yaiku ciri asumber oyot kabudayan Jawa, samengkone Kutha Solo bakal narik kawigatene wong-wong saka sanjabane Kutha Solo. Yen wus mangkono, yekti Kutha Solo bakal payu ing madyaning bisnis lan pariwisata. Tebane, bakal akeh wong saka sanjabane Kutha Solo kang mblanjakake dhuwite ing Kutha Solo. Warga Solo akeh kang kepayon dodolane lan tundhone ekonomi Kutha Solo uga ningkat.&lt;br /&gt;Pralambang&lt;br /&gt;Lan kasunyatan mangkono iku, uga bisa dadi bukti, yektine budaya Jawa bisa ditrepake ing madyaning bisnis lan pariwisata. Budaya Jawa kang dikarepake nglimputi bab pralambang-pralambang kabudayan kayadene aksara Jawa lan maneka rupa seni asumber budaya Jawa, lan uga bab filosofi utawa kandhutan tapsiran kang tebane amba banget.&lt;br /&gt;Pembantu Rektor I UNS, Prof Dr Ravik Karsidi, nalika mbuka seminar nasional Reaktualisasi Nilai-Nilai Luhur Budaya Jawa, ing Fakultas Sastra dan Seni Rupa (FSSR) UNS, dina Senen (7/4), ngandharake madyaning bisnis tansah nengenake bab daya saing. Budaya yektine uga duwe kaskayane tapsiran, sikep lan filosofi kang bisa njurung tuwuh lan ngrembakane daya saing iku.&lt;br /&gt;Sing dibutuhake ora liya upaya kanggo ndhudhah kaskayane budaya Jawa murih bisa ditrep-ake supaya njurung tuwuh lan ngrembakane daya saing. Kayadene filosofi alon-alon waton kelakon, yekti kudu didhudhah murih bisa jumbuh karo kabutuhan nuwuhake lan ngrembakakake daya saing iku.&lt;br /&gt;Madyaning bisnis, uga pariwisata, tansah mbutuhake trep-trepane efisiensi, efektivitas pelayanan, cepete ngrampungi gaweyan kanthi asil optimal lan bisa nututi lakune jaman lan owah-owahan ing madyaning bebrayan internasional.&lt;br /&gt;Lamun wong Jawa bisa ndhudhah kaskayane kabudayane dhewe, miturut Ravik, lan bisa njumbuhake karo kabutuhan-kabutuhan ing madyaning bebrayan jaman modheren, kalebu kabutuhan ing madyaning bisnis kaya mangkono iku, samengkone budaya Jawa lan bebrayan Jawa bakal menjila, duwe daya saing kang ngedab-edabi saengga bisa ngadhepi ombyaking kabudayan global.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6072209488519353307-4245615561525658688?l=ninkwidya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ninkwidya.blogspot.com/feeds/4245615561525658688/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ninkwidya.blogspot.com/2008/08/budaya-jawa-ing-jagad-bisnis.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6072209488519353307/posts/default/4245615561525658688'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6072209488519353307/posts/default/4245615561525658688'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ninkwidya.blogspot.com/2008/08/budaya-jawa-ing-jagad-bisnis.html' title='Budaya Jawa ing jagad bisnis'/><author><name>ninkw1dya ( alve Dya Aurelia Latifa)</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02190777662680452949</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_vgyL60s208c/SvuobeHd1pI/AAAAAAAAADY/zqthVFtNEm8/S220/aku+di+legian.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6072209488519353307.post-9101743456919062282</id><published>2008-08-27T20:33:00.001-07:00</published><updated>2008-08-27T20:33:50.900-07:00</updated><title type='text'>Duwe kalungguhan luhur</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:verdana,arial;font-size:85%;color:#000000;"&gt;Sansaya akehe wanita (Jawa) jaman modhern kang kridha ing madyaning bebrayan, kepara ora sithik kang nyekel panguwasa utawa dadi pangarsa, yektine ora cengkah kalawan filosofi budaya Jawa. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;   &lt;span style="font-family:erdana,arial;font-size:85%;color:#000000;"&gt;Miturut budayawan kang uga sutresna budaya Jawa, Mufti Raharjo, nalika wawangunem kalawan Espos ing kantor Dinas Pariwisata Seni dan Budaya (Disparsenbud) Kota Solo, sawetara dina kapungkur, budaya Jawa yektine ndunungake wanita ing kalungguhan kang luhur. Mligine tumrap wanita kang dadi jejering ibu, budaya Jawa paring pangaji-aji kang prasasat tanpa winates. Kayadene nalika ngetrapake sesebutan ibu marang punjere paprentahan nagara, yaiku ibu kota.&lt;br /&gt;Saliyane iku ing tata administrasi uga ana sesebutan buku induk, tumrap tanah wutah getih papan lair lan dumunung sebutane ibu pertiwi. Ing tangan lan sikile manungsa uga ana panganggone sebutan ibu, yaiku ibu jari.&lt;br /&gt;”Sesebutan kaya mangkono iku yektine ora mung wates sesebutan ngono wae. Iki nuduhake yen yektine ing kabudayan Jawa, kang diakoni utawa ora sasuwene iki kasil dadi werna menjila ing kabudayan nasional Indonesia, jejering ibu, tebane kang luwih amba ateges wanita, pancen duwe kalungguhan luhur, kalungguhan mligi lan pinuji banget,” piterange Mufti.&lt;br /&gt;Dene bab kanyatan akeh wanita kang banjur katelah mung kanca wingking, miturut Mufti, ora uwal saka tatanan sosial kang banjur diugemi dadi kabudayan ing bebrayan. Lan ing tatanan iku, para wanita ora kuwawa nuntut hake kang yektine duwe kalungguhan luhur iku, amarga ana wewaler kang ngalang-alangi.&lt;br /&gt;Filosofi-ne yekti ndunungake wanita ing kalungguhan kang luhur, dene nalika lumaku ing bebrayan akeh wanita kang ditindhes, ora bisa nggayuh pamulangan kang dhuwur kayadene priya lan sawetara bab liyane kang ndadekake wanita kalah maju tinimbang priya sejatine asil tatanan sosial kang diracik dening masarakat dhewe. Ing kalodhangan liya, sastrawan kang uga paraga pangurus Dewan Kesenian Kota Solo (DKKS), Joko Sumantri, ngandharake akehe wanita (Jawa) jaman saiki kang kasil ngowahi jarwadhosok ”wani ditata” dadi ”wani nata” ora liya uga asil owah-owahan jaman.&lt;br /&gt;Kawiwitan nalika ideologi kapitalisme kasil nguwasani kabeh perangan uripe manungsa ing donya iki. Salah siji wujude nalika akeh wanita kang dadi buruh ing maneka industri. Mula bukane mung buruh kang gampang diatur, ananging wusana dadi balungane ekonomi kulawarga amarga priya minangka pangarsa kulawarga ora duwe pakaryan lan pametu kang gumathok.&lt;br /&gt;”Saka kahanan mangkene iki suwening suwe para wanita kang mula bukane mung buruh iku banjur menjila dadi saka gurune ekonomi kulawarga lan sumrambahe uga dadi saka gurune ekonomi bebrayan. Lan nalika sansaya akeh wanita kang nyekel saka guru ekonomi, mesthi wae kadidene banyu mili sabanjure bakal ngrembaka dadi saka guru ing bab liyane. Kapitalisme dhewe jan-jane uga mbutuhake kridhane wanita, ora nyukupi yen mung nengenake priya,” piterange Joko.&lt;br /&gt;Ing tlatah utawa wewengkon kang kabudayane luwih asipat tinarbuka lan egaliter, sansaya akehe wanita kang dadi saka guru ekonomi iku banjur nuwuhake kalodhangan mirunggan kanggo ngrembakakake kawasisan lan kaprigelan ing bab liyane. Wusana para wanita ora mung wates dadi buruh, ananging uga menjila dadi pengusaha, dadi bos, dadi pangarsa lan nyekel panguwasa kang wenang ngatur lan uga wenang gawe aturan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6072209488519353307-9101743456919062282?l=ninkwidya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ninkwidya.blogspot.com/feeds/9101743456919062282/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ninkwidya.blogspot.com/2008/08/duwe-kalungguhan-luhur.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6072209488519353307/posts/default/9101743456919062282'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6072209488519353307/posts/default/9101743456919062282'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ninkwidya.blogspot.com/2008/08/duwe-kalungguhan-luhur.html' title='Duwe kalungguhan luhur'/><author><name>ninkw1dya ( alve Dya Aurelia Latifa)</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02190777662680452949</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_vgyL60s208c/SvuobeHd1pI/AAAAAAAAADY/zqthVFtNEm8/S220/aku+di+legian.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6072209488519353307.post-5166773167164090877</id><published>2008-08-27T20:32:00.002-07:00</published><updated>2008-08-27T20:33:16.137-07:00</updated><title type='text'>Wanita, budaya lan agama</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:verdana,arial;font-size:85%;color:#000000;"&gt;Sawetara karya sastra Jawa ana kang mbabar andharan mligi bab wanita. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;   &lt;span style="font-family:erdana,arial;font-size:85%;color:#000000;"&gt;Antarane, Serat Centhini, Serat Yadnyasusila, Serat Candrarini, Serat Wulang Putri lan liyane.&lt;br /&gt;Serat-serat kasebut ngandhut piwulang bab etika lan moral tumrap wanita. Anane serat-serat piwulang kang mligi ngrembug bab wanita iki nuduhake yen prekara wanita mujudake bab kang narik kawigaten tumrap para pujangga lan raja ing tanah Jawa jaman biyen.&lt;br /&gt;Ancase para pujangga ngripta serat-serat piwulang bab wanita jumbuh karo kabutuhan pulitik jaman iku. Dene ancase, miturut andharan ing sawetara pustaka, ora liya kanggo njaga murih tetep tentreme sesambungan lan pasrawungan ing antarane warga karaton kang saperangan dumadi saka para wanita. Ana kapentingan pulitik nyata kang njurung dumadine serta-serta piwulang kasebut, yaiku kanggo ngawekani tuwuhe dredah ing antarane warga karaton kanthi cara mikukuhi tatanan sosial lelandhesan budaya Jawa kang patriarkhi.&lt;br /&gt;Wusana, wanita didunungake minangka titah kang wewenange hamung ing bab ngreksa bale somah utawa wewengkon domestik, iki kang banjur nuwuhake unen-unen wanita iku minangka kanca wingkinge priya lan wanita iku kudu wani ditata. Dene priya didunungake minangka titah pinunjul lan nguwasani wewengkon publik.&lt;br /&gt;Riptan tatanan sosial kang ndunungake wanita ing wewengkon domestik iki uga lelandhesan panganggep kang gegayutan karo raga lan batine wanita kang ringkih, luwih nengenake rasa (emosi), kurang pikir (irasional) lan uga ora duwe rasa manteb marang dhiri pribadine.&lt;br /&gt;Panganggep ngene iki banjur nuwuhake pambiji yen wanita iku ora duwe hak kanggo netepake putusan utawa kawicaksanan, kalebu tumrap dhiri pribadine. Panganggep kang banjur menjila dadi perangane budaya iki tetep lumaku engga gumantine abad XX lan nganti kawitan abad XXI iki. Jumbuh karo kanyatan yen budaya iku tansah ngalami owah-owahan nut lakune jaman, panganggep marang wanita asumber serat-serat piwulang iku saiki wus ngalami owah-owahan. Akeh wanita Jawa kang saiki mbangun kridha ing wewengkon publik. Kacihna wujude isih wates retorika politis.&lt;br /&gt;Pancen wus akeh wanita kang nyekel panguwasa, wenang ngatur lan wenang gawe aturan, ananging durung ndayani banget marang upaya ngowahi panganggep budaya bab wanita Jawa kang asumber serat piwulang asiling kabudayan Jawa punjer karaton iku.&lt;br /&gt;Nalika bebrayan Jawa akeh sing wus ngiwakake oyot kabudayane lan milih ngugemi piwulang agama, pranyata piwulang agama bab dununge wanita tetep isih diwernani panganggep manawa wanita iku titah nomer loro, nomer sijine tetep priya.&lt;br /&gt;Riffat Hasan, guru besar Religious Studies Universitas Lousville, Kentucky, AS, nelakake panganggep lelandhesan piwulang agama kang ndunungake wanita iku luwih asor tinimbang priya nganti saiki isih urip ing bebrayan.&lt;br /&gt;Miturut Riffat, kahanan mangkene iki dumadi amarga piwulang agama iku tetep diwadhahi dening wangunan budaya lan sosial kang asipat patriarkhi. Lan kabudayan Jawa kang asumber karaton nyata-nyata mikukuhi ”kawicaksanan sosial” ndunungake wanita ing papan kang luwih asor tinimbang priya.&lt;br /&gt;Ing jaman modhern, globalisasi, lan informasi iki tumrap wanita Jawa tetep isih mbutuhake perjuwangane kanggo mujudake urip kang bisa ndunungake wanita lan priya minangka titah kang padha-padha kalungguhane minangka manungsa&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6072209488519353307-5166773167164090877?l=ninkwidya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ninkwidya.blogspot.com/feeds/5166773167164090877/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ninkwidya.blogspot.com/2008/08/wanita-budaya-lan-agama.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6072209488519353307/posts/default/5166773167164090877'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6072209488519353307/posts/default/5166773167164090877'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ninkwidya.blogspot.com/2008/08/wanita-budaya-lan-agama.html' title='Wanita, budaya lan agama'/><author><name>ninkw1dya ( alve Dya Aurelia Latifa)</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02190777662680452949</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_vgyL60s208c/SvuobeHd1pI/AAAAAAAAADY/zqthVFtNEm8/S220/aku+di+legian.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6072209488519353307.post-4698614754595074294</id><published>2008-08-27T20:32:00.001-07:00</published><updated>2008-08-27T20:32:37.959-07:00</updated><title type='text'>Ramalan jaman edan</title><content type='html'>&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:verdana,arial;font-size:85%;color:#000000;"&gt;Kuncarane pujangga Ranggawarsita nembus laladan lan wektu nganti taun 2008 iki. Kawentare amarga sujarah utawa lelabuhane ana ing jagad kasusastran Jawa. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;   &lt;span style="font-family:erdana,arial;font-size:85%;color:#000000;"&gt;Tulisane ngumandhang lan merbawani para parampara, nimpuna, ilmuwan, sastrawan lan bebrayan ing alam global wektu iki.&lt;br /&gt;Mula ora aneh menawa tumeka dina iki, akeh banget ayahan pengetan, jiyarah, sarasehan, seminar ngenani adikaryane pujangga Ranggawarsita. Ndhudhah buku-buku anggitane pujangga Ranggawarsita pepak banget. Akeh kang nyakup lan ngukup babagan, kasusastran, kabudayan, babad utawa dongeng, panggula wenthah (pendhidhikan), paramasastra, bausastra, tatacara, primbon, kawruh lepasing jiwa, filsafat, jangka lan liya-liyane. Mindeng buku-buku karyane pujangga Ranggawarsita akeh tinemu tembung (term), gegaran utawa konsep ngenani wulang wuruk, kahanan praja, tatacara, panguripan, ciri-ciri, watak, jangka utawa ramalan.&lt;br /&gt;Manut andharane Darusuprapta (sawargi) ana ing Almanak Dewi Sri taun 1974 udakara ana 60 buku sing tinulis dening pujangga Ranggawarsita. Serat Jayengbaya dianggit rikala umur 24 taun bisa dadi titikan menawa Bagus Burham (asma timure pujangga Ranggawarsita) duweni bakat ngarang utawa nulis sing ngedab-edabi. Nyinau Serat Jayengbaya tinemu konsep panguripan kanggo nggayuh katentreman lan kabagyan. Gagasan lan imaginasi-ne ngrembaka ngandharake patang puluh pitu jinis pakaryan. Kabeh pakaryan ora ana kang dipilih amarga sarwa akeh kekurangane. Putusane banjur bali marang pilihane sakawit amarga diantepi bakal bisa urip lestari.&lt;br /&gt;Minangka dudutan, kanggo sangu jaya ing bebaya (jayengbaya) prelu taberi anggone makarya, andhap asor, wicaksana, lan tansah syukur marang Gusti Ingkang Maha Kawasa. Serat Jayengbaya dadi titikan menawa pujangga Ranggawarsita mumpuni lan lantip panggrahitane mindeng rupa-rupa kahanan wektu iku. Kajaba saka iku pujangga Ranggawarsita duweni watak seneng lelana brata lan taberi maguru tekan tlatah Bali. Karana iku pujangga Ranggawarsita nguwasani sakehing ngelmu adhedhasar kanyatan, referensi utawa wewaton agama Islam, Kejawen, Budha lan Hindhu. Buku-buku kang ndudut ati lan banjur kawentar yaiku Kalatidha minangka titikan anane Jaman Edan. Buku Jakalodhang ngemot ramalan arep tekane jaman apik (kamardikan) lan buku Sabdajati ngenani ramalan nganti tumekane pujangga Ranggawarsita arep murut ing kasedan jati. Wewaton buku-buku kasebut ana sing ngarani menawa pujangga Ranggawarsita duweni kawaskithan utawa ngerti sadurunge winarah.&lt;br /&gt;Ramalan arep anane Jaman Edan dadi kembang lambe lan wiwit kesuwur rikala Bung Karno pidhato ana peresmian patung Ranggawarsita ing museum Radya Pustaka tanggal 11 November 1953. Sinebut ana ing Serat Kalatidha ngenani arep anane jaman edan ewuh aya ing pambudi. Ana ing jaman edan lakuning pranatan rusak, ora ana patuladhan, akeh wong pinter padha melu, kelu, lan katut ombyaking jaman. Menawa melu ngedan ora tahan, menawa ora melu nglakoni ora bakal oleh panduman, wekasane bisa kaliren. Nanging manut takdir Allah, begja begjane kang lali luwih begja kang eling lan waspada. Kahanan kang sinebut ing wektu iku kaya-kaya akeh sing cocok karo kahanan wektu iki. Ing babagan hukum utawa pranatan akeh sing padha nglanggar. Tumindak korupsi lan kolusi mrambah ana ngendi-endi. Kahanan ekonomi mrihatinake amarga rega-rega padha mundhak lan kehe wong nganggur lan mlarat.&lt;br /&gt;Serat Kalatidha menehi piwulang ngadhepi jaman edan, yaiku supaya padha mawas dhiri, eling lan waspada. ::&lt;b&gt;Ki Sutadi, Pangarsa Pepadi Jawa Tengah&lt;/b&gt;::&lt;/span&gt;      &lt;span class="copy"    style="font-family:erdana,arial;font-size:85%;color:#000000;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6072209488519353307-4698614754595074294?l=ninkwidya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ninkwidya.blogspot.com/feeds/4698614754595074294/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ninkwidya.blogspot.com/2008/08/ramalan-jaman-edan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6072209488519353307/posts/default/4698614754595074294'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6072209488519353307/posts/default/4698614754595074294'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ninkwidya.blogspot.com/2008/08/ramalan-jaman-edan.html' title='Ramalan jaman edan'/><author><name>ninkw1dya ( alve Dya Aurelia Latifa)</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02190777662680452949</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_vgyL60s208c/SvuobeHd1pI/AAAAAAAAADY/zqthVFtNEm8/S220/aku+di+legian.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6072209488519353307.post-7150812573364403973</id><published>2008-08-27T20:29:00.002-07:00</published><updated>2008-08-27T20:30:06.790-07:00</updated><title type='text'>Marisake sastra adiluhung lan kaprecayan mistik</title><content type='html'>&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:verdana,arial;font-size:85%;color:#000000;"&gt;Minangka pujangga kang antuk sesebutan pujangga panutup, RNg Ranggawarsita ninggal warisan kang ora bisa dipetung ajine. Wus udakara 135 taun pujangga iki bali ing pangayunaning Pangeran, ananging nganti wektu iki kaya-kaya isih tetep urip ing madyaning bebrayan, mligine bebrayan Jawa. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;   &lt;span style="font-family:erdana,arial;font-size:85%;color:#000000;"&gt;Pasareyane kang dumunung ing tlatah Desa Palar, Kecamatan Trucuk, Klaten saben dina malem Jemuah utawa Kemis wengi tansah dikebaki warga bebrayan Jawa saka ngendi-endi tlatah. Sedyane tumeka ing pasareyane iku, saliyane kanggo jiyarah uga kanggo nenepi. Dalan tumuju pasareyan iku saka ratan gedhe Solo-Yogyakarta wus arupa aspal alus.&lt;br /&gt;Miturut pratelane Mbah Gino Sukarto, 77, kang wus udakara 60 taun setya nunggu pasareyane RNg Ranggawarsita, saben ana acara pilihan lurah utawa hajatan pulitik liyane uga mesthi ana rombongan warga padha nenepi ing sakupenge pasareyan.&lt;br /&gt;”Warga sing tumeka mrene ancase warna-warna. Ana sing kepengin laris dedagangane, ana sing pengin kapilih ing pilihan lurah, ana sing pengin lumintu rejekine lan sapiturute. Kabeh iku miturutku bali ing niyat lan kapercayane. Lan kapercayan iku ora bisa dipeksa-peksa. Yen ana warga sing percaya yen pasareyane RNg Ranggawarsita iki duwe perbawa apik tumrap laku dedagangan ya sumangga wae, mangkono uga kang gegayutan kalawan karep lan niyat liyane,” piterange Gino.&lt;br /&gt;Perbawane pujangga panutup iki, miturut Gino, pancen ora ana sudane. Emane, nalika Espos tumeka ing pasareyan ing Desa Palar iku, dina Senen (19/5) kapungkur, jobin teras ing gedhong cungkup katon reget banget. Lawange gedhong cungkup ditutup rapet. Jarene Mbah Gino, gedhong iku bakal diresiki saben dina Kemis awan. Saengga yen malem Jemuah akeh warga sing tumeka kahanane wus resik. Lan saben malem Jemuah lawang gedhong cungkup dibukak kanggo warga sing kepengin jiyarah.&lt;br /&gt;Ing sacedhake ge-dhong cungkup pasareyane RNg Ranggawarsita ana pasareyane Carl Frederick Winter utawa kang kondhang kanthi jeneng CF Winter. Dheweke nate dadi juru basa ing Karaton Kasunanan Surakarta lan kerep sesambungan kalawan RNg Ranggawarsita.&lt;br /&gt;Saliyane marisake perbawa asipat mistik ing pasareyane, pujangga Jawa pungkasan iki uga marisake maneka warna karya sastra kang nganti saiki isih lestari. Miturut Wahono, saka Museum Ranggawarsita Semarang, nganti sedane ing tanggal 24 Desember 1873, RNg Ranggawarsita marisake kurang luwih 99 karya sastra. Karyane pujangga Jawa pungkasan iki nglimputi maneka bab, antarane crita para dewa lan lakon wayang (Pustaka Raja Purwa), gegambaran kaanan jaman kang kondhang sinebut jaman edan (Serat Kalatidha), ramalan bakal tekane jaman kepenak tumrap bangsa Indonesia (Serat Jaka Lodhang), ramalan bab sipat jaman makmur lan tindak tanduke manungsa sing srakah (Sabdatama), ramalan jaman lan pamite RNg Ranggawarsita kang bakal bali ing ngayunaning Pangeran (Sabda Jati), crita roman (Serat Cemporet), ngelmu kasampurnan (Hidayat Jati) lan liyane.&lt;br /&gt;Dene miturut budayawan Jawa RS Subalidinata, RNg Ranggawarsita kang antuk gelar/sesebutan Abdi Dalem Kaliwon Nem Kadipaten Anom, Pujangga Dalem ing Karaton Surakarta Hadiningrat ngasilake karya sastra cacah 60 kang wus dikenal dening bebrayan. Dene sing durung dikenal utawa arang dirembug ing bebrayan, isih akeh maneh. Bab kang kaemot ing karyane iku nglimputi basa lan sastra, sujarah, dongeng, roman klasik, seni budaya, crita wayang, ramalan, filsafat lan liyane&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6072209488519353307-7150812573364403973?l=ninkwidya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ninkwidya.blogspot.com/feeds/7150812573364403973/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ninkwidya.blogspot.com/2008/08/marisake-sastra-adiluhung-lan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6072209488519353307/posts/default/7150812573364403973'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6072209488519353307/posts/default/7150812573364403973'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ninkwidya.blogspot.com/2008/08/marisake-sastra-adiluhung-lan.html' title='Marisake sastra adiluhung lan kaprecayan mistik'/><author><name>ninkw1dya ( alve Dya Aurelia Latifa)</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02190777662680452949</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_vgyL60s208c/SvuobeHd1pI/AAAAAAAAADY/zqthVFtNEm8/S220/aku+di+legian.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6072209488519353307.post-872475359071116914</id><published>2008-08-27T20:29:00.001-07:00</published><updated>2008-08-27T20:29:31.541-07:00</updated><title type='text'>Akeh wong Jawa isin kalawan jawane</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:verdana,arial;font-size:85%;color:#000000;"&gt;Pengetan dina Kebangkitan Nasional ora uwal saka bab ngleluri rasa nasionalisme. Miturut sejarahwan saka UNS kang uga budayawan, Soedarmono SU, bab nasionalisme iki ing wektu-wektu pungkasan iki pancen wus ngalami owah-owahan. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;   &lt;span style="font-family:erdana,arial;font-size:85%;color:#000000;"&gt;Pawadan iku, nalika hamicara ing sawijining pirembugan sawetara dina kapungkur, Soedarmono mrayogakake supaya pendhidhikan kabangsan diwulangake ing sekolahan. Iki kanggo ngawekani dayane owah-owahan jaman kang ing nagara iki uga nuwuhake bab kang ora becik ing bab nyawijine bangsa Indonesia.&lt;br /&gt;Malah sawetara sarjana sujana mbiji, ing wektu-wektu pungkasan iki rasa kabangsan ing kalangane generasi mudha sansaya nipis. Kamangka yen sing aran rasa kabangsan iku sansaya nipis, tundhone bakal ndadekake bubrahe urip bebrayan minangka sawijining bangsa.&lt;br /&gt;Miturut andharan ing buku Nasionalisme, Arti dan Sejarahnya, karyane Hans Kohn, yektine nasionalisme iku bisa ditegesi minangka panemu kang ndunungake kasetyane saben wong marang nagara utawa kabangsan.&lt;br /&gt;Tuwuhe kasetyan iki kawiwitan saka rasa nyawiji lan gumantung marang tanah wutah getihe, marang tradhisi-tradhisi lan panguwasa resmi. Nasionalisme iki saya suwe saya dadi perangan lan ubarampe mligi kanggo mbangun urip lan panguripan kang asipat umum apadene kang asipat katumrapake marang dhiri pribadi.&lt;br /&gt;Miturut andharane Kohn, bangsa-bangsa ing alam donya iki mujudake wohing daya uriping sujarah. Pawadan iku kahanane uga tansah ngalami owah gingsir, ora baku lan gumathok.&lt;br /&gt;Jati dhiri&lt;br /&gt;Bangsa mujudake kaimpune maneka warna golongan lan ora bisa ditegesi kanthi teges kang gumathok. Lan racake bangsa-bangsa, kalebu bangsa Indonesia, duwe ciri mligi kang ndadekake beda kalawan bangsa liyane. Bab bedane iki upamane amarga garis teturun, basa, tlatah dedununge, nyawijine ing bab pulitik, adat tradhisi, agama lan bab liyane.&lt;br /&gt;Saka kahanan mangkene iki ora nggumunake yen sawijining bangsa bisa pecah amarga daya kanggo nyawijekake kabeh wargane wus ngalami owah-owahan. Mangkono uga bisa wae dadi sansaya kuwat amarga kabeh perangan lan ubarampe kang nuwuhake sikep kabangsan lan nasionalisme tansah dikuwati.&lt;br /&gt;Miturut Goenawan Mohamad, rasa nyawiji minangka sawijining bangsa kawitane pancen tuwuh sithik mbaka sithik. Kridhane Budi Utomo, uwal saka pradondi kang ngrembaka ing wektu-wektu pungkasan iki, sithik apa akeh tetep aweh panjurung marang tuwuh lan ngrembakane rasa nduweni jati dhiri tumrap bangsa Indonesia. Kawitane pancen ing tlatah Jawa lan Madura lan banjur sumrambah ing tlatah liyane.&lt;br /&gt;Emane, miturut budayan Jawa, Winarso Kalinggo, jaman saiki malah akeh wong Jawa sing isin kalawan Jawane. Tundhone akeh wong Jawa kang milih ngiwakake oyot kabudayane lan banjur milih nggilut kabudayan kang asale saka nagara manca.&lt;br /&gt;Lan nalika ninggalake kabudayane, kamangka budaya anyar sing luwih narik kawigatene durung kasil direngkuh, wusana nuwuhake kahanan bebrayan kang prasasat ora duwe jati dhiri.&lt;br /&gt;Kahanan bebrayan kang prasasat ora duwe jati dhiri iki kang saiki dumadi ing bangsa Indonesia, kalebu ing bebrayan Jawa.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6072209488519353307-872475359071116914?l=ninkwidya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ninkwidya.blogspot.com/feeds/872475359071116914/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ninkwidya.blogspot.com/2008/08/akeh-wong-jawa-isin-kalawan-jawane.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6072209488519353307/posts/default/872475359071116914'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6072209488519353307/posts/default/872475359071116914'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ninkwidya.blogspot.com/2008/08/akeh-wong-jawa-isin-kalawan-jawane.html' title='Akeh wong Jawa isin kalawan jawane'/><author><name>ninkw1dya ( alve Dya Aurelia Latifa)</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02190777662680452949</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_vgyL60s208c/SvuobeHd1pI/AAAAAAAAADY/zqthVFtNEm8/S220/aku+di+legian.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6072209488519353307.post-3065934205710456566</id><published>2008-08-27T20:26:00.000-07:00</published><updated>2008-08-27T20:27:11.657-07:00</updated><title type='text'>Beksa, karya jiwa raga</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:verdana,arial;font-size:85%;color:#000000;"&gt;Beksan Bedhaya Pangkur dadi pasugatan mirunggan ing upacara pahargyan manten putri Dalem Sinuhun Pakubuwono XIII Tedjowulan, GRAj Putri Woelan Sari Dewi lan Kus Hermawan Bramasto, dina Setu (28/6), ing Dalem Wuryoningratan. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;   &lt;span style="font-family:erdana,arial;font-size:85%;color:#000000;"&gt;Bedhaya Pangkur diparagani pambeksa wanita cacah sanga. Bedhaya iki nggambarake swasana batine priya lan wanita kang nembe pepasihan. Obah mosiking para pambeksa kairingan gendhing Ketawang Pangkur.&lt;br /&gt;Miturut paraga Humas Pakubuwono XIII Tedjowulan, KRHT Bambang Pradotonagoro, pasugatan beksan Bedhaya Pangkur dipilih dadi pasugatan ing pahargyan manten iku amarga pancen jumbuh banget kalawan werdine pikraman antarane priya lan wanita. ”Bedhaya Pangkur iku yasan Dalem Sinuhun Pakubuwono VIII sing asma timure KGPH Hangabehi. Bedhaya Pangkur nggambarake swasana batine raja sing nembe pepasihan kalawan wanita sing banget ditresnani,” piterange Bambang.&lt;br /&gt;Ing kalodhangan sadurunge, nalika pahargyan pikraman antarane putra putri Dalem KGPAA Mangkunagara IX, GRAj Agung Putri Suniwati lan Sarwana Thamrin, beksan Bedhaya Surya Sumirat dadi pasugatan mligi ing acara pahargyan temu penganten sakloron, mapan ing Pendhapa Ageng Pura Mangkunagaran. Miturut andharan ing sawetara kapustakan kang kasimpen ing Reksa Pustaka Pura Mangkunagaran, lan uga andharane Rusini, dosen ing ISI Solo, beksan Bedhaya Surya Sumirat diracik taun 1990.&lt;br /&gt;Bumi Pertiwi&lt;br /&gt;Beksan iku ngandhut tapsiran semangate para prajurit kang makantar-kantar. Para pambeksa Bedhaya Surya Sumirat nganggo slempang kang ana gambar srengenge lan nyengkelit pistol. Gambar srengenge ing slempang iki kang dadi gegambaran surya kang nembe sumirat.&lt;br /&gt;Dene pistol nuduhake gegambaran semangate para prajurit kang makantar-kantar kanggo ngrungkebi bumi pertiwi. Bedhaya Surya Sumirat dhewe ngandhut gegambaran lelakon kridhane Pangeran Sambernyawa, utawa Raden Mas Said, nalika nglawan kompeni Walanda sakwadyabalane lan banjur kasil ngedegake praja Mangkunagaran.&lt;br /&gt;Bedhaya Pangkur lan Bedhaya Surya Sumirat mujudake perangan kaskayane seni beksan asumber kabudayan Jawa. Lan saben beksan sing diracik asumber kabudayan Jawa yekti ngandhut tapsiran tinamtu. Ana tapsiran kang asipat vertikal, yaiku gegambaran sesambungan antarane manungsa lan Sing Gawe Urip, lan ana tapsiran kang asipat horisontal, yaiku gegambaran sesambungan ing antarane manungsa utawa ing madyaning bebrayan.&lt;br /&gt;Miturut sawargi KRT S Witoyo Tondodipuro, pangarsa Sanggar Beksan Arena Langen Budaya ing Mutihan, Laweyan, kang seda dina Kemis (29/5) kapungkur, nate ngendika marang Espos menawa beksan pancen ora mung wates obah mosiking raga kairingan unine gamelan.&lt;br /&gt;Beksan tradhisi mligine, lan uga beksan modhern utawa kontemporer, racake ngandhut tapsiran-tapsiran tinamtu kang gegayutan kalawan ulah rasa, ulah jiwa lan uga kahanan urip lan panguripane manungsa. Sawargi Witoyo kang wus kasil ngracik sawetara beksan tradhisi kang dadi sarana piwulang seni tradhisi ing sekolahan-sekolahan, nambahake, racikan beksan mesthi lelandhesan krenteg, karep, tapsiran lan uga jangka kang diangkah.&lt;br /&gt;Kayedene beksan racikane sing dadi sarana gladhen seni beksan tradhisi ing sekolahan-sekolahan, tansah lelandhesan swasana kajiwan lan ragane siswa sing bakal gladhen. Beksan tumrap siswa SD, SMP lan SMA utawa sing sakdrajat, apike diracik beda-beda. Beksan tumrap siswa SD kudu nengenake sipat dolanan lan seneng-seneng. Beksan tumrap siswa SMP lan SMA kudu nengenake sipat nalika bocah ngancik dewasa utawa puber&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6072209488519353307-3065934205710456566?l=ninkwidya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ninkwidya.blogspot.com/feeds/3065934205710456566/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ninkwidya.blogspot.com/2008/08/beksa-karya-jiwa-raga.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6072209488519353307/posts/default/3065934205710456566'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6072209488519353307/posts/default/3065934205710456566'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ninkwidya.blogspot.com/2008/08/beksa-karya-jiwa-raga.html' title='Beksa, karya jiwa raga'/><author><name>ninkw1dya ( alve Dya Aurelia Latifa)</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02190777662680452949</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_vgyL60s208c/SvuobeHd1pI/AAAAAAAAADY/zqthVFtNEm8/S220/aku+di+legian.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6072209488519353307.post-3756274411561731346</id><published>2008-08-27T20:24:00.000-07:00</published><updated>2008-08-27T20:25:17.173-07:00</updated><title type='text'>Narima ing pandum</title><content type='html'>&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;table class="navigasi" border="0" width="100%"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td colspan="2" align="left"&gt;&lt;span style="font-family:verdana,arial;font-size:85%;color:#000000;"&gt;Dadi perangan warga kang ngrengkuh sastra Jawa, ora beda kalawan falsafah-e wong Jawa umume, narima ing pandum. Wiwit 1989 tumeka saiki kalebu wektu mirunggan nadyan isih adoh saka pangerten wareg, nlasaki dalan rumpil mendhak mendhukule sastra Jawa. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;   &lt;span style="font-family:erdana,arial;font-size:85%;color:#000000;"&gt;Ewasemana wektu semono iku kuwawa nilasake werna-werna rasa. Rasa kang nlusupake dudutan, ing satra Jawa pancen kudu nggedhekake rasa panarima.&lt;br /&gt;Rasa panarima pindhane uleting tali kang kuwawa gawe simpul temah kekarepan ngrengkuh satra Jawa iku ora gampang wudhar. Jalaran ngambah ing sastra Jawa kalawan melik kanggo mburu materi, mbokmenawa bisa wae kacelik. Ora lidok kanca-kanca sing mulane budhal bareng ing wekasane siji mbaka siji mretheli. Pedhot ing dalan, awit nglenggana yen nyatane sastra Jawa iku tlatah cengkar.&lt;br /&gt;Panglenggana yen sastra Jawa minangka tlatah sing angel menehi pemarem materi, sakjane kudu wis dadi kasadharan kawit mula nalika sikil iki jumangkah ing jagad sastra Jawa. Awit adoh sadurunge, Arswendo Atmowiloto nandhesake yen sastra Jawa pindhane wastra lungset ing sampiran. Wis trep sithik ajine lan arang anggone. Nanging nalika krungu pangandikane almarhum Mas Poer Adhie Prawoto, tindakna apa sing mbokantebi kanthi tresna gilirane akeh kang bakal kasengsem. Wiwit iku kepengin nyoba ngrengkuh sastra Jawa uga kanthi tresna. Kanthi lambaran tresna, akeh tumindak kang sarwa lila legawa.&lt;br /&gt;Ewasemana gegayutan kalawan unen-unen wastra lungset ing sampiran, ora bisa kaselaki ing sastra Jawa nganti dina iki jagad sing isih kekebakan swara panguwuh, sesambat lan panelangsan. Iki kagawa nasib sastra Jawa pancen dadi pesakitan ing bumi dhewe. Durung bisa kawengku kadidene wewengkon liyane. Nadyan wis ana Konggres Basa Jawa kang dadi tradhisi patang taunan lan nganti saiki wis bakal tumapak sing kaping V, ewasemana sastra Jawa isih adoh saka pangarep-arep. Durung ana sih tresna saka anggaran dhaerah kang dadi papan uripe sastra Jawa. Durung ana sing nyoba nyisihake prabeya kanggo melasi sastra Jawa, saengga bisa tumapak sumringah.&lt;br /&gt;Pancen, sakjane ana rasa waleh. Bosen. Katog. Saben-saben kudu panguwuh sing keprungu. Basa kang digunakake ora kurang saka 80 yuta warga, malah manut Dr Oesman Arief (Jurusan Sastra Daerah UNS) basa Jawa mapan urutan nomer wolu minangka basa kang kagunakake manungsa ing jagad, ewasemana nasibe memelas. Iki pancen sawijine tantangan tumrap bebrayan Jawa, kalebu para sastrawane. Bebrayan kaajab bisa dadi warga sing kasdu paweh apresiasi kang tekun kalawan asil karya kreatif sastrawan Jawa. Semono uga sastrawan Jawa wajib ngudi kualitas murih asil karyane kuwawa gawe sengsem bebrayan.&lt;br /&gt;Datan keri marang pehak kang ngasta wewenang bisaa paweh panyengkuyung temah sesambat sing wis suwe keprungu iki enggal antuk tamba. Mbokmenawa dudu ngayawara lamun Suparto Brata, begawane sastra Jawa, nate ngimpi endah; kaya ngapa yen sastra Jawa iku karengkuh kadidene bal-balan. Pamarentah dhaerah sing tanpa wigih ringa-ringa ngetokake prabeya milyaran kanggo terus nyengkuyung amrih barang bunder kuwi tetep bisa ngglindhing, ing kamangka bijine ya arang bisa gawe marem. Kayadene Timnas sing ajeg keblong.&lt;br /&gt;Minangka paraga sing ora kurang sangalas taun lelumban ing sendhang sastra Jawa, mbokmenawa pengarep-arep sing kaya mangkono kuwi wis kulina katulis dening ing akeh. Ewasemana, edining gegayuhan iku pancen yen durung kelakon. Waton pangarep-arep iku tetep ana, kalebu pangarep-arep sastra Jawa bakal bisa mentas ing kahanan sangsaya iki. Nanging samulya-mulyane wong darbe pangarep-arep yen tetep bisa ndhadhung rasa panarima. Rasa panarima sing ajeg paweh tamba ing kalamangsane nganti enteke wektu gegayuhan iku tetep awujud gegayuhan. Mangkono, gelem ora gelem ngrengkuh sastra Jawa ora cukup tresna, nanging uga kudu narima ing sipat anarima. ::&lt;b&gt;Yan Tohari, sastrawan Jawa&lt;/b&gt;::&lt;/span&gt;      &lt;span class="copy"    style="font-family:erdana,arial;font-size:85%;color:#000000;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;       &lt;/td&gt;         &lt;/tr&gt;         &lt;tr class="navigasi"&gt;    &lt;td&gt;   &lt;p align="right"&gt;                           &lt;/p&gt;   &lt;br /&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6072209488519353307-3756274411561731346?l=ninkwidya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ninkwidya.blogspot.com/feeds/3756274411561731346/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ninkwidya.blogspot.com/2008/08/narima-ing-pandum.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6072209488519353307/posts/default/3756274411561731346'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6072209488519353307/posts/default/3756274411561731346'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ninkwidya.blogspot.com/2008/08/narima-ing-pandum.html' title='Narima ing pandum'/><author><name>ninkw1dya ( alve Dya Aurelia Latifa)</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02190777662680452949</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_vgyL60s208c/SvuobeHd1pI/AAAAAAAAADY/zqthVFtNEm8/S220/aku+di+legian.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6072209488519353307.post-1661305316410694501</id><published>2008-08-27T20:23:00.001-07:00</published><updated>2008-08-27T20:23:46.674-07:00</updated><title type='text'>Sastra Jawa ora bakal onya</title><content type='html'>&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:verdana,arial;font-size:85%;color:#000000;"&gt;”Apa bener kasusastran Jawa bakal mati?”&lt;br /&gt;Tembung kuwi kerep dakrungu, nadyan durung pana tenan werdine. Uga nalika aku nekani seminar regional ing Kutha Semarang babagan Kasusatran Jawa ing taun-taun kapungkur. Saka sadhengah paraga ana kang ngendika manawa kasusastran Jawa bakal mati. Nanging uga ana sing mbantah manawa kasusastran Jawa ora bakal mati. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;   &lt;span style="font-family:erdana,arial;font-size:85%;color:#000000;"&gt;&lt;br /&gt;Ukara ing ndhuwur pethikan saka crita cekak (Cerkak) asesirah Dina Kasetyan Kang Ora Onya, karyane Sri Sugiyanto sing kaemot ing antologi crita cekak Kabar Saka Tlatah Cengkar, weton Dewan Kesenian Kabupaten Wonogiri, taun 2006. Ing ukara-ukara kasebut kakandhut gegambaran kaanan sastra Jawa ing wektu-wektu pungkasan iki, sing uga katelah minangka sastra Jawa modhern.&lt;br /&gt;Nalika hamicara ing acara Seminar Sehari Sastra Jawa, sing digelar dening Divisi Sastra Taman Budaya Jawa Tengah (TBJT) Solo utawa Taman Budaya Surakarta lan Sewaka, mapan ing Pendhapa TBJT Solo, sawetara dina kapungkur, sastrawan senior Suparto Brata ngandharake, pitakonan utawa panganggep bab sastra Jawa bakal mati utawa panggah wanteg ing madyaning bebrayan Jawa yektine wus menjila wiwit taun 1970-an.&lt;br /&gt;Ing sawijining patemon para sastrawan Jawa lan pandhemen sastra Jawa sing mapan ing Sasana Mulya Karaton Kasunanan Surakarta, taun 1977, sastrawan Jawa sing kondhang kaloka, Soedarno KD, nelakake yen jagad sastra Jawa ing kaanan sekarat. Setaun sabanjure, ing acara patemon sastrawan Jawa sing mapan ing papan kang padha, sastrawan Arswendo Atmowiloto, nelakake yan acara patemon lan pirembugan para sastrawan Jawa kasebut pindha layatan utawa jiyarah mring jagad sastra Jawa sing wus mati.&lt;br /&gt;”Kasunyatane, sawise 30 taun lumaku nganti wektu iki, jagad sastra Jawa isih urip. Sastrawane sing nggilut jagad geguritan, crita cekak utawa Cerkak, novel abasa Jawa, esai sastra Jawa isih akeh. Karya-karya sastra abasa Jawa akeh sing kapacak ing medhia massa abasa Jawa utawa medhia massa umum sing nyumadhiyakake kaca mirunggan kanggo mbabar karya-karya sastra Jawa. Novel-novel abasa Jawa uga isih pijer ana sing di-terbit-ake. Dudutane, nganti saiki sastra Jawa durung mati, isih panggah ngrembaka,” pratelane Suparto.&lt;br /&gt;Sastra Jawa pancen wanteg, amarga tetep bisa ngrembaka ing madyaning bebrayan Jawa, kacihna wewengkon ngrembakane pancen winates banget.Ananging, miturut Suparto, bab iki saya mbuktekake yen sastra Jawa pancen wanteg tenan. Ing kaanan warga bebrayan Jawa akeh sing kelangan Jawane, kepara ora sathithik sing isin yen kanggonan jati dhiri kejawen, pranyata isih akeh kanoman sing nggilut jagad Sastra Jawa.&lt;br /&gt;Beda isine&lt;br /&gt;Dene para sastrawan Jawa sing kapetung senior nganti wanci iki panggah isih produktif ngasilake karya-karya sastra. Ana pangarep-arep lan rasa optimistis yen sastra Jawa ora bakal onya ing madyaning bebrayan Jawa.&lt;br /&gt;Miturut saperangan satrawan Jawa sing tumeka ing acara kasebut, kayadane Parno Parpal Poerwanto saka Wonogiri, Triman Laksana saka Magelang lan Irul S Budiyanto saka Boyolali, sastra Jawa pancen ora mati. Hamung wujud lan isine sing beda jumbuh kalawan owah-owahan lan wolak-waliking jaman.&lt;br /&gt;Ciri mligi sastra Jawa modhern yaiku nggunakake aksara Latin, basa narasinya cakrik basa Jawa ngoko lan cakepan utawa wujude gancaran. Gancaran ateges ora kawengku ing wewaton guru lagu, guru gatra lan guru wilangan. Yektine sastra Jawa modhern iki wus tuwuh lan ngrembaka wiwit taun 1930-an lan wus ngasilake maewu-ewu karya sastra sarta atusan sastrawan Jawa modhern engga saiki.&lt;br /&gt;Ananging tuwuh lan ngrembakane sastra Jawa modhern iki saiki bisa dikandhakake ing tembung kunthing. Bab iki amarga papan ngrembakane hamung awujud medhia massa abasa Jawa sing uripe uga kadidene wegah mati nanging ya ora kuwawa urip kanthi apik. Tundhone kaskayane jagad sastra Jawa modhern asipat kadidene keluk kang tumiyup angin. Sawise kaemot ing medhia massa, banjur dilalekake.&lt;br /&gt;Mangkono uga sawenehing lomba karya sastra Jawa sing digelar, yen lombane wus rampung lan sing mimpang wus dibiwarakake lan nampa bebungah, asil karya sastrane uga banjur dilalekake. Miturut para sawetara sastrawan Jawa sing kapetung kanoman kasebut, sasuwene iki balungane sastra Jawa modhern pancan medhia massa abasa Jawa, lomba-lomba karya sastra abasa Jawa lan babaran buku karya sastra Jawa.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6072209488519353307-1661305316410694501?l=ninkwidya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ninkwidya.blogspot.com/feeds/1661305316410694501/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ninkwidya.blogspot.com/2008/08/sastra-jawa-ora-bakal-onya.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6072209488519353307/posts/default/1661305316410694501'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6072209488519353307/posts/default/1661305316410694501'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ninkwidya.blogspot.com/2008/08/sastra-jawa-ora-bakal-onya.html' title='Sastra Jawa ora bakal onya'/><author><name>ninkw1dya ( alve Dya Aurelia Latifa)</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02190777662680452949</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_vgyL60s208c/SvuobeHd1pI/AAAAAAAAADY/zqthVFtNEm8/S220/aku+di+legian.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6072209488519353307.post-2241739172996443638</id><published>2008-08-27T20:22:00.002-07:00</published><updated>2008-08-27T20:23:20.372-07:00</updated><title type='text'>Sastrawan Jawa kudu lumebu ing budaya industri</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:verdana,arial;font-size:85%;color:#000000;"&gt;Satra lan kabudayan ora bisa dipisahake. Kabudayan maju amarga sastrane. Dene sastra ora bisa dipisahake saka pulitik. Tuwuh lan ngrembakane sastra tansah ana sesambungane kalawan kawicaksanan pulitik sing ditrepake dening panguwasa. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;   &lt;span style="font-family:erdana,arial;font-size:85%;color:#000000;"&gt;Mangkono pratelana Dr Oesman Arief, dwijawara Filsafat Ilmu ing Jurusan Sastra Daerah Fakultas Sastra dan Seni Rupa (FSSR) UNS, kang uga dadi dosen ing program pascasarjana UNS, sawetara dina kapungkur ing Pendhapa TBJT Solo..&lt;br /&gt;Sastra Jawa nganti saiki pancen tetep urip lan ngrembaka, nanging uripe kunthing, mung winates ing wewengkon tinamtu. Bab iki, miturut Oesman ora bisa uwal saka kawicaksanan pulitik basa sing nate ditrepake ing nagara iki. Sing mligi dhewe yaiku nalika ditrepake Kurikulum 1975 sing netepake yen basa ing sekolahan, wiwit TK nganti pawiyatan luhur, mung wates basa Indonesia.&lt;br /&gt;”Ing jaman Orde Baru, mligine antarane taun 1975-1998, basa Jawa pancen ora ngrembaka. Putusan-putusan kongres lan maneka patemon liyane sing ancase kanggo ndayakake basa Jawa ora ana sing dileksanakake. Ing ngendi wae, basa dhaerah, kalebu basa Jawa ora kena ngrembaka, dicures dening pulitik basa sing lumaku,” piterange Oesman.&lt;br /&gt;Lan wusana, nalika kaanan pulitik wus sansaya tinarbuka, sastra Jawa ngadhepi pepalang maneka warna amarga basa Jawa mung digunakake minangka basa resmi ing wewengkon sing winates banget. Piwulang basa Jawa ing sekolahan mung wates muatan lokal. Karya sastra Jawa mung bisa diwaca ing sawetara kalawarti abasa Jawa.&lt;br /&gt;Lan kepriye nasibe sastra Jawa ing tembe mburi, miturut Oesman, yektine gumantung marang awake dhewe, warga bebrayan Jawa. Oesman mrayogakake supaya pamarentah aweh panjurung temen-temen marang sansaya mratahe sanggar lan yayasan sing ngadani piwulang lan gladhen basa Jawa. Sasuwene iki racake sanggar lan yayasan kasebut urip mandhireng, saengga angel ngrembakane.&lt;br /&gt;Mligi bab karya sastra Jawa, miturut Oesman, yekti bisa dadi sarana piwulang sing migunani tumrap upaya mbina bebrayan. Karya sastra sing murakabi tumrap upaya mangkene iki mesthi wae karya sastra Jawa sing apik. Karya sastra uga bisa dadi sarana panglipur, piwulang moral, crita sujarah utawa suka katrangan marang pamaos.&lt;br /&gt;”Kanthi maca karya sastra Jawa sing apik, wong bakal antuk maneka pangerten lan ilmu sing migunani tumrap uripe. Dene apik lan orane karya sastra Jawa gumantung marang panganggite. Karya sastra Jawa sing apik uga bakal ngrekam kawicaksanan lokal sing bisa suka patuladhan sing migunani tumrap warga bebrayan sing maca,” piterange Oesman.&lt;br /&gt;Kepriye supaya sastra Jawa bisa ngrembaka temen-temen, ora mung wates urip nanging kunthing? Oesman suka pamrayoga supaya kabeh pehak kang gegayutan kalawan urip lan ngrembakane sastra Jawa ora wigah-wigih nggunakake ilmu sing sasuwene iki ndadekake kadheseke sastra Jawa. Ilmu sing dikarepake kora liya ilmu asumber ideologi kapitalisme sing mindeng samubarang iku saka petungan bathi lan tuna.&lt;br /&gt;Dhalang Wayang Kampung Sebelah kang uga sutresna budaya Jawa, Ki Jlitheng Suparman, sarujuk kalawan pamrayogane Oesman iku.&lt;br /&gt;”Kanggo ngrembakakake sastra Jawa prayogane kabeh pehak kang gegayutan, ya sastrawane, ya pandhemene lan liyane, ora prelu alergi marang budaya industri sing yektine asumber saka kapitalisme. Ing budaya industri kabeh dipindeng kanthi petungan tuna apa bathi. Jagad sastra Jawa kudune uga ngetrapake bab iki,” pratelane Suparman.&lt;br /&gt;Kacihna mesthi wae budaya industri asumber kapitalisme sing kudu ditrepake iku luwih dhisik dijumbuhake kalawan budaya asline wong Jawa. Suparman nandhesake industri mupangatake sastra iku mesthi kedaden. Ananging arang banget, kepara ora ana, sastrawan Jawa sing gelem mupangatake industri kanggo kapentingane sastra. ::&lt;b&gt;Yan Tohari, sastrawan Jawa&lt;/b&gt;::&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6072209488519353307-2241739172996443638?l=ninkwidya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ninkwidya.blogspot.com/feeds/2241739172996443638/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ninkwidya.blogspot.com/2008/08/sastrawan-jawa-kudu-lumebu-ing-budaya.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6072209488519353307/posts/default/2241739172996443638'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6072209488519353307/posts/default/2241739172996443638'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ninkwidya.blogspot.com/2008/08/sastrawan-jawa-kudu-lumebu-ing-budaya.html' title='Sastrawan Jawa kudu lumebu ing budaya industri'/><author><name>ninkw1dya ( alve Dya Aurelia Latifa)</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02190777662680452949</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_vgyL60s208c/SvuobeHd1pI/AAAAAAAAADY/zqthVFtNEm8/S220/aku+di+legian.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6072209488519353307.post-8270787246446955033</id><published>2008-08-27T20:22:00.001-07:00</published><updated>2008-08-27T20:22:34.966-07:00</updated><title type='text'>Ngenger ing jaman modhern</title><content type='html'>&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;table class="navigasi" border="0" width="100%"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td colspan="2" align="left"&gt;&lt;span style="font-family:verdana,arial;font-size:85%;color:#000000;"&gt;Ing bebrayan Jawa sing aran pangenger utawa wong ngenger mono beda yen katandhingake santri utawa siswa ing pesantren. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;   &lt;span style="font-family:erdana,arial;font-size:85%;color:#000000;"&gt;Pangenger ing kene duwe teges wong ngenger utawa suwita. Ngenger duwe sedya golek ilmu utawa kawruh kang bisa migunani ing tembe uripe. Sokur bage bisa kasandhangan drajat pangkat kaya dene wong sing disuwitani.&lt;br /&gt;Ing desaku biyen, tlatah Wonogiri, wong sing sugih raja kaya mesthi duwe pangenger. Pangenger mau ibarate sekolah lelahanan bab kepriye cara-carane ngrumat raja kaya. Pegaweyane saben dina angon, ngarit, lan ngguyang ingon-ingon. Minangka pituwase yen ana raja kaya manak, biyasane antuk jatah seprapat utawa saprotelon, gumantung prajanjen utawa palilah saka bendarane. Pangenger ngene iki akeh-akehe dumadi saka wong biyasa kang duwe gegayuhan sakmadya uga.&lt;br /&gt;Ing pewayangan ana crita Sumantri ngenger. Bocah saka gunung sing duwe gegayuhan dhuwur. Kanthi sangu ngelmu lan jaya kawijayan, tembene Sumantri kasil nggayuh apa sing dadi kekarepane. Dheweke kasengkakake ngaluhur mingangka patih, aran Patih Suwanda. Semono uga crita lelakone Damarwulan. Bocah desa iki miwiti ngenger ing praja Majapahit kanthi dadi pekathik ing dalem kepatihan. Damarwulan kasil anggone melu ngleboni patembaya. Dheweke bisa migas janggane Hurubisma, klilip praja Majapahit. Sabanjure bisa lungguh dhampar kencana Majapahit.&lt;br /&gt;Jaman terus lumaku. Bab ngenger uga ana owah-owahan. Apa dinane iki isih ana wong ngenger? Isih! Mung wae wujud lan tujuwane wus beda. Wong ngenger mono duwe tujuwan kanggo golek panguripan. Mung wae, ngenger ing dinane iki ora cukup udhu tenaga, kepinteran, lan sregep anggone nyambut gawe.&lt;br /&gt;Wong kang arep ngenger saiki kudu duwe sangu kang pawitane ora sethithik. Wong ngenger kudu duwe ijasah sing bisa ditebus ana sekolahan kang suwene welasan taun. Prabeya wektu semono kuwi yen dikerta aji mesthine ya akeh banget. Sapa wae ngerti yen wragat sekolah tansaya ndedel sundhul langit.&lt;br /&gt;Tenaga honorer utawa wiyata bakti bisa diarani ngenger modhern. Dadi pangenger modhern utawa magang duwe pengarep-arep lamun besuke yen ana begjane awak bisa nggayuh apa sing digadhang. Sing dadi honorer ana dhinas ya dadi pegawe dhinas, sing wiyata bakti mulang ana sekolahan ya dadi guru, lan sapiturute.&lt;br /&gt;Kabeh panjangka kudu kanthi sarana. Kajaba ijasah sing wis diduweni, pranyata ana wewaton liyane amrih bisa ngenger ana instansi. Ora saben panglamar dadi pangenger modhern mau bisa ditampa ing salah sijine dhinas utawa sekolahan. Awit miturut sawetara gotheke wong akeh, ana saweneh pawongan sing panglamare ditulak. Kamangka ing wektu kang padha ana panglamar seje kang ditampa. Apa amarga ijasah sing diduweni penglamar sepisanan mau ora dibutuhake ing instansi utawa sekolahan mau? Semono uga apa panglamar sijine maneh ijasahe cocok lan dibutuhake?&lt;br /&gt;Pranyata ora kabeh mangkono. Gotheke kandha, panglamar bisa kasil dadi tenaga honorer utawa wiyata bakti kudu ana sing “nggawa”. Sing nggawa mesthine ya wong sing duwe pengaruh. Wong sing duwe panguwasa. Buntute bisa ditebak, ta? Apa maneh yen dudu D2? Yaiku dhekeng lan dhuwit.&lt;br /&gt;Dhekeng lan dhuwit mujudake perangane panguwasa. Tanpa dhekeng lan dhuwit najan duwe kepinteran lan ijasah dhuwur aja ngimpi bisa dadi pangenger modhern! ::&lt;b&gt;Dening: Parno Parpal Poerwanto, sastrawan Jawa&lt;/b&gt;::&lt;/span&gt;      &lt;span class="copy"    style="font-family:erdana,arial;font-size:85%;color:#000000;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;       &lt;/td&gt;         &lt;/tr&gt;         &lt;tr class="navigasi"&gt;    &lt;td&gt;   &lt;p align="right"&gt;                           &lt;/p&gt;   &lt;br /&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6072209488519353307-8270787246446955033?l=ninkwidya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ninkwidya.blogspot.com/feeds/8270787246446955033/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ninkwidya.blogspot.com/2008/08/ngenger-ing-jaman-modhern.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6072209488519353307/posts/default/8270787246446955033'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6072209488519353307/posts/default/8270787246446955033'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ninkwidya.blogspot.com/2008/08/ngenger-ing-jaman-modhern.html' title='Ngenger ing jaman modhern'/><author><name>ninkw1dya ( alve Dya Aurelia Latifa)</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02190777662680452949</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_vgyL60s208c/SvuobeHd1pI/AAAAAAAAADY/zqthVFtNEm8/S220/aku+di+legian.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6072209488519353307.post-6746484796484187466</id><published>2008-08-27T20:21:00.001-07:00</published><updated>2008-08-27T20:21:57.447-07:00</updated><title type='text'>Dadi dalan kanggo nggegulang dhiri</title><content type='html'>&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:verdana,arial;font-size:85%;color:#000000;"&gt;Tembung ngenger iku ngandhut teges lan laku dhewe. Nanging, miturut budayawan Jawa, Winarso Kalinggo, ana sawetara panganggep lan panemu nalika negesi tembung ngenger iki.&lt;br /&gt;Ana sing negesi ngenger iku nyuwita, ndherek, magang, nyantrik lan nyantri. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;   &lt;span style="font-family:erdana,arial;font-size:85%;color:#000000;"&gt;Saka maneka panganggep lan panemu kasebut, miturut Winarso, teges sing bisa mengku werdine ngenger yaiku tembung ndherek.&lt;br /&gt;“Yen nyuwita iku tegese dadi abdi. Ngabdi iki miturutku ana bab kang beda kalawan ngenger sing ditegesi ndherek iku. Yen ngabdi, cetha antarane sing ngabdi lan bendarane ana wates kang cetha. Lan racake abdi iku nampa bayaran saka bendarane lan kudu manut samubarang dhawuh bendarane. Lan bendara dhewe uga wenang dhawuh apa wae marang sing ngabdi,” piterange Winarso.&lt;br /&gt;Dene mligi tumrap laku ngenger, sing miturut Winarso trep dhewe yen ditegesi ndherek, antarane sing ngenger lan sing dingengeri ora ana wates kadidene batur utawa abdi lan bendarane. Malah akeh kanyatan antarane sing ngenger lan sing dingengeri iku drajate padha, kayadene antarane ponakan sing ngenger marang pamane.&lt;br /&gt;Akeh uga kanyatan kulawarga asale sing ngenger lan kulawarga sing dingengeri padha-padha sugihe. Saengga ing laku ngenger iki luwih kenthel werna pendhidhikane. Sing ngenger kanthi sadhar pancen pengin ndherek marang sing dingengeri supaya bisa tambah ilmune, tambah kapinterane lan wusana ing dewasane bisa nggayuh kamulyan.&lt;br /&gt;Sing dingengeri lan kabeh kulawargane uga ora nganggep yen sing ngenger iku minangka batur utawa abdi. Malah racake sing dingengeri nganggep sing ngenger kadidene anake dhewe. Laku mangkene iki uga dumadi nalika sing ngenger iki kanyatane drajat lan pangkate luwih asor tinimbang sing dingengeri. Kaciha sing dingengeri ora ndunungake sing ngenger luwih asor, nanging tetep dianggep kadidene kulawargane dhewe.&lt;br /&gt;“Sing kalebu asil positip saka laku ngenger iki yaiku nalika sing ngenger ngrumangsani banget yen dheweke iku ndherek marang sing dingengeri. Wong ndherek iku ing kabudayan Jawa ya kudu ngurmati banget marang sing dingengeri. Sing ngenger ngerti banget wates-wates sesrawungane kalawan sing dingengeri. Iki sing karan subasita lan tatakrama. Wong sing tau ngenger racake duwe tatakrama lan subasita sing menjila ing bebuden sing luhur,” piterange Winarso.&lt;br /&gt;Ing madyaning bebrayan jaman saiki, tambahe Winarso, tembung ngenger iki ditegesi luwih amba maneh, ora mung wates ndherek kaya andharan ing ndhuwur. Ing Bausastra Djawa, karyane WJS Poerwadarminta, tembung ngenger ditegesi melu marang wong liya dadi batur. Ana maneh sing negesi yen ngenger iku ngabdi marang kulawarga sing kalungguhane luwih dhuwur.&lt;br /&gt;Ing buku Negara &amp;amp; Usaha Bina Negara di Jawa Masa Lampau, karyane Dr Soemarsaid Moertono, ngenger iku padha kalawan nyuwita. Tembung nyuwita dhewe, miturut Soemarsaid, ateges ngabdi marang kulawarga ing karaton utawa malah ngabdi marang ratu pisan. Magang uga kalebu ing laku ngenger.&lt;br /&gt;Miturut Soemarsaid, magang ateges mbiyantu pakaryan ing praja. Suwita iku bacute magang. Magang dadi dalan golek gaweyan lan kalungguhan sakdhuwur-dhuwure. Dene miturut Winarso, sing uga kawengku ing tembung ngenger sing ateges ndherek, yaiku nyantrik lan nyantri.&lt;br /&gt;Laku nyantrik lan nyantri, mligine ing jaman kawuri, miturut Winarso, ancase sakmadya banget yaiku ngudi ilmu. Sing nyantrik lan nyantri kadhangkala asok asil bumi kayadene beras, woh-wohan, janganan, pala kapendhem lan liyane marang pandhita utawa kiai, nanging ora wajib.&lt;br /&gt;Dene pandhita lan kiai wajib nggegulang sing nyantrik lan nyantri murih kapinterane bisa menjila, lan ing tembe mburi bisa luwih pinter. Cantrik lan santri uga dedunung ing omahe pandhita utawa kiai lan wajib mbiyantu samubarang gawene&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6072209488519353307-6746484796484187466?l=ninkwidya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ninkwidya.blogspot.com/feeds/6746484796484187466/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ninkwidya.blogspot.com/2008/08/dadi-dalan-kanggo-nggegulang-dhiri.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6072209488519353307/posts/default/6746484796484187466'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6072209488519353307/posts/default/6746484796484187466'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ninkwidya.blogspot.com/2008/08/dadi-dalan-kanggo-nggegulang-dhiri.html' title='Dadi dalan kanggo nggegulang dhiri'/><author><name>ninkw1dya ( alve Dya Aurelia Latifa)</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02190777662680452949</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_vgyL60s208c/SvuobeHd1pI/AAAAAAAAADY/zqthVFtNEm8/S220/aku+di+legian.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6072209488519353307.post-6198369285697787954</id><published>2008-08-27T20:20:00.002-07:00</published><updated>2008-08-27T20:21:00.771-07:00</updated><title type='text'>Dalane para ngaluhur</title><content type='html'>&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:verdana,arial;font-size:85%;color:#000000;"&gt;Ing kaskayane kapustakan akeh tinemu wacan utawa tradhisi lisan sing ngandharake bab laku ngenger. Sing wus dikenal dening bebrayan Jawa yaiku lakon Sumantri Ngenger ing pagelaran wayang kulit. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;   &lt;span style="font-family:erdana,arial;font-size:85%;color:#000000;"&gt;Kangjeng Gusti Pangeran Adipati Arya (KGPAA) Mangkunagara IV nganggep yen Sumantri iku paraga wayang sing pantes dituladhani. Bab iki kaemot sing Serat Tripama. Lelabuhane Sumantri kabiji padha karo lelabuhane Karna sing mbelani nagarane, Ngastina, lan Kumbakarna saka Alengka.&lt;br /&gt;Ing kapustakan liya, buku Para Priyayi karyane sawargi Umar Kayam uga suka andharan bab laku ngenger. Ing buku iki laku ngenger dilakoni dening Lantip anake Ngadiyem, saka Wanalawas. Lantip ngenger marang Ndara Guru Sastrodarsono. Ing dewasane Lantip bisa urip mulya, dadi priyayi.&lt;br /&gt;Para priyagung nagara iki uga akeh sing miwiti kamulyane saka laku ngenger. Kayadene Presiden RI kapisan, Ir Soekarno, nalika timure tau nglakoni urip sing pindhane kayadene ngenger, yaiku nalika mondhok ing griyane Oemar Sahid Tjokroaminoto. Soekarno pancen mbayar marang kulawargane Oemar Sahid nalika mondhok.&lt;br /&gt;Ananging laku salawase mondhok iku pindha ngenger amarga Soekarno kasil nyecep ngelmu pulitik saka Oemar Sahid. Lan kanyatane nalika sansaya dewasa, Soekarno menjila dadi politisi sing peng-pengan, bapake nagara Indonesia lan presiden kapisan tumrap Republik Indonesia.&lt;br /&gt;Presiden RI kapindho, Soeharto, pranyata uga tau ngenger. Soeharto ngenger marang bulike sing asmane Bu Prawirowiharjo. Nalika iku Soeharto ngenger, ndherek bulike, kanthi ancas supaya bisa sekolah lan supaya ing tembe mburi bisa dadi wong sing mulya lan kajen keringan. Kasunyatane, Soeharto kasil nggayuh kekarepane iku, dadi presiden suwene 32 taun.&lt;br /&gt;Pujangga kondhang RNg Ranggawarsita uga nate ngenger. Ranggawarsita ngenger marang Kiai Hasan Besari ing Gebang Tinatar, Jetis, Ponorogo. Saka laku ngengere iki Ranggawarsita sing timure asma Bagus Burham ngadhepi maneka warna lelakon sing tundhone ndadekake jiwane sentosa, lantip lan wusana menjila dadi pujangga sing kondhang kaloka.&lt;br /&gt;Nimpuna kasusastran lan basa Jawa, RNg Poerbatjaraka uga kalebu priyagung sing nate ngenger. Penjenengane nyantrik marang Prof NJ Krom. Poerbatjaraka dhewe kawitane mung lulusan ELS (SD). Nalika nyantrik marang Krom iku Poerbatjaraka antuk kalodhangan mirunggan kanggo nyinau basa lan sastra Jawa. Amarga genture anggone njinggleng sastra Jawa Kuna, dheweke bisa pinter maca aksara Jawa Kuna lan kasil njarwakake Smaradahana.&lt;br /&gt;Saka laku mangkono mau, Poerbatjaraka banjur disekolahake nganti tekan Universitas Leiden lan kasil nggayuh gelar doktor. Iku mau amarga laku ngenger.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6072209488519353307-6198369285697787954?l=ninkwidya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ninkwidya.blogspot.com/feeds/6198369285697787954/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ninkwidya.blogspot.com/2008/08/dalane-para-ngaluhur.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6072209488519353307/posts/default/6198369285697787954'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6072209488519353307/posts/default/6198369285697787954'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ninkwidya.blogspot.com/2008/08/dalane-para-ngaluhur.html' title='Dalane para ngaluhur'/><author><name>ninkw1dya ( alve Dya Aurelia Latifa)</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02190777662680452949</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_vgyL60s208c/SvuobeHd1pI/AAAAAAAAADY/zqthVFtNEm8/S220/aku+di+legian.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6072209488519353307.post-1492152002419065006</id><published>2008-08-27T20:20:00.001-07:00</published><updated>2008-08-27T20:20:31.761-07:00</updated><title type='text'>Mupangate krasa nalika dewasa</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:verdana,arial;font-size:85%;color:#000000;"&gt;Laku ngenger iku dadi sumber ilmu kajiwan. Wong sing duwe pengalaman ngenger, ing dewasane racake luwih tangguh ngadhepi sakehing pacoban ing urip lan panguripane. Wong sing nate ngenger uga luwih pana ing subasita lan tatakrama. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;   &lt;span style="font-family:erdana,arial;font-size:85%;color:#000000;"&gt;Lan sing ora kalah wigatine, wong sing ngenger biyasane luwih menep ing rasa pangrasane, luwih sabar, jujur lan disiplin. Wong sing nate ngenger uga luwih mandhireng pribadine.&lt;br /&gt;Kanyatan mangkene iki dialami dhewe dening Bu Widaningsih, warga sing dedunung ing tlatah Cemani, Sukoharjo. Widaningsih nelakake nglakoni ngenger wiwit lumebu kelas I SMP, ndalem taun 1958. Nalika iku Widaningsih saksedulure cacah wolu genti genten ngenger ing daleme pamane, adhine ibune.&lt;br /&gt;“Omahe wong tuwaku sing nalika iku nyambut gawe ing pabrik gula ana ing tlatah Batu Jamus. Wektu iku ing kana anane sekolahan ya mung tekan SD. Amarga aku pengin mbacutake sekolah lan bapak ibuku sakloron uga njurung kekarepanku, aku banjur ngenger ing daleme paklik sing isih kalebu putu Mangkunagara V, dedununge ing Kutha Solo,” piterange Widaningsih.&lt;br /&gt;Anggone ngenger ing omahe pamane iku nganti Widaningsih ketemu bakal sisihane lan banjur omah-omah dhewe. Sasuwene ngenger iku Widaningsih ngaku digegulang kanthi temen-temen ing bab subasita, tatakrama, tatabasa, unggah-ungguh, sipat jujur, disiplin, budi pakerti lan ing bab ulah kajiwan liyane.&lt;br /&gt;Apa pikolehe sasuwene ngenger iku krasa mupangatake temen-temen nalika wus dewasa, omah-omah lan wusana duwe anak. Mupangat kasebut antarane kulina ngugemi tatakrama lan subasita saengga tansah kasil njaga sesambungan rukun karo sedulur-sedulur liyane.&lt;br /&gt;“Dene mupangat liyane sing bisa dakrasa nganti wektu iki yaiku ing bab rasa menep, pasrah marang Sing Maha Kuwasa lan ora wedi ngadhepi sakehing reridhu ing urip lan panguripan,” pratelane Widaningsih.&lt;br /&gt;Bab kang kurang luwih padha diandharake Ningrum, 35, warga Kartasura sing nate nglakoni ngenger ndherek simbahe ing Jombang. Nalika semana, pratelane Ningrum, dheweke ndherek simbahe amarga sekolah ing sawijining SMP lan SMA ing Jombang ngiras pantes sinau agama ing papan sacedhake omahe simbahe iku.&lt;br /&gt;“Nalika ndherek simbah aku kudu ngrewangi samubarang gawe ing omah sadurunge mlebu sekolah lan salebare kabeh kegiyatan ing sekolahan,” piterange Ningrum.&lt;br /&gt;Ing wektu ngenger iku Ningrum ngaku antuk piwulang bab urip sakmadya, mangan sakcukupe, nrima ing pandum kang wusana nuwuhake jiwa mandhireng, tangguh, sabar lan menep ing rasa pangrasa.&lt;br /&gt;Bab mangkene iki, jarene Ningrum pancen rinasa tenan nalika wus dewasa lan ngadhepi sakehing reridhu ing urip lan panguripan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6072209488519353307-1492152002419065006?l=ninkwidya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ninkwidya.blogspot.com/feeds/1492152002419065006/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ninkwidya.blogspot.com/2008/08/mupangate-krasa-nalika-dewasa.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6072209488519353307/posts/default/1492152002419065006'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6072209488519353307/posts/default/1492152002419065006'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ninkwidya.blogspot.com/2008/08/mupangate-krasa-nalika-dewasa.html' title='Mupangate krasa nalika dewasa'/><author><name>ninkw1dya ( alve Dya Aurelia Latifa)</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02190777662680452949</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_vgyL60s208c/SvuobeHd1pI/AAAAAAAAADY/zqthVFtNEm8/S220/aku+di+legian.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6072209488519353307.post-5830671520819004674</id><published>2008-08-27T20:19:00.001-07:00</published><updated>2008-08-27T20:19:40.353-07:00</updated><title type='text'>Ngenger, nggayuh kamulyan</title><content type='html'>&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:verdana,arial;font-size:85%;color:#000000;"&gt;Ngenger mujudake laku ing budaya Jawa sing jaman biyen dadi dalane para ngaluhur nggayuh kamulyan. Ing maneka kapustakan akeh crita bab laku ngenger sing wusana ndadekake sing ngenger bisa dadi wong, cekel panguwasa, duwe kalungguhan lan kajen keringan. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;   &lt;span style="font-family:erdana,arial;font-size:85%;color:#000000;"&gt;Laku ngenger iki, miturut paraga Presidium Pusat Lembaga Kabudayan Jawi (PLKJ) Surakarta, Widijatno Sontodipuro, dadi sarana nggegulang jiwa. Wong sing ngenger bisa sinau marang sing dingengeri. Amarga racake wong sing dingengeri iku wong sing luwih pinter, jembar kawruhe, ana uga sing luwih sugih, kalungguhane luwih dhuwur lan drajat pangkat liyane sing sarwa luwih.&lt;br /&gt;Saka laku ngenger iku, wong sing ngenger ateges ngiras pantes dadi siswane sing dingengeri. Dene wong sing dingengeri kanthi sadhar uga tansah ngupaya nggegulang sing ngenger supaya ing tembe mburine bisa menjila dadi wong sing pinter, luhur bebudene, ngerti tatakrama lan subasita, bisa ngregani liyan, taberi lan sipat-sipat pinuji liyane.&lt;br /&gt;Ing jaman biyen, miturut Widijatno, wong ngenger iku racake asale saka tlatah karang pradesan. Sing dingengeri dumunung ing tlatah kutha. Antarane wong tuwane sing ngenger lan sing dingengeri racake isih ana sesambungan sedulur. Akeh uga kanyatan antarane sing ngenger lan sing dingengeri ora ana sesambungan sedulur, ananging biyasane antarane wong tuwa sing ngenger lan sing dingegeri wus tepung suwe utawa malah memitran pindha sedulur.&lt;br /&gt;Ana uga laku ngenger iku antarane wong pidak pedarakan marang sawijining priyayi. Ananging dening priyayi kasebut, wong sing ngenger ora dianggep abdi utawa batur. Sing ngenger, kacihna drajate luwih asor, tetep dianggep minangka perangane kulawarga. Sing ngenger tetep digegulang dening priyayi iku. Saengga ing tembe mburine sing ngenger iku bisa ngangkat drajate dhewe engga padha kalawan priyayi sing dingengeri ing bab kapinteran, bebuden, lan sok-sok uga ing bab kalungguhan lan panguwasa.&lt;br /&gt;“Jaman biyen, bocah utawa kanoman saka karang pradesan ngenger menyang pamane utawa pakdhene sing dedunung ing kutha. Ancase yektine supaya bisa sekolah luwih dhuwur amarga ing tlatah karang pradesan sekolahan iku mung wates SD. Yen pengin mbacutake ing SMP, SMA utawa kuliyah ing pawiyatan luhur ya kudu pindhah menyang kutha. Carane kanthi ngenger iku mau,” piterange Widijatno.&lt;br /&gt;Nggulawenthah&lt;br /&gt;Ing laku ngenger, wong sing ngenger duwe kuwajiban mbiyantu samubarang gawe ing omahe sing dingengeri. Sing ngenger ora wajib asok prabeya lan uga ora antuk bayaran saka sing dingengeri. Dene sing dingengeri wajib nggulawenthah sing ngenger murih sekolahe kasil lan uga wajib nggulawenthah ing bab budi pakerti, tatakrama lan subasita.&lt;br /&gt;Widijatno sing duwe pengalaman ngenger marang bulike iki nambahake, bocah utawa kanoman sing ngenger biyasane diwenehi papan utawa kamar mligi ing perangan omahe sing dingengeri. Saben esuk duwe kuwajiban resik-resik omah lan mbiyantu samubarang gawe liyane. Yen wancine kudu sekolah ya kudu mangkat sekolah nganti rampung melu kabeh kegiyatan ing sekolahan.&lt;br /&gt;Laku ngenger iki biyasane lumaku nganti bocah utawa kanoman sing ngenger mentas uripe. Ana sing ngenger wiwit mlebu SMP, dibacutake mlebu SMA, lan wusana bisa lulus saka pawiyatan luhur lan omah-omah. Lan sabanjure antarane sing ngenger lan sing dingengeri tansah ana sesambungan kadidene antarane anak lan wong tuwa.&lt;br /&gt;Yen bocah utawa kanoman sing ngenger iku asale saka kulawarga sing kesrakat uripe, biyasane kabutuhan prabeya kanggo sekolahe dicukupi dening sing dingengeri. Dadine sing ngenger pindha anake sing dingengeri. Ananging akeh uga kanyatan yen sing ngenger iku asale saka kulawarga sing kacukupan, ora beda karo sing dingengeri. Yen mangkene kanyatane, kabeh prabeya lan kabutuhan sekolahe tetep disumadhiyakake lan dicukupi dening wong tuwane dhewe.&lt;br /&gt;Antarane sing dingengeri lan wong tuwane sing ngenger biyasane ana rembugan sadurunge. Wong tuwane sing bakal ngenger masrahake panggulawenthah padinane marang sing dingengeri. Dene sing dingengeri uga nyatakake bakal sumadhiya nggulawenthah lan ndhidhik bocah utawa kanoman sing bakal ngenger.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6072209488519353307-5830671520819004674?l=ninkwidya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ninkwidya.blogspot.com/feeds/5830671520819004674/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ninkwidya.blogspot.com/2008/08/ngenger-nggayuh-kamulyan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6072209488519353307/posts/default/5830671520819004674'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6072209488519353307/posts/default/5830671520819004674'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ninkwidya.blogspot.com/2008/08/ngenger-nggayuh-kamulyan.html' title='Ngenger, nggayuh kamulyan'/><author><name>ninkw1dya ( alve Dya Aurelia Latifa)</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02190777662680452949</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_vgyL60s208c/SvuobeHd1pI/AAAAAAAAADY/zqthVFtNEm8/S220/aku+di+legian.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6072209488519353307.post-1697999955180176738</id><published>2008-08-27T20:17:00.002-07:00</published><updated>2008-08-27T20:18:15.900-07:00</updated><title type='text'>Kathah ajaran tumrap masarakat</title><content type='html'>&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:verdana,arial;font-size:85%;color:#000000;"&gt;Wiwit anapaki surya 1 Ruwah Tahun Jimawal 1941 ingkang dhawah ing dinten Senin Wage surya 4 Agustus 2008, limrahipun brayat ageng kejawen sami nindakaken tradhisi leluhur nglurekaken ritual ingkang sampun kelampahan wiwit kina makina inggih menika jiyarah kubur, utawi nyekar dhateng pasareyanipun leluhuripun piyambak-piyambak. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;   &lt;span style="font-family:erdana,arial;font-size:85%;color:#000000;"&gt;Prastawa ngaten jamak winastanan nyadran utawi sadranan. Dene katelah sadranan inggih awit saking ukara Sangsekerta, saking tembung sadra ingkang ngemu suraos sesaji.&lt;br /&gt;Pancen sampun tradhisi tumrapipun tiyang Jawi, bilih ing sasi Ruwah utawi wulan arwah, tradisi nyadran kados-kados sampun kalebet situs ritual kangge mapak sasi Ramadan, utawi sasi Pasa dumugi Riyaya Idul Fitri. Menawi kita telatos ngonceki werdinipun sadranan, kathah bab-bab ingkang minangka ajaran luhur tumrap gesang ing masyarakat. Sanesipun tata-tata mapak Sasi Suci lan Riyadi Idul Fitri, nyadran ugi caos piwucal, bilih enggal lawasipun tiyang tertamtu badhe nglampahi surut ing kasedan jati, lan ing mriku mboten mbeta banda donya, dlajat pangkat inggih namung sangu ngamal sae nalika sugengipun ingkang saged kabeta minangka sangu marak ing pangayunaning Gusti Ingkang Maha Kuwaos.&lt;br /&gt;Kanthi pemut lumantar tradisi nyadran, tiyang badhe nggadhahi pengatos-atos, mboten ngegungaken bandha, donya, dlajat, pangkat ingkang wekdal sugengipun sanget anggenipun ngudi.&lt;br /&gt;Ingkang angka kalih, piwucal saking prastawa sadranan, inggih menika nuntun dhumateng kita tiyang gesang ingkang tansah remen nengenaken gesang bebrayan utaminipun ingkang nunggil trah, sampun ngantos cutel utawi kepaten obor sesambetan kadang waris ing trah kasebat. Menika saged kita uningani bilih ngancik sasi Ruwah, sedherek-sedherek ingkang sumebar ing perantauan sami nyelakaken wangsul, makempal, sesarengan kintun donga dhumateng para-para ingkang sampun sumare. Ing mriku sesambetan ing antawisipun kadang kadyan nunggil trah badhe sangsaya rumaket.&lt;br /&gt;Kanthi sami ngrawuhi pasareyan makamipun para leluhur, lajeng sami reresik sak derengipun ngintun donga; prastawa menika saged adamel swasana ing makam mboten ketingal rungkut, angker, ngajrih-ajrihi, kanthi tansah karukti ing saben-saben, badhe njalari kawontenan makam kados asri, resik gumrining, saged adamel ayem ing manah ingkang badhe tumus ayemipun para leluhur ingkang sumare.&lt;br /&gt;Nyadran pancen sanes ajaraning satunggaling agami, ananging sampun wiwit zaman sumebaripun agama Hindu, Buddha ngantos agami Islam, Kristen, Katholik marambah ing Bumi Nuswantara, utaminipun ing tlatah Jawadwipa. Tradhisi ngintun donga leluhur ingkang sampun sumare kasebat sampun kados dene kewajiban menggahing tiyang Jawi, awit ing mriku mengku werdi minangka dharma bhaktinipun putra wayah tumrap leluhur ingkang semare.&lt;br /&gt;Kados-kados sedaya tradhisi sesaji, menawi kita tlatos ngonceki, badhe mujudaken ujubing pandonga. Pramila, miturut pamawas kawula minangka pamedhar wartos menika, tradhisi nyadran sinaosa ngantos mbenjingipun badhe tetep pantes utawi tetep taksih relevan pun tindakaken lan pun lestarekaken; awit pranyata ngemu piwucal luhur ingkang leres-leres adiluhung. Nuwun. ::&lt;b&gt;Dening: Ki KRMHT Djoko Pandjihamidjoyo BA&lt;/b&gt;::&lt;/span&gt;      &lt;span class="copy"    style="font-family:erdana,arial;font-size:85%;color:#000000;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6072209488519353307-1697999955180176738?l=ninkwidya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ninkwidya.blogspot.com/feeds/1697999955180176738/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ninkwidya.blogspot.com/2008/08/kathah-ajaran-tumrap-masarakat.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6072209488519353307/posts/default/1697999955180176738'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6072209488519353307/posts/default/1697999955180176738'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ninkwidya.blogspot.com/2008/08/kathah-ajaran-tumrap-masarakat.html' title='Kathah ajaran tumrap masarakat'/><author><name>ninkw1dya ( alve Dya Aurelia Latifa)</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02190777662680452949</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_vgyL60s208c/SvuobeHd1pI/AAAAAAAAADY/zqthVFtNEm8/S220/aku+di+legian.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6072209488519353307.post-560716946475361667</id><published>2008-08-27T20:17:00.001-07:00</published><updated>2008-08-27T20:17:34.598-07:00</updated><title type='text'>Tradhisi spiritual sing ngoyot ing kabudayan</title><content type='html'>&lt;table class="navigasi" border="0" width="100%"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td colspan="2" align="left"&gt;&lt;span style="font-family:verdana,arial;font-size:85%;color:#000000;"&gt;aku jiyarah kawengku ing pangerten tradhisi spiritual. Lan tradhisi spiritual dhewe mujudake salah sijine ciri mligi kabudayan Jawa. Bab iki raket gandheng cenenge kalawan kabudayan Jawa sing tansah ngudi lan mbangun sesambungan harmonis kalawan Sing Maha Kawasa. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;   &lt;span style="font-family:erdana,arial;font-size:85%;color:#000000;"&gt;Sesambungan antarane wong Jawa lan Sing Maha Kawasa iku kawujud ing maneka laku ritual asipat spiritual kayadene jiyarah, nyadran, kenduren, tirakatan, nenepi lan sajinise. Anane maneka warna laku spiritual ing madyaning kabudayan Jawa amarga dayane budaya liya sing lumebu lan banjur manjing ajur-ajer kalawan budaya Jawa.&lt;br /&gt;Miturut Pangarsa Program Studi S2 Kajian Budaya UNS Solo, Prof Dr Bani Sudardi, nalika hamicara ing sawijining seminar ing Fakultas Sastra dan Seni Rupa (FSSR) UNS, sawetara dina kapungkur, tradhisi spiritual jawa pancen asipat dinamis, tansah ngalami owah-owahan.&lt;br /&gt;“Budaya spiritual Jawa tansah bisa manjing ajur-ajer kalawan kahanan kang dumadi. Lan umume tradhisi spiritual Jawa ora asipat homogen. Kayadene tradhisi nyadran (yektine laku jiyarah-red) sing nganti saiki isih diugemi dening bebrayan Jawa,” pratelane Bani.&lt;br /&gt;Yen digoleki oyote, laku spiritual ing tradhisi jiyarah nyadran ora ngoyot marang piwulang agama. Ora ana agama sing diugemi wong Jawa sing ngandhut piwulang yen ing sasi Ruwah iku kudu nggelar laku jiyarah awujud upacara nyadran.&lt;br /&gt;Ing agama Islam, miturut Bani, sing ana hamung andharan bab jiyarah ing kuburan sing bisa dilakoni ing wektu kapan wae, ora kudu ing sasi Ruwah.&lt;br /&gt;Lan jiyarah ing piwulang agama Islam iku werdine sakmadya banget, yaiku supaya wong sing isih urip tansah kelingan yen samengkone uga bakal nemahi pati. Mula ing uripe kudu tansah tumindak sing becik, ora nerak angger-angger agama.&lt;br /&gt;Tradhisi nyadran sing ora liya laku jiyarah iku, yen ditlisik pranyata ngoyot marang tradhisi sing lumaku ing jaman Majapahit, yaiku pacara sradha. Upacara sradha iki werdine ora liya kanggo ngabekti marang wong tuwa. Tradhisi iki ora ngoyot marang tradhisi agama tinamtu, ananging ing jaman saiki tansah kawengku ing kapercayan agama.&lt;br /&gt;Lire, yen sing jiyarah ing tradhisi nyadran iku wong sing ngrasuk agama Islam, laku jiyarahe ya diwernani tradhisi Islam kayadene dongane nganggo basa Arab. Mangkono uga yen sing jiyarah ing tradhisi nyadran iku wong sing ngrasuk agama Kristen, Hindu, Buddha lan agama liyane, anggone ndonga ya manut piwulang agamane dhewe-dhewe.&lt;br /&gt;Kasunyatan mangkene iki, miturut Bani, nuduhake yen tradhisi ing kabudayan Jawa iku duwe sipat gampang manjing ajur-ajer kalawan budaya liyane utawa adaptif. Kasunyatan mangkene iki uga gegayutan kalawan sipate wong Jawa sing tansah ngudi kawujude mamayu hayuning bawana, kaanan kang sarwa harmonis ing wewengkon papan dununge.&lt;br /&gt;Mligi bab laku jiyarah dhewe, miturut sawetara nimpuna kabudayan, kaya sing diandharake ing sawetara kapustakan, yen dipindeng saka antropologi, teologi, sosiologi agama lan sujarah agama-agama mesthi didunungake minangka agama kerakyatan.&lt;br /&gt;Lan nalika ngrembug tembung agama kerakyatan iki, miturut budayawan Solo, Winarso Kalinggo, tundhone bakal nuwuhake panganggep lan pambiji sing asipat negatip. Laku jiyarah minangka agama kerakyatan ing wacan agama-agama kabiji minangka laku “agama” sing sakmadya lan sinkretis. Wusana dianggep nyebal saka piwulang agama sing resmi.&lt;br /&gt;Lan sabanjure wacan agama rakyat iki bakal tansah adhep-adhepan kalawan wacan agama sing diugemi para ulama, nimpuna teologi lan wong-wong liyane sing rumangsa wus nganggep pribadine nguwasani, ngrasuk lan nglakoni piwulang agama sing bener lan pener dhewe. Saka iki banjur tuwuh pambiji yen jiyarah kanggo nenepi, nyadran lan tradhisi spiritual jiyarah liyane dianggep dudu piwulang agama, kepara dianggep ngregeti piwulang agama sing saktemene.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Budaya spiritual Jawa tansah bisa manjing ajur-ajer kalawan kahanan kang dumadi. Lan umume tradhisi spiritual Jawa ora asipat homogen. ::&lt;b&gt;Prof Dr Bani Sudardi, Pangarsa Program Studi S2 Kajian  Budaya UNS&lt;/b&gt;::&lt;/span&gt;      &lt;span class="copy"    style="font-family:erdana,arial;font-size:85%;color:#000000;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;       &lt;/td&gt;         &lt;/tr&gt;         &lt;tr class="navigasi"&gt;    &lt;td&gt;   &lt;p align="right"&gt;                           &lt;/p&gt;   &lt;br /&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6072209488519353307-560716946475361667?l=ninkwidya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ninkwidya.blogspot.com/feeds/560716946475361667/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ninkwidya.blogspot.com/2008/08/tradhisi-spiritual-sing-ngoyot-ing.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6072209488519353307/posts/default/560716946475361667'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6072209488519353307/posts/default/560716946475361667'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ninkwidya.blogspot.com/2008/08/tradhisi-spiritual-sing-ngoyot-ing.html' title='Tradhisi spiritual sing ngoyot ing kabudayan'/><author><name>ninkw1dya ( alve Dya Aurelia Latifa)</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02190777662680452949</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_vgyL60s208c/SvuobeHd1pI/AAAAAAAAADY/zqthVFtNEm8/S220/aku+di+legian.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6072209488519353307.post-5927557427621291243</id><published>2008-08-27T20:15:00.002-07:00</published><updated>2008-08-27T20:16:31.640-07:00</updated><title type='text'>Wiwit piwulang gotong-royong nganti paseduluran...</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:verdana,arial;font-size:85%;color:#000000;"&gt;Saben arep digelar upacara nyadran ing Dhukuh Mendak, Desa Mendak, Kecamatan Delanggu, Klaten lan ing Dhukuh Gunungsari, Desa Tumang, Kecamatan Cepogo, Boyolali, warga sing katemben mbara utawa nyambut gawe adoh saka Mendak lan Gunungsari, saperangan gedhe mesthi nglodhangake wektu kanggo mulih desa. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;   &lt;span style="font-family:erdana,arial;font-size:85%;color:#000000;"&gt;Keraya-raya mulih sakulawargane saka Jakarta, Bandung, Surabaya, Kalimantan, Sumatera lan saka tlatah liyane kuwi ancase padha, yaiku supaya bisa bebarengan warga liyane ing padhukuhan nekani upacara nyadran ing kuburan desa sing dadi papan nyarekake cikal bakal utawa leluhure desa kono lan papan pasareyane wong tuwa utawa kulawarga liyane sing wis sumare.&lt;br /&gt;Mbah Siswantini, salah sijine warga Desa Mendak, nalika wawangunem kalawan Espos, sawetara dina kapungkur, ngandharake menawa tradhisi mulih saka papan nyambut gawe utawa papan ngumbara pancen dadi salah sijine ciri mligi ing bebrayan kono. Semana uga kang dumadi ing tlatah Gunungsari.&lt;br /&gt;Kacihna, ing taun-taun pungkasan iki sansaya akeh uga warga mbara sing ora bisa mulih nalika upacara jiyarah nyadran digelar. Ana sing amarga ora antuk prei saka papan nyambut gawene lan pepalang liyane. Nanging, miturut Wiyonodiharjo, warga Tumang, racake warga sing ngumbara tetep padha ngupaya supaya bisa mulih nalika tradhisi jiyarah nyadran digelar.&lt;br /&gt;“Yen dionceki, yektine tradhisi jiyarah sadranan iku uga ngandhut piwulang bab paseduluran lan gotong royong. Warga sing sugih bakal ngedum ubarampe slametan sing digawa ing upacara sadranan marang warga liyane sing luwih kesrakat. Dene warga sing uripe kesrakat anggone ngracik ubarampe slametan ya sakkuwate lan sakanane. Tekane warga sing ngumbara uga dadi sarana ngraketake paseduluran,” pratelane Siswantini.&lt;br /&gt;Ing laku jiyarah liyane, kayadene jiyarah tumuju pasareyan Walisanga, yektine uga ngandhut piwulang bab paseduluran, gotong-royong lan solidaritas. Ahmad Sajari, warga asli saka Lamongan, Jawa Timur, nalika wawangunem kalawan Espos ing Kartasura, sawetara dina kapungkur, ngandharake laku jiyarah tumuju pasareyane Walisanga biyasane katindakake bebarengan.&lt;br /&gt;Warga sakdesa utawa warga sing kaimpun ing sawijining majlis pengajian sarujuk nglumpukake prabeya kanggo nyewa bis tumuju pasareyane Walisanga. Ing sadawane laku jiyarah Walisanga iki warga sing melu uga tansah mbiyantu antarane siji lan sijine yen katemben ana sing kurang, upamane ana sing sangune kurang banjur mangane dibiyantu kanca sakrombongan kuwi.&lt;br /&gt;Nalika tekan ing pasareyane Wali sing dituju, biyasane banjur sapatemon kalawan rombongan saka tlatah liya. Ing kono banjur ana sing tetepungan. Saliyane mbabar solidaritas uga dadi sarana njembarake pasrawungan.&lt;br /&gt;Ing laku jiyarah liyane, kayadene laku ngibadah haji utawa umrah, sing mesthi diwernani jiyarah ing pasareyane Nabi Muhammad, uga ngandhut piwulang bab solidaritas iki. Ing agama liya uga ana tradhisi jiyarah sing uga ngandhut piwulang bab solidaritas.&lt;br /&gt;Laku jiyarah tumuju papan-papan wingit kayadene Parangkusuma, Gunung Gambar, Sendhang Siwani lan papan-papan sajinis racake uga ngandhut piwulang bab solidaritas. Ana sing mangkate bebarengan, ana uga sing mangkat dhewe-dhewe, wusana ing papan sing dituju tetepungan karo wong liya sing duwe ancas padha.&lt;br /&gt;Ing tradhisi agama Katholik ana laku jiyarah nekani papan-papan sing dianggep suci, kayadene Nazareth, Taman Getsemani, gumuk Golgota, Basilika Santo Petrus, Guwa Maria ing Pohsarang, Kediri lan Sendangsono. Tradhisi agama Buddha uga diwernani tradhisi jiyarah, yaiku nekani papan klairane Sang Buddha ing Kapilavastu, papan nalika Sang Budha nggayuh drajat rohani sing dhuwur dhewe ing Bodh Gaya lan papan liyane.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6072209488519353307-5927557427621291243?l=ninkwidya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ninkwidya.blogspot.com/feeds/5927557427621291243/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ninkwidya.blogspot.com/2008/08/wiwit-piwulang-gotong-royong-nganti.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6072209488519353307/posts/default/5927557427621291243'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6072209488519353307/posts/default/5927557427621291243'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ninkwidya.blogspot.com/2008/08/wiwit-piwulang-gotong-royong-nganti.html' title='Wiwit piwulang gotong-royong nganti paseduluran...'/><author><name>ninkw1dya ( alve Dya Aurelia Latifa)</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02190777662680452949</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_vgyL60s208c/SvuobeHd1pI/AAAAAAAAADY/zqthVFtNEm8/S220/aku+di+legian.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6072209488519353307.post-2985357245355769732</id><published>2008-08-27T20:15:00.001-07:00</published><updated>2008-08-27T20:15:56.077-07:00</updated><title type='text'>Jiyarah, laku batin ngudi katentreman</title><content type='html'>&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:verdana,arial;font-size:85%;color:#000000;"&gt;Tumrap bebrayan Jawa laku jiyarah mujudake perangan kabudayane. Sasi Ruwah ing pananggalan Jawa dadi sasi kang mligi gegayutan kalawan tradhisi laku jiyarah iki. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;   &lt;span style="font-family:erdana,arial;font-size:85%;color:#000000;"&gt;Jiyarah ing kene ateges jiyarah ing kuburan leluhure, wong tuwane lan kulawarga liyane. Uga ateges jiyarah ing kuburane wong-wong sing nalika uripe dadi panutan, kayadene cikal bakale desa, para wali, para priyagung jaman krajan lan pawongan liya sing nalika uripe kabiji minangka wong sing pinunjul, pinundhi-pundhi lan dadi panutan.&lt;br /&gt;Malah ing madyaning bebrayan Jawa uga ana laku jiyarah sing mligi tumuju papan-papan sing dianggep wingit, ngandhut perbawa supranatural lan keyakinan asipat batin liyane.&lt;br /&gt;Tuladhane kayata Alas Krendhawahana ing Gondangrejo, Karanganyar, saben malem Jemuah Kliwon lan Slasa Kliwon mesthi akeh wong sing jiyarah sinambi nenepi. Kayangan Ndlepih, tempuran kali, pasareyan Imogiri, pasareyan Mangadeg lan papan-papan liyane sing dianggep wingit, ngandhut perbawa supranatural utawa daya gaib, wiwit mataun-taun kapungkur uga tansah dadi papan tujuwan jiyarah.&lt;br /&gt;Maneka warna ancase wong-wong sing padha jiyarah. Tumrap wong sing tansah ngudi dalan kanggo nyedhak marang Sing Maha Kawasa, jiyarah saka kuburane wong agung siji tumuju kuburan wong agung liyane kanthi pangajab ngudi sansaya tentreme ati, ngudi ningkate uripe ing perangan batin. Jiyarah dadi sarana nyaketake dhirine mring Gusti Sing Maha Asih.&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Pengin luwar&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Tumrap among dedagangan utawa pengusaha, jiyarah dadi upaya kanggo ngudhari lan ngrampungi sakehing prekara kayadene utang, pawitan sing cekak lan pepenginan supaya rejekine mbanyu mili. Pengangguran nglodhakange wektu kanggo jiyarah, ngudi supaya enggal cekel gaweyan.&lt;br /&gt;Ana uga sing jiyarah amarga pengin luwar saka ancaman paukuman ing pengadilan, pengin menang ing pamilihan lurah, pamilihan bupati, pamilihan gubernur lan pamilihan presiden. Ana uga sing amarga pengin rukun maneh kalawan sisihane sing wus sawetara wektu purik lan maneka warna prekara, panjaluk, pepenginan lan gegayuhan liyane sing ana ing urip padinan.&lt;br /&gt;Tumrap wanita sing dimaru dening sisihan ana sing banjur nglakoni jiyarah ing papan tinamtu, kayadene kuburane Nyai Mas Gandasari ing Cirebon. Wanita sing wus suwe omah-omah nanging durung pinaringan putra ana sing keraya-raya jiyarah ing situs Watu Celek ing Cirebon.&lt;br /&gt;Wong sing pengin menang lotre jiyarah ing kuburane Eyang Buda ing Yogyakarta utawa kuburan patilasan Krajan Banyusumurup. Dene kuburane wali sanga racake adoh saka bab-bab mangkono kuwi. Kuburane walisanga biyasane dadi tujuwan jiyarah sing ancase pancen mligi kanggo nyedhak marang Gusti Kang Maha Kuwasa.&lt;br /&gt;Tradhisi jiyarah yektine ora mung wates gegayutan kalawan agama sing diugemi utawa kapercayan sing diantebi. Kabukten ing madyaning bebrayan Jawa sing aran laku jiyarah iku nglimputi kabeh warga sing kapercayan lan agamane beda-beda.&lt;br /&gt;Miturut andharane juru kunci situs Alas Krendhawahana ing Gondangrejo, Karanganyar, Mbah Lurah Wiryono, warga sing padha tumeka ing situs kasebut pancen wong sing ngrasuk maneka agama. Ana sing ngugemi agama Islam, agama Hindu, agama Budha, agama Kristen lan ana uga sing ngugemi kapitayan kejawen.&lt;br /&gt;“Dene ancase jiyarah lan nenepi ya maneka warna, ana sing pengin usaha bakulane sansaya laris, ana sing pengin luwar saka sanggan utang, ana uga sing amarga pengin enggal cekel gaweyan sing gumathok,” piterange Wiryono, sawetara dina kapungkur.&lt;br /&gt;Bab kang kurang luwih padha uga dumadi ing pasareyane RNg Ranggawarsita ing Desa Palar, Kecamatan Trucuk, Klaten. Miturut Ngadimin, salah sijine warga sing dedunung ora adoh saka pasareyane RNg Ranggawarsita, saben ana pamilihan lurah utawa kepala desa, pamilihan kepala daerah, pamilihan umum lan hajatan pulitik liyane, mesthi akeh wong-wong sing gegayutan kalawan hajatan pulitik iku sing padha jiyarah ing makame pujangga Jawa pungkasan iku.&lt;br /&gt;Ora beda kaanane ing pasareyane Ki Ageng Rogosasi ing tlatah Gunungsari, Desa Tumang, Kecamatan Cepogo, Boyolali. Pasareyan leluhure Desa Tumang sing dumunung ing sawijining gumuk iku tansah dadi tujuwan jiyarah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ancase jiyarah lan nenepi maneka warna, ana sing pengin usaha bakulane sansaya laris, luwar saka sanggan utang, ana uga sing amarga pengin enggal cekel gaweyan sing gumathok&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6072209488519353307-2985357245355769732?l=ninkwidya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ninkwidya.blogspot.com/feeds/2985357245355769732/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ninkwidya.blogspot.com/2008/08/jiyarah-laku-batin-ngudi-katentreman.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6072209488519353307/posts/default/2985357245355769732'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6072209488519353307/posts/default/2985357245355769732'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ninkwidya.blogspot.com/2008/08/jiyarah-laku-batin-ngudi-katentreman.html' title='Jiyarah, laku batin ngudi katentreman'/><author><name>ninkw1dya ( alve Dya Aurelia Latifa)</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02190777662680452949</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_vgyL60s208c/SvuobeHd1pI/AAAAAAAAADY/zqthVFtNEm8/S220/aku+di+legian.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6072209488519353307.post-8721014979370462367</id><published>2008-08-27T20:14:00.002-07:00</published><updated>2008-08-27T20:15:16.340-07:00</updated><title type='text'>Kamardikan ing jiwa Jawa</title><content type='html'>&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;       &lt;span style="font-family:verdana,arial;font-size:85%;color:#000000;"&gt;“Hamemayu hayuning bawana, Mangasah mingising budi, Memasuh malaning bumi”&lt;br /&gt;(Sultan Agung) &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;   &lt;span style="font-family:erdana,arial;font-size:85%;color:#000000;"&gt;Ana ing cathetan sejarah, ngandharake yen umure Kutha Sala iki wis ngancik 263 taun. Bab iku adhedasar saka anane Boyong Kedhaton Saka Karaton Kartasura menyang Desa Sala rikala tanggal 17 Februari 1745. Ora sawetara suwe sakwuse iku, kanthi adhedhasar Perjanjen Salatiga tanggal 17 Maret 1757, Praja Pura Mangkunegaran dikepyakake. Awit saka lakune sejarah lan perjuangan Bangsa Indonesia, nalika tanggal 17 Agustus 1945 lumantar Proklamator Bung Karno lan Bung Hatta, Negara Kesatuan Republik Indonesia ngumumake kamardikane.&lt;br /&gt;Kanggo mengeti ari kamardikan Indonesia kang kaping 63 taun, ora patut kanggo awake dhewe yen mung leyeh-leyeh kegandhulan rasa wegah lan yen mung ngelangut ngelamun wae. Pantese kudu nindakake darma bektine sak bisa-bisane nut kahanan lan pakaryane dhewe-dhewe; ora ngemungake akeh sithike utawa gedhe cilike darma bektine kanggo pamarentah lan bangsane.&lt;br /&gt;Kayadene tetembungan ing pitutur luhur “klungsu-klungsu anggere udhu”, najan mung sak klungsu (wijine who asem) ananging tetep duweni tekad kekarepan asung pambiyantu marang liyan mligine marang negarane.&lt;br /&gt;Ing taun 2008 iki wis sakmestine yen awake dhewe kudu nindakake refleksi kanthi ngleremake pikir lan ngleremake swasana batin. Refleksi kanggo apa? Ya sakwijining refleksi kanggo atur piweling kahanan dhek nalika 100 taun kepungkur. Wektu iku ndalem taun 1908 para winasis lan para ngaluhur bangsa Indonesia nancepake sejarah Kebangkitan Nasional. Mula ya mula uga ora salah yen ana paring andharan lan paring pangandikan, ing taun 2008 iki minangka tetenger taun “Kebangkitan Nasional Jilid II”.&lt;br /&gt;Apa bener Kebangkitan Nasional Jilid II iki uga minangka pratandha kebangkitan budaya? Jawabane cekak aos tur yakin, why not? Ing taun 2008 iki akeh banget program lan acara kang wis dirancang dening pamarentah. Kajaba acara kang diprogramake dening pamarentah pusat, uga akeh banget kang karancang dening provinsi, lan ora sethithik daerah-daerah uga padha gawe pangeram-eram sawarnaning adicara kang adhedasar budaya.&lt;br /&gt;Salah sijine wewarah Sultan Agung kang banget moncere kanggo ambangun bangsa, kayadene kang wis dingendikakake Panjenengane rikala jumeneng nata ing tanah Jawa taun 1613-1645.&lt;br /&gt;Pitutur luhur minangka seserepan lan dadi sangu ing bebrayan kasebut kabagi dadi telung perangan. Sepisan, “Hamemayu hayuning bawana” kang mengku karep yen manungsa iku anggone bebrayan ing masyarakat kudu tansah sumujud ngawula dhateng Gusti Kang Maha Kawasa; kudu tansah sih sinisihan lan welas asih marang sesama uga ngajeni marang asanes; sarta wajib uga njaga amrih tentreming jagad raya sak isine. Kapindho, “Mangasah mingising budi” kang duweni ancas tujuan amrih janma manungsa iku anggone paseduluran dadi warga masyarakat, kudu tansah reresik awake dhewe tata lair lan tata batine; jiwa lan pikire uga dipigunakake kanthi sak becik-becike; sarta bebuden pakartine ditata ngaosi asanes kang migunani kanggo lingkungan masyarakate. Kaping telu, “Memasuh malaning bumi” yaitu kenceng ing karep lan kenceng ing tekad tansah njaga saka bab-bab ora becik kang bisa nyebabake rusake ekosistem biotik lan abiotik sarta rusake lingkungan bumi sak isine. ::&lt;b&gt;Mufti Raharjo, sutresna budaya Jawa&lt;/b&gt;::&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6072209488519353307-8721014979370462367?l=ninkwidya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ninkwidya.blogspot.com/feeds/8721014979370462367/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ninkwidya.blogspot.com/2008/08/kamardikan-ing-jiwa-jawa.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6072209488519353307/posts/default/8721014979370462367'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6072209488519353307/posts/default/8721014979370462367'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ninkwidya.blogspot.com/2008/08/kamardikan-ing-jiwa-jawa.html' title='Kamardikan ing jiwa Jawa'/><author><name>ninkw1dya ( alve Dya Aurelia Latifa)</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02190777662680452949</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_vgyL60s208c/SvuobeHd1pI/AAAAAAAAADY/zqthVFtNEm8/S220/aku+di+legian.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6072209488519353307.post-4311642370575500694</id><published>2008-08-27T20:14:00.001-07:00</published><updated>2008-08-27T20:14:34.435-07:00</updated><title type='text'>Jati dhiri sing ngreridhu</title><content type='html'>&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:verdana,arial;font-size:85%;color:#000000;"&gt;Miturut lapurane Indeks Pembangunan Manusia (Human Development Index/HDI) Program Pembangunan Manusia Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNDP), ndalem taun 2007/2008 Indonesia dumunung ing nomer 107 saka 177 nagara. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;   &lt;span style="font-family:erdana,arial;font-size:85%;color:#000000;"&gt;Bijine Indonesia ing bab mbangun manungsa, ya wargane, isih ing sangisore nagara Sri Lanka sing dumunung ing nomer 99 lan Filipina sing dumunung ing nomer 90. Kanyatan iki pancen nuwuhake pitakonan yagene bisa mangkono kuwi, kamangka jaman isih berjuwang nggayuh kamardikan, Indonesia menjila dadi keblate nagara-nagara liya sing padha-padha nagara berkembang. Sawise 63 taun mardika kok ora tambah apik, kepara tambah ala.&lt;br /&gt;Ngrembug kanyatan HDI-ne Indonesia sing wus 63 taun mardika, nanging isih kapetung durung apik, mung kalebu ing kelas tengah-tengahan, bisa mbaleni kedadeyan ing tanggal 6 April 1977. Nalika iku budayawan Mochtar Lubis mbabar sesorah bab jati dhirine bangsa Indonesia. Sesorah sing banjur kaimpun ing buku Manusia Indonesia (Sebuah Pertanggungjawaban) iku ngemot sawetara bab kang bisa nuwuhake dudutan yen yektine ya sikep lan watake bangsa Indonesia dhewe sing ndadekake isih mratahe bab-bab ora becik ing madyaning bebrayan agung bangsa iki.&lt;br /&gt;Miturut Mochtar Lubis, ana sawetara watak lan sikep asipat negatip sing dadi jati dhirine warga bangsa iki. Antarane, lamis utawa sumuci-suci. Sikep lamis iki sing njurung tumindak korupsi ora sansaya kurang, kepara malah sansaya ngrembaka. Sikep lamis uga menjila ing bab upaya njejegake kukum.&lt;br /&gt;Maling pitik yen kacekel ukumane mesthi sakabot-abote, kamangka anggone nyolong pitik iku pancen amarga kepeksa temen-temen, kudu nyumadhiyakake ragad anake sing mlebu sekolah. Nanging yen ana koruptor sing mangan dhuwite rakyat nganti milyaran rupiah kadenangan, ukumane ora tau sakabot-abote kayadene sing wus ditemtokake ing kitab baboning kukum. Kepara ora sithik sing wusana malah uwal saka paukuman. Lan yen ta diukum ing pakunjaran, papan lan isi pakunjarane sarwa enak lan kepenak.&lt;br /&gt;Ing madyaning bebrayan bangsa Indonesia uga ngrembaka sikep wegah tanggung jawab marang apa sing wus dilakoni, diputusake, dipikirake, ditindakake lan sapiturute. Tetembungan “dudu aku kok” mujudake ukara sing nganti saiki isih gampang keprungu. Pemimpin akeh sing masrahake tanggung jawab tumindak klerune marang andhahane.&lt;br /&gt;Lan sawise 63 taun mardika iki, arang banget, kepara malah ora ana, sawijining pemimpin wani ndhadha, wani ngadeg ing ngarepan, lan wani mikul sanggan abot amarga kleru anggone netepake lan ngetrapake putusan, tumindak lan kawicaksanan. Racake malah padha endha, nyalahake andhahane, utawa yen wus kejepit milih api-api ora ngerti utawa kelalen.&lt;br /&gt;Suwalike, yen ana sawijining asil tumindak kang kabiji apik lan gedhe mupangate, banjur padha rebut dhucung ngaku-aku yen kabeh kuwi mau asil karyane. Sawajining pemimpin sing yektine ora bisa makarya, dadine pemimpin amarga D2 (dhuwit lan dhekeng), ora isin ndhaku asil karya andhahane. Lan sansaya ora duwe isin nalika mesam-mesem nampa pisungsung kartika utawa bintang penghargaan.&lt;br /&gt;Kamardikan, miturut Mochtar Lubis, yektine kanggo ngluwari bangsa Indonesia saka sikep lan budaya feodalisme. Kasunyatane, sikep mangkono kuwi tetep wae mratah lan ngrembaka. Malah miturut GKR Wandansari, saiki luwih akeh wong ing sanjabane karaton sing sikepe luwih feodal tinimbang priyayi-priyayi karaton sing biyen dicap dadi sumbering feodalisme.&lt;br /&gt;Salah sijine sikep feodalisme sing isih ngrembaka iki bisa kadulu saka rebut dhucunge wong kanggo rebutan kursi panguwasa. Lan yen wus ngregem panguwasa banjur lali marang rakyat sing biyen milih, nyengkuyung lan melu berjuang kanggo ngrebut panguwasa iku.&lt;br /&gt;Watak lan sikep negatip liyane, ringkih atine, ora kuwat ngadhepi godha rencana mligine sing wujud dhuwit, raja brana. Uga sikep keset, wegah nyambut gawe temen-temen. Lan sansaya menjila nalika sikep iki dipepaki sikep mubra-mubru utawa boros lan seneng royal. Lan isih ana sawetara sikep negatip liyane sing miturut Mochtar Lubis bakal tansah ngreridhu upaya mbangun manungsa Indonesia&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6072209488519353307-4311642370575500694?l=ninkwidya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ninkwidya.blogspot.com/feeds/4311642370575500694/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ninkwidya.blogspot.com/2008/08/jati-dhiri-sing-ngreridhu.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6072209488519353307/posts/default/4311642370575500694'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6072209488519353307/posts/default/4311642370575500694'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ninkwidya.blogspot.com/2008/08/jati-dhiri-sing-ngreridhu.html' title='Jati dhiri sing ngreridhu'/><author><name>ninkw1dya ( alve Dya Aurelia Latifa)</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02190777662680452949</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_vgyL60s208c/SvuobeHd1pI/AAAAAAAAADY/zqthVFtNEm8/S220/aku+di+legian.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6072209488519353307.post-7652268222245727384</id><published>2008-08-27T20:13:00.001-07:00</published><updated>2008-08-27T20:13:27.029-07:00</updated><title type='text'>Mardika nanging isih sengsara</title><content type='html'>&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:verdana,arial;font-size:85%;color:#000000;"&gt;Babaran beksan Bedhaya Sarpa Rodra racikane pranata beksan Saryuni Padmaningsih, dina Kemis (7/8), mapan ing Gedhong Teater Besar ISI Solo, suka gegambaran bab kaanan urip lan panguripane bangsa Indonesia sing sasi Agustus iki ngancik 63 taun mardika saka regemane penjajah. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;   &lt;span style="font-family:erdana,arial;font-size:85%;color:#000000;"&gt;Emane gegambaran sing dibabar ing beksan minangka rerangkene pengetan 25 taun tilar donyane seniman Sedyono Djojokartika Humardani utawa kondhang kanthi asma Gendon Humardani iku asipat gawe mirising ati.&lt;br /&gt;Paraga Sarpa Kenaka sing dadi underane beksan Bedhaya Sarpa Rodra nggambarake watak sing mung nuruti hawa napsu, kalebu napsu berahi, ora tau krasa marem marang apa sing wis diduweni, nengenake lan mentingake dhiri pribadi lan ora kenal wates nalika mburu kabutuhan lan kasenengane dhewe.&lt;br /&gt;Miturut Saryuni, gegambaran watak lan sipat ing paraga Sarpa Kenaka sing dibabar ing beksan Bedhaya Sarpa Rodra pancen ceples kalawan kaanan uripe bangsa Indonesia ing wektu-wektu pungkasan iki. Kanggo mburu kabutuhane dhewe lan nuruti hawa nepsune, akeh manungsa sing tumindak sakepenake dhewe.&lt;br /&gt;Ana sing ing padinane tansah nuduhake ulat manis, grapyak semanak, nanging yektine ing samburine duwe ancas ngidak wong liya, kepara yen prelu mateni wong liya supaya bisa minangkani kekarepane, ya kekarepan nuruti hawa nepsune lan nuruti kabutuhan pribadine.&lt;br /&gt;Kaanan kang mangkene iki, miturut Sarwono, kuli pasar ing Pasar Legi, Solo, lan Muhammad Sofyan, kanoman warga tlatah Pabelan, Kartasura, Sukoharjo, pancen dadi bab kang menjila ndalem 63 taun mardikane bangsa Indonesia saka regemane penjajah.&lt;br /&gt;Sipat lan tumindak ala kaya mangkono kuwi ora mung mratah ing antarane para kang cekel panguwasa, ananging uga mratah ing bebrayan umum. Tundhone, bebrayan dadi sansaya rusak. Para pemimpin mung mburu senenge dhewe, rata-rata ora mehak rakyat sing mbiyen milih. Kelingane marang rakyat mung yen wancine Pemilu.&lt;br /&gt;“Yen nggagas awake dhewe iki mardika tenan apa durung, miturutku ora bakal ketemu dudutane. Jaman biyen sadurunge mardika, jarene simbokku, lunga menyang ngendi-endi ya mung kudu mlaku. Yen saiki wus akeh tetumpakan, nanging mbayare sansaya larang. Tumrap wong pidak pedarakan kaya aku lan simbokku, kaanane dadi padha wae, tetep wae sengsara,” pratelane Sarwono.&lt;br /&gt;Keponthal-ponthal&lt;br /&gt;Miturut Sofyan, ing wektu-wektu pungkasan iki reregan kabutuhan pokok tansah mundhak, antri tuku lenga kedaden ing akeh papan. Tumrap dheweke, sing mung wates urip njagakake asil saka warung cilik, rasane sangganing urip tetep wae krasa abot.&lt;br /&gt;Kamangka jarene wus luwih setengah abad mardika. Kanyatane, nyukupi kabutuhan mangan padinan wae kudu keponthal-ponthal, durung yen ngrembug ragad sekolah, ragad priksa yen katemben ketaman lelara lan sapiturute.&lt;br /&gt;Seniman lan penyair kondhang saka Pati, Anis Sholeh Ba’asyin, malah suka gegambaran sing luwih gawe mirising ati. Miturut Anis, sing sawetara dina kapungkur mbabar musikalisasi puisi-ne ing Taman Budaya Jawa Tengah (TBJT) Solo, yektine bangsa Indonesia iki urip ing tlatah sing sugih tanpa wates. Sumber alam gemlethek ing ngendi-endi papan, mung kari ngolah.&lt;br /&gt;Emane, ing sugih kang tanpa wates iku bangsa Indonesia dadi “pakewuh” marang bangsa liya. Tundhone pamarentah banjur suka kalodhangan mirunggan marang bebadan-bebadan usaha saka nagara manca sing pengin ngemonah maneka sumber alam sing prasasat tanpa wates iku. Sapa wae pehak saka nagara manca kaya-kaya dijurung sakabehe kanggo ndhudhah sakehing sumber alam kasebut lan sabanjure ngolah lan mumpangatake.&lt;br /&gt;Dene awake dhewe, bangsa Indonesia, cukup kumanan limbah-e wae. Kaskayane alam kabeh dikeruk lan digawa mlayu menyang nagara manca. Lan nganti saiki pamarentah ya mung sedhakep wae.&lt;br /&gt;Lan tambah taun, kaskayane bangsa Indonesia sansaya tambah akeh. Miturut Anis, saiki bangsa Indonesia uga sugih koruptor. Saking sugih koruptor, yen ana 100 utawa 200 jenenge koruptor sing dibusak saka daptar, jarene Anis, durung bakal bisa nuwuhake bab kang beda tumrap bangsa iki.&lt;br /&gt;Saliyane iku, isih ana sawetara bab kang kudune wus ilang saka madyaning bebrayan agung bangsa iki minangka bangsa sing wus mardika 63 taun. Miturut Sahid Teguh Widodo saka Fakultas Sastra dan Seni Rupa (FSSR) UNS, sing saiki sinau ing sawijining universitas ing Malaysia, ing jagad pendhidhikan Indonesia kapetung kalah yen katandhingake nagara liya sing jan-jane mardikane saka regemane penjajah kapetung luwih telat tinimbang bangsa Indonesia. &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6072209488519353307-7652268222245727384?l=ninkwidya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ninkwidya.blogspot.com/feeds/7652268222245727384/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ninkwidya.blogspot.com/2008/08/mardika-nanging-isih-sengsara.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6072209488519353307/posts/default/7652268222245727384'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6072209488519353307/posts/default/7652268222245727384'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ninkwidya.blogspot.com/2008/08/mardika-nanging-isih-sengsara.html' title='Mardika nanging isih sengsara'/><author><name>ninkw1dya ( alve Dya Aurelia Latifa)</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02190777662680452949</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_vgyL60s208c/SvuobeHd1pI/AAAAAAAAADY/zqthVFtNEm8/S220/aku+di+legian.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6072209488519353307.post-5631011349633677309</id><published>2008-08-27T20:12:00.001-07:00</published><updated>2008-08-27T20:12:49.218-07:00</updated><title type='text'>Pancasila dadi sarana bali ngugemi budayane dhewe</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:verdana,arial;font-size:85%;color:#000000;"&gt;Mratahe maneka warna sikep ala kaya andharane Mochtar Lubis, kang wusana ndadekake bangsa Indonesia durung bisa mentas saka urip kasangsaya, miturut budayawan Jawa, Winarso Kalinggo, lan paraga presidium Pusat Lembaga Kabudayan Jawi (PLKJ) Surakarta, Widijatno Sontodipuro, bisa diawekani kanthi sikep jati dhirine bangsa Indonesia dhewe uga kang asipat positip. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;   &lt;span style="font-family:erdana,arial;font-size:85%;color:#000000;"&gt;“Jejering manungsa mono pancen kasinungan sikep lan watak sing ala uga sing apik. Lah, tumrap manungsa sing ngugemi jati dhirine minangka titahing Sing Gawe Urip kanggo ngreksa bumi saisine mesthine tansah ngupaya meper hawa napsu sing ala lan tansah ngugemi sikep lan watak sing becik, sing tansah njurung kawujude karyenak tyasing sasami,” pratelane Winarso, sawetara dina kapungkur.&lt;br /&gt;Sikep lan watak asipat positip sing dikarepake, miturut Widijatno, yektine uga wus menjila dadi jati dhirine bangsa Indonesia, mligine ing madyaning bebrayan Jawa sing wusana mernani bebrayan agung bangsa Indonesia.&lt;br /&gt;Emane, miturut budayawan Jawa, Sugiyatno Ronggojati, sawetara wektu kapungkur, sakehing watak utama kasebut saiki mung kari wujud mitos lan ora didayakake dadi etos.&lt;br /&gt;Nimpuna basa lan filsafat Jawa, suwargi Pastor Van Lith nate nelakake, wong manca (Eropa lan Amerika) ora bisa mangerteni aten-atene wong Jawa ing madyaning bebrayan. Jarene Van Lith, tumrap wong Eropa lan Amerika, wiwit bocah nganti dewasa digegulang lan diwulang sarana pitutur lieg niet, tegese aja ngapusi.&lt;br /&gt;Ananging bocah-bocah Jawa wiwit cilik tansah digegulang lan diwulang kanthi pitutur grief niet, tegese aja nglarani atining liyan. Iki mujudake salah sijine sipat pinuji tumrap wong Jawa kang uga wus mratah ing bebrayan agung bangsa Indonesia. Lire, samubarang tumindak lan ujar kudu dipikir temen-temen supaya ora nglarani atining liyan.&lt;br /&gt;Emane, sipat pinuji iki uga diugemi ing bab kang ora becik. Kayadene ing prekara korupsi sing sansaya mratah lan ngrembaka, ana saperangan seksi sing ora gelem blaka suta amarga kuwatir yen nglarani liyan. Bab iki, kudune diugemi kabecikane yaiku ora nglarani liyan ing samubarang ujar lan tumindak sing ora ngrugekake liyan uga.&lt;br /&gt;Ing kaskayane tradhisi lisan ing Indonesia lan mligine ing bebrayan Jawa, miturut Winarso, akeh tinemu unen-unen, pitutur, tembang, naskah lan liyane sing ngandhut piwulang bab sikep lan watak pinuji. Yen sikep lan watak pinuji iki diugemi kanthi temen-temen lan dicakake ing bab-bab kang pinuji uga, temahane bakal njurung kawujude jalma utama, sarira bathara utawa insan kamil, manungsa paripurna ing sipat, watak lan tumindak.&lt;br /&gt;Manungsa paripurna ora liya sejati-jatining satriya, sejati-jatining manungsa kang wus nggayuh kasampurnan lan kuwawa mujudake hamemayu hayuning bawana. Manungsa mengkene iki pratandhane harmonis lair batine, jiwa ragane, intelektual spiritual-e lan sirah dhadhane sing bakal nglairake tapsiran-tapsiran humanisme.&lt;br /&gt;Ing kalodhangan liya, pangarsa Komunitas Gambus Jawa, Slamet Gundono, ngandharake, salah sijine cara ndandani rusaking bangsa iki yaiku kanthi cara bali ngugemi budayane dhewe sing wus dibabar ing dhasar nagara Pancasila.&lt;br /&gt;Nalika mbabar asil karyane ing Taman Budaya Jawa Tengah (TBJT) Solo, sawetara dina kapungkur, Slamet nelakake, yektine yen kabeh warga bangsa Indonesia iki, wiwit rakyat pidak pedarakan nganti para ngaluhur sing nyekel panguwasa, bali ngugemi Pancasila kadidene tapsiran asline, bangsa iki bakal luwih gampang anggone luwar saka sakehing reridhu.&lt;br /&gt;Kasunyatane, Pancasila sing yektine diracik sawise ndhudhah maneka warna kabudayan ing kabeh tlatah nagara iki, saiki sansaya dilalekake lan dikiwakake. Sikep nglalekake lan ngiwakake Pancasila iki bisa dadi kaca pengilon yen yektine warga bangsa iki pancen wus nglalekake jati dhirine, nglalekake kabudayane dhewe&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6072209488519353307-5631011349633677309?l=ninkwidya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ninkwidya.blogspot.com/feeds/5631011349633677309/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ninkwidya.blogspot.com/2008/08/pancasila-dadi-sarana-bali-ngugemi.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6072209488519353307/posts/default/5631011349633677309'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6072209488519353307/posts/default/5631011349633677309'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ninkwidya.blogspot.com/2008/08/pancasila-dadi-sarana-bali-ngugemi.html' title='Pancasila dadi sarana bali ngugemi budayane dhewe'/><author><name>ninkw1dya ( alve Dya Aurelia Latifa)</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02190777662680452949</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_vgyL60s208c/SvuobeHd1pI/AAAAAAAAADY/zqthVFtNEm8/S220/aku+di+legian.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6072209488519353307.post-5590641363876529002</id><published>2008-08-27T20:10:00.001-07:00</published><updated>2008-08-27T20:10:58.674-07:00</updated><title type='text'>Seni ing alam pikir modernitas</title><content type='html'>&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:verdana,arial;font-size:85%;color:#000000;"&gt;Yen ngrembug bab ndunungake seni tradhisi lan modhern cetha ora bisa uwal saka anane, kapentingan, selera lan cara mindenge bebrayan marang seni lan anane seni iku dhewe. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;   &lt;span style="font-family:erdana,arial;font-size:85%;color:#000000;"&gt;Ing satengahing peradaban jaman saiki sing ngegung-gungake modernitas, anane seni tradhisi kaya-kaya dadi asil budaya sing mung wates apunjer karaton, aneh, lawas, kuna lan ora bisa ngrembaka.&lt;br /&gt;Panganggep mangkene iki pancen ora bisa dianggep kleru, amarga wong sing mindeng duwe pangerten lan panemu sing lelandhesan modernitas. Bab iki amarga dayane budaya modhern sing nglimputi kabeh perangan uripe manungsa, ngarahake, lan luwih ekstrim maneh ngrangsang cara mikir lan cara mindeng wong ngenani kabudayan, mligine seni tradhisi, sing dumunung ing alam liya saka seni modhern.&lt;br /&gt;Nalika kudu mangerteni werdine seni tradhisi, ana laku meres pikiran lan kudu bisa ndhudhah pralambang kang sinandhi ing seni tradhisi. Iki sing mbedakake kalawan laku mangerteni seni modhern. Nalika kudu mangerteni seni modhern, prasasat ora mrelokake pikiran lan uga ora mbutuhake upaya ndhudhah pralambang kang sinandhi.&lt;br /&gt;Seni modhern didunungake minangka bab kang ora prelu dimangerteni lan didhudhah kanthi temen-temen. Ora mrelokake daya lan pikiran kanggo mindeng. Cekake, seni modhern ngusung paugeran praktis, nglipur lan narik kawigaten.&lt;br /&gt;Kanthi mangkono tapsiran sing kakandhut ing seni modhern ora bisa ditandhingake kalawan tapsiran sing kakandhut ing seni tradhisi. Tapsiran religi, pendhidhikan lan liyane pancen ana ing seni modhern kanthi eksplisit.&lt;br /&gt;Dene ing seni tradhisi, tapsiran-tapsiran kasebut tansah kawujud kanthi implisit. Amarga iku, pamindeng seni tradhisi mbutuhake wektu luwih suwe kanggo negesi pralambang-pralambang sing dibabar. Ananging ing seni modhern, bisa langsunng ditegesi, amarga nyata lan cetha wela-wela utawa eksplisit.&lt;br /&gt;Banjur kepriye cara ndunungake seni tradhisi lan modhern? Seni tradhisi lan modhern duwe sutresna dhewe-dhewe, ngandhut estetika dhewe-dhewe lan uga duwe cara negesi dhewe-dhewe. Kanthi mangkono, loro wujud seni iki kudu didunungake ing wewengkon sing beda, yaiku wewengkon wektu, cara negesi, ancas lan uga papan lan kalodhangane.&lt;br /&gt;Para seniman seni tradhisi ora prelu ngasorake seni modhern saka cara mindeng seni tradhisi. Suwalike, seniman seni modhern ora perlu ndhaku yen genre seni sing digilut luwih apik tinimbang seni tradhisi. Prelu pangerten asipat holistik kanggo nandhingake kekarone.&lt;br /&gt;Wusana, miturutku, seni tradhisi lan modhern duwe kalungguhan sing padha.Ora bisa mbiji yen sing siji luwih apik tinimbang sijine, utawa sing siji luwih ala tinimbang sijine. Dudutane, seni tradhisi lan modhern dadi perangan uripe bebrayan sing ngugemi cara mikir lan negesi sing beda-beda. Seni ora bisa dibedakake saka bab dununge. ::&lt;b&gt;Bondet Wrahatnala  Dosen Etnomusikologi ISI Solo&lt;/b&gt;::&lt;/span&gt;      &lt;span class="copy"    style="font-family:erdana,arial;font-size:85%;color:#000000;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6072209488519353307-5590641363876529002?l=ninkwidya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ninkwidya.blogspot.com/feeds/5590641363876529002/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ninkwidya.blogspot.com/2008/08/seni-ing-alam-pikir-modernitas.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6072209488519353307/posts/default/5590641363876529002'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6072209488519353307/posts/default/5590641363876529002'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ninkwidya.blogspot.com/2008/08/seni-ing-alam-pikir-modernitas.html' title='Seni ing alam pikir modernitas'/><author><name>ninkw1dya ( alve Dya Aurelia Latifa)</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02190777662680452949</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_vgyL60s208c/SvuobeHd1pI/AAAAAAAAADY/zqthVFtNEm8/S220/aku+di+legian.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6072209488519353307.post-8664470683805395670</id><published>2008-08-27T20:09:00.000-07:00</published><updated>2008-08-27T20:10:06.551-07:00</updated><title type='text'>Gendon Humardani, saka dhokter dadi seniman</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:verdana,arial;font-size:85%;color:#000000;"&gt;Gendon Humardani sing asma asline Sedyono Djojokartika (SD) Humardani lair tanggal 30 Juni 1923 ing Kutha Solo. Jeneng cilike Sedyono, nanging wiwit isih cilik kondhang kanthi sesebutan Gendon. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;   &lt;span style="font-family:erdana,arial;font-size:85%;color:#000000;"&gt;Dene jeneng SD Humardani mung digunakake ing kabutuhan sing asipat resmi.&lt;br /&gt;Jeneng Humardani iku dijupuk saka jeneng bapake, Humardani Djojosoedarmo, sing digunakake minangka jeneng resmine wiwit bapake iku tilar donya. Jeneng Djojokartika dijupuk saka jeneng salah siji simbahe lan jeneng iku wus digunakake wiwit isih dadi siswa sekolah MULO taun 1937-an.&lt;br /&gt;Miturut andharan ing buku Gendhon Humardhani, Sang Gladiator Arsitek Kehidupan Seni Tradisi Modern, karyane Rustopo, weton Yayasan Mahavhira, 2001, Gendon iku anak ragil saka papat sedulur sing lair saka pasangan Humardadi Djojosoedarmo lan Soenarti. Sedulure Gendon yaiku Sardjono (tilar donya taun 1980), Soedjono (tilar donya taun 1986) lan Sri Kajatinah.&lt;br /&gt;Humardani Djojosoedarmo iku sawijining juragan sugih ing Kutha Solo. Dene Soenarti kalebu anak turune abdi dalem Karaton Kasunanan Surakarta. Ibune, Nyai Tumenunggung Setjapura dadi abdidalem Bupati Putri Lebet Karaton Kasunanan Surakarta.&lt;br /&gt;Gendon ora suwe diesuh bapak lan ibune, amarga wong tuwane sakloron pisahan sawise bapake ningkah maneh karo Soeharti. Nalika bapak ibune pisahan, Gendon nembe umur pitung taun. Kawitane Gendon manut bapake yaiku tetep manggon ing omahe bapake bareng sedulure lan ibu kuwalone.&lt;br /&gt;Nanging suwening suwe Gendon ora betah amarga tuwuh lan ngrembakane rasa kangen marang ibune dhewe lan rasa gething marang bapake lan ibu tirine. Wusana Gendon metu saka omahe bapake lan banjur manggon bareng ibune, Soenarti. Lan wiwit umur pitung taun iku Gendon wus ngrasakake urip lara lapa bareng ibune.&lt;br /&gt;Nalika Soenarti tilar donya, Gendon wus umur 15 taun. Sawise ibune seda Gendon tetep ora gelem urip saomah bareng bapake, sedulur lan ibu kuwalone. Gendon milih urip bareng bapak cilike, Mangkukartika. Taun 1943 Gendon pindhah menyang Kutha Yogyakarta amarga mlebu sekolah sing disumadhiyakake dening pamarentah penjajah Jepang. Sawise setaun ing Yogyakarta, Gendon pindhah menyang Jakarta sekolah ing sekolah dokter Ika Dai Gaku.&lt;br /&gt;Sasi Desember 1948 Gendon teka ing omahe Mangkukartika. Nalika iku Gendon nandhang lara. Sawise awake waras, Gendon lunga maneh lan nembe taun 1950 dheweke teka maneh ing omahe Mangkukartika. Lan nganti wektu kuwi Gendon isih jothakan kalawan bapake. Nanging yektine bapake tetep mikirake Gendon lan Gendon dhewe uga tansah ngurmati bapake.&lt;br /&gt;Ing taun 1952 Gendon mbangun bale somah kalawan kenya pilihane, Berta. Arepa sesambungan antarane Gendon lan bapake ora apik, nanging Gendon kasil ngrampungake sekolahe wiwit Neutrale HIS Mangkubumen Solo (lulus taun 1937), MULO Surakarta suwene rong taun lan dibacutake ing MULO Bandung taun 1940. Sabanjure kelas IV lan V dilakoni ing LYCEUM Bandung lan lulus taun 1942.&lt;br /&gt;Gendon banjur pindhah sekolah ing Yogyakarta, yaiku ing SMT lan lulus taun 1943. Lulus saka SMT banjur mlebu ing sekolah kedokteran Ika Daigaku ing Jakarta nganti taun 1944/1945 nalika sekolah iku ditutup. Sekolah dhoktere iki dibacutake sawise perang kemerdekaan kapindho, yaiku ing UGM Yogyakarta lan kasil nggayuh gelar docotorandus medicus taun 1959.&lt;br /&gt;Taun 1960/1961 Gendon antuk kalodhangan sinau anatomi ing Inggris.&lt;br /&gt;Wiwit iki ana owah-owahan karep amarga sinaune ora rampung. Gendon banjur sinau joged ing Amerika (1961/1962). Lan yektine wiwit umur 11 taun Gendhon pancen wus gladhen njoged. Nalika sekolah ing Jakarta Gendon nate melu kaimpun ing pepanthan joged Kridha Beksa Wirama. Ing taun 1952 Gendon sakancane ngedegake Himpunan Siswa Budaya (HSB).&lt;br /&gt;Taun 1970/1971 Gendon antuk jejibahan mimpin Proyek Pengembangan Kesenian Jawa Tengah (PKJT) lan ing taun 1975 ditetepake dadi Ketua Akademi Seni Karawitan Indonesia (ASKI) Solo.&lt;br /&gt;Wiwit isih enom nganti mimpin PKJT lan ASKI, Gendon tansah ngasilake pamikiran kanggo ngrembakakake seni tradhisi. Tumrap para cantrike, Gendon mujudake guru sing galak, nanging temen-temen yen mulang. Kacihna uga tetep seneng guyon. Gendon tilar donya tanggal 7 Agustus 1983. ::&lt;b&gt;praBondet Wrahatnala  Dosen Etnomusikologi ISI Solo&lt;/b&gt;::&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6072209488519353307-8664470683805395670?l=ninkwidya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ninkwidya.blogspot.com/feeds/8664470683805395670/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ninkwidya.blogspot.com/2008/08/gendon-humardani-saka-dhokter-dadi.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6072209488519353307/posts/default/8664470683805395670'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6072209488519353307/posts/default/8664470683805395670'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ninkwidya.blogspot.com/2008/08/gendon-humardani-saka-dhokter-dadi.html' title='Gendon Humardani, saka dhokter dadi seniman'/><author><name>ninkw1dya ( alve Dya Aurelia Latifa)</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02190777662680452949</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_vgyL60s208c/SvuobeHd1pI/AAAAAAAAADY/zqthVFtNEm8/S220/aku+di+legian.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6072209488519353307.post-7627354925356400881</id><published>2008-08-27T20:07:00.001-07:00</published><updated>2008-08-27T20:07:46.269-07:00</updated><title type='text'>Wewangunan sing arep ambruk</title><content type='html'>&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:verdana,arial;font-size:85%;color:#000000;"&gt;Tembung seni tradhisi utawa tradhisional biyasane katumrapake kanggo nyebut wujud-wujud seni sing tuwuh lan ngrembaka ing tlatah-tlatah kang disengkuyung dening bebrayan ing tlatah kasebut. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;   &lt;span style="font-family:erdana,arial;font-size:85%;color:#000000;"&gt;Tembung seni tradhisi, miturut Prof Dr Rustopo, guru besar ing Institut Seni Indonesia (ISI) Solo, biyasane uga kanggo mbedakake kalawan wujud-wujud seni kutha sing dianggep minangka seni nasional, arepa sumbere saka kabudayan manca.&lt;br /&gt;“Pangerten mangkene iki isih asipat umum banget. Saengga angel yen kanggo nemtokake sawijining karya seni kalebu tradhisi utawa modhern,” piterange Rustopo, uga ing acara pengetan 25 taun tilar donyane Gendon Humardani ing ISI Solo, sawetara dina kapungkur.&lt;br /&gt;Yektine, miturut Rustopo nalika methik andharane swargi Umar Kayam lan Gendon Humardani, seni tradhisi iku tansah kawengku ing swasana sosial budaya bebrayan papan tuwuh lan ngrembakane seni kasebut.&lt;br /&gt;Seni tradhisi tuwuh lan ngrembake minangka perangane kabudayan bebrayan tradhisional ing tlatahe dhewe-dhewe. Kanthi mangkono seni tradhisi ngandhut ciri sing mligi saka bebrayan tradhisional kasebut. Ngrembakane uga kapetung alon.&lt;br /&gt;Kabeh apa sing kawujud ing karya seni tradhisi iku dadi gegambaran kapentingan kosmos kang nglimputi kabeh perangan urip lan panguripane warga bebrayan.&lt;br /&gt;Lan sabanjure, seni tradhisi sing sakawit apunjer kabudayan urip padinan ing sawijining bebrayan banjur alihan apunjer raja sing nyekel panguwasa. Kedadeyan iki gegayutan kaprecayan kosmos sing punjere ngarah marang raja sing pinitaya dadi punjering kabeh daya kosmos sing merbawani uripe bebrayan.&lt;br /&gt;Miturut Umar Kayam, seni tradhisi karaton iku minangka seni tradhisi lisan, dene seni tradhisi rakyat minangka seni tradhisi kerakyatan. Kekarone yektine uga tetep minangka seni fungsional sing asipat anonim.&lt;br /&gt;Seni tradhisi apunjer karaton ngrembaka lan diwarisi dening generasi sabanjure, nganti saiki. Yen ana owah-owahan ing seni tradhisi iki sipate evolutif, alon-alon, saengga prasasat bebrayan ora mangerteni dumadine owah-owahan kasebut.&lt;br /&gt;Kanggo nemtokake wates pangerten seni tradhisi, swargi Gendon Humardani tansah lelandhesan seni rakyat lan uga seni modhern. Seni tradhisi lelandhesan karya-karya seni jaman kawuri. Sipat iki pancen kosok balen kalawan seni modhern sing ora lelandhesan asil karya seni jaman kawuri.&lt;br /&gt;Lan sing ora kalah wigatine nalika ngrembug seni tradhisi, tandhese Rustopo, Gendon Humardani tansah mindeng seni tradhisi kadidene wewangunan sing meh ambruk.&lt;br /&gt;Mula sakehing daya sanggit, upaya lan rekadaya tumrap seni tradhisi katujokake supaya wewangunan kasebut ora sida ambruk ananging tetep ngadeg nggejejer salawase donya iki isih ana, aja nganti cures. Emane, saperangan gedhe warga bebrayan saiki racake duwe sikep ambruk karepmu, ora ambruk ya karepmu&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6072209488519353307-7627354925356400881?l=ninkwidya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ninkwidya.blogspot.com/feeds/7627354925356400881/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ninkwidya.blogspot.com/2008/08/wewangunan-sing-arep-ambruk.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6072209488519353307/posts/default/7627354925356400881'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6072209488519353307/posts/default/7627354925356400881'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ninkwidya.blogspot.com/2008/08/wewangunan-sing-arep-ambruk.html' title='Wewangunan sing arep ambruk'/><author><name>ninkw1dya ( alve Dya Aurelia Latifa)</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02190777662680452949</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_vgyL60s208c/SvuobeHd1pI/AAAAAAAAADY/zqthVFtNEm8/S220/aku+di+legian.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6072209488519353307.post-3648236954448643762</id><published>2008-08-27T20:04:00.001-07:00</published><updated>2008-08-27T20:04:40.645-07:00</updated><title type='text'>Ngrembug seni tradhisi lan modhern</title><content type='html'>&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;       &lt;span style="font-family:verdana,arial;font-size:85%;color:#000000;"&gt;Seni tradhisi lan seni modhern tumrap saperangan warga bebrayan ing wanci-wanci pungkasan iki dianggep rong bab kang ora bisa dijumbuhake. Seni tradhisi duwe papan lan kalodhangan sarta sutresnane dhewe. Mangkono uga seni modhern. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;   &lt;span style="font-family:erdana,arial;font-size:85%;color:#000000;"&gt;Ananging ana uga saperangan warga bebrayan sing duwe panemu lan panganggep yen antarane seni tradhisi lan seni modhern iki bisa nyawiji lan tansah ana sesambungan. Seni modhern sing apik racake tansah lelandhesan tapsiran asil karya seni tradhisi.&lt;br /&gt;Utawa, sakorane pangriptane duwe kawasisan, kaprigelan lan kawegigan pinunjul ing ulah seni tradhisi saengga kasil ngripa asil karya seni modhern sing pinunjul uga. Panemu lan panganggep kang beda bab jejering seni tradhisi lan seni modhern ini wola-wali nuwuhake pradondi.&lt;br /&gt;Mligine tumrap saperangan generasi mudha jaman saiki, sing wus kadayan budaya nyejagat utawa globalisasi, ana sing nganggep yen seni tradhisi iku kuna, ora njamani, ora jumbuh kalawan budaya urip jaman modhern lan panganggep sajinis.&lt;br /&gt;Lan ana uga sing nganggep yen seni tradhisi iku yektine mujudake jati dhirine bangsa, jati dhiri budaya. Seni tradhisi mujudake asil karya leluhur sing asipat edi peni lan adiluhung, ngandhut tapsiran-tapsiran sing gegayutan kalawan lakuning urip lan panguripan saengga kudu dileluri nganti kapan wae.&lt;br /&gt;Prof Dr Sri Hastanto, sing nate nyantrik marang Gendon Humardani, ing satengahing acara mengeti 25 taun sedane seniman Sedyono Djojokartiko Humardani sing kondhang kanthi sesebutan Gendon Humardani, sawetara dina kapungkur, nelakake, bab jejering seni tradhisi lan seni modhern yektine ora prelu nuwuhake pradondi.&lt;br /&gt;Asil karya seni modhern sing apik kudune ngandhut tapsiran sing luwih sakabehe yen katandhingake kalawan asil karya seni tradhisi. Yen ana sawijining asil karya seni modhern pranyata kandhutan estetis-e, tapsirane lan maneka bab liyane isih luwih ala tinimbang seni tradhisi, ateges asil karya kasebut durung bisa dibiji pinunjul.&lt;br /&gt;“Nalika isih nyantrik marang swargi Gendon Humardani, ana wewaler aja pisan-pisan mbiji yen seni tradhisi iku underane sarwa bab kang kawuri, bab kang gegayutan urip lan panguripan jaman biyen. Yen nganti ana wong, apamaneh cantrik, sing ngungelake panemu mangkono kuwi bakal antuk sesorah saka Pak Gendon sing padha karo kudu kuliyah sing bobote 2 SKS,” piterange Hastanto.&lt;br /&gt;Mendem&lt;br /&gt;Gendon Humardani sing nate mangarsani Proyek Pengembangan Kesenian Jawa Tengah (PKJT) sing mapan ing Sasanamulya lan uga nate mangarsani Akademi Seni Karawitan Indonesia (ASKI) Solo, saiki dadi ISI Solo, pancen mujudake salah sijine seniman pinunjul sing kasil medharake werdine ngleluri seni tradhisi gegayutan kalawan tuwuh lan ngrembakane seni modhern.&lt;br /&gt;Gendon Humardani nalika sugenge pancen tansah nengenake upaya nggegulang para cantrike ing ulah seni tradhisi lan duwe sikep kaya-kaya ora preduli marang seni-seni modhern. Kanyatan kang lumaku ing PKJT lan ASKI iki, miturut Hastanto, ora amarga Gendon nganggep yen seni modhern iku luwih ala ajine tinimbang seni modhern, lan suwalike.&lt;br /&gt;Pamikirane Gendon ing bab seni tradhisi iki, miturut Hastanto nganti saiki panggah isih dadi cekelane ISI Solo. Miturut Gendon, seni modhern ora pati digape ing kridhane ngesuhi PKJT lan ASKI amarga seni modhern lan para senimane wus duwe arah sing cetha, duwe gegebengan sing cetha lan uga duwe sikep manteb ing ati. Ananging jagad seni tradhisi ora kaya mangkono. Para seniman seni tradhisi rata-rata isih mendem mring jayane jaman kawuri, saengga prelu digugah saka ngimpine iku.&lt;br /&gt;Bab iki gegayutan rapet kalawan kaanan seni tradhisi sing miturut Gendon duwe telu tapsiran pinunjul. Katelune yaiku, repertoar lan garapane mrelokake virtuositas dhuwur lan eksplisit saengga asipat kompetitif, ngandhut cakepan-cakepan seni sing bisa dikrembakakakane dadi ilmu seni sing ora kalah kalawan seni-seni bangsa liya lan ngandhut tapsiran jari dhiri bangsa.&lt;br /&gt;“Kanthi mangkono, seni tradhisi mujudake pawitan sing ngedab-edabi tumrap daya sanggit, upaya ngrembakakake ilmu mligi lan jati dhiri bangsa. Telu kapinunjulan seni tradhisi iki kuwu dikuwasani dening generasi panerus bangsa, digarap lan ditrapake tumrap kapentingan saiki lan wektu kang bakal teka. Karya-karya sing lelandhesan seni tradhisi ing wektu saiki kudu luwih apik lan luwih mupangati tumrap urip lan panguripan jasmani lan rohani warga bebrayan jaman saiki,” tandhese Hastanto.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6072209488519353307-3648236954448643762?l=ninkwidya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ninkwidya.blogspot.com/feeds/3648236954448643762/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ninkwidya.blogspot.com/2008/08/ngrembug-seni-tradhisi-lan-modhern.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6072209488519353307/posts/default/3648236954448643762'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6072209488519353307/posts/default/3648236954448643762'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ninkwidya.blogspot.com/2008/08/ngrembug-seni-tradhisi-lan-modhern.html' title='Ngrembug seni tradhisi lan modhern'/><author><name>ninkw1dya ( alve Dya Aurelia Latifa)</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02190777662680452949</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_vgyL60s208c/SvuobeHd1pI/AAAAAAAAADY/zqthVFtNEm8/S220/aku+di+legian.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6072209488519353307.post-1036108377088195367</id><published>2008-08-16T19:26:00.000-07:00</published><updated>2008-08-16T19:42:38.327-07:00</updated><title type='text'>SEDYAKU</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_vgyL60s208c/SKeQEIZ3axI/AAAAAAAAABI/VpiY_MPN7ew/s1600-h/334645-4-crocodile-tears.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer;" src="http://1.bp.blogspot.com/_vgyL60s208c/SKeQEIZ3axI/AAAAAAAAABI/VpiY_MPN7ew/s320/334645-4-crocodile-tears.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5235311492491340562" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Wis,kang&lt;br /&gt;Aku sumeleh&lt;br /&gt;nyelehake pangarep-arepku&lt;br /&gt;marang katresnan lan kawigatenmu sing semu&lt;br /&gt;yen nyatane among samene&lt;br /&gt;cuthele lelekonku..........................&lt;br /&gt;                Pepenginanku tansah sumandhing&lt;br /&gt;              lan nresnani kowe&lt;br /&gt;              sing luwih wigati,kang&lt;br /&gt;              dongo la pangestumu wae&lt;br /&gt;              tansah mili kanggo ak&lt;br /&gt;Wis,kang&lt;br /&gt;aku pamit&lt;br /&gt;becik njembarake pikir&lt;br /&gt;nggayuh kebegjan&lt;br /&gt;mring ati lan katresnan satuhu&lt;br /&gt;tan ora binagi liyan&lt;br /&gt;sempurna ing uritan&lt;br /&gt;siji.....................&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6072209488519353307-1036108377088195367?l=ninkwidya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ninkwidya.blogspot.com/feeds/1036108377088195367/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ninkwidya.blogspot.com/2008/08/sedyaku.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6072209488519353307/posts/default/1036108377088195367'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6072209488519353307/posts/default/1036108377088195367'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ninkwidya.blogspot.com/2008/08/sedyaku.html' title='SEDYAKU'/><author><name>ninkw1dya ( alve Dya Aurelia Latifa)</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02190777662680452949</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_vgyL60s208c/SvuobeHd1pI/AAAAAAAAADY/zqthVFtNEm8/S220/aku+di+legian.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_vgyL60s208c/SKeQEIZ3axI/AAAAAAAAABI/VpiY_MPN7ew/s72-c/334645-4-crocodile-tears.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6072209488519353307.post-663967465934735360</id><published>2008-08-14T03:49:00.000-07:00</published><updated>2008-08-14T03:52:46.279-07:00</updated><title type='text'>Dadi Tamu Sing Nyenengake</title><content type='html'>&lt;p style="color: rgb(255, 102, 0);"&gt;Tumrape wong Jawa, kedhayohan kuwi padha karo nampa rejeki. Mula yen ana tamu ora tau nglirwakake gupuh, lungguh lan suguh. Sapa wae yen kedhayohan mesthi gupuh olehe mbagekake tamune, ngaturi lenggah, terus gawe wedang kanggo suguhan. Merga anane pakurmatan mau mula wong sing maradhayoh kudu ngerti (tahu diri), dadiya tamu sing becik. Aja sakepenake dhewe, aja gawe gelane sing ditamoni, lan bisaa nyenengake sing duwe omah. Apa wae sing perlu digatekake yen mara dhayoh?&lt;span id="more-36"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="color: rgb(255, 102, 0);"&gt;ANGON WAYAH, NGERTI WEKTU&lt;/p&gt; &lt;p style="color: rgb(255, 102, 0);"&gt;Mara dhayoh ora kena sakarepe dhewe, kudu ngerti wayah sing trep kanggo mertamu. Aja mertamu wayahe wong ngaso lan turu, kira-kira jam loro nganti jam papat sore. Aja mertamu wancine wong mangan, embuh wancine sarapan, mangan awan, utawa mangan bengi. Senajan panjenengan dudu wong muslim, nanging yen maradhayoh wancine wong nindakake ibadah prayogane enggal pamitan mulih. Upamane wancine shalat magrib sing wektune mung sethithik, menawa krungu azan magrib kudu enggal pamitan. Jroning sasi Ramadhan yen mertamu sore saperlune wae, awit wayah sore wancine wong repot nyiapake buka. Aja nganti krungu azan magrib lagi gupuh pamitan.&lt;/p&gt; &lt;p style="color: rgb(255, 102, 0);"&gt;Mertamu sacukupe wae aja kesuwen, mundhak sing ditamoni jeleh lan kesel nemoni. Rembugan aja nglantur. Sing bisa momong pangrasane sing duwe omah. Yen sajake ora seneng dijak ngrembug sawenehing bab, becike aja diterusake. Yen ana perlu wigati aja kesuwen, enggal dikandhakake apa wigatine anggone mertamu.&lt;/p&gt; &lt;p style="color: rgb(255, 102, 0);"&gt;Mertamu aja kliwat saka sak jam. Kajaba yen wis lawas ora ketemu upamane tilas mitra raket nalika isih sekolah, kanca nyambutgawe ana kutha liya, lan sapanunggalane. Iku wae iya kudu ndeleng kahanane sing ditamoni, seneng apa ora ditekani. Prayogane nalika mertamu nganggo arloji, supaya ngerti wanci. Sebab durung mesthi saben ruang tamu ana jame.&lt;/p&gt; &lt;p style="color: rgb(255, 102, 0);"&gt;Kepriye yen sing duwe omah sing nggandholi? Upamane merga wis suwe ora ketemu, durung mari kangene, angger arep pamitan mulih digandholi. Panjaluke sing duwe omah kena dituruti nanging saperlune. Yen dirasa keperluane wis cukup lan anggone mertamu wis rada suwe, prayogane tetep nyuwun pamit nanging janji yen arep dolan maneh ing liya wektu.&lt;/p&gt; &lt;p style="color: rgb(255, 102, 0);"&gt;TRAPSILA&lt;/p&gt; &lt;p style="color: rgb(255, 102, 0);"&gt;Senajan maradhayoh kuwi ora resmi nanging perlu migatekake tata susila. Klambi sing sopan, apa maneh yen merdhayoh menyang omahe wong sing luwih tuwa. Yen disuguhi aja kesusu diombe apa dipangan sadurunge dimanggakake sing duwe omah. Menawa suguhane wedang diwadhahi cangkir lan lepek, anggone njupuk salepeke, aja mung cangkire wae. Senajan wedange enak, nasthelgi, aja dientekake nganti gusis nanging dingengehake sethithik wae ing dhasare cangkir. Yen disuguhi jajan, panganan, anggone njupuk saperlune senajan jajane enak tur weteng lagi luwe.&lt;/p&gt; &lt;p style="color: rgb(255, 102, 0);"&gt;Kepriye yen dijak mangan? Ana kalane maradhayoh disuguhi mangan senajan ora wancine mangan. Mbokmenawa sing duwe omah lagi masak-masak enak apa lagi slametan ulang tahun anake. Suguhan mau aja ditampik, mundhak gawe gelane sing duwe omah. Yen suguhan mau wis diracik ing piring, kudu dientekake aja nyisa.&lt;/p&gt; &lt;p style="color: rgb(255, 102, 0);"&gt;Menawa dijak mangan ing ruang makan anggone imbuh ngenteni dimanggakake lan njupuk sacukupe wae. Rampung dhahar sendhok lan garpu dikurebake ing piring lan dhaharan ing piring kudu gusis kajaba balung lan eri. Aja watuk sajrone dhahar lan aja glegeken sawise rampung. Menawa kudu watuk utawa glegeken diempet dhisik nganti ninggalake ruang makan.&lt;/p&gt; &lt;p style="color: rgb(255, 102, 0);"&gt;AJA PADU&lt;/p&gt; &lt;p style="color: rgb(255, 102, 0);"&gt;Yen ana wong maradhayoh sing perlune nagih utang, nagih janji, utawa marani barang sing disilih. Sok-sok sing duwe omah gawe anyel, upamane durung bisa nyaur utange, ora netepi janjine lan barang sing disilih rusak. Nanging senajan nesu dikaya ngapa becike diampah sabisane. Sebab kurang prayoga yen nesu lan muni-muni ing omahe liyan. Apa maneh yen keprungu tangga teparo nganti padha metu nonton. Sulayane janji bisa dirembug sing sareh amrih kekarone padha mareme. Senajan lagi nesu nanging yen mulih tetep pamitan sing apik.&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6072209488519353307-663967465934735360?l=ninkwidya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ninkwidya.blogspot.com/feeds/663967465934735360/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ninkwidya.blogspot.com/2008/08/dadi-tamu-sing-nyenengake.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6072209488519353307/posts/default/663967465934735360'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6072209488519353307/posts/default/663967465934735360'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ninkwidya.blogspot.com/2008/08/dadi-tamu-sing-nyenengake.html' title='Dadi Tamu Sing Nyenengake'/><author><name>ninkw1dya ( alve Dya Aurelia Latifa)</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02190777662680452949</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_vgyL60s208c/SvuobeHd1pI/AAAAAAAAADY/zqthVFtNEm8/S220/aku+di+legian.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6072209488519353307.post-3712145589720645134</id><published>2008-08-14T03:04:00.000-07:00</published><updated>2008-08-14T03:06:44.133-07:00</updated><title type='text'>Ngripta Cerkak</title><content type='html'>&lt;p  style="color: rgb(255, 255, 0);font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;1&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;. Cerkak kalebu sastra naratif, fiktif, duwe paraga (tokoh), watak, prastawa/kedadean lan maneka unsur kaya dene stereotip sastra naratif liyane ; intrinsik, ekstrinsik&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;*Cerkak sastra&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;*Cerkak popular&lt;/span&gt;&lt;o:p style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p  style="color: rgb(255, 0, 0);font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;2. Dumadine cerkak iku pindha the raw and the cook&lt;br /&gt;*“sing mentah” : kasunyatan (realitas), pangangen2, pangangkah (visi dalam kerangka)&lt;br /&gt;*“sing mateng” : tulisan kanthi panyaruwe tan leren&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p  style="color: rgb(255, 0, 0);font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;3. Dhorongan/bahan mentahe cerkak&lt;br /&gt;*kasunyatan (realitas), utawa apa2 kang ngepop diarani “bacute kasunyatan” (posrealitas)&lt;br /&gt;*bab2 sing nuwuhake ‘greng’/'greget’ (stimulan), utawa pelatuk (basane Budi Darma)&lt;br /&gt;*ngangen-angen (Imajinasiasi)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p  style="color: rgb(255, 0, 0);font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;4. Modhal kang kudu diduweni kanggo nulis cerkak:&lt;br /&gt;*akeh maca (buku, karya sastra/cerkak, informasi, alam, pengalaman, crita2, wacana, dhiskusi, iptek, lsp)&lt;br /&gt;*den ajembar, den momot (keep our mind widely open to new idea and evidence)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p  style="color: rgb(255, 0, 0);font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;5. Bab2 kang prelu dipertimbangake yen nulis cerkak, paling ora:&lt;br /&gt;*mertimbangake pamaos&lt;br /&gt;*kunci pambuka (ruh) cerkak dumunung ing wiwitan&lt;br /&gt;*swasana kang : rinci, urip&lt;br /&gt;*efektivitas : ukara, tembung&lt;br /&gt;*lumakune paraga (tokoh) utawa sawijining ‘wewatekan’&lt;br /&gt;*bumbu-bumbune : panggalihan2 tambahan kang sipate seger, humor, seks, lsp&lt;br /&gt;*wosing/fokus cerkak : konflik minangka ejawantahan ‘idheologi gedhe’, ‘idheologi cilik kang tinemu ing prakara padinan/gampang’, ironi, kritik, lsp&lt;br /&gt;*suspen, mbokmenawa bisa babagan alur, panutup (ending), lsp&lt;br /&gt;*menehi irah2an kang ngemu surasa ‘trep’ klawan unsur2 cerkak&lt;br /&gt;*Penyuntingan kang tan leren&lt;br /&gt;6. pangangkahe (visi) cerkak rinipta:&lt;br /&gt;ndhudhuk, nemokke, ng-rekonstruksi, utawa ngowahi sawijining tata budaya, idheologi, falsafah, wacana, lsp&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p  style="color: rgb(255, 0, 0);font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;7. gayane/style penulis:&lt;br /&gt;*ngenut kasunyatan (realis)&lt;br /&gt;*surealis&lt;br /&gt;*micarakake “bab2 kang jero” secara langsung&lt;br /&gt;*micarakake “bab2 kang jero” kanthi crita kang entheng, lucu, ironis, kontraproduktif, lsp&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p  style="color: rgb(255, 0, 0);font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;8. proses kreatif penulis:&lt;br /&gt;*sumber/rujukan/antologi/jinis tulisan liya utawa liyan&lt;br /&gt;*kamus, thesaurus&lt;br /&gt;*internet&lt;br /&gt;*buku/kitab/naskah&lt;br /&gt;*wong/menungsa/guru/kanca&lt;br /&gt;*pangalaman&lt;br /&gt;*tema, riset, tulisan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);font-size:100%;" &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 255, 0);font-family:trebuchet ms;font-size:100%;" class="fullpost"  &gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6072209488519353307-3712145589720645134?l=ninkwidya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ninkwidya.blogspot.com/feeds/3712145589720645134/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ninkwidya.blogspot.com/2008/08/ngripta-cerkak.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6072209488519353307/posts/default/3712145589720645134'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6072209488519353307/posts/default/3712145589720645134'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ninkwidya.blogspot.com/2008/08/ngripta-cerkak.html' title='Ngripta Cerkak'/><author><name>ninkw1dya ( alve Dya Aurelia Latifa)</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02190777662680452949</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_vgyL60s208c/SvuobeHd1pI/AAAAAAAAADY/zqthVFtNEm8/S220/aku+di+legian.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6072209488519353307.post-5001701177767085265</id><published>2008-08-14T00:37:00.000-07:00</published><updated>2008-08-14T00:39:30.102-07:00</updated><title type='text'>SINDHEN</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_vgyL60s208c/SKPhCMS9WGI/AAAAAAAAAA4/b0muQ1zql40/s1600-h/12.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://3.bp.blogspot.com/_vgyL60s208c/SKPhCMS9WGI/AAAAAAAAAA4/b0muQ1zql40/s320/12.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5234274619711379554" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;img src="file:///C:/DOCUME%7E1/SERVER%7E1/LOCALS%7E1/Temp/moz-screenshot.jpg" alt="" /&gt;MANGKELING mangkel, ora kaya wong lagi pegel. Gelaning gela, ora kaya diblenjani tresna. Ora perduli bagus apa elek, ora perduli pinter apa bodho, Kabeh sami mawon. Jas bukak iket blangkon, sama jugak sami mawon. Mengkono uga Anjasmara. Mripate kelop-kelop, nyawang eternit sing ana ndhuwure peturone. Jane arep nyawang usuk, ning kaling-kalingan eternit. Dadi sing disawang mung eternit. Kang gambarane endah edi, kaya ukir-ukiran. Dhek wingi yen disawang katon edi peni, ning saiki kok ora. Dhek emben sawangane nggemesake ati, ning saiki kok mboseni. Anjasmara melek ora turu nanging atine bingung uleng-ulengan. Kepiye anggone ora, nduwe pacar siji wae nglungani ati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Njas Anjas, aja ndongang-ndongong kaya sapi ompong. Kae kanca-kanca wis padha nglumpuk. Tangiya, aja ngglethak ana dhipan wae," swarane Sumani keprungu saka walike lawang kamar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sapa....?" pitakone Anjas sakena-ne.&lt;br /&gt;"Kae pacarmu barang wis dha ngenteni ana ndhapa," Sumani nerangake.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Krungu wangsulane Sumani ngono mau, Anjasmara gregah tangi. Pacare teka, edan ane. Perlu diaturake ing kene sing jenenge Anjasmara kuwi dudu Anjasmara ari mami jaman Menakjingga lan Damarwulan. Yen jaman Menakjingga, Anjasmara kuwi ayu kinyis-kinyis, eseme pait madu. Ning yen Anjasmara jaman komputer iki eseme ya nggregetake, ning yen sing nyawang kuwi wanita. Mula ora maido sakploke dheweke nggabung Orkes Campursari "Nyidham Sari" akeh wanita sing kapiluyu nyawang tukang ngendhang siji iki. Tujune dheweke wis dikondhangake pacaran karo penyanyine, sing jenenge Wulandari. Mula akeh wanita penontone campursari sing padha ngeses. Bejamu Lan, Wulan. Duwe pacar wae kok dhe-gus, gedhe tur bagus. Ya wis begjane Wulandari, nduwe hyang wae baguse setengah mati tur dhasare tunggal sak kuliahan, ing Sekolah Tinggi Seni Indonesia ing kutha Sala. Ya ora maido, sing jenenge Wulandari kuwi ayune tumpuk undhung. Baut njoged, pinter nyanyi campursari. Ya ora maido yen Anjasmara gandrung lan gandheng karo Wulandari. Tumbu entuk tutup. Sing lanang bagus, sing putri ayu. Sing lanang tukang ngendhang sing putri baut nembang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mula bareng Sumani mbengoki, Anjasmara tangi gregah, nguceg-uceg mripate, banjur mudhun saka peturon. Nyedhaki Sumani karo takon bisik-bisik, "Wulandari melu mapag mrene?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumani mangsuli alon: "Mrene congormu kuwi. Wulandari ya neng desa Purwantara kana, karo bojone. Apa gunane ngenteni kowe, jaka tukang ngendhang, entuke job mung kala-kala. Luwih becik karo bojone sing anggota DPR. Blanjane tetep. Ora kaya kowe Njas, panji klathung, blanjane wae durung, yen turu njingkrung."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Lha kok kowe kandha pacarku mrene?" celathune Anjasmoro karo mrengut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Lha pacarmu kuwi pira?" Sumani njegeges. "Kae....Nanik ya teka. Jare pacarmu serep?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Edan kowe," tembunge Anjasmara karo njotos lengene Sumani.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Nik....Nanik, iki lho Anjas lagi tangi. Gereten metu." Sumani mbengok&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Mas    piye, kendharaane wis siap?" pitakone Nanik karo marani kamare Anjasmara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Wis beres," wansulane Anjasmara alon.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Beres beres, paling sing golek kendharaan ya aku," Sumani melu nyaut senajan ora ditakoni.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ngono-ngono rak uga kanggo kepentingan kanca dhewe ta mas?" celathune Nanik karo tumuju kamare Anjas.&lt;br /&gt;"He, aja mlebu kamar dhisik, bocahe isih arep kathokan," pembengoke Sumani.&lt;br /&gt;"Diangkrik, kana padha metuwa nyang kendaraan wae, tak dandan dhisik," celathune Anjasmara karo mlebu kamar maneh. Kanca-kancane padha munggah kendharaan. Tujuwane arep tanggapan menyang Purwantara, dhaerah kang mapan ana sawetane Wonogiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Bangku sandhinge Nanik aja dienggoni lo, sudah dipesan. Mau dipakai Anjas," Sumani mbengok karo ngguyu. Liyanene melu ngguyu. Nanik mung mesem manis. Anjasmara ora isan-isin trus lungguh sandhinge Nanik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kanca-kanca, minangka kancane Nanik aku matur nuwun dene dhek wingi wis padha rawuh ngestreni slametan neng Nanik," swarane Sumani ing sela-selane swara mesin kendharaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nanik mencep, liyane ngguyu nyekakak, merga ngerti yen Sumani tukang gojeg. Anjas nyikut Nanik karo celathu,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ora sah digagas, ben muni sak unine cangkeme."&lt;br /&gt;"Lha dhek emben kuwi Nanik rak syukuran, merga Anjas karo Wulan wis putus. Lha calone Anjas rak kembali ke Nanik," Sumani isih nrocos karo ngguyu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Liyane padha ngguyu ger-geran. Jan jane Nanik kuwi ora nganakake syukuran. Kuwi mung guyone Sumani wae.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sakdalan-dalan kanca-kanca Campursari padha cekakakan. Mung Anjas sing kelangan guyu. Dheweke mung mesam-mesem cilik nadyan semu kepeksa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Nik...mengko aja nyanyi "Wuyung" Utawa "Weke Sapa", ndhak Anjas ora bisa ngendhang," tembunge Sumani karo isih mbebeda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anjas nyikut bangkekane Nanik karo kandha lirih, "Ora sah kok tanggapi. Mengko yen kesel rak meneng dhewe cangkeme kuwi."&lt;br /&gt;Lagi mingkem lambene Anjas, hand phone sing ana kanthongane muni. Nanik sing ngandhani. "Tilpun mas."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anjasmara meneng wae terus ngrogoh sak-e, HP ditempelake kupinge. Nanik meneng tanggap sasmita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Halo, okey boss, bener aku tiga-tiga," Anjas mangsuli liwat HP ne.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Anu....piye boss? Iki aku ana perjalanan. Nyang Purwantara dhaerah Wonogiri. Bener, aku bareng-bareng njagong nyang omahe Wulandari." Meneng sedhela sajaKe ngrungokake sing nilpun. Let sedhela wis sumaur: "Iki aku jejer dhik Nanik. Iya...tidak ada rahasia. Lha terus leh nangkep kapan? Yen cathetanku wis komplit boss, taksimpen ana disket, taktengeri RHS. Iya, isih ana kantor. Wis ya bengi iki mengko bubar main Campursari aku bali, tak njujug omahmu boss." HP dipateni terus dikanthongi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumani sing lungguhe ora adoh mbengok, "Edan Njas, lunga nyang Purwantara, sambene ndhempel pacare, isih ketambahan ditilpun boss-e. Mesthi entuk job sing penting".&lt;br /&gt;Anjas meneng wae karo mesem. Nanik sing nrenjel takon: "Ana apata mas, boss-e?"&lt;br /&gt;"Biasa, kabar gaweyan. Aku dikon bali, penting," jawabe Anjasmara.&lt;br /&gt;"Lha kok isih semaya?" pitakone Nanik.&lt;br /&gt;"Wis kadhung jejer cah ayu kok dipisahke. Ya emoh ta?" wangsulane Anjas&lt;br /&gt;nggodha. Sing digodha njiwit lengene Anjas. Jane ya lara, ning wong sing njiwit bocah ayu ya nggleges wae.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tutugna leh jiwit-jiwitan," pambengoke Sumani. "Kancane uyel-uyelan kaya ngene, kono mat-matan sakepenake dhewe," Krungu celathune Sumani mau kabeh dha ngguyu mak gerr, nanging Anjas karo Nanik meneng wae. Nanik nutupi pipine sing abang merga isin, Anjas isih gawang-gawang swarane boss-e mau. Kabar seneng nanging uga gela. Seneng merga boss-e ngabari, yen Rudy Pancadnyana, anggota DPR calone Wulandari, saiki wis ditangkep polisi, jalaran nylewengake dhuwit APBN. Sing mbongkar pokale Rudy kuwi klebu Anjasmara sing uga wartawan ing kutha Sala. Malah laporan penting ana disket-e Anjas ing kantor. Mula yen dina iki mengko boss-e nemokake diskete, ora wurunga Rudy ora bisa endha maneh. Durung yen ketambahan interogasine polisi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sing dibingungake Anjasmara, nasibe sing repot. Yen Rudy ditangkep polisi, mangka bengi iki uga dheweke kudu menyang Purwantara nglamar Wulandari, wis mesthi gagal, ora sida. Sing untung Anjas. Nanging kabeh wong padha mangerti menawa ditangkepe Rudy, merga laporan ing korane Anjas. Pikire wong-wong mesthi iki trekahe Anjas anggone berjuang ngrebut Wulandari. Paling ora, wong sak Orkes "Nyidham Sari" padha mangerti persaingan Anjas karo Rudy rebutan sindhen Campursari. Durung pikiran liya. Yen dheweke balen karo Wulandari, lha njur Nanik piye? Loro-lorone sindhen Campursari. Ayune padha, padha dene leh uleng-ulengan. Anjas ngeses-ngeses karo gedrug-gedrug.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ana apa ta mas?" pitakone Nanik alon, karo mesem.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anjas mung mengo karo nggleges:"Pipimu kuwi lho, yen mesem dhekik nggregetne," celathune sakecekele wae timbang ora mangsuli.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ah.... mas Anjas," Nanik mbales karo njiwit lengen. Sing dijiwit isih bingung.*&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6072209488519353307-5001701177767085265?l=ninkwidya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ninkwidya.blogspot.com/feeds/5001701177767085265/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ninkwidya.blogspot.com/2008/08/sindhen.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6072209488519353307/posts/default/5001701177767085265'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6072209488519353307/posts/default/5001701177767085265'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ninkwidya.blogspot.com/2008/08/sindhen.html' title='SINDHEN'/><author><name>ninkw1dya ( alve Dya Aurelia Latifa)</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02190777662680452949</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_vgyL60s208c/SvuobeHd1pI/AAAAAAAAADY/zqthVFtNEm8/S220/aku+di+legian.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_vgyL60s208c/SKPhCMS9WGI/AAAAAAAAAA4/b0muQ1zql40/s72-c/12.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6072209488519353307.post-100923447129683193</id><published>2008-07-21T21:31:00.000-07:00</published><updated>2008-07-21T21:32:15.670-07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-family:arial,helvetica,sans-serif;font-size:100%;color:#000000;"&gt;Tembúng Ngoko - Kråmå Mådyå - Kråmå Inggil&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial,helvetica,sans-serif;font-size:100%;color:#000000;"&gt;Perangane Awak &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;table class="tabelisi" style="border: 1px solid rgb(0, 0, 0); width: 358px; height: 1009px;" align="center" border="1" cellpadding="5" cellspacing="0"&gt;&lt;tbody class="stylekds7"&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="width: 45px;" valign="top"&gt;&lt;p class="stylekds7" align="left"&gt;No. &lt;/p&gt;&lt;/td&gt;&lt;td valign="top"&gt;&lt;p class="stylekds7" align="center"&gt;Ngoko&lt;/p&gt;&lt;/td&gt;&lt;td valign="top"&gt;&lt;p class="stylekds7" align="center"&gt;Kramå Madyå &lt;/p&gt;&lt;/td&gt;&lt;td valign="top"&gt;&lt;p class="stylekds7" align="center"&gt;Kråmå Inggil &lt;/p&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr class="stylekds7" style="background-color: rgb(194, 227, 244);"&gt;&lt;td valign="top" width="29"&gt;&lt;p class="stylekds7" align="left"&gt;01.&lt;br /&gt;02.&lt;br /&gt;03.&lt;br /&gt;04.&lt;br /&gt;05.&lt;br /&gt;06.&lt;br /&gt;07.&lt;br /&gt;08.&lt;br /&gt;09.&lt;br /&gt;10.&lt;br /&gt;11.&lt;br /&gt;12.&lt;br /&gt;13.&lt;br /&gt;14.&lt;br /&gt;15.&lt;br /&gt;16.&lt;br /&gt;17.&lt;br /&gt;18.&lt;br /&gt;19.&lt;br /&gt;20.&lt;br /&gt;21.&lt;br /&gt;22.&lt;br /&gt;23.&lt;br /&gt;24.&lt;br /&gt;25.&lt;br /&gt;26.&lt;br /&gt;27.&lt;br /&gt;28.&lt;br /&gt;29.&lt;br /&gt;30.&lt;br /&gt;31.&lt;br /&gt;32.&lt;br /&gt;33.&lt;br /&gt;34.&lt;br /&gt;35.&lt;br /&gt;36.&lt;br /&gt;37.&lt;br /&gt;38.&lt;br /&gt;39.&lt;br /&gt;40.&lt;br /&gt;41.&lt;br /&gt;42.&lt;br /&gt;43.&lt;br /&gt;44.&lt;br /&gt;45.&lt;br /&gt;46.&lt;br /&gt;47.&lt;br /&gt;48.&lt;br /&gt;49.&lt;br /&gt;50.&lt;br /&gt;51.&lt;/p&gt;&lt;/td&gt;&lt;td valign="top" width="138"&gt;&lt;p align="left"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman,times;font-size:100%;color:#000000;"&gt;alís&lt;br /&gt;ati&lt;br /&gt;awak&lt;br /&gt;balúng&lt;br /&gt;bangkèkan&lt;br /&gt;bathúk&lt;br /&gt;bókóng&lt;br /&gt;brêngos&lt;br /&gt;cangkêm&lt;br /&gt;cêngêl&lt;br /&gt;dhådhå&lt;br /&gt;dhêngkul&lt;br /&gt;dlamakan&lt;br /&gt;driji&lt;br /&gt;êmbun-êmbunan êndhas&lt;br /&gt;èpèk-èpèk&lt;br /&gt;gêgêr&lt;br /&gt;gêlung&lt;br /&gt;gêtíh&lt;br /&gt;githok&lt;br /&gt;gulu&lt;br /&gt;idêp&lt;br /&gt;idu&lt;br /&gt;igå&lt;br /&gt;ilat&lt;br /&gt;irung&lt;br /&gt;janggút&lt;br /&gt;jénggot&lt;br /&gt;kémpol&lt;br /&gt;kringêt&lt;br /&gt;kuku&lt;br /&gt;kupíng&lt;br /&gt;lambé&lt;br /&gt;luh&lt;br /&gt;måtå&lt;br /&gt;pipi&lt;br /&gt;pundhak&lt;br /&gt;pupu&lt;br /&gt;rai&lt;br /&gt;rambút&lt;br /&gt;riyak&lt;br /&gt;sikíl&lt;br /&gt;susu&lt;br /&gt;suwårå&lt;br /&gt;tangan&lt;br /&gt;umbêl&lt;br /&gt;untu&lt;br /&gt;uyúh&lt;br /&gt;wêtêng&lt;br /&gt;wudêl&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/td&gt;&lt;td valign="top" width="129"&gt;&lt;p align="left"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman,times;font-size:100%;color:#000000;"&gt;alís&lt;br /&gt;manah&lt;br /&gt;badan&lt;br /&gt;balung&lt;br /&gt;bangkèkan&lt;br /&gt;bathúk&lt;br /&gt;bokong&lt;br /&gt;brêngos&lt;br /&gt;cangkêm&lt;br /&gt;cêngêl&lt;br /&gt;dhådhå&lt;br /&gt;dhêngkul&lt;br /&gt;dlamakan&lt;br /&gt;driji&lt;br /&gt;êmbun-êmbunan&lt;br /&gt;sirah&lt;br /&gt;èpèk-èpèk&lt;br /&gt;gêgêr&lt;br /&gt;gêlung&lt;br /&gt;rah&lt;br /&gt;githók&lt;br /&gt;gulu&lt;br /&gt;idep&lt;br /&gt;idu&lt;br /&gt;igå&lt;br /&gt;ilat&lt;br /&gt;irung&lt;br /&gt;janggút&lt;br /&gt;jénggot&lt;br /&gt;kémpol&lt;br /&gt;kringêt&lt;br /&gt;kuku&lt;br /&gt;kupíng&lt;br /&gt;lambé&lt;br /&gt;luh&lt;br /&gt;mripat&lt;br /&gt;pipi&lt;br /&gt;pundhak&lt;br /&gt;pupu&lt;br /&gt;rai&lt;br /&gt;rambút&lt;br /&gt;riyak&lt;br /&gt;suku&lt;br /&gt;susu&lt;br /&gt;swantên&lt;br /&gt;tangan&lt;br /&gt;umbêl&lt;br /&gt;untu&lt;br /&gt;toyan&lt;br /&gt;wêtêng&lt;br /&gt;wudêl  &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/td&gt;&lt;td valign="top" width="154"&gt;&lt;p align="left"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman,times;font-size:100%;color:#000000;"&gt;imbå&lt;br /&gt;(peng) galih&lt;br /&gt;salirå&lt;br /&gt;tosan&lt;br /&gt;pamêkan&lt;br /&gt;palarapan&lt;br /&gt;bocong&lt;br /&gt;gumbålå, rawis&lt;br /&gt;tutuk&lt;br /&gt;griwå&lt;br /&gt;jåjå&lt;br /&gt;jengku&lt;br /&gt;samparan&lt;br /&gt;racikan&lt;br /&gt;pasundhulan&lt;br /&gt;muståkå&lt;br /&gt;tapak astå&lt;br /&gt;pêngkêran&lt;br /&gt;ukêl&lt;br /&gt;rah&lt;br /&gt;julukan&lt;br /&gt;jangga&lt;br /&gt;ibíng&lt;br /&gt;kêcoh&lt;br /&gt;unusan&lt;br /&gt;lidhah&lt;br /&gt;grana&lt;br /&gt;kèthèkan,adhêgan&lt;br /&gt;gumbala&lt;br /&gt;wêngkêlan&lt;br /&gt;riwé&lt;br /&gt;kênåkå&lt;br /&gt;talingan&lt;br /&gt;lathi&lt;br /&gt;waspå&lt;br /&gt;paningal, socå&lt;br /&gt;pangarasan pamidhangan&lt;br /&gt;wêntís&lt;br /&gt;pasuryan&lt;br /&gt;rémå, ríkmå&lt;br /&gt;jlagrå&lt;br /&gt;ampéyan&lt;br /&gt;prêmbayún&lt;br /&gt;swantên&lt;br /&gt;astå&lt;br /&gt;gadhíng&lt;br /&gt;wåjå&lt;br /&gt;turas&lt;br /&gt;padharan&lt;br /&gt;tuntunan  &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6072209488519353307-100923447129683193?l=ninkwidya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ninkwidya.blogspot.com/feeds/100923447129683193/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ninkwidya.blogspot.com/2008/07/tembng-ngoko-krm-mdy-krm-inggil_21.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6072209488519353307/posts/default/100923447129683193'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6072209488519353307/posts/default/100923447129683193'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ninkwidya.blogspot.com/2008/07/tembng-ngoko-krm-mdy-krm-inggil_21.html' title=''/><author><name>ninkw1dya ( alve Dya Aurelia Latifa)</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02190777662680452949</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_vgyL60s208c/SvuobeHd1pI/AAAAAAAAADY/zqthVFtNEm8/S220/aku+di+legian.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6072209488519353307.post-4875184364602657602</id><published>2008-07-21T21:29:00.000-07:00</published><updated>2008-07-21T21:30:49.140-07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;span style="font-family:arial,helvetica,sans-serif;font-size:100%;color:#000000;"&gt;Tembúng Ngoko - Kråmå Mådyå - Kråmå Inggil&lt;br /&gt; Tembung Liyane Aksårå A - D&lt;/span&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;table class="tabelisi" style="border: 1px solid black; background-image: url(none); height: 1242px; width: 361px;" align="center" border="1" cellpadding="10" cellspacing="0"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td class="stylekds7" style="width: 34px;"&gt;No. &lt;/td&gt;&lt;td class="stylekds7"&gt; Ngoko&lt;/td&gt;&lt;td class="stylekds7"&gt; Kråmå Madyå&lt;/td&gt;&lt;td class="stylekds7"&gt; Kråmå Inggil&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr style="background-color: rgb(194, 227, 244);"&gt;&lt;td valign="top" width="28"&gt;&lt;p class="stylekds7" align="left"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="stylekds7"&gt;01.&lt;br /&gt;02.&lt;br /&gt;03.&lt;br /&gt;04.&lt;br /&gt;05.&lt;br /&gt;06.&lt;br /&gt;07.&lt;br /&gt;08.&lt;br /&gt;09.&lt;br /&gt;10.&lt;br /&gt;11.&lt;br /&gt;12.&lt;br /&gt;13.&lt;br /&gt;14.&lt;br /&gt;15.&lt;br /&gt;16.&lt;br /&gt;17.&lt;br /&gt;18.&lt;br /&gt;19.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/td&gt;&lt;td scope="colgroup" valign="top" width="138"&gt;&lt;p class="stylekds7" align="left"&gt;A&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:times new roman,times;font-size:100%;color:#000000;"&gt;abang&lt;br /&gt;adhi&lt;br /&gt;adêg&lt;br /&gt;adóh&lt;br /&gt;adús&lt;br /&gt;ajang&lt;br /&gt;aku&lt;br /&gt;ambúng&lt;br /&gt;amít&lt;br /&gt;anak&lt;br /&gt;anak-anak&lt;br /&gt;anggo&lt;br /&gt;aran&lt;br /&gt;arêp&lt;br /&gt;(pêm)-barêp&lt;br /&gt;asu&lt;br /&gt;awèh&lt;br /&gt;ayo&lt;br /&gt;é&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/td&gt;&lt;td valign="top" width="117"&gt;&lt;p align="left"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman,times;font-size:100%;color:#000000;"&gt;&lt;br /&gt;abrít&lt;br /&gt;adhi&lt;br /&gt;ngadêg&lt;br /&gt;têbíh&lt;br /&gt;adús&lt;br /&gt;ajang&lt;br /&gt;kulå&lt;br /&gt;ambúng&lt;br /&gt;amít&lt;br /&gt;yogå&lt;br /&gt;anak-anak&lt;br /&gt;anggé&lt;br /&gt;nåmå&lt;br /&gt;ajêng, badhé&lt;br /&gt;pêmbajêng&lt;br /&gt;sêgawon&lt;br /&gt;nyukani&lt;br /&gt;månggå&lt;br /&gt;ník&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/td&gt;&lt;td valign="top" width="140"&gt;&lt;p align="left"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman,times;font-size:100%;color:#000000;"&gt;&lt;br /&gt;abrít&lt;br /&gt;rayi&lt;br /&gt;jumênêng&lt;br /&gt;tebíh&lt;br /&gt;siram&lt;br /&gt;ambêng&lt;br /&gt;kawulå,dalêm&lt;br /&gt;aras&lt;br /&gt;kulånuwun,&lt;br /&gt;putrå&lt;br /&gt;peputrå&lt;br /&gt;agêm&lt;br /&gt;asmå&lt;br /&gt;kêrså&lt;br /&gt;pêmbajêng&lt;br /&gt;sêgawon&lt;br /&gt;maringi&lt;br /&gt;sumanggå&lt;br /&gt;pún&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr style="background-color: rgb(255, 255, 204);"&gt;&lt;td&gt;&lt;p class="stylekds7" align="left"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="stylekds7"&gt;01.&lt;br /&gt;02.&lt;br /&gt;03.&lt;br /&gt;04.&lt;br /&gt;05.&lt;br /&gt;06.&lt;br /&gt;07.&lt;br /&gt;08.&lt;br /&gt;09.&lt;br /&gt;10.&lt;br /&gt;11.&lt;br /&gt;12.&lt;br /&gt;13.&lt;br /&gt;14.&lt;br /&gt;15.&lt;br /&gt;16.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/td&gt;&lt;td&gt;&lt;p class="stylekds7" align="left"&gt;B&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:times new roman,times;font-size:100%;color:#000000;"&gt;bali&lt;br /&gt;bantal&lt;br /&gt;banyu&lt;br /&gt;bapak&lt;br /&gt;batúr&lt;br /&gt;bêbêd&lt;br /&gt;bébék&lt;br /&gt;bênêr&lt;br /&gt;bêras&lt;br /&gt;biyèn&lt;br /&gt;bojo&lt;br /&gt;borèh&lt;br /&gt;buri&lt;br /&gt;buwang&lt;br /&gt;bebuwang&lt;br /&gt;buyar&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/td&gt;&lt;td&gt;&lt;p align="left"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman,times;font-size:100%;color:#000000;"&gt;&lt;br /&gt;mantúk&lt;br /&gt;bantal&lt;br /&gt;toyå&lt;br /&gt;bapak&lt;br /&gt;réncang&lt;br /&gt;bêbêd&lt;br /&gt;kambangan&lt;br /&gt;lêrês&lt;br /&gt;uwós&lt;br /&gt;riyín&lt;br /&gt;sémah&lt;br /&gt;borèh&lt;br /&gt;wingkíng&lt;br /&gt;bucal&lt;br /&gt;bêbucal&lt;br /&gt;rampúng&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/td&gt;&lt;td&gt;&lt;p align="left"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman,times;font-size:100%;color:#000000;"&gt;&lt;br /&gt;kúndúr&lt;br /&gt;kajang sirah&lt;br /&gt;toyå&lt;br /&gt;råmå&lt;br /&gt;abdi&lt;br /&gt;nyamping kambangan&lt;br /&gt;kasinggihan&lt;br /&gt;uwós&lt;br /&gt;rumiyin&lt;br /&gt;garwå&lt;br /&gt;kónyóh&lt;br /&gt;pêngkêran&lt;br /&gt;kêndhang&lt;br /&gt;bóbótan&lt;br /&gt;rampúng&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr style="background-color: rgb(194, 227, 244);"&gt;&lt;td&gt;&lt;p align="left"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman,times;font-size:100%;"&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;&lt;br /&gt;01.&lt;br /&gt;02.&lt;br /&gt;03.&lt;br /&gt;04.&lt;br /&gt;05.&lt;br /&gt;06.&lt;br /&gt;07.&lt;br /&gt;08.&lt;br /&gt;09.&lt;br /&gt;10&lt;/span&gt;.&lt;/span&gt;&lt;span class="stylekds7"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/td&gt;&lt;td&gt;&lt;p class="stylekds7" align="left"&gt;C&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:times new roman,times;font-size:100%;color:#000000;"&gt;caritå&lt;br /&gt;caturan&lt;br /&gt;cawis&lt;br /&gt;cêkêl&lt;br /&gt;cèlèng&lt;br /&gt;céwok&lt;br /&gt;clathu&lt;br /&gt;cucúl&lt;br /&gt;cukúr&lt;br /&gt;cundhúk&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/td&gt;&lt;td&gt;&lt;p align="left"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman,times;font-size:100%;color:#000000;"&gt;&lt;br /&gt;cariyós&lt;br /&gt;wicantên&lt;br /&gt;cawís&lt;br /&gt;cêpêng&lt;br /&gt;andhapan&lt;br /&gt;cawík&lt;br /&gt;wicantên&lt;br /&gt;cucúl&lt;br /&gt;cukúr&lt;br /&gt;cundhúk&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/td&gt;&lt;td&gt;&lt;p align="left"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman,times;font-size:100%;color:#000000;"&gt;&lt;br /&gt;cariyós&lt;br /&gt;ngendikå&lt;br /&gt;caós&lt;br /&gt;astå&lt;br /&gt;andhapan&lt;br /&gt;cawík&lt;br /&gt;ngvndikå&lt;br /&gt;lukar&lt;br /&gt;paras, pangkas sangsangan&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr style="background-color: rgb(255, 255, 204);"&gt;&lt;td&gt;&lt;p align="left"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman,times;font-size:100%;color:#000000;"&gt;&lt;br /&gt;01.&lt;br /&gt;02.&lt;br /&gt;03.&lt;br /&gt;04.&lt;br /&gt;05.&lt;br /&gt;06.&lt;br /&gt;07.&lt;br /&gt;08.&lt;br /&gt;09.&lt;br /&gt;10. 11.&lt;br /&gt;12.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/td&gt;&lt;td&gt;&lt;p class="stylekds7" align="left"&gt;D&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:times new roman,times;font-size:100%;color:#000000;"&gt;dadi&lt;br /&gt;dalan&lt;br /&gt;dandan&lt;br /&gt;dêlêng&lt;br /&gt;dhéwé&lt;br /&gt;dhuwít&lt;br /&gt;dudu&lt;br /&gt;doyan&lt;br /&gt;dolan&lt;br /&gt;dulang&lt;br /&gt;durúng&lt;br /&gt;duwé&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/td&gt;&lt;td&gt;&lt;p align="left"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman,times;font-size:100%;color:#000000;"&gt;&lt;br /&gt;dadós&lt;br /&gt;radinan&lt;br /&gt;dandós&lt;br /&gt;ningali&lt;br /&gt;piyambak&lt;br /&gt;yatrå&lt;br /&gt;sanès&lt;br /&gt;purún&lt;br /&gt;dolan&lt;br /&gt;ndulang&lt;br /&gt;dêrêng&lt;br /&gt;gadhah&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/td&gt;&lt;td&gt;&lt;p align="left"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman,times;font-size:100%;color:#000000;"&gt;&lt;br /&gt;dadós&lt;br /&gt;margi&lt;br /&gt;busånå&lt;br /&gt;mriksani&lt;br /&gt;piyambak&lt;br /&gt;artå&lt;br /&gt;sanès&lt;br /&gt;kerså&lt;br /&gt;amêng-amêng&lt;br /&gt;ndhahari&lt;br /&gt;dèrèng&lt;br /&gt;kagungan&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6072209488519353307-4875184364602657602?l=ninkwidya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ninkwidya.blogspot.com/feeds/4875184364602657602/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ninkwidya.blogspot.com/2008/07/tembng-ngoko-krm-mdy-krm-inggil-tembung_9079.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6072209488519353307/posts/default/4875184364602657602'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6072209488519353307/posts/default/4875184364602657602'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ninkwidya.blogspot.com/2008/07/tembng-ngoko-krm-mdy-krm-inggil-tembung_9079.html' title=''/><author><name>ninkw1dya ( alve Dya Aurelia Latifa)</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02190777662680452949</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_vgyL60s208c/SvuobeHd1pI/AAAAAAAAADY/zqthVFtNEm8/S220/aku+di+legian.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6072209488519353307.post-5850081719173776512</id><published>2008-07-21T21:27:00.000-07:00</published><updated>2008-07-21T21:29:26.499-07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-family:arial,helvetica,sans-serif;"&gt; Tembúng Ngoko - Kråmå Mådyå - Kråmå Inggil &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial,helvetica,sans-serif;"&gt;Tembung liyane Aksara E - K&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;table class="tabelisi" style="border: 1px solid black; background-image: url(none); width: 351px; height: 1398px;" align="center" border="1" cellpadding="10" cellspacing="0"&gt;&lt;tbody class="stylekds7"&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="width: 34px;"&gt;&lt;p class="stylekds7" align="left"&gt;No.&lt;/p&gt;&lt;/td&gt;&lt;td&gt;&lt;p class="stylekds7" align="center"&gt;Ngoko&lt;/p&gt;&lt;/td&gt;&lt;td&gt;&lt;p class="stylekds7" align="center"&gt; Kråmå Madyå&lt;/p&gt;&lt;/td&gt;&lt;td&gt;&lt;p class="stylekds7" align="center"&gt; Kråmå Inggil&lt;/p&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr style="background-color: rgb(194, 227, 244);"&gt;&lt;td&gt;&lt;p align="left"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);font-family:times new roman,times;font-size:100%;"  &gt;&lt;br /&gt;01.&lt;br /&gt;02.&lt;br /&gt;03.&lt;br /&gt;04.&lt;br /&gt;05.&lt;br /&gt;06.&lt;br /&gt;07.&lt;br /&gt;08.&lt;br /&gt;09.&lt;/span&gt; &lt;/p&gt;&lt;/td&gt;&lt;td&gt;&lt;p class="stylekds7" align="left"&gt; E&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);font-family:times new roman,times;font-size:100%;"  &gt;élíng&lt;br /&gt;êmbah&lt;br /&gt;êmbuh&lt;br /&gt;êndhêm&lt;br /&gt;êndi&lt;br /&gt;êntèni&lt;br /&gt;ênyang&lt;br /&gt;êpèk&lt;br /&gt;ésuk&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/td&gt;&lt;td&gt;&lt;p align="left"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);font-family:times new roman,times;font-size:100%;"  &gt;&lt;br /&gt;élíng&lt;br /&gt;êmbah&lt;br /&gt;kirangan&lt;br /&gt;mêndhêm&lt;br /&gt;pundi&lt;br /&gt;êntosi&lt;br /&gt;awís&lt;br /&gt;pêndhêt&lt;br /&gt;énjíng&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/td&gt;&lt;td&gt;&lt;p align="left"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);font-family:times new roman,times;font-size:100%;"  &gt;&lt;br /&gt;émút, ångêt&lt;br /&gt;éyang&lt;br /&gt;ngapuntên&lt;br /&gt;wuni&lt;br /&gt;pundi&lt;br /&gt;rantosi&lt;br /&gt;awís&lt;br /&gt;pundhút&lt;br /&gt;énjíng&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr style="background-color: rgb(255, 255, 204);"&gt;&lt;td&gt;&lt;p align="left"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="stylekds7"&gt;01.&lt;br /&gt;02.&lt;br /&gt;03.&lt;br /&gt;04.&lt;br /&gt;05.&lt;br /&gt;06.&lt;br /&gt;07.&lt;br /&gt;08.&lt;br /&gt;09.&lt;br /&gt;10.&lt;br /&gt;11. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/td&gt;&lt;td&gt;&lt;p class="stylekds7" align="left"&gt; I&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);font-family:times new roman,times;font-size:100%;"  &gt;ikêt&lt;br /&gt;iki&lt;br /&gt;ilang&lt;br /&gt;imbúh&lt;br /&gt;inêp&lt;br /&gt;irêng&lt;br /&gt;ngiringakên&lt;br /&gt;iså&lt;br /&gt;isín&lt;br /&gt;iwak&lt;br /&gt;iyå&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/td&gt;&lt;td&gt;&lt;p align="left"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);font-family:times new roman,times;font-size:100%;"  &gt;&lt;br /&gt;ikêt&lt;br /&gt;niki&lt;br /&gt;ical&lt;br /&gt;imbêt&lt;br /&gt;nyipêng&lt;br /&gt;cêmêng&lt;br /&gt;ngiringakên&lt;br /&gt;sagêd&lt;br /&gt;isín&lt;br /&gt;ulam&lt;br /&gt;inggíh&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/td&gt;&lt;td&gt;&lt;p align="left"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);font-family:times new roman,times;font-size:100%;"  &gt;&lt;br /&gt;dêstar&lt;br /&gt;punikå&lt;br /&gt;ical&lt;br /&gt;tandúk&lt;br /&gt;nyaré&lt;br /&gt;cêmêng&lt;br /&gt;ndhèrèkakèn&lt;br /&gt;sagêd&lt;br /&gt;lingsêm&lt;br /&gt;ulam&lt;br /&gt;sêndikå&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr style="background-color: rgb(194, 227, 244);"&gt;&lt;td&gt;&lt;p align="left"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);font-family:times new roman,times;font-size:100%;"  &gt;&lt;br /&gt;01.&lt;br /&gt;02.&lt;br /&gt;03.&lt;br /&gt;04.&lt;br /&gt;05.&lt;br /&gt;06.&lt;br /&gt;07.&lt;br /&gt;08.&lt;br /&gt;09.&lt;br /&gt;10.&lt;br /&gt;11.&lt;br /&gt;12.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/td&gt;&lt;td&gt;&lt;p class="stylekds7" align="left"&gt; J&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);font-family:times new roman,times;font-size:100%;"  &gt;
